PERANCANG DARI MASA KE MASA (PERJALANAN MODE INDONESIA) – 2009

Ditulis oleh Muhammad Reza. Diterbitkan di Majalah U,Maret 2009.

Berbicara tentang sejarah mode Indonesia bukanlah hal yang mudah. Usia kemerdekaan bangsa yang sudah 63 tahun ini tidak berarti mode Indonesia sudah berjalan selama 63 tahun. Hingga saat ini pun belum ada buku yang sepenuhnya memaparkan sejarah mode tanah air. Berbagai obrolan dengan disainer dan kumpulan tulisan dari majalah dan buku-buku yang menyinggung mode di Indonesia lah yang akhirnya bisa dijadikan sumber terpercaya.

Kapan sebenarnya mode Indonesia itu lahir? Kita dapat mengaitkan kelahiran mode Indonesia melalui eksistensi disainer lokal pertama. Setiap referensi akan mengaitkannya dengan Peter Sie yang dianggap sebagai pelopor mode Indonesia .

1950-1970

Di tahun-tahun pertama Peter Sie menancapkan mode nasional (sekitar pertengahan tahun 1950-an), ia mengaku bahwa profesi disainer belum diterima masyarakat termasuk keluarganya. Hasilnya, ia sempat dikucilkan keluarga. Ia juga tak menganggap dirinya lebih sukses secara finansial dibanding disainer-disainer masa kini. Dalam buku Inspirasi Mode Indonesia terbitan Yayasan Buku bangsa dan Gramedia, ia mengungkapkan dirinya lebih senang disebut pelopor dunia mode.

Awalnya, Peter berkonsentrasi membuat busana pria. Pesona busana bergaris A-Line (yang menyempit di pinggang lalu melebar/mengembang ke batas betis) ala New Look dari Dior-lah yang mempengaruhinya untuk beralih membuat busana wanita. Dalam mendisain busana, pria yang belajar di Vakschool voor Kleermakers-Encoupeurs Den Haag Belanda selama enam tahun sejak 1947 ini tak menyerap semua tren busana yang datang dari Eropa. Contohnya saat tren gaya ‘mod’ yang dikumandangkan Mary Quant dan Ossie Clark melanda dunia, Peter merasa rok mini itu kurang pantas untuk kebanyakan wanita Indonesia (kecuali beberapa jenis wanita tertentu seperti Titi Qadarsih). Begitu juga saat tren hippies atau daisy flower berkibar. Gaya berbusana compang-camping bak gelandangan yang tak pernah mandi ini tak menarik baginya. Alasannya, keadaan ekonomi Indonesia saat itu memprihatinkan. “Tanpa mengenakan gaya hippies juga sudah compang-camping,” ujarnya.

Kehadiran disainer seperti Peter Sie mengundang disainer lain seperti Non Kawilarang dan Elsie Sunarya. Di tahun 1960-an gaya hipster, mod, bahkan agogo yang ramai motif dan warna ala burung merak tak hanya konsumsi ibu-ibu kalangan atas Jakarta saja. Popularitas bioskop pun mensosialisasikan gaya berbusana terbaru. Masyarakat mulai mengenal peragawati seperti Titi Qadarsih dan Rima Melati. Lalu beramai-ramai mengikuti gaya rambut bersasak atau pendek ala Twiggi.

1970-1990

Dunia mode nasional mulai mengadaptasi kegiatan mode eropa. Salah satunya koreografi dalam peragaan busana. Sejak diperkenalkan Norbert Schmitt pada tahun 1969 di Eropa, koreografi untuk peragaan busana mendarat di Jakarta pada tahun 1974. Perintis nasionalnya adalah Rudy Wowor yang merupakan murid Schmitt. Pada saat itu, istilah show director dalam peragaan busana belum dikenal sehingga beliau tak saja mengatur langkah dan ekspresi sang model, tapi juga menata pencahayaan, dekorasi dan musik pengiring. “Model tak boleh goblog,” ujar Rudy Wowor kepada penulis majalah a+, Karin Wijaya. Mereka harus hafal semua langkah dan hitungan sambil menyesuaikan dengan musik kalau tidak ingin terlihat aneh. Profesi koreografer ini lalu diikuti Doddy Haykel, Denny Malik dan Guruh Sukarnoputera.

Dalam dunia jurnalisme mode, majalah wanita Femina hadir pada tahun 1972. Menurut catatan situsnya, Femina menunjukkan perhatian besar kepada dunia mode sejak edisi keduanya (bulan Oktober) melalui sebuah reportase tren mode 2003 yang ditulis oleh Irma Hadisurya. Selain menghadirkan berita mode dari pusat mode seperti Pierre Cardin, Femina pun menunjukkan apresiasi terhadap mode nasional. Terutama saat Pia Alisjahbana dan Irma Hadisurya mengusulkan Femina mengadakan Lomba Perancang Mode secara tahunan sejak tahun 1979. Dari ajang inilah hingga sekarang banyak disainer baru muncul seperti Chossy Latu, Samuel Wattimena, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy.

Sementara itu, keterbatasan kesempatan bersekolah mode atau rancang busana di tanah air tak mematahkan semangat mereka yang ingin menjadi disainer. Sebagian melanglang buana ke luar negeri. Harry Dharsono, Poppy Dharsono, dan Iwan Tirta adalah beberapa contohnya.

Boleh dibilang, Iwan Tirta cukup berperan dalam menciptakan karakter mode tanah air yang unik dan kaya tanpa mengabaikan tren mode Eropa. Kepada pengamat mode Muara Bagdja di buku Inspirasi Mode Indonesia , ia menekankan pentingnya memberi unsur barat (technical skill) dan timur (budaya) dalam busana bila seseorang ingin menjadi disainer yang diakui baik di dalam maupun luar negeri. Teorinya memang beralasan, karena Iwan Tirta terkenal hingga ke amerika dan eropa atas kepiawaiannya mengolah batik menjadi produk mode yang berdaya pakai dan modern. Tak melalui busana batik di bahan lycra saja, karyanya merambah ke luar negeri berupa piring bermotif batik saat bekerjasama dengan Royal Doulton. Bahkan disainer sekelas Pierre Balmain pernah meminta izin Iwan Tirta untuk meniru ide sarung rancangannya. Busana-busana Iwan Tirta juga pernah diliput majalah mode internasional Vogue.

Dalam hal high fashion, Harry Dharsonolah yang pertama kali memperkenalkan citarasa tersebut di tanah air pada tahun 1974. Ia lulusan beberapa sekolah termasuk Ecoles de Beaux Arts Paris dan Fashion Merchandising and Clothing Technology di London School of Fashion. Harry tak sekedar merancang busana, ia juga pebisnis handal. Kondisi industri tekstil nasional yang hanya memproduksi polyester saat itu mengharuskannya mendatangi Three Golden Cups, produsen sutra di Shanghai China . Kontribusi Harry Dharsono di panggung mode internasional ditandai pada tahun 1978 ketika rumah-rumah mode bergengsi seperti Carven, Louis Ferraud, Azzaro de Ville dan Lanvin membeli disain-disain tekstilnya. Meski sukses di luar negeri, Harry Dharsono tetap berkiprah di tanah air. Ia membuka Batik Keris dan merancang seragam untuk perusahaan seperti Bank Mandiri, Bali Air dan maskapai penerbangan Australia Anzet.

Hadir pula nama-nama disainer yang menjadikan warisan tekstil bangsa sebagai inspirasi karyanya. Sebutlah Samuel Wattimena, Ghea Panggabean, Edward Hutabarat dan Carmanita. Ghea mempopulerkan kain tradisional seperti kain lurik dalam model pakaian modern seperti kulot dan waistcoat. Ada pula koleksi lain seperti jumputan. Sementara itu. Carmanita mengembangkan batik di bahan jeans dan lycra. Keduanya mencintai dan menganjurkan pemakaian kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

1990-2008

Tahun 1990-an ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya, kemudahan masyarakat mengakses informasi mode dari luar negeri menyebabkan kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini terasa pada karya disainer-disainer yang naik daun di tahun 1990-an. Sebastian Gunawan, misalnya. Setelah menggelar koleksinya yang terdiri atas ballgown dan aneka payet, manik dan kristal, demam kemewahan ala selebritas Hollywood pun mewabah. Kemewahan ini juga terasa melalui gaun-gaun Biyan, Arantxa Adi, Adjie Notonegoro dan Eddy Betty. Hingga akhir 1990-an, persaingan untuk mendapatkan tempat di hati para pecinta mode semakin ketat diikuti semakin banyaknya nama-nama baru, apalagi dengan kehadiran sekolah mode franchisee seperti Esmod dan Lasalle.

Di tahun 2000-an, mode Indonesia semakin kaya akan ide dan inspirasi. Setiap disainer memiliki ciri tersendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana-busana mereka yang sangat bernafaskan seni. Ada juga yang sukses mensosialisasikan busana tradisional sebagai busana modern seperti Edward Hutabarat dan Anne Avantie. Beberapa meraih penghargaan melalui event seperti Indonesian Mercedes Benz Fashion Award dan Harper’s Bazaar fashion Concerto. Ada pula yang ditampilkan melalui film seperti busana Tri Handoko, Sebastian Gunawan dan Didi Budiarjo yang dikenakan Aida Nurmala dalam film Arisan. Namun, ada juga yang lebih sukses di luar negeri seperti Farah Angsana di Paris atau Mardiana Ika dan Ali Charisma di Hongkong.

Dunia mode semakin dinamis. Modeling tak lagi didominasi para pemenang kontes wajah sampul seperti Cover Boy/Girl majalah MODE atau Gadis Sampul. Saat Kintan Oemari dan Ratih Sanggarwati harus jauh-jauh mengetuk pintu-pintu agensi model di Italia beberapa tahun sebelumnya, agensi model internasional seperti ELITE Models mendatangi Indonesia di tahun 1996. Maka terpilihlah Tracy Trinita (pemenang Cover Girl majalah MODE 1995) dan melengganglah ia di panggung peragaan Yves Saint Laurent bersama Naomi Campbell. Agensi model lokal pun disibukkan dengan berubah-ubahnya selera pasar. Terkadang, wajah kaukasia digandrungi sehingga tren model ‘impor’ pun hadir. Pernah pula wajah-wajah oriental menjadi pujaan. Dan saat Alek Wek menghias majalah mode internasional, wajah-wajah dari timur Indonesia pun menghiasi peragaan busana lokal.

Semakin dibutuhkannya berita mode di media mengukuhkan beberapa nama pengamat mode nasional. Muara Bagdja dan Samuel Mulia adalah dua nama yang cukup dihormati atas opini dan kritik mode mereka. Tak ketinggalan barisan penulis mode yang sibuk menganalisa mode mancanegara dan dalam negeri seperti Syahmedi Dean, Ai Syarif, Boedi Basuki, Regina Kencana dan Karin Wijaya. Dan hingga saat ini dua majalah gaya hidup lokal yang menyajikan informasi mode terbaik adalah Harper’s Bazaar Indonesia dan majalah a+.

Kisah perjalanan dunia mode tanah air rasanya tak cukup dimuat dalam kurang dari limaribu karakter program word. Namun dari beberapa gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa melihat perkembangan yang ada di dunia mode nasional. Dan tanpa kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno 63 tahun silam, sejarah mode Indonesia mungkin tidaklah seperti yang telah dipaparkan.

Scan0083

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

Advertisements

THE PRESSURE TO BE THIN (2008)

Mengapa Definisi Kecantikan Berada di Label Ukuran Sehelai Pakaian?

By Muhammad Reza (muhammadreza_ss@yahoo.com , +6287877177869)

Tubuh Gemuk sebagai Antitesis Dunia Mode dan Kecantikan

Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa episode serial UGLY BETTY yang ditayangkan di televisi. Dalam serial yang diproduseri Salma Hayek dan disadur dari telenovela Betty La Fea, akan Anda temukan potret dan definisi kecantikan yang terpatri di ujung setiap saraf otak warga Amerika. Cantik itu berwajah simetris dengan hidung kecil, bergigi putih yang rapi, dan tubuh kurus, dengan ukuran baju nomor nol.

Tokoh utama serial ini, Betty Suarez (America Ferrera), adalah gambaran yang berlawanan dengan ide wanita cantik di dunia mode Amerika. Selain berkawat gigi, ia sering dipanggil dengan sebutan ‘gendut’ oleh kolega-koleganya di majalah MODE. Tubuh yang tak kurus ini sepertinya menjadi antitesis terhadap dunia mode.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Pembuka)

dior

Bila Anda membolak-balik halaman rubrik mode dari majalah panutan di bidangnya seperti Vogue Amerika atau W, akan terlihat barisan perempuan yang hanya berbalut kulit di tulang. Sama saja saat Anda menyaksikan parade model berbayaran termahal melalui saluran Fashion TV pada setiap finale peragaan busana. Saat Niki Hilton menjadi model pamungkas untuk Just Cavalli (atau saat Rihanna menutup peragaan musim panas 2008 Dsquared), kedua paha mereka yang tidak setipis top model Tanya Dzhialeva dan Andrea Stancu pun menjadi sesuatu yang janggal dan dibicarakan. Tips-tips berbusana yang dianjurkan pada kebanyakan majalah mode juga selalu berusaha menyiasati penampilan wanita agar terlihat jenjang, tinggi, dan lagi-lagi, kurus.

Ada apa sebenarnya dengan tubuh kurus dan mode? Bila melihat lukisan kuno atau foto setidaknya hingga era Marylin Monroe, bentuk tubuh wanita ideal itu adalah yang berisi dan memiliki lekuk-lekuk tubuh yang padat. Tubuh sintal Madame Bouvary, Ratu Prancis Marie Antoinette, penari penuh skandal Isadora Duncan, hingga ikon seksual Marylin Monroe pada masanya dijadikan acuan para wanita. Di awal tahun 60, Twiggy (lahir bernama Lesley Hornby) mulai menyetel tren baru dalam dunia modeling dengan tubuhnya yang sangat kurus dibandingkan dengan model-model ‘montok’ era Christian Dior.    Demam tubuh ala Twiggy pun merajalela saat film Breakfast at Tiffany beredar dan membuat para wanita ingin tampil setipis lidi bak Audrey Hepburn. Keempat persona bertubuh ‘penuh’ yang sebelumnya disebut seksi lalu berubah menjadi momok yang selanjutnya dianggap ‘gendut’.

Dalam mode, ada relevansi antara tubuh kurus (khususnya yang tinggi) dengan citra keanggunan. Dengan tubuh yang kurus, busana akan jatuh di badan dengan menciptakan efek elegan yang feminin. Setidaknya itulah citra yang dipopulerkan Audrey Hepburn dengan busana-busana simple-elegan Givenchy dan hingga saat ini selalu dijadikan referensi penampilan bersahaja sekaligus berkelas bagi pelaku industri mode dari  pembuat jam tangan Longines hingga couturier Zuhair Murad. Susan Train, mantan editor in chief Vogue Amerika dan Prancis pun mengakui figur Audrey Hepburn selalu menjadi inspirasi mode hingga kini.

Semakin Kurus

Dari era Twiggy, Ali McGraw, Lauren Hutton, hingga Jerry Hall dan Carree Otis, tubuh para model wanita semakin kurus dan mengurus. Bila sebelumnya ukuran baju nomor dua menjadi impian wanita yang ingin terlihat seperti model, ukuran baru yaitu nol pun menggantikan acuan lama. Kate Moss, Shalom Harlow, hingga yang terkini Chanel Iman mendefiniskan ‘kurus’ yang baru.

Menjadi model yang ‘terpakai’ di dunia mode memang harus tunduk pada kemauan pasar. Itulah yang terjadi saat model belasan tahun Ali Michael disuruh pulang dan kembali lagi ke agensi model DNA New York setahun kemudian untuk mengurangi berat badannya. Konon, sebagaimana yang diutarakan Fira Basuki dalam novelnya, Biru, tubuh selalu terlihat lima kilogram lebih gemuk dalam cetakan foto. Hal ini menyebabkan banyak model (dan wanita bukan model tapi mati-matian menyamai model) berusaha keras menjaga berat badannya agar selalu sesuai dengan ukuran ‘sample’ baju yang dipakai saat pemotretan atau peragaan busana.

Ada banyak cara yang dilakukan para model untuk mempertahankan kekurusannya. Dari yang benar dengan makan sehat dan berolahraga, hingga yang salah. Contohnya Kate Moss yang dikabarkan kecanduan rokok dan heroin agar tetap kurus, sementara Carree Otis menahan lapar secara berlebihan yang dikenal dengan istilah anoreksia. Carree Otis juga melengkapi penderitaannya (demi pekerjaan) dengan mengkomsumsi kokain, pil diet, hingga memuntahkan semua makanan (bulimia). Syukurlah, kini keduanya sudah bertobat atas kesalahan tersebut. Kematian model asal Brazil , Ana Carolina Reston, karena anoreksia tak hanya membuka mata dunia bahwa selain sosialisasi pola makan sehat bagi remaja dunia harus dilakukan, teori cantik itu identik dengan tubuh kurus juga harus dikoreksi.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Penutup)

Sebagian selebriti berlomba menjadi kurus seperti Keira Knightley dan Kate Bossworth. Namun ada juga yang puas dengan bentuk tubuhnya yang berisi dan merasa tak perlu menguruskan badan. Kate Winslett, Scarlett Johansson dan Oprah Winfrey adalah buktinya. Oprah yang sebelumnya mengalami kelebihan berat badan melakukan diet makan sehat untuk menghindari efek buruk obesitas seperti penyumbatan pembuluh darah dan diabetes, bukannya untuk menjadi sebatang lidi. Kate Winslett sendiri mengungkapkan bahwa ia memang tidak memiliki metabolisme yang sangat cepat seperti Victoria Beckham yang selalu kurus walau sebanyak apapun mantan personil Spice Girls ini makan. Scarlett Johansson sendiri dengan lantang menyatakan dirinya ingin mengembalikan masa-masa glamour Hollywood saat lekuk indah tubuh wanita adalah kecantikan dan sensualitas sesungguhnya. Queen Latifah yang telah menulis buku Skinny Women Are Evil pun menyatakan bahwa Anda tak perlu berukuran baju nol hanya untuk merasa cantik dan seksi.

Dan bukan berarti semua pelaku industri mode mendukung budaya ‘pengurusan’ tubuh ini. Dari komunitas disainernya sendiri, tak semuanya berusaha tampil seperti model. Miuccia Prada atau Stella McCartney tak merasa dirinya bermasalah dengan berat badan. Kritikus mode Suzy Menkes, atau editor in chief  majalah mode Harper’s Bazaar Amerika Glenda Bailey pun tak bertubuh ceking seperti Anna Wintour yang menggawangi Vogue Amerika.

Beberapa tokoh dalam dua alinea terakhir memiliki satu kesamaan. Kepercayaan diri mereka tidak berada di kulit luar yang bersifat dangkal dan sesaat seperti standar atau ukuran kecantikan yang dibuat oleh orang lain. Apabila mereka memilih menjadi kurus atau berisi, itu adalah semata-mata demi kesehatan dan kenyamanan pribadi. Kalaupun ada yang menyebutkan penampilan bergaya dan modis itu hanya bisa diperoleh dengan tubuh kurus, teori tersebut terpatahkan oleh Miuccia Prada, Glenda Bailey atau Scarlett Johansson yang selalu masuk dalam daftar wanita berpenampilan terbaik versi majalah-majalah gaya hidup. Mungkin ini juga yang menyebabkan pesohor Nicole Richie memecat Rachel Zoe, konsultan mode pribadinya. Setelah lelah didoktrin dan dipaksa membuat tubuhnya sangat kurus, Nicole merasa ini tak ada hubungannya dengan penampilan bergaya.

Kepercayaan diri. Mungkin inilah yang pertama sekali harus ditanamkan dalam diri Anda sebelum melangkahkan kaki keluar rumah dengan baju entah berapa pun nomor ukurannya. Dengan kepercayaan diri, Anda akan menampilkan semua sisi terbaik yang bisa dilakukan dengan isi lemari Anda tanpa harus menjadi budak mode yang tak paham dengan diri sendiri. Tak ada label semahal apapun yang bisa membuat Anda merasa lebih cantik selain rasa percaya diri tersebut.