MAINTAIN YOUR STYLE THROUGH THE HARD TIMES (2008)

When the road to the stores gets bumpy for economic crisis, you still can look great.These previous five tips keep you in style. (Fashion meets Finance).Text & Photo: Muhammad Reza, Published on Bandung Advertiser Dec 11 2008.

The current issue in the end of 2008 is not global warming anymore. Major fashion designers solved that issue with the invention of fabric-mixture and lightweight coat, our fashionable life survived. This time, it’s financial crisis. When crisis is ‘in’, do we have to stop shopping? Is there anything we can do to meet this fashion need without making us broke?

It feels like when we had our economic crisis in 1997-1998. However, in such monetary crisis, some of us apparently shopped more often than before. Some likely needed to escape this financial depression by shopping. That’s suicidal. What a financially healthy fashionistas should do is to shop wisely to maintain their style despite the hard times.

1. Sale Doesn’t Always Save Money

If you think shopping around the sale racks would save you a little more money, it’s not. In fact, you might end up stocking your wardrobe with trash you will never wear. Here’s why: the sale racks would be loaded with the last season clothes. The trendy clothes, in particular. For example, since it’s going to be 2009 soon and the designers has been sending their upcoming collection to the stores, the old clothes in the stores must go. You probably think it’s lucky to get those “last season to be” clothes in much bigger fraction of the price. But you’ll feel OK to wear them for only a week or two. Because once the new season arrives, you would look like the archive of last season look book. The result? Those sale finds stay inside the closet forever. What a waste of money.

centro 1

2. Buy Classic Pieces and You’ll Shop No More

Whoever says classic style is boring might end up shopping all the time. Here’s the reason; being fashionable is not always being stylish. Being fashionable requires you to look in  latest trend . There’s no fashionable person wearing dated shoes or frocks. But being stylish, in classic style in particular, is another thing. It’s your personal style that is not mandated by the temporary fad. That means you don’t desperately need to reload your wardrobe every three months. Your style is not dictated by fashion magazines.

The items for classic style include the boxy jacket, black cotton blazer, black pipe pants or denim, white shirt, a pair of high heels and flats, and a little black dress. They’re so essential that you can keep several variants or designs and wear them all the time without looking dated. When you want to make your classic look a little bit more current, shop only the contemporary accessories such as jewelry or seasonal  ‘it’ bags. Classic look fits you anywhere, any occasion.

centro 2

3. Price and Labels for Quality

Well, this is true. When you buy clothes from well established labels, you invest. I don’t say that you have to be brand-minded, but these labels won’t settle for anything less than good quality. You are getting value guarantee  that lasts for long time. They may be clothes, bags or watches that you can pass to your children in the future. This is very  good for your wallet instead of buying bunch of cheap clothes that makes you repeating spending money all over again just because the fabric ruins or the color fades fast. Remember this; shop to invest. Price and value is not the same thing.

4. Always Try The Clothes On

When you go shopping, try on the clothes to make sure that they fit as if they were your second skin. You may be pretty sure about your size but still I recommend, make sure they really fit before you take them home. You may think if it’s too tight, you can just do some cardio at the gym. Duh. The possible exercise you’ll do is walking to the same store again to get more clothes.

centro 3

5. Proper Care

Nothing will last long if it’s not treated properly. It’s important that you know how to maintain each kind of clothes based on their fabric. For example, you can’t machine-wash tulle frocks because it would ruin the fabric and its crisp. When you drop your silk dresses to the dry cleaner, make sure the staff hang them separately from rough garments to avoid scratches. You also may understand that batik dresses require specific care. Dry clean and machine wash fade its color. Wrong care results in more money to spend for shopping.

Fashion is crucial and it does involve money. To look your best surely needs maintainance constantly. When the road to the stores are bumpy for economic crisis, you would still look great.These previous five tips keep you in style.

centro 4 cover

For questions and comments:

email : muhammadreza_ss@yahoo.com

whatsapp : +6287877177869

STYLING JOB : STYLE FACTOR YAHOO! INDONESIA (2011)

The first time I saw Minimal dresses, I wanted to see them on the fashion video host I styled in 2011. I knew this brand would be huge. Minimal is elegance. That’s how I wanted the host to be.

Watch the video here :

Natalia Haman wore Angelina Dress by MINIMAL, and her jewelry by NEW G and Truly (Available in Centro). Hair and Make Up : Wulan, Production : indoXPLORE. Location: Domain Bar & Grill, Senayan City, and Alfon’s Hair and Beauty Salon.

foto01

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

MEMAHAMI GAYA FORMAL PRAKTISI KEUANGAN (Bagian I & II) – 2017

Bagian I

Bagaimana bayangan Anda tentang penampilan pria berprofesi pialang saham, profesional perbankan, atau perencana keuangan? Setelan jas hitam formal dengan rambut tersisir rapi dengan satu ton pomade? Penampilan monokrom dan klasik yang sama dari hari ke hari?
Bila fashion tak lepas dari gaya hidup masyarakat berbudaya, maka pria modern yang berkarier di dunia keuangan tentunya memiliki kesesuaian gaya dengan dunia keuangan sekaligus mampu mengaktualisasikan tendensi mode terkini.
Common Look of the Financial Professional
Fashion mencerminkan cara kita menjalani hidup. Bukan saja tentang apa yang Anda pakai, tapi juga bagaimana, dimana serta dengan siapa Anda beraktivitas. Hal ini membantu kita memahami keharusan penampilan formal bagi para praktisi keuangan.
“Kebanyakan pria yang menggeluti bidang keuangan berpenampilan rapi dan resmi. Bidang ini erat kaitannya dengan trust. Penampilan yang profesional tentu membangun kepercayaan dalam awal hubungan bisnis,” ujar Novi Syabrina, branch manager perusahaan asuransi terkemuka Manulife.
Menurutnya, gaya berpakaian yang cocok untuk praktisi bidang asuransi atau investasi memang mewajibkan kemeja berlengan panjang, celana panjang, dasi, dan juga jas. Alfons Lee, desainer yang sedang populer dan diminati sederetan sosialita dan selebriti tanah air, juga menambahkan bahwa kerapian adalah elemen kunci gaya para profesional tersebut.
Mengapa harus formal?
Financial educator & advisor Elsa Febiola Aryanti memaparkan alasan betapa pentingnya hubungan gaya formal para pelaku keuangan dengan tujuan utama mereka mendapatkan kepercayaan dari klien.
“Bisnis keuangan adalah bisnis kepercayaan. Penampilan yang rapi dan formal sangat penting karena mempresentasikan kepercayaan, trustworthyness, dan reliability tidak saja dari praktisi tersebut namun juga perusahaan yang diwakilinya.” ungkapnya.
Industri keuangan mencakup banyak bidang termasuk perbankan, pasar modal, dan asuransi. Elsa menambahkan, bahwa ada bidang yang secara tradisional gaya berpakaiannya lebih formal dibanding bidang lain. Biasanya sub bidang yang sejarahnya lebih tua seperti perbankan dan asuransi lebih mewajibkan praktisinya berpakaian formal.
Siddiqi Patiagama, seorang manager dari salah satu divisi bank swasta di Jakarta juga menegaskan bahwa kerapian dan formalitas penampilan para staf perbankan adalah tuntutan pekerjaan, bukan sekedar pilihan gaya berbusana. Sangat mungkin seorang profesional ‘tersisihkan’ hanya karena tidak mengikuti pakem berpakaian yang sudah menjadi bagian kultur perusahaan.
Sepenting itulah sebuah gaya formal bagi seorang praktisi keuangan. Tak hanya sekedar rapi dan enak dipandang, tapi gaya berpakaian profesi ini memiliki dasar yang sangat mendalam tentang fungsi.
Bagian II
Jika sebelumnya sudah dibahas tentang kenapa praktisi keuangan berpakaian formal, di bagian ke dua ini kita akan memaparkan bagaimana cara membuat gaya formal itu sendiri tidak terasa kaku, dan nyaman dipandang.
Make It Stylish
Menyeimbangkan keduanya dalam proporsi yang wajar membutuhkan pemahaman akan proporsi dan komposisi dalam padu padan pakaian serta aksesori. Beberapa profesional keuangan dan mode tanah air pun memberi tips sederhana untuk membuat gaya formal ini stylish tapi effortless.
Lanangindonesia.com menerima masukan dari desainer tanah air yang sudah go international, Lenny Agustin. Desainer yang terkenal berkat kepiawaiannya menggubah keindahan kain tradisional seperti tenun dan batik menjadi ready to wear yang modern ini menawarkan beberapa tips untuk upgrade penampilan formal jadi lebih modis.
“Coba kemeja dengan detil atau motif yang unik namun tidak terlalu menyolok seperti kemeja dengan kerah yang lebih kecil dari biasanya, kerah shanghai, atau kantong dengan warna jahitan yang berbeda,” ujar Lenny.
shanghai-1
Sementara itu branch manager Manulife, Novi Syabrina, menyarankan batik sebagai pilihan kemeja bila mendapatkan acara dengan dress code. Batik dianggap formal sekaligus personal karena menunjukkan taste kita dalam pemilihan kualitas dan kesesuaian warna dengan kulit. Ada begitu banyak pilihan kemeja batik, dari yang klasik hingga kontemporer. “Yang pasti, jangan sampai terlihat cheap,” tandasnya.
 shanghai 3
Financial educator dan advisor Elsa Febiola juga merekomendasikan pemakaian kemeja tenun ikat untuk penampilan praktisi keuangan yang dikenakan dengan sepatu dan belt kulit berkualitas.
Mix and Match
Dalam mix and match, Desainer Lenny menyarankan pemakaian jas atau blazer yang berbahan tipis dan tak usah dikancingkan. Beberapa rekomendasinya untuk bawahan adalah pilihan celana panjang bertekstur seperti denim untuk penampilan formal yang fresh.
“Namun tetap dalam warna senada dengan keseluruhan penampilan,”ungkap desainer yang juga sedang disibukkan dengan persiapan perhelatan mode Surabaya Fashion Parade Mei mendatang ini.
Kami memahami pentingnya dress code yang sudah pakem di lingkungan praktisi keuangan. Karena itu, kami juga menganggap sentuhan mode kekinian pada penampilan profesional harus sewajarnya dan tidak mendominasi. Bila kantor mewajibkan kita mengenakan suit atau seragam tertentu, coba kenakan dengan detil-detil dalam ukuran semini mungkin seperti motif houndstooth atau kotak-kotak dalam warna netral dan formal seperti hitam, abu-abu, biru navy atau krem.
shanghai 2
Kita juga bisa ciptakan sedikit keseruan melalui sedikit aksen dengan burst out some colors pada aksesori dasi, cufflinks, atau pocket squares. Jika Anda berkacamata, mengapa tidak memilih kacamata desainer dari koleksi mutakhir? Folio atau clutch sesuai tren saat ini juga sudah cukup untuk menyuarakan ‘Fashion’ dalam penampilan kantoran Anda yang formal.
Pada akhirnya, penampilan profesional keuangan terbaik bagi pria modern menekankan pada kualitas dan kepatuhan berpakaian dengan sedikit ruang untuk eksplorasi tanpa mengubah tujuan penampilan secara keseluruhan; trust dan wibawa perusahaan.
Bagaimana Sobat Lanang sekalian, sekarang kalian sudah paham kan kenapa cara berpakaian para praktisi keuangan selalu eye catchy. Intinya gaya pakaian yang formal tapi stylish tetap bisa diadaptasikan pada beberapa profesi yang khususnya banyak di indoor. Nilai diri kita sebenarnya bukanlah apa profesi kita, tapi seperti apa cara berpakaian kita.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

THE PRESSURE TO BE THIN (2008)

Mengapa Definisi Kecantikan Berada di Label Ukuran Sehelai Pakaian?

By Muhammad Reza (muhammadreza_ss@yahoo.com , +6287877177869)

Tubuh Gemuk sebagai Antitesis Dunia Mode dan Kecantikan

Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa episode serial UGLY BETTY yang ditayangkan di televisi. Dalam serial yang diproduseri Salma Hayek dan disadur dari telenovela Betty La Fea, akan Anda temukan potret dan definisi kecantikan yang terpatri di ujung setiap saraf otak warga Amerika. Cantik itu berwajah simetris dengan hidung kecil, bergigi putih yang rapi, dan tubuh kurus, dengan ukuran baju nomor nol.

Tokoh utama serial ini, Betty Suarez (America Ferrera), adalah gambaran yang berlawanan dengan ide wanita cantik di dunia mode Amerika. Selain berkawat gigi, ia sering dipanggil dengan sebutan ‘gendut’ oleh kolega-koleganya di majalah MODE. Tubuh yang tak kurus ini sepertinya menjadi antitesis terhadap dunia mode.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Pembuka)

dior

Bila Anda membolak-balik halaman rubrik mode dari majalah panutan di bidangnya seperti Vogue Amerika atau W, akan terlihat barisan perempuan yang hanya berbalut kulit di tulang. Sama saja saat Anda menyaksikan parade model berbayaran termahal melalui saluran Fashion TV pada setiap finale peragaan busana. Saat Niki Hilton menjadi model pamungkas untuk Just Cavalli (atau saat Rihanna menutup peragaan musim panas 2008 Dsquared), kedua paha mereka yang tidak setipis top model Tanya Dzhialeva dan Andrea Stancu pun menjadi sesuatu yang janggal dan dibicarakan. Tips-tips berbusana yang dianjurkan pada kebanyakan majalah mode juga selalu berusaha menyiasati penampilan wanita agar terlihat jenjang, tinggi, dan lagi-lagi, kurus.

Ada apa sebenarnya dengan tubuh kurus dan mode? Bila melihat lukisan kuno atau foto setidaknya hingga era Marylin Monroe, bentuk tubuh wanita ideal itu adalah yang berisi dan memiliki lekuk-lekuk tubuh yang padat. Tubuh sintal Madame Bouvary, Ratu Prancis Marie Antoinette, penari penuh skandal Isadora Duncan, hingga ikon seksual Marylin Monroe pada masanya dijadikan acuan para wanita. Di awal tahun 60, Twiggy (lahir bernama Lesley Hornby) mulai menyetel tren baru dalam dunia modeling dengan tubuhnya yang sangat kurus dibandingkan dengan model-model ‘montok’ era Christian Dior.    Demam tubuh ala Twiggy pun merajalela saat film Breakfast at Tiffany beredar dan membuat para wanita ingin tampil setipis lidi bak Audrey Hepburn. Keempat persona bertubuh ‘penuh’ yang sebelumnya disebut seksi lalu berubah menjadi momok yang selanjutnya dianggap ‘gendut’.

Dalam mode, ada relevansi antara tubuh kurus (khususnya yang tinggi) dengan citra keanggunan. Dengan tubuh yang kurus, busana akan jatuh di badan dengan menciptakan efek elegan yang feminin. Setidaknya itulah citra yang dipopulerkan Audrey Hepburn dengan busana-busana simple-elegan Givenchy dan hingga saat ini selalu dijadikan referensi penampilan bersahaja sekaligus berkelas bagi pelaku industri mode dari  pembuat jam tangan Longines hingga couturier Zuhair Murad. Susan Train, mantan editor in chief Vogue Amerika dan Prancis pun mengakui figur Audrey Hepburn selalu menjadi inspirasi mode hingga kini.

Semakin Kurus

Dari era Twiggy, Ali McGraw, Lauren Hutton, hingga Jerry Hall dan Carree Otis, tubuh para model wanita semakin kurus dan mengurus. Bila sebelumnya ukuran baju nomor dua menjadi impian wanita yang ingin terlihat seperti model, ukuran baru yaitu nol pun menggantikan acuan lama. Kate Moss, Shalom Harlow, hingga yang terkini Chanel Iman mendefiniskan ‘kurus’ yang baru.

Menjadi model yang ‘terpakai’ di dunia mode memang harus tunduk pada kemauan pasar. Itulah yang terjadi saat model belasan tahun Ali Michael disuruh pulang dan kembali lagi ke agensi model DNA New York setahun kemudian untuk mengurangi berat badannya. Konon, sebagaimana yang diutarakan Fira Basuki dalam novelnya, Biru, tubuh selalu terlihat lima kilogram lebih gemuk dalam cetakan foto. Hal ini menyebabkan banyak model (dan wanita bukan model tapi mati-matian menyamai model) berusaha keras menjaga berat badannya agar selalu sesuai dengan ukuran ‘sample’ baju yang dipakai saat pemotretan atau peragaan busana.

Ada banyak cara yang dilakukan para model untuk mempertahankan kekurusannya. Dari yang benar dengan makan sehat dan berolahraga, hingga yang salah. Contohnya Kate Moss yang dikabarkan kecanduan rokok dan heroin agar tetap kurus, sementara Carree Otis menahan lapar secara berlebihan yang dikenal dengan istilah anoreksia. Carree Otis juga melengkapi penderitaannya (demi pekerjaan) dengan mengkomsumsi kokain, pil diet, hingga memuntahkan semua makanan (bulimia). Syukurlah, kini keduanya sudah bertobat atas kesalahan tersebut. Kematian model asal Brazil , Ana Carolina Reston, karena anoreksia tak hanya membuka mata dunia bahwa selain sosialisasi pola makan sehat bagi remaja dunia harus dilakukan, teori cantik itu identik dengan tubuh kurus juga harus dikoreksi.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Penutup)

Sebagian selebriti berlomba menjadi kurus seperti Keira Knightley dan Kate Bossworth. Namun ada juga yang puas dengan bentuk tubuhnya yang berisi dan merasa tak perlu menguruskan badan. Kate Winslett, Scarlett Johansson dan Oprah Winfrey adalah buktinya. Oprah yang sebelumnya mengalami kelebihan berat badan melakukan diet makan sehat untuk menghindari efek buruk obesitas seperti penyumbatan pembuluh darah dan diabetes, bukannya untuk menjadi sebatang lidi. Kate Winslett sendiri mengungkapkan bahwa ia memang tidak memiliki metabolisme yang sangat cepat seperti Victoria Beckham yang selalu kurus walau sebanyak apapun mantan personil Spice Girls ini makan. Scarlett Johansson sendiri dengan lantang menyatakan dirinya ingin mengembalikan masa-masa glamour Hollywood saat lekuk indah tubuh wanita adalah kecantikan dan sensualitas sesungguhnya. Queen Latifah yang telah menulis buku Skinny Women Are Evil pun menyatakan bahwa Anda tak perlu berukuran baju nol hanya untuk merasa cantik dan seksi.

Dan bukan berarti semua pelaku industri mode mendukung budaya ‘pengurusan’ tubuh ini. Dari komunitas disainernya sendiri, tak semuanya berusaha tampil seperti model. Miuccia Prada atau Stella McCartney tak merasa dirinya bermasalah dengan berat badan. Kritikus mode Suzy Menkes, atau editor in chief  majalah mode Harper’s Bazaar Amerika Glenda Bailey pun tak bertubuh ceking seperti Anna Wintour yang menggawangi Vogue Amerika.

Beberapa tokoh dalam dua alinea terakhir memiliki satu kesamaan. Kepercayaan diri mereka tidak berada di kulit luar yang bersifat dangkal dan sesaat seperti standar atau ukuran kecantikan yang dibuat oleh orang lain. Apabila mereka memilih menjadi kurus atau berisi, itu adalah semata-mata demi kesehatan dan kenyamanan pribadi. Kalaupun ada yang menyebutkan penampilan bergaya dan modis itu hanya bisa diperoleh dengan tubuh kurus, teori tersebut terpatahkan oleh Miuccia Prada, Glenda Bailey atau Scarlett Johansson yang selalu masuk dalam daftar wanita berpenampilan terbaik versi majalah-majalah gaya hidup. Mungkin ini juga yang menyebabkan pesohor Nicole Richie memecat Rachel Zoe, konsultan mode pribadinya. Setelah lelah didoktrin dan dipaksa membuat tubuhnya sangat kurus, Nicole merasa ini tak ada hubungannya dengan penampilan bergaya.

Kepercayaan diri. Mungkin inilah yang pertama sekali harus ditanamkan dalam diri Anda sebelum melangkahkan kaki keluar rumah dengan baju entah berapa pun nomor ukurannya. Dengan kepercayaan diri, Anda akan menampilkan semua sisi terbaik yang bisa dilakukan dengan isi lemari Anda tanpa harus menjadi budak mode yang tak paham dengan diri sendiri. Tak ada label semahal apapun yang bisa membuat Anda merasa lebih cantik selain rasa percaya diri tersebut.

FEMALE DANDIES (2010)

For Aquila Asia March 2010

Model: Monica Aziz (FRONT)
Styled by me (Muhammad Reza), photographed by Sugiarto Kwan, make up by Harry Sulistioko.

White shirt, backless vest, pants: Mango,

Signature Bowtie : Ichwan Thoha,

Shoes: Nine West,

Bracelet: Guess

The photoshoot is for Aquila Asia magazine with the theme :  edgy, funky, and funny with the braided wig to substitute the conventional headscarve. Aquila Asia is a modern moslem women magazine found in 2010 by Singaporean publisher Liana Rosnita Ridwan Beers.

Aquila Asia is the world’s first english fashion and lifestyle magazine for the cosmopolitan moslem women in Indonesia, Malaysia, Brunei and Singapore. I am in charge for editorial correspondence, obtaining information and images needed. I also did the Syle Guide section and manage Styling and Photoshoot. This is a very great experience because I was involved in many single details acquired in editorial department of a magazine.

cosmed lores

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)