YOUNG INDONESIAN DESIGNERS (2008)

Image source: Pexels

Dua perancang muda berbagi cerita. Dimuat di Bandung Advertiser, Juni 2008.

 Teks: Muhammad Reza  Foto: Pexels, Dok. Andi Saleh, Dok. Vera Alexandra Tjiam for DEAR SIR

Pertengahan tahun umumnya ditandai dengan kelulusan siswa berbagai sekolah di tanah air, termasuk sekolah mode. Para alumnui yang telah menekuni bidang rancang busana pun bergegas menciptakan eksistensinya di masyarakat. Ada yang langsung dikenal masyarakat melalui brand pribadi, ada juga yang mengawali karir dengan bekerja pada disainer atau perusahaan yang sudah mapan. Saat wisuda, tentulah orangtua mereka merasa lega karena proses pendidikan telah rampung, Namun kekhawatiran pun tentu masih dimiliki meski secuil. Akankah calon disainer ini berhasil? Berapa lama kesuksesan akan tergapai?

Tak sedikit orangtua yang meragukan masa depan anaknya yang bermimpi menjadi perancang, apalagi jika mereka merasa kemampuan ekonominya jauh dari kesan mewah bidang yang ditekuni anaknya. Dunia mode yang kerap terlihat glamor dan mewah mahal ini memang lekat dengan kalangan kelas atas. Padahal tak semua perancang busana ternama berasal dari keluarga dengan kekayaan berlimpah. John Galliano, misalnya, sempat tak memiliki rumah dan menumpang saat menimba ilmu di sekolah mode St. martin London. Christopher Bailey sendiri pun dibesarkan di perkampungan West Yorkshire di Inggris dan berayahkan tukang kayu.

Namun, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Untuk berhasill di dunia mode, bakat, keterampilan dan penguasaan bidang yang digeluti sangat berperan. Sebagaimana pernah diutarakan Muara Bagdja kepada saya, mode itu merupakan dunia pekerjaan yang kompleks dan perlu dipelajari. Mode tak hanya berkisar antara kreatifitas dan estetika pakaian-pakaian cantik dalam foto-foto di majalah dan fashion show.  Banyak talenta dan kerja keras yang dilibatkan dalam dunia ini seperti sumber daya penjahit yang harus sesuai tuntutan perkembangan zaman, strategi pemasaran, hingga efisiensi promosi tepat sasaran. Itu sebabnya, latar belakang ekonomi keluarga tidak menjadi hambatan besar bagi siapa saja yang berbakat dan ingin mewujudkan cita-cita memiliki usaha dalam mempercantik penampilan masyarakat. Di sekolah mode, para disainer masa depan tak hanya diajarkan bagaimana merancang pakaian, tapi juga menggali ilmu mengenai berbagai aspek bisnisnya.

Vera Alexandra Tjiam, misalnya. Setelah lulus dari sekolah mode Esmod Jakarta dengan spesialisasi busana pria, ia berkonsentrasi di label Dear Sir. Masa-masa penuh tantangan yang sulit dilupakannya saat menimba ilmu di Esmod adalah pada tahun ketiga pendidikan dimana mereka harus mempersiapkan koleksi kelulusan yang merupakan tugas akhir. Ia mengaku bahwa banyak rekan-rekannya yang hanya memiliki waktu sekitar empat jam sehari pada masa itu. “It was really tough,”ujarnya.

Wanita yang berdomisili di Jakarta ini juga menunjukkan seleksi alam sudah terjadi bahkan ketika masih dalam masa pendidikan. “Saat tahun pertama, ada tiga kelas di bidang yang sama. Pada tahun terakhir hanya tersisa dua kelas dan kelas yang saya hadiri hanya berjumalah dua belas siswa! Namun, pendidikannya sangat intensif. Saya diajarkan dunia mode dari a hingga z yang pada akhirnya memudahkan saya untuk siap bekerja di bagian manapun dari industri mode.”

Dear Sir by Vera Alexandra Tjiam

Di antara nama-nama perancang busana yang sedang menanjak karirnya, ada beberapa nama yang tak terdaftar di buku lulusan sekolah mode manapun. Hal ini menujmoijfnjukkan bahwa untuk menjadi seorang perancang busana yang memiliki ‘pasar’ itu ternyata tak harus selalu melalui jalur pendidikan formal. Beberapa nama disainer yang sudah termasuk berpengaruh dan tidak mengikuti pendidikan mode di sekolah formal adalah Ivan Gunawan dan Anne Avantie. Ivan Gunawan mempelajari rancang busana langsung dari pamannya; Adjie Notonegoro dengan bekerja selama lima tahun pada disainer yang pernah mendeklarasikan kebaya sebagai milik Indonesia ini. Sama halnya dengan Anne Avantie. Belajar merancang busana secara otodidak tak membuat ia berkecil hati apalagi sampai mundur dari kecintaannya pada mode.

Andi Saleh adalah salah satu perancang muda yang membangun brand busana tanpa melalui jalur formal seperti sekolah mode. Perancang busana yang pada Jakarta Fashion Food Festival 2008 kemarin menyuguhkan sarung bugis makasar menjadi pakaian yang modern ini menceritakan pengalamannya saat belajar menciptakan busana secara non-formal di Broek In Waterland – Belanda pada tahun 2002 – 2003. Ia mengembangkan skill-nya melalui seorang seniman yang membuka kelas privat dan menunjukkan padanya seni kombinasi warna, aplikasi dan pencampuran kain. Setelah bertahun-tahun memperkenalkan karyanya, ia pun mulai memiliki kalangan pelanggan sendiri, yaitu wanita-wanita matang yang feminin dan para pria berjiwa muda yang berani tampil beda. Lambat laun, ia mendapat tempat di hati banyak pencinta mode. Saat ini ia sedang mempersiapkan peragaan busana muslim Malaysia-Indonesia yang akan diadakan bulan Juli 2008. Jasanya sebagai fashion stylist pun sering diminta beberapa band baru di Indonesia .

Andi Saleh

Untuk menjadi perancang busana yang diterima di masyarakat mungkin tak melulu harus ditempuh melalui sekolah mode. Andi saleh memberikan saran kepada mereka yang ingin menjadi perancang busana, “Gali terus selera fashion Anda karena fashion itu terus berputar. Anda juga harus bisa meramu selera pasar dengan idealisme pribadi sehingga keduanya bisa bersatu dengan harmonis.” Disainer muda yang ingin segera memiliki butik dengan konsep rumah peninggalan Belanda sebagaimana yang banyak dilihatnya di Bandung ini  juga menyarankan agar mereka rajin melihat kanal-kanal mode, majalah dan internet.

Vera Alexandra Tjiam pun memiliki pesan kepada mereka yang ingin menjadi disainer. “Pastikan kalau Anda benar-benar meminati mode. Bukan hanya karena kesannya enak dan mudah. It’s not that simple to be a fashion designer, especially the good one. Banyak hal-hal rumit yang harus benar-benar dijalani dengan serius dan ini akan menyita waktu banyak. But it’s worthed. Jangan sampai putus di tengah jalan. Cari informasi mengenai sekolah mode yang bagus supaya tidak salah pilih, dan kalo memang sudah cocok, just go for it!”

Advertisements

10 BUSANA DAN AKSESORI YANG WAJIB DIMILIKI KAUM WANITA (2011)

Dimuat di Style Factor OMG Yahoo! Indonesia pada April 2011.

Teks: Muhammad Reza, Foto: Pexels.com

CHIC SHOPPER pexels-photo-291762

Terus menerus mengikuti tren mode yang selalu berganti, pasti akan melelahkan. Padahal tanpa perlu bergaya sesuai tren, kita tetap bisa tampil stylish dengan gaya klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Untuk itu, ada 10 fashion item yang wajib dimiliki oleh seorang wanita.

1. Celana panjang hitam. Dengannya, kita bisa memakai kemeja dan blazer untuk berangkat ke kantor. Jika dipadu dengan blus dan aksesori girly, kita siap berangkat kencan dengan si dia. Celana panjang hitam juga pantas dikenakan bersama T-shirt untuk bersantai.

 

White Shirt and Black Trousers
White Shirt and Black Trousers

2. Kemeja putih. Kemeja ini bagaikan kanvas yang siap menerima nuansa tata rias dan rambut apa saja. Ia juga sangat fleksibel terhadap waktu dan resmi/tidaknya kegiatan. Dengan kemeja putih yang sama, kita bisa memadu-padankan jaket, blazer, vest, atau syal.

3. Sepatu hak tinggi hitam. Sama halnya dengan celana panjang hitam, sepatu hak tinggi ini bisa dikenakan untuk kegiatan formal dan kasual. Pilih yang bermodel stiletto atau platform sederhana dengan bagian ujung kaki tertutup. Sepatu dengan warna lain atau model ujung kaki terbuka boleh Anda miliki setelah punya sepatu wajib ini.

woman black shoes
Image source: Pixabay.com

4. Blazer hitam. Selain menghangatkan tubuh, blazer “merapikan” tampilan. Bisa dipakai untuk urusan kantor dengan bawahan rok pensil, bisa juga dipakai jalan-jalan dengan bawahan rok jins. Pilih blazer yang ukurannya pas di badan, bukan ketat. Blazer yang kekecilan akan menampakkan tonjolan lemak dan terlihat berantakan.

black blazer pexels-photo-325531

 

5. Celana jins biru tua. Biru tua atau indigo tak saja membuat tubuh tampak lebih langsing, tapi juga mudah dipadu-padankan dengan warna lain. Umumnya kelihatan santai dengan T-shirt, tapi bisa naik kelas juga menjadi glamor bila dipadukan dengan jaket kulit, jaket berkerah bulu, atau perhiasan berwarna emas dan perak.

jeans and cardi

6. Sweater & cardigan. Sweater dan cardigan memberi sentuhan manis dan ‘effortless’ pada gaya busana apa saja. Selain dipakai di atas kaus, cardigan juga bisa menutupi gaun mini, gaun koktil bertali tipis atau tak bertali. Sedangkan sweater memberi kesan feminin dan tangguh sekaligus. Keduanya dengan mudah serasi dengan rok atau celana apa saja.

7. Pakaian dalam yang tepat. Meski tak terlihat, namun bila pakaian dalam terasa salah, penampilan kita juga akan terlihat kurang enak dipandang. Miliki setidaknya beha berwarna putih untuk atasan berwarna putih, hitam tanpa tali untuk gaun hitam, sport bra untuk berolahraga dan warna nude bila ingin mengenakan busana menerawang seperti berbahan lace. Miliki juga G-string atau thong untuk celana atau gaun ketat yang menempel di tubuh untuk menghindari penampakan garis celana dalam yang “mengganggu”.

little black dress pexels-photo-219604

8. Little black dress.  Gaun hitam selalu klasik, elegan dan mudah dipadu padan dengan aksesori.

9. Kacamata hitam. Kacamata hitam adalah aksesori utama untuk mendapatkan kesan selebritas dengan mudah. Mau model aviator seperti yang dikenakan Sarah Jessica Parker atau model belalang ala Paris Hilton, yang penting sesuaikan dengan bentuk muka Anda. Bila ragu, ajak ibu atau teman terdekat yang bisa diandalkan sarannya saat berbelanja kacamata. Dengan kacamata hitam berkualitas, tampilan kasual berupa jins dan T-shirt langsung menjadi gaya.

summer-young-woman-pretty-sunglasses

10. Tas tangan bergaya klasik. Sebaiknya Anda menyisihkan uang untuk membeli sebuah tas tangan berkualitas dengan model yang klasik. Berkualitas; berbahan kulit asli yang tentunya tahan lama dengan jahitan yang rapi. Tidak harus bermerk, namun dengan sekali pandang saja tidak terlihat murahan. Sebagai alternatif kulit, bahan kanvas pun boleh. Pilih model klasik yang bersih dari detil aneh-aneh atau yang trendy. Bentuk kotak atau trapesium adalah pilihan terbaik.

red croco bag
Image source: Pixabay.com

TIGA ALASAN LOGIS UNTUK BERHIJAB

hijab style pexels-photo-196753

Teks: Muhammad Reza, Foto: Pexels.com

Dimuat di Kompasiana.com pada 8 Juni 2017.

http://v20106.kompasiana.com/modenesia/tiga-alasan-logis-untuk-berhijab_59384c623791c4197562f912

Sebelumnya saya mohon maaf, apabila ada yang kurang berkenan dengan yang akan saya utarakan. Artikel ini hanya berdasarkan pemikiran sederhana. Kalaupun tak setuju, setidaknya bisa jadi cara untuk mengenal aturan berbusana yang dianjurkan bagi saudari kita yang menganut kepercayaan mayoritas di tanah air. Sekali lagi, saya tidak berniat menistakan kepercayaan apapun disini. Dan saya, untuk itu, memohon maaf sebesar-besarnya.

Berhijab, yakni berbusana dengan menutupi  seluruh tubuh hingga pergelangan tangan dan wajah bagi wanita, merupakan bagian ajaran Islam. Panduan berbusana ini dijelaskan dalam kitab Al Quran. Dalam surat An Nur ayat 31, wanita diperintahkan mengenakan kerudung yang menutupi hingga dadanya. Perintah berhijab juga disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 59. Memang, berjilbab tidak menjadi ukuran kadar keimanan. Namun, bila ajaran itu untuk keselamatan, kenapa tidak mengikutinya?

Islam juga mengajarkan wanita untuk berpakaian sewajarnya; tidak ekstravagan tanpa tujuan yang bermanfaat. Saya menafsirkannya sebagai cara berpakaian yang mencegah diri dari sifat keangkuhan sekaligus menolong saudari lain untuk terhindar dari sifat iri dengki yang mungkin belum dapat mereka kontrol. Bila Anda mencintai keindahan dan ingin mengekspresikannya melalui  tekstil atau dekorasi busana yang mewah,  mengapa tidak? Namun tidakkah sebaiknya dikenakan di rumah sendiri? Kalau dipakai bepergian, mungkin harus lihat-lihat tempat tujuan dan lingkungannya dulu, ya.

Saya pikir ada banyak sekali alasan logis dan praktis mengapa berhijab sangat bermanfaat dan mempermudah kehidupan. Tiga diantaranya adalah sebagai berikut.

 

1. Menghindarkan diri dari fitnah.

Ya, kita tak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran setiap orang di sekitar kita. Beberapa model busana yang bukan  ditujukan untuk gaya berhijab memang menyanjung kecantikan wanita dengan menegaskan indahnya kulit dan lekuk tubuh alami pemakainya. Bagi perempuan, tubuh adalah haknya, mau diperlihatkan atau tidak. Namun seringkali hak yang dilindungi ini disalahartikan. Kerapkali wanita yang berbusana terbuka disalahtafsirkan karena cara berpakaian tersebut  lekat dengan seksualitas.

shutting up the voices pexels-photo-129862

 

Saya teringat contoh kejadian fitnah karena busana yang minim bahan.  Sekali waktu, saya bersedih menonton video yang diunggah di youtube, dimana seorang wanita begitu marah dan menghardik warga suatu kampung disebabkan beberapa diantaranya menyampahinya dengan ujaran yang kurang pantas. Melihat gaya berbusananya yang luar bisa dermawan memperlihatkan kemolekan tubuh seraya memamerkan belahan dada dan paha, beberapa warga mengasosiasikan penampilan itu dengan para pemeran film-film panas, atau para wanita penghibur. Jika wanita tersebut tersinggung karena merasa difitnah, saya memahami kemarahannya. Bisa jadi dia bukan wanita penghibur. Menurut saya, tentu saja dia berhak meluruskan fitnah, walau saat itu dilakukan dengan begitu dramatis sehingga ada pihak yang merasa kehebohan tersebut layak dipertontonkan di media sosial. Namun, tidakkah peristiwa itu memalukan?  Syukurlah, konflik tersebut berakhir damai. Warga yang melontarkan fitnah meminta maaf.

Saya hanya bisa mendoakan, semoga berbagai permasalahan miskomunikasi seperti itu tak terjadi lagi. Menurut saya, sebaiknya kita semua mempertimbangkan dampak cara kita berpakaian sebelum meninggalkan kediaman masing-masing.

 

2. Menghindarkan diri dari kejahatan seksual.

Anda pernah membaca atau menyaksikan berita mengenai kekerasan seksual dan juga demo hak mengenakan rok mini? Kasus perkosaan  umumnya disebabkan pelaku terdorong beraksi karena terangsang melihat bagian tubuh korban yang dipertontonkan. Namun, sebagian wanita menganggap berpakaian seksi adalah hak mereka dan bukan menjadi  pembenaran atas perbuatan jahat pelaku.

sad woman pexels-photo-271418

Menurut situs resminya, Komnas Perempuan telah mendata sebanyak 93.960 kasus kekerasan seksual pada kaum hawa yang terjadi sejak 1998 hingga 2010.  Artinya, dalam kurun 13 tahun, setiap hari ada 20 (19.80) korban. Dari angka tersebut, Komnas ini mengelompokkannya kepada jenis kekerasan yang lebih spesifik. Mereka menemukan bahwa perkosaanlah jenis  kasus terbanyak. Kasus pelecehan seksual secara fisik, verbal atau tindakan yang menjadikan korban sebagai objek seks berada di peringkat ketiga.

Terkait himbauan mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, agar perempuan sebaiknya tidak mengenakan rok mini saat bepergian dengan kendaraan umum, sekelompok perempuan menyuarakan aspirasinya. Para perempuan yang menamai diri Kelompok Perempuan Menolak Perkosaan berdemo di kawasan Bundaran HI pada 18 September 2011 silam dengan mengenakan rok mini dan beberapa diantaranya juga memakai atasan tanpa lengan. Sebagaimana diberitakan di situs Tribunnews, mereka menganggap pemikiran bahwa perkosaan yang diakibatkan penampilan seksi itu tak bisa diterima.

Bagaimana menurut Anda?

Kalau saya boleh beropini, ada begitu banyak alternatif untuk mempermudah kehidupan kita. Sebagaimana di bidang kehidupan lainnya, pilihlah yang aman. Ya, kita memang memiliki hukum yang melindungi. Namun itu tidak berarti menghentikan kemungkinan kasus  kriminal  untuk menghampiri kita. Ingatlah, pria adalah makhluk visual. Ketika Anda berpakaian seksi di dalam rumah, tentu jauh dari bahaya . Namun, saat bepergian dimana setiap pria tak dikenal melihat Anda dalam pakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh apalagi terbuka, apakah Anda bisa memastikan terbebas dari kemungkinan pelecehan seksual? Ibarat mengunci rumah untuk menghindari perampok, kuncilah kesempatan ‘maling’ untuk menjahati kehormatan yang berharga. Ingatlah, selain disebabkan adanya kesempatan, maling cenderung memilih korban yang lebih ‘gampang dan mengundang’ untuk ditaklukkan.

fashion-woman-countryside-clothes.jpg

Dalam konteks ini, saya melihat begitu besarnya kemungkinan saudari kita yang berhijab untuk terhindar dari kejadian-kejadian serupa.  Begitu besar pula kemungkinan mereka untuk menjaga nama baik keluarganya hanya dengan cara menutupi tubuh melalui pakaian yang sesuai aturan agama.

 

3. Melindungi kesehatan dan kecantikan.

Gaya berbusana hijab menjaga kesehatan wanita yang mengenakannya. Bayangkan polusi udara dan pemanasan global. Betapa buruknya mereka berdampak pada rambut dan kulit. Kulit adalah jalan masuk berbagai kuman. Bila tak terlindungi, ia pun menjadi target kanker kulit melalui paparan matahari secara langsung.

Kanker kulit disebabkan paparan sinar ultraviolet (UV) alami maupun buatan (lampu UV dan tanning bed) yang  diperburuk dengan menipisnya lapisan ozon. Situs Faktakanker.com mengatakan betapa kanker ini bisa menyebar dan mempengaruhi organ tubuh lain dan berakhir fatal seperti kebutaan. Menurut data WHO, sebagaimana disebutkan dalam situs Alodokter, sekitar 132 ribu kasus kanker kulit bernama melanoma  muncul setiap tahun di seluruh dunia. Situs ini pun menyebutkan bahwa wanitalah yang lebih berisiko menderita penyakit mematikan ini.

pretty eyes pexels-photo-87293

Rambut, seperti yang diyakini banyak salon kecantikan, adalah mahkota. Anda mungkin berpendapat sama. Nah, bila mahkota kesayangan ini rontok atau rusak karena paparan sinar matahari, tak mau dong? Memakai produk anti sinar UV pada rambut ternyata tak seefektif mengenakan penutup kepala, ungkap situs Livestrong.com. Wah kalau begitu, kenapa tak berhijab saja? Praktis tak perlu berbagai pernak-pernik perawatan yang rumit.

Tak mau gerah  mengenakan pakaian tertutup?  Jangan khawatir. Dengan blus, tunik atau kaftan berpotongan  longgar ,  penguapan keringat akan lebih cepat. Gerah atau gatal karena keringat biasanya disebabkan busana yang ketat. Sebenarnya banyak dampak negatif busana ketat. Selain berpotensi penjamuran, memakai baju ketat juga bisa menyebabkan penyakit asam lambung, lho. Tak percaya? Google saja.

Saya percaya, saudariku semua sudah mengetahui betapa maju dan berkembangnya dunia mode hijab. Ini tidak saja di Indonesia namun juga di luar negeri. Di Indonesia, sejak tahun 2011 kita mulai mengenal disainer dan merk busana muslim yang koleksi rancangannya begitu modern dan bergaya, seperti Dian  Pelangi dan Anniesa Hasibuan. Di negara tetangga, kita mengenal Ahley Isham, Tom Abang Saufi hingga Jovian Rayke Mandagie yang merancang busana yang cocok untuk para muslimah. Sementara di  kancah global, sejak 2016, Dolce & Gabbana telah meluncukan lini khusus dengan menyajikan koleksi abaya yang Islami. Alhamdulillah. Pilihan dan inspirasi gaya berhijab semakin beraneka ragam.

Dengan ketiga alasan yang sangat logis tadi, menurut saya, sebaiknya muslimah menjadikan  hijab sebagai gaya berbusana. Kalau gaya ini jelas-jelas mendatangkan banyak manfaat, mengapa memilih gaya lain berisiko mendatangkan mudharat? Berhijab, yuk.

 

Untuk saran dan pertanyaan; email ke muhammadreza_ss@yahoo.com , whatsapp 087877177869 .

BLAZER DAN KEPEDULIAN

Sebagai bagian budaya, mode merefleksikan etika yang diterapkan dalam kehidupan.

Teks: Muhammad Reza

Sebagai pecinta fashion, saya mengagumi setiap aspek dalam  bidang yang kerap diasosiasikan dengan estetika ini. Beranjak dewasa, melalui para penulis dan pekerja mode yang membagikan ilmu dan pengalamannya, semakin terpesonalah saya. Sesekali diri yang awam ini heran dengan begitu kompleksnya  bidang yang sudah ratusan tahun menjadi bagian peradaban. Mode, ternyata tak hanya sekedar perkara berbelanja atau padu padan pakaian demi menghias diri. Ia  juga refleksi sekaligus pengaruh pada kehidupan secara finansial dan sosial. Bila Anda pernah menyempatkan diri membaca novel  yang terinspirasi pengalaman pribadi penulisnya (atau menonton filmnya yang dibintangi Meryl Streep dan Anne Hathaway), sebuah adegan dimana sang pemimpin majalah fashion menyantap Wall Street Journal setiap hari bersama surat kabar dan beberapa majalah lain mungkin bisa memberi sebersit ilustrasi bahwa bidang terkait kebutuhan sandang ini memegang peran penting dalam setiap aspek kehidupan.

The Devil Wears Prada The Movie
Image Source : the-toast.net

Itulah sebabnya, ketika suatu waktu saya mendengar komentar dari seseorang yang mengecilkan manfaat mode bagi dirinya, saya berempati. Mungkin memang mode perkara remeh, baginya. Entah karena kondisi wawasannya dengan elemen budaya tersebut, atau ia belum berkesempatan berkenalan dengan kalangan yang termasuk dalam bidang usaha penyumbang terbesar kedua dunia industri kreatif nasional  setelah industri kuliner dan menempati posisi teratas  dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 32,3% pada 2016.  Namun memang, sebagaimana pernah diungkapkan ilusionis Deddy Corbuzier kepada saya, manusia cenderung menarik kesimpulan termudah bagi hal-hal yang kurang dipahaminya. Dalam konteks dimana seseorang tadi, yang menurut saya, memberi pandangan yang kurang sedap didengar terhadap dunia mode, saya memaklumi  kemungkinan alasan ujaran yang terdengar jujur tersebut.

Pengalaman terkait perbedaan pandangan mengenai mode pun terjadi saat mendengar komentar lainnya. Dalam suatu kesempatan, ketika saya pernah bekerja di suatu tempat sebagai penulis dokumen-dokumen perusahaan, ada rumor mengenai kebijakan untuk memakai blazer saat menemui narasumber kami. Seorang kolega mempertanyakan. Haruskah memakai jas yang berkesan formal ini?

Saat itu saya juga memikirkannya. Seingat saya, sebagai pekerja kreatif berupa penulis di tabloid dan majalah mode di masa lampau, tak pernah ada anjuran demikian. Saya boleh memakai kaos oblong dan celana jeans saat melakukan wawancara. Namun itu terjadi karena saya menulis untuk tabloid atau majalah hiburan. Sementara saat ini, saya menulis untuk laporan korporat yang bersifat resmi. Kami menemui organ manajemen, petinggi-petinggi perusahaan yang tentulah sangat penting karena mereka memberi keputusan dan arahan yang menentukan keberlangsungan kehidupan perekonomian orang banyak, seperti para karyawannya. Haruskah saya memakai blazer saat menemui mereka?  Saya kan hanya mau wawancara untuk tulisan.

Memori yang kurang nyambung tiba-tiba muncul saat saya merenungkan ikhwal blazer yang tampak sepele dan remeh ini. Visualisasi para artis dalam balutan busana avant garde di karpet merah acara tahunan Met Gala 2016 di Museum of  Modern Art New York menyeruak tanpa diundang. Kok jadi teringat ke acara itu? Entahlah. Saya hanya ingat,  acara itu bertema Art of the In-Between dan merupakan penghargaan kepada disainer surealis Rei Kawakubo atas koleksi busana rancangannya yang sangat berseni sehingga layak dimuseumkan. Dan sebagaimana budaya di sana, mengenakan pakaian sang disainer atau setidaknya yang sesuai dengan tema menghasilkan parade manusia-manusia ‘berpakaian ajaib’. Ketika  ada undangan yang berbusana ‘biasa-biasa saja’ tentu tidak menjadi masalah besar, namun di saat mereka diharapkan seharusnya mampu menghargai dan menghormati acara dan pengundang, kenapa tidak melakukannya? Ini mengenai dress code. Nyaris menyerupai situasi di saat kita diundang ke kondangan, namun lebih memilih memakai kaus kasual yang cute dibanding batik, kebaya atau gaun pesta. Tidak masalah bila kita tak peduli untuk menghormati pengundang, kan? Juga tak menjadi beban bila kita tak peduli untuk terlihat atau merasa seperti tamu yang tak diundang, tidak pada tempatnya.

met-gala-2017-best-dressed
Celebrities in Met Gala 2017. Image Source: Vanityfair.com

Nah, perihal kepedulian menyesuaikan penampilan dengan acara ini mirip dengan isu sebelumnya, si blazer yang menimbulkan ketidaknyamanan tadi. Memakai blazer untuk menemui sang petinggi perusahaan, menurut saya, hanyalah masalah etika. Dengan berpakaian sama rapi dan resminya dengan mereka, kita menghargai. Bukan berarti tanpa blazer kita kurang menghormati. Hanya saja, ketidakpedulian akan hal kecil biasanya meninggalkan kesan kurang menyenangkan.

Saya kemudian membayangkan, tentulah tak nyaman bagi mereka yang tak terbiasa memakai blazer kemudian ‘dipaksa’ memakainya. Bukankan busana kita mencerminkan kepribadian? Kalau jas yang resmi itu kontradiktif dengan gaya berpakaian personal yang bebas dan santai, kenapa harus dipakai? Ya mungkin memang seharusnya tak dipakai. Namun kita bekerja pada pihak yang mensyaratkan  perilaku (termasuk cara berbusana) sesuai nilai-nilai mereka. Oleh karena itu, berbusanalah sebagaimana yang diharapkan.

devil-wears-prada-anne-hathaway-chanel-blazer
Image Source: Glamour.com

Mode memang dunia penuh keindahan yang kerap terlihat dibuat-buat dan kurang bermanfaat. Namun beberapa hal utama kehidupan-salah satunya etika-merupakan esensinya. Kali ini saya menulis mode sebagai bagian etika. Mungkin kapan-kapan saya menulisnya dari sudut pandang lain; ekonomi, misalnya. Namun entah kenapa, saya suka menulis hal yang kurang penting saja, yang umumnya terilhami oleh pengalaman dan kebingungan yang disebabkan pemahaman yang kurang signifikan untuk dibahas; mode sebagai bagian etika.

PERJALANAN MODE ANAK-ANAK (2008)

Teks: Muhammad Reza 

Published in Bandung Advertiser July 2008 

Mode anak-anak merupakan fragmen yang tak terpisahkan dari dunia mode yang dinamis. Sebagai bagian kebudayaan, ia berevolusi mengikuti perubahan sosial dan teknologi. Perjalanan mode anak-anak sejak awal kelahiran dunia mode hingga saat ini akan digambarkan secara singkat dalam Bandung Advertiser edisi khusus anak-anak ini.

 marie antoinette 1

Mode anak-anak memang bukan sesuatu yang baru atau asing. Sejak masa kejayaan Marie Antoinette yang diakui sebagai kelahiran dunia mode, anak-anak memiliki tren mode tersendiri. Selama abad delapan belas, setelah melalui masa-masa bayi (dimana mereka berpakaian secara uniseks), anak-anak didandani dengan model pakaian seperti orang dewasa. Perbedaannya hanya terletak pada pemakaian pantalon di dalam rok dan panjang rok anak perempuan yang bisa dijadikan acuan usia. Rok anak perempuan berusia enam belas tahun sebatas mata kaki, usia empat belas tahun sebatas betis, sementara usia dua belas tahun ke bawah sebatas lutut. Pakaian anak-anak berbahan sutra pun sempat naik daun yang berfungsi menghubungkan anak-anak dengan komunitas bangsawan, sekaligus membedakannya dengan anak-anak rakyat jelata yang hanya mampu berpakaian katun dan wol.

Saat revolusi Perancis meletus dan permaisuri Josephine mempopulerkan empire line, anak-anak perempuan pun dibebaskan dari himpitan korset. Mereka berlarian dengan lepas mengenakan pakaian katun ringan yang pada masa revolusi industri marak diproduksi.

Tren berikutnya adalah apron yang dipopulerkan di era Victoria dan Edward. Tak hanya berfungsi menjaga kebersihan, apron juga menjadi media pamer dekorasi sulam atau lace yang mewah.Beberapa tren yang berusia singkat pun mewarnai perjalanan tren busana anak-anak seperti pemakaian bahan tartan, ragam topi dan hiasan kepala seperti pita, hingga gaya pelaut. Setelah kedua era tersebut, tren baju anak-anak kembali menyerupai busana dewasa.

Mode anak-anak semakin memiliki ciri khas dengan laju waktu, khususnya di abad duapuluh. Dunia mode berkembang dan bergerak cepat dengan pertumbuhan rumah-rumah mode seperti Chanel dan Lanvin, serta publikasi melalui majalah-majalah mode sekelas Vogue dan Der Bazaar.

mode anak shirley t

Hadirnya bisnis hiburan seperti film menciptakan ikon-ikon mode yang membantu peredaran sebuah gaya, termasuk gaya berbusana anak-anak. Gaya berbusana anak-anak yang paling terkenal pada saat itu melibatkan bintang film cilik Shirley Temple. “Shirley Temple mempunyai pengaruh yang sangat besar pada industri mode anak-anak. Setiap ibu (di masa itu) menginginkan putrinya terlihat seperti Shirley, berbalut gaun pendek yang melambai dan berambut ikal,” ujar Gini Stephens Frings dalam buku berjudul Fashion from Concept to Consumer. Munculnya televisi pun mempercepat perputaran tren mode baju anak-anak. Apa yang dikenakan aktor dan aktris cilik di layar kaca segera ditiru. Baju anak-anak selanjutnya menjadi komoditi industri. Baju-baju siap pakai diproduksi besar-besaran dan ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Majalah Vogue pun merilis Vogue Bambini, yang mengundang penerbit lain membuat majalah serupa.

 Setelah aksi pembakaran kutang wanita di tahun 1960-an, kebebasan sepertinya menjadi tema utama dunia mode, termasuk mode anak-anak. Celana pendek dan kaus t-shirt dengan warna-warna menyolok sesuai tren warna-warna burung merak pun membahana. Anak-anak juga diajarkan untuk lebih sering aktif bergerak dengan dipopulerkannya olahraga bersepeda, bersepatu roda, dan skateboard hingga era tahun 1980-an.

mode anak fullhouse

Mode anak-anak kemudian menikmati kemakmuran di tahun 1980-an saat kondisi ekonomi dunia sedang menanjak. Saat orangtuanya berlomba-lomba bergaya “dress to impress” dengan balutan baju disainer dan perhiasan emas, anak-anak pun merasakan helai demi helai benda-benda bermerk di tubuhnya. Saat Prada sukses membuat orang dewasa mengincar tas sandang dari nilon dengan logonya yang cukup besar, anak-anak pun tak ketinggalan. Film Clueless yang dibintangi Alicia Silverstone menggambarkan kebutuhan anak-anak dan pra remaja akan barang mode bermerk di era 1990-an. Kebutuhan yang serius akan mode di kalangan anak-anak juga ditampilkan dalam film The Clique yang diproduksi Tyra Banks pada 2008. Para disainer dan brand papan atas akhirnya melirik pasar baru yang cukup menjanjikan; anak-anak.

mode anak the clique

Hingga saat ini, disainer dan label busana internasional berbondong-bondong meluncurkan label busana untuk anak-anak. Beberapa contohnya adalah Matthew Williamson yang merilis koleksi Butterflies, Little Marc dari Marc Jacobs, Ralph Lauren Children’s Wear, Crewcuts dari J.Crew hingga Dolce & Gabbana yang menyajikan D&G Junior.

 Bagaimana dengan perjalanan mode anak-anak di tanah air? Di Indonesia, tigapuluh tahun silam ibu-ibu di Bandung dan Jakarta mungkin sudah puas dengan menjahit sendiri atau membeli pakaian anak-anak yang diproduksi garmen secara massal. Sekarang, mereka pun berkesempatan memakaikan pakaian ekslusif rancangan disainer nasional pada anak-anaknya, meski disainer yang tersedia untuk koleksi anak-anak tak seabrek-abrek seperti di luar negeri. Beberapa disainer lokal yang menggarap koleksi anak-anak tersebut adalah Sofie dan Sebastian Gunawan dengan label Bubble Girls.

 Di Indonesia, brand high fashion untuk anak-anak hanya dikerjakan oleh segelintir disainer. Hal ini bersinggungan dengan faktor ekonomi. Bagi disainer, bersaing dengan garmen-garmen lokal tentunya tidak mudah. Harga sepotong busana buatan disainer tentunya tak bisa disamakan dengan harga produk garmen. Selain disainer umumnya hanya menggunakan kain yang terbaik (sehingga lebih mahal), kualitas pengerjaan dan ekslusivitas rancangan tentu membuat nilainya berlipat-lipat dibandingkan baju buatan garmen yang dijahit dengan mesin Yuki. Oleh karena itu, industri high fashion nasional untuk anak-anak tidak spektakuler geraknya seperti industri high fashion dewasa.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email: muhammadreza_ss@yahoo.com dan whatsapp +6287877177869

PANDUAN MERAWAT BUSANA BERDASARKAN BAHANNYA (2011)

(Sutra, Tulle, and Batik)

Busana berbahan spesial membutuhkan perawatan yang berbeda.

(By : Muhammad Reza. Published partially in 3 postings in Yahoo! Indonesia  in March-April 2011)

Sutra, tulle dan batik adalah tiga bahan busana yang berharga. Anda tentu tak ingin pakaian mahal itu terpaksa dibuang karena rusak, kan? Memang, pakaian yang cepat rusak biasanya disebabkan perawatan yang kurang tepat. Padahal, apabila Anda mengenali jenis bahannya, pastilah hal ini bisa dihindari. Tulisan ini  merupakan beberapa panduan dasar dalam merawat busana berbahan sutra, tulle dan batik melalui cara membersihkan, pengeringan, penyetrikaan, hingga penyimpanan di dalam lemari.

SUTRA

Sutra mencerminkan keanggunan yang ekslusif. Ia juga memiliki kelebihan yang membedakannya dengan kain lain yaitu sifat anti debu yang membuat pakaian terlihat bersih dan rapi.

Hingga kini, banyak orang yang meyakini bahwa cara terbaik membersihkan busana sutra adalah melalui drycleaning. Jika anda juga melakukannya, selalu pastikan petugas drycleaning tidak meletakkan busana sutra anda di antara busana-busana berbahan kasar seperti katun, tweed, jeans atau akrilik (woll sintetis). Anda tak ingin bahan kasar dari busana lain merusak kemulusan pakaian sutra Anda, kan?

IMG_20170513_171117

Untuk perawatan yang lebih maksimal, sebaiknya bersihkan sendiri busana sutra ini di rumah dengan dengan tangan. Sutra terbuat dari serat protein alami yang menyerupai rambut. Itulah sebabnya sutra bisa dibersihkan dengan shampo. Jangan gunakan shampo yang mengandung minyak atau petroleum karena mereka membuat permukaan sutra terasa lengket. Hindari merendam busana sutra (bahkan jangan pernah dicuci dengan mesin cuci), namun usap-usaplah dengan lembut. Gunakan air hangat agar pelapis (coating) sutra anda bersinar kembali. Hal menguntungkan dari sutra adalah sifat anti debu dan anti noda. Namun, bila Anda menemukan noda membandel, percikkan sedikit cuka dan gosok noda tersebut dengan jari sampai hilang.

Untuk mengeringkannya, gulunglah dengan handuk dan tekan hingga air merembes keluar (jangan sekali-sekali memeras sutra kecuali Anda ingin seratnya rusak). Biarkan busana sutra mengering di tempat berangin yang tidak terpapar sinar matahari. Ingatlah bahwa sinar matahari bisa membuat sutra menguning.

Lalu bagaimana bila ingin menyetrika busana sutra? Selalu balik busana sutra sehingga bagian dalamnya berada di luar. Setelah itu lapisi dengan kain katun dan seterikalah dengan panas minimum. Penggunaan seterika uap juga cukup efektif, tetapi Anda harus ekstra hati-hati, kalau tidak, seterika uap ini bisa meninggalkan bekas uap yang permanen di permukaan busana Anda.

Setelah membersikan, mencuci, mengeringkan dan menyeterika busana sutra, simpanlah busana sutra Anda dengan benar. Cukup sederhana. Sarungkan ia dengan sarung bantal berbahan katun. Katun berserat alami dan berpori sehingga  memungkinkan busana sutra bernafas. Bayangkan bila Anda membungkusnya dengan plastik. Tak saja menjadi lembab, ia pun bisa berjamur!

TULLE

Bahan tulle menjadi favorit untuk dijadikan rok dan gaun feminin termasuk kebaya. Teksturnya yang rapuh dan mengembang cocok untuk busana yang girly. Jangan hilangkan efek volume dan keringkihan busana tulle anda hanya karena salah cara mencuci, mengeringkan dan menyimpannya.

Cara terburuk membersihkan busana tulle adalah melalui dry-cleaning. Bahan-bahan kimia dalam proses dry-cleaning bisa membuat tulle mengempes dan keropos. Cara terburuk lainnya adalah dengan mencelupkannya ke dalam mesin cuci bersama pakaian sehari-hari anda. Kalaupun terpaksa mencuci busana tulle dengan mesin cuci, pisahkan ia dengan pakaian berbahan keras dan kasar seperti jeans atau katun. Cara terbaik membersihkan busana berbahan tulle adalah merendam dan mencucinya dengan tangan. Gunakan sabun hanya untuk menghilangkan noda. Hati-hati, jangan gosok tulle dengan kasar atau ia akan sobek.

Tulle mudah mengering. Karena sangat rapuh, sebaiknya anda jangan pernah menyetrikanya kecuali dengan seterika uap. Bila kusut, cukup semprotkan air dan regangkan hingga kekusutannya hilang.

Supaya busana tulle anda tetap mengembang, jangan pernah melipat atau membuatnya tertindih di dalam lemari. Gantungkan busana tulle dengan tidak terhimpit busana lain.

BATIK

Batik terbuat dari sejenis lilin yang dinamai malam. Pewarnaan alami yang digunakan dalam proses pembuatan batik menyebabkannya harus dirawat dengan serius. Banyak diantara kita membersihkan busana batik dengan drycleaning, padahal bahan kimia dalam proses tersebut bisa memudarkan warnanya. Kerusakan yang sama dapat ditimbulkan oleh deterjen dalam pembersihan dengan mesin cuci. Bagaimanapun juga, cara membersihkan batik yang disarankan adalah dengan mencucinya dengan tangan. Gunakanlah sabun dan shampoo dalam air hangat. Hilangkan noda membandel dengan irisan lemon. Untuk mengeringkan batik anda, gantunglah di tempat yang terlindung sinar matahari dan jangan peras busana batik anda.

15-22-31-00190fullscreen

Anda bisa mempertahankan pesona warna busana batik anda dengan menyimpannya dengan seksama. Caranya, lapisi busana batik anda dengan kain katun saat menyetrikanya. Agar warna busana batik tidak bercampur saat disimpan di lemari, hindari melipat dan menyimpannya dalam tumpukan pakaian. Lapisi busana batik tersebut dengan kertas minyak (jangan gunakan kertas koran karena tinta koran bisa menodai batik), lalu gulung dan gantunglah di lemari.

Dengan cara yang tepat dalam membersihkan, mengeringkan, menyetrika dan menyimpan, busana spesial Anda bisa tahan lama dan awet keindahannya. Kini, Anda pun bisa menganggap busana-busana ekslusif tersebut sebagai investasi  dalam mempresentasikan diri melalui gaya dan penampilan terbaik Anda.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

MEMAHAMI GAYA FORMAL PRAKTISI KEUANGAN (Bagian I & II) – 2017

Bagian I

Bagaimana bayangan Anda tentang penampilan pria berprofesi pialang saham, profesional perbankan, atau perencana keuangan? Setelan jas hitam formal dengan rambut tersisir rapi dengan satu ton pomade? Penampilan monokrom dan klasik yang sama dari hari ke hari?
Bila fashion tak lepas dari gaya hidup masyarakat berbudaya, maka pria modern yang berkarier di dunia keuangan tentunya memiliki kesesuaian gaya dengan dunia keuangan sekaligus mampu mengaktualisasikan tendensi mode terkini.
Common Look of the Financial Professional
Fashion mencerminkan cara kita menjalani hidup. Bukan saja tentang apa yang Anda pakai, tapi juga bagaimana, dimana serta dengan siapa Anda beraktivitas. Hal ini membantu kita memahami keharusan penampilan formal bagi para praktisi keuangan.
“Kebanyakan pria yang menggeluti bidang keuangan berpenampilan rapi dan resmi. Bidang ini erat kaitannya dengan trust. Penampilan yang profesional tentu membangun kepercayaan dalam awal hubungan bisnis,” ujar Novi Syabrina, branch manager perusahaan asuransi terkemuka Manulife.
Menurutnya, gaya berpakaian yang cocok untuk praktisi bidang asuransi atau investasi memang mewajibkan kemeja berlengan panjang, celana panjang, dasi, dan juga jas. Alfons Lee, desainer yang sedang populer dan diminati sederetan sosialita dan selebriti tanah air, juga menambahkan bahwa kerapian adalah elemen kunci gaya para profesional tersebut.
Mengapa harus formal?
Financial educator & advisor Elsa Febiola Aryanti memaparkan alasan betapa pentingnya hubungan gaya formal para pelaku keuangan dengan tujuan utama mereka mendapatkan kepercayaan dari klien.
“Bisnis keuangan adalah bisnis kepercayaan. Penampilan yang rapi dan formal sangat penting karena mempresentasikan kepercayaan, trustworthyness, dan reliability tidak saja dari praktisi tersebut namun juga perusahaan yang diwakilinya.” ungkapnya.
Industri keuangan mencakup banyak bidang termasuk perbankan, pasar modal, dan asuransi. Elsa menambahkan, bahwa ada bidang yang secara tradisional gaya berpakaiannya lebih formal dibanding bidang lain. Biasanya sub bidang yang sejarahnya lebih tua seperti perbankan dan asuransi lebih mewajibkan praktisinya berpakaian formal.
Siddiqi Patiagama, seorang manager dari salah satu divisi bank swasta di Jakarta juga menegaskan bahwa kerapian dan formalitas penampilan para staf perbankan adalah tuntutan pekerjaan, bukan sekedar pilihan gaya berbusana. Sangat mungkin seorang profesional ‘tersisihkan’ hanya karena tidak mengikuti pakem berpakaian yang sudah menjadi bagian kultur perusahaan.
Sepenting itulah sebuah gaya formal bagi seorang praktisi keuangan. Tak hanya sekedar rapi dan enak dipandang, tapi gaya berpakaian profesi ini memiliki dasar yang sangat mendalam tentang fungsi.
Bagian II
Jika sebelumnya sudah dibahas tentang kenapa praktisi keuangan berpakaian formal, di bagian ke dua ini kita akan memaparkan bagaimana cara membuat gaya formal itu sendiri tidak terasa kaku, dan nyaman dipandang.
Make It Stylish
Menyeimbangkan keduanya dalam proporsi yang wajar membutuhkan pemahaman akan proporsi dan komposisi dalam padu padan pakaian serta aksesori. Beberapa profesional keuangan dan mode tanah air pun memberi tips sederhana untuk membuat gaya formal ini stylish tapi effortless.
Lanangindonesia.com menerima masukan dari desainer tanah air yang sudah go international, Lenny Agustin. Desainer yang terkenal berkat kepiawaiannya menggubah keindahan kain tradisional seperti tenun dan batik menjadi ready to wear yang modern ini menawarkan beberapa tips untuk upgrade penampilan formal jadi lebih modis.
“Coba kemeja dengan detil atau motif yang unik namun tidak terlalu menyolok seperti kemeja dengan kerah yang lebih kecil dari biasanya, kerah shanghai, atau kantong dengan warna jahitan yang berbeda,” ujar Lenny.
shanghai-1
Sementara itu branch manager Manulife, Novi Syabrina, menyarankan batik sebagai pilihan kemeja bila mendapatkan acara dengan dress code. Batik dianggap formal sekaligus personal karena menunjukkan taste kita dalam pemilihan kualitas dan kesesuaian warna dengan kulit. Ada begitu banyak pilihan kemeja batik, dari yang klasik hingga kontemporer. “Yang pasti, jangan sampai terlihat cheap,” tandasnya.
 shanghai 3
Financial educator dan advisor Elsa Febiola juga merekomendasikan pemakaian kemeja tenun ikat untuk penampilan praktisi keuangan yang dikenakan dengan sepatu dan belt kulit berkualitas.
Mix and Match
Dalam mix and match, Desainer Lenny menyarankan pemakaian jas atau blazer yang berbahan tipis dan tak usah dikancingkan. Beberapa rekomendasinya untuk bawahan adalah pilihan celana panjang bertekstur seperti denim untuk penampilan formal yang fresh.
“Namun tetap dalam warna senada dengan keseluruhan penampilan,”ungkap desainer yang juga sedang disibukkan dengan persiapan perhelatan mode Surabaya Fashion Parade Mei mendatang ini.
Kami memahami pentingnya dress code yang sudah pakem di lingkungan praktisi keuangan. Karena itu, kami juga menganggap sentuhan mode kekinian pada penampilan profesional harus sewajarnya dan tidak mendominasi. Bila kantor mewajibkan kita mengenakan suit atau seragam tertentu, coba kenakan dengan detil-detil dalam ukuran semini mungkin seperti motif houndstooth atau kotak-kotak dalam warna netral dan formal seperti hitam, abu-abu, biru navy atau krem.
shanghai 2
Kita juga bisa ciptakan sedikit keseruan melalui sedikit aksen dengan burst out some colors pada aksesori dasi, cufflinks, atau pocket squares. Jika Anda berkacamata, mengapa tidak memilih kacamata desainer dari koleksi mutakhir? Folio atau clutch sesuai tren saat ini juga sudah cukup untuk menyuarakan ‘Fashion’ dalam penampilan kantoran Anda yang formal.
Pada akhirnya, penampilan profesional keuangan terbaik bagi pria modern menekankan pada kualitas dan kepatuhan berpakaian dengan sedikit ruang untuk eksplorasi tanpa mengubah tujuan penampilan secara keseluruhan; trust dan wibawa perusahaan.
Bagaimana Sobat Lanang sekalian, sekarang kalian sudah paham kan kenapa cara berpakaian para praktisi keuangan selalu eye catchy. Intinya gaya pakaian yang formal tapi stylish tetap bisa diadaptasikan pada beberapa profesi yang khususnya banyak di indoor. Nilai diri kita sebenarnya bukanlah apa profesi kita, tapi seperti apa cara berpakaian kita.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

PERANCANG DARI MASA KE MASA (PERJALANAN MODE INDONESIA) – 2009

Ditulis oleh Muhammad Reza. Diterbitkan di Majalah U,Maret 2009.

Berbicara tentang sejarah mode Indonesia bukanlah hal yang mudah. Usia kemerdekaan bangsa yang sudah 63 tahun ini tidak berarti mode Indonesia sudah berjalan selama 63 tahun. Hingga saat ini pun belum ada buku yang sepenuhnya memaparkan sejarah mode tanah air. Berbagai obrolan dengan disainer dan kumpulan tulisan dari majalah dan buku-buku yang menyinggung mode di Indonesia lah yang akhirnya bisa dijadikan sumber terpercaya.

Kapan sebenarnya mode Indonesia itu lahir? Kita dapat mengaitkan kelahiran mode Indonesia melalui eksistensi disainer lokal pertama. Setiap referensi akan mengaitkannya dengan Peter Sie yang dianggap sebagai pelopor mode Indonesia .

1950-1970

Di tahun-tahun pertama Peter Sie menancapkan mode nasional (sekitar pertengahan tahun 1950-an), ia mengaku bahwa profesi disainer belum diterima masyarakat termasuk keluarganya. Hasilnya, ia sempat dikucilkan keluarga. Ia juga tak menganggap dirinya lebih sukses secara finansial dibanding disainer-disainer masa kini. Dalam buku Inspirasi Mode Indonesia terbitan Yayasan Buku bangsa dan Gramedia, ia mengungkapkan dirinya lebih senang disebut pelopor dunia mode.

Awalnya, Peter berkonsentrasi membuat busana pria. Pesona busana bergaris A-Line (yang menyempit di pinggang lalu melebar/mengembang ke batas betis) ala New Look dari Dior-lah yang mempengaruhinya untuk beralih membuat busana wanita. Dalam mendisain busana, pria yang belajar di Vakschool voor Kleermakers-Encoupeurs Den Haag Belanda selama enam tahun sejak 1947 ini tak menyerap semua tren busana yang datang dari Eropa. Contohnya saat tren gaya ‘mod’ yang dikumandangkan Mary Quant dan Ossie Clark melanda dunia, Peter merasa rok mini itu kurang pantas untuk kebanyakan wanita Indonesia (kecuali beberapa jenis wanita tertentu seperti Titi Qadarsih). Begitu juga saat tren hippies atau daisy flower berkibar. Gaya berbusana compang-camping bak gelandangan yang tak pernah mandi ini tak menarik baginya. Alasannya, keadaan ekonomi Indonesia saat itu memprihatinkan. “Tanpa mengenakan gaya hippies juga sudah compang-camping,” ujarnya.

Kehadiran disainer seperti Peter Sie mengundang disainer lain seperti Non Kawilarang dan Elsie Sunarya. Di tahun 1960-an gaya hipster, mod, bahkan agogo yang ramai motif dan warna ala burung merak tak hanya konsumsi ibu-ibu kalangan atas Jakarta saja. Popularitas bioskop pun mensosialisasikan gaya berbusana terbaru. Masyarakat mulai mengenal peragawati seperti Titi Qadarsih dan Rima Melati. Lalu beramai-ramai mengikuti gaya rambut bersasak atau pendek ala Twiggi.

1970-1990

Dunia mode nasional mulai mengadaptasi kegiatan mode eropa. Salah satunya koreografi dalam peragaan busana. Sejak diperkenalkan Norbert Schmitt pada tahun 1969 di Eropa, koreografi untuk peragaan busana mendarat di Jakarta pada tahun 1974. Perintis nasionalnya adalah Rudy Wowor yang merupakan murid Schmitt. Pada saat itu, istilah show director dalam peragaan busana belum dikenal sehingga beliau tak saja mengatur langkah dan ekspresi sang model, tapi juga menata pencahayaan, dekorasi dan musik pengiring. “Model tak boleh goblog,” ujar Rudy Wowor kepada penulis majalah a+, Karin Wijaya. Mereka harus hafal semua langkah dan hitungan sambil menyesuaikan dengan musik kalau tidak ingin terlihat aneh. Profesi koreografer ini lalu diikuti Doddy Haykel, Denny Malik dan Guruh Sukarnoputera.

Dalam dunia jurnalisme mode, majalah wanita Femina hadir pada tahun 1972. Menurut catatan situsnya, Femina menunjukkan perhatian besar kepada dunia mode sejak edisi keduanya (bulan Oktober) melalui sebuah reportase tren mode 2003 yang ditulis oleh Irma Hadisurya. Selain menghadirkan berita mode dari pusat mode seperti Pierre Cardin, Femina pun menunjukkan apresiasi terhadap mode nasional. Terutama saat Pia Alisjahbana dan Irma Hadisurya mengusulkan Femina mengadakan Lomba Perancang Mode secara tahunan sejak tahun 1979. Dari ajang inilah hingga sekarang banyak disainer baru muncul seperti Chossy Latu, Samuel Wattimena, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy.

Sementara itu, keterbatasan kesempatan bersekolah mode atau rancang busana di tanah air tak mematahkan semangat mereka yang ingin menjadi disainer. Sebagian melanglang buana ke luar negeri. Harry Dharsono, Poppy Dharsono, dan Iwan Tirta adalah beberapa contohnya.

Boleh dibilang, Iwan Tirta cukup berperan dalam menciptakan karakter mode tanah air yang unik dan kaya tanpa mengabaikan tren mode Eropa. Kepada pengamat mode Muara Bagdja di buku Inspirasi Mode Indonesia , ia menekankan pentingnya memberi unsur barat (technical skill) dan timur (budaya) dalam busana bila seseorang ingin menjadi disainer yang diakui baik di dalam maupun luar negeri. Teorinya memang beralasan, karena Iwan Tirta terkenal hingga ke amerika dan eropa atas kepiawaiannya mengolah batik menjadi produk mode yang berdaya pakai dan modern. Tak melalui busana batik di bahan lycra saja, karyanya merambah ke luar negeri berupa piring bermotif batik saat bekerjasama dengan Royal Doulton. Bahkan disainer sekelas Pierre Balmain pernah meminta izin Iwan Tirta untuk meniru ide sarung rancangannya. Busana-busana Iwan Tirta juga pernah diliput majalah mode internasional Vogue.

Dalam hal high fashion, Harry Dharsonolah yang pertama kali memperkenalkan citarasa tersebut di tanah air pada tahun 1974. Ia lulusan beberapa sekolah termasuk Ecoles de Beaux Arts Paris dan Fashion Merchandising and Clothing Technology di London School of Fashion. Harry tak sekedar merancang busana, ia juga pebisnis handal. Kondisi industri tekstil nasional yang hanya memproduksi polyester saat itu mengharuskannya mendatangi Three Golden Cups, produsen sutra di Shanghai China . Kontribusi Harry Dharsono di panggung mode internasional ditandai pada tahun 1978 ketika rumah-rumah mode bergengsi seperti Carven, Louis Ferraud, Azzaro de Ville dan Lanvin membeli disain-disain tekstilnya. Meski sukses di luar negeri, Harry Dharsono tetap berkiprah di tanah air. Ia membuka Batik Keris dan merancang seragam untuk perusahaan seperti Bank Mandiri, Bali Air dan maskapai penerbangan Australia Anzet.

Hadir pula nama-nama disainer yang menjadikan warisan tekstil bangsa sebagai inspirasi karyanya. Sebutlah Samuel Wattimena, Ghea Panggabean, Edward Hutabarat dan Carmanita. Ghea mempopulerkan kain tradisional seperti kain lurik dalam model pakaian modern seperti kulot dan waistcoat. Ada pula koleksi lain seperti jumputan. Sementara itu. Carmanita mengembangkan batik di bahan jeans dan lycra. Keduanya mencintai dan menganjurkan pemakaian kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

1990-2008

Tahun 1990-an ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya, kemudahan masyarakat mengakses informasi mode dari luar negeri menyebabkan kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini terasa pada karya disainer-disainer yang naik daun di tahun 1990-an. Sebastian Gunawan, misalnya. Setelah menggelar koleksinya yang terdiri atas ballgown dan aneka payet, manik dan kristal, demam kemewahan ala selebritas Hollywood pun mewabah. Kemewahan ini juga terasa melalui gaun-gaun Biyan, Arantxa Adi, Adjie Notonegoro dan Eddy Betty. Hingga akhir 1990-an, persaingan untuk mendapatkan tempat di hati para pecinta mode semakin ketat diikuti semakin banyaknya nama-nama baru, apalagi dengan kehadiran sekolah mode franchisee seperti Esmod dan Lasalle.

Di tahun 2000-an, mode Indonesia semakin kaya akan ide dan inspirasi. Setiap disainer memiliki ciri tersendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana-busana mereka yang sangat bernafaskan seni. Ada juga yang sukses mensosialisasikan busana tradisional sebagai busana modern seperti Edward Hutabarat dan Anne Avantie. Beberapa meraih penghargaan melalui event seperti Indonesian Mercedes Benz Fashion Award dan Harper’s Bazaar fashion Concerto. Ada pula yang ditampilkan melalui film seperti busana Tri Handoko, Sebastian Gunawan dan Didi Budiarjo yang dikenakan Aida Nurmala dalam film Arisan. Namun, ada juga yang lebih sukses di luar negeri seperti Farah Angsana di Paris atau Mardiana Ika dan Ali Charisma di Hongkong.

Dunia mode semakin dinamis. Modeling tak lagi didominasi para pemenang kontes wajah sampul seperti Cover Boy/Girl majalah MODE atau Gadis Sampul. Saat Kintan Oemari dan Ratih Sanggarwati harus jauh-jauh mengetuk pintu-pintu agensi model di Italia beberapa tahun sebelumnya, agensi model internasional seperti ELITE Models mendatangi Indonesia di tahun 1996. Maka terpilihlah Tracy Trinita (pemenang Cover Girl majalah MODE 1995) dan melengganglah ia di panggung peragaan Yves Saint Laurent bersama Naomi Campbell. Agensi model lokal pun disibukkan dengan berubah-ubahnya selera pasar. Terkadang, wajah kaukasia digandrungi sehingga tren model ‘impor’ pun hadir. Pernah pula wajah-wajah oriental menjadi pujaan. Dan saat Alek Wek menghias majalah mode internasional, wajah-wajah dari timur Indonesia pun menghiasi peragaan busana lokal.

Semakin dibutuhkannya berita mode di media mengukuhkan beberapa nama pengamat mode nasional. Muara Bagdja dan Samuel Mulia adalah dua nama yang cukup dihormati atas opini dan kritik mode mereka. Tak ketinggalan barisan penulis mode yang sibuk menganalisa mode mancanegara dan dalam negeri seperti Syahmedi Dean, Ai Syarif, Boedi Basuki, Regina Kencana dan Karin Wijaya. Dan hingga saat ini dua majalah gaya hidup lokal yang menyajikan informasi mode terbaik adalah Harper’s Bazaar Indonesia dan majalah a+.

Kisah perjalanan dunia mode tanah air rasanya tak cukup dimuat dalam kurang dari limaribu karakter program word. Namun dari beberapa gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa melihat perkembangan yang ada di dunia mode nasional. Dan tanpa kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno 63 tahun silam, sejarah mode Indonesia mungkin tidaklah seperti yang telah dipaparkan.

Scan0083

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

MODE EKOLOGI (ECO-FASHION) – 2008

Published in Bandung Advertiser 17-25 Maret 2008, Text: Muhammad Reza, Photos: After Midnite Bag by Vilia Ciputra, Joanne Kitten (VOGAMODA), Dok. Rudy Liem, Rebecca Ing, Muara Bagdja.

Saya pernah memuji motif floral super meriah pada rok longgar bergaya hippie yang dikenakan tetangga. Ia tertawa dan menjawab, “Kan lagi tren eco-fashion, bow…” Menurutnya, eco-fashion itu sekedar mode yang bertema dedaunan dan bunga yang ‘menghijaukan’ mata. Padahal tidak seperti itu. Eco-fashion atau mode ekologi secara umum berhubungan dengan usaha melindungi kelestarian alam, tak hanya melalui pakaian kita.

joannekitten vogamoda
Joanne Kitten (Vogamoda)

Apa dan Mengapa Mode Ekologi?

Rebecca Ing, disainer yang beberapa waktu lalu dengan romantis memadukan sutra dengan tenun Pekalongan, berkomentar mengenai eco-fashion. “Eco-fashion menggunakan bahan ramah lingkungan seperti serat alami atau bahan yang dapat di-recycle dan melalui proses produksi yang dapat dipertanggungjawabkan seperti kondisi kerja yang baik.” Dalam eco-fashion, Rebecca Ing menegaskan kalau model pakaian tersebut tetap gaya.

Pengamat mode nasional Muara Bagdja, memadankan istilah eco-fashion dengan mode ekologi. “Menurut saya, isu terbaru mode ekologi bukan sekedar memakai bahan pakaian alami atau sekedar simbolisasi dengan memakai warna hijau. Isu terbaru mode ekologi di dunia adalah produk mode itu memakai bahan pakaian dari serat organik. Pembibitan pohonnya tidak melalui proses rekayasa genetika atau penggunaan bahan kimia seperti pestisida maupun fungisida. Dan juga, produk mode itu peduli lingkungan sosial; upah layak, tenaga kerja tidak di bawah umur, dan kondisi kerja yang nyaman.” Demikian komentar pria yang tak hanya terkenal melalui kontribusinya di halaman mode majalah terkemuka seperti a+, dewi, atau Cosmopolitan, namun juga mengkoordinir berbagai fashion event dari peragaan busana Oscar Lawalata hingga Mercedez-Benz Asia Fashion Award.

Tahukah Anda bila sehelai pakaian yang dikenakan hari ini mungkin menyukseskan semakin hancurnya ekosistem alam? Lihatlah kapas sebagai contoh. Jangan dikira kapas itu tumbuh alami dengan warna putih bersih. Dari semua kapas yang ditanam, hanya sedikit yang berwarna krem bersih, sisanya mungkin cacat atau kotor. Karena itulah, untuk mendapat warna yang baik dan mempercepat pertumbuhan, industri kapas banyak mencampur pestisida  yang tak hanya merusak kesuburan tanah, namun meracuni para pemetik kapas dan lingkungannya perlahan-lahan. Belum lagi dalam mendapatkan warna yang sesuai, kapas itu dicelup dengan bahan kimia yang beracun.

Kehadiran bahan pakaian sintetis seperti polyester dan nylon pun unjuk gigi sebagai aktor perusak alam. Disainer tas After Midnite, Vilia Ciputra, memaparkan keperkasaan nylon yang dalam proses produksinya melibatkan nitrooksida. Nitrooksida sendiri adalah gas berkekuatan 310 kali lebih kuat daripada karbondioksida dalam menyebabkan pemanasan global.

Mode Ekologi di Indonesia

Kalau di pentas mode dunia, sudah banyak nama dan label yang menerapkan mode ekologi. Levi’s misalnya. Ia baru melansir Levi’s Eco, yakni produk 100% kapas organik. Stella McCartney lain lagi. Ia memperkenalkan produk kosmetik berupa krim pelembab organik yang dinamai Care by Stella McCartney. Sementara disainer Katharine Hamnett membuat tas jinjing yang terbuat dari 100% katun organik dan dicetak dengan tinta berbahan dasar air. Ada pula Giorgio Armani yang menggunakan bambu dan rami.

Bagaimana dengan mode ekologi di Indonesia? Muara Bagdja menganggap mode ekologi belum terlalu diperhatikan walau ada beberapa nama yang mulai kembali memakai bahan serat alam seperti sutra. Tuti Cholid (disainer asal Bandung) dan beberapa perajin batik di Yogya, misalnya.

“Di Bandung sendiri, mode ekologi sudah mulai dilakukan namun belum booming dan membudaya,” ujar Rebecca Ing yang menanggapi mode ekologi secara positif. Mode ekologi juga diterapkan disainer Rudy Liem. Lihat saja gaun rancangannya dari sutra alami warna-warni dengan lipit, atau penggunaan detil bermacam payet alami termasuk bambu pada gaun tulle yang ringan melayang.

Sementara di Jakarta, kalangan muda pun sudah memperhatikan mode ekologi. Lihat saja beberapa koleksi tas tangan After Midnite. Label tas tangan wanita terkini yang ikut meramaikan Bali Fashion Week 2007 kemarin. Vilia Ciputra, disainernya, selalu mengusahakan agar proses pengeringan dan pewarnaan tas berbahan natural ini berdampak kecil terhadap lingkungan. Ia sendiri mengagumi batik ‘daur ulang’ rancangan Ramadani A dari Yogyakarta yang memaknai mode ekologi.

Mode Ekologi Sebagai Solusi Pemanasan Global

“Mode ekologi dapat dianggap sebagai reaksi dari pemanasan global dan bencana alam,” tutur Vilia Ciputra. Ia menambahkan bahwa industri fashion bertanggung jawab dan berusaha melakukan perubahan dengan meningkatkan kesadaran akan lingkungan dengan menerapkan mode ekologi sebagai salah satu solusi.

Muara Bagdja sendiri mengutarakan cara sederhana namun sangat efektif dalam memelihara lingkungan. Contohnya, memakai baju tipis dan tidak berlapis-lapis di musim panas, serta memakai baju tebal di musim dingin untuk mengurangi penghamburan energi melalui pemakaian AC dan pemanas ruangan. Dalam kolomnya di harian Seputar Indonesia, Muara Bagdja pun menganjurkan kita untuk belanja dengan cerdas. Caranya? Bawalah kantung belanja sendiri. Ini akan mengurangi penebangan jutaan pohon untuk produksi kantung kertas dan mencegah semakin rusaknya ekosistem tanah melalui pembuangan kantung-kantung plastik yang tak bisa diuraikan tanah ratusan tahun.

Ada beberapa cara bernafas mode ekologi lainnya yang berkaitan dengan pakaian, yakni perawatan pakaian. Kalau deterjen sudah jadi tokoh utama polusi sungai (sebagaimana kita tahu tapi sepertinya tak terlalu peduli), mari kembali ke cara tradisional dalam membersihkan pakaian seperti yang diungkap situs Natural Health Care. Cucilah pakaian dengan air panas. Lalu bersihkan noda dan keringat dengan jus lemon, borax, atau hydrogen peroxide. Minyak teh hijau juga bisa digunakan (tapi jangan dengan air panas) sebagai antiseptik, antibakteri, antijamur dan antikuman. Karena Anda adalah bagian masyarakat urban yang dalam sehari-harinya hanya berkeringat dan tak berkecimpung dalam lumpur atau berkeliaran di hutan, tentunya noda-noda di pakaian dapat mudah dibersihkan dengan pembersih alami ini. Lalu cara alami menjaga putihnya kain adalah dengan menjemurnya di bawah sinar matahari setidaknya selama lima jam.

Muara Bagdja, dalam tulisannya yang berjudul Eco-Fashionista di majalah dewi, mengungkapkan bahwa mereka yang mengenakan atau menerapkan mode ekologi akan memiliki status lebih. Tak hanya sekedar fashionable, produk yang dikenakan pun bermakna lebih tinggi. Dan menurut saya, bila pakaian bisa bercerita tentang kepribadian, ia tentunya akan mengungkapkan sejauh mana kepedulian Anda terhadap lingkungan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Muara Bagdja, Rebecca Ing, Vilia Ciputra dan Bandung Advertiser.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

QUO VADIS KECANTIKAN INDONESIA (2009)

By: Muhammad Reza Seperti apa sih kecantikan khas Indonesia? (Dimuat di majalah CLARA edisi November 2009, halaman 16-19)

Standar kecantikan di negeri tercinta ini tampaknya setali tiga uang dengan usia dunia mode nasional – yang tak setua dunia mode internasional. Cukup kompleks, apalagi bila mengaitkannya dengan standar kecantikan internasional. Perlu disadari, hingga pertengahan tahun 2000-an ini, mode di Indonesia hanya dinikmati segelintir masyarakat jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang 200 juta lebih. Sehingga bila merujuk jauh ke awal kelahiran dunia mode Indonesia di tahun 50-an – dirintis Bapak Peter Sie – seperti meraba-raba saat mencari standar kecantikan di dunia mode.

Dunia mode bagi masyarakat Indonesia di tahun ’50-an jelas masih merupakan barang baru. A very luxurious product! Hanya segelintir orang yang mampu menikmati dan mengapresiasinya. Standar kecantikan di dunia mode masih baur dengan standar kecantikan dunia lainnya. Umumnya yang jadi “ikon” kecantikan secara tidak langsung adalah bintang-bintang film terkenal saat itu. Sebut saja Chitra Dewi, Indriati Iskak, dan Mieke Widjaya yang terkenal lewat film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Masih ada lagi Baby Huwae, Rima Melati, dan Gaby Mambo. Sepuluh tahun kemudian di era ’60 akhir ’70-an muncul nama-nama seperti Titiek Puspa, Widyawati, dan Titik Sandhora. Saat itu standar cantik dalam dunia mode sudah mulai bergeser walau terkadang masih menyatu dengan standar cantik dunia film. Namun, ada satu benang merah yang cukup menonjol: cantik khas wanita Indonesia yang belum tersentuh globalisasi. Berkulit coklat kekuningan, hidung cukup mancung, dengan tinggi badan sedikit lebih tinggi dari kebanyakan wanita Indonesia.

Kecantikan khas Indonesia ini akhirnya merambah ke dunia mode yang pada tahun ’60 s/d ’70-an mulai berkembang. Hal ini masih terasa pada akhir ’70-an dan awal ’80-an. Tubuh semakin semampai dengan wajah yang masih khas negeri ini. Sebut saja Titik Qadarsih, Nani Sakri, Ati Sinuko, Enny Sukamto, Dhanny Dahlan, Ria Juwita, dan Citra Darwis Triadi.

Di pertengahan tahun ’80-an sampai awal ’90-an terjadi sedikit pergeseran secara fisik. Tidak terlalu nyata tetapi bisa dijadikan penanda masuknya pengaruh asing pada standar kecantikan di dunia mode Indonesia. Selain wajah lokal, kulit sawo matang, tulang pipi tinggi, rahang yang keras, serta tubuh yang juga tinggi semampai. Sarita Thayib, Okky Asokawati, Kintan Umari, Ratih Sanggarwati dapat tampil sejajar dengan Saraswati, Sandy Harun, Henidar Amroe, dan Larasati. Di saat ini muncul pula definisi cantik versi baru. Ada Vera Ongko yang muncul dengan wajah campuran timur tengah, berhidung sangat mancung, tulang rahang yang keras, serta tulang pipi yang tinggi. Di samping itu pada saat yang sama dunia mode pun memunculkan Licu dengan kecantikannya yang khas, oriental.

Terasa sekali bahwa pada era ’90-an standar cantik dalam dunia mode di negeri ini semakin majemuk. Ini disebabkan karena media-media cetak wanita – baik dewasa maupun remaja – sudah mulai memiliki standar “cantik” tersendiri. Mira Sayogo, Ines Tagor, Wiwied, Avi Basuki, Ira Duati, Auk Murat, Veronica Wendy, Susan Bachtiar, Marisa Haque, dan Soraya Haque merupakan wajah-wajah cantik Indonesia ataupun Indoriental yang sering menghiasi sampul-sampul majalah wanita di negeri ini.

Pada saat yang sama, ketika komunikasi semakin mudah, saat kampanye komersial produk luar negeri semakin marak dan label asing mulai dikenal di negeri ini, tidak hanya selera berbusana masyarakat local yang semakin global, namun standar kecantikan pun mulai mengalami perubahan yang cukup pesat. Wajah Indo Eropa semakin disukai. Malah pada satu saat wajah serupa ini sempat jadi primadona. Semua orang ingin seperti Ida Iasha, Tamara Bleszynski, dan Nadya Hutagalung. Hidung mancung, kulit putih, tulang pipi tinggi, mata bundar dan besar. Sampai-sampai produk pemutih kulit laku keras… Tapi apa iya bisa bikin kulit coklat jadi putih?

Demam wajah campuran kaukasia tampaknya semakin tak terbendung. Terbukti dengan terpilihnya Tracy Trinita sebagai wakil dari Indonesia yang akan bertarung di ajang Elite Look Model Contest. Di saat ini pula wajah campuran seperti Karenina, Selma Abidin, Arzeti Bilbina menjadi amat disukai. Ini salah satu penyebabnya adalah globalisasi?

Globalisasi membuat standar kecantikan di Indonesia semakin rancu. Berbagai tren akan standar kecantikan berlangsung secepat perancang busana menggelar peragaan. Tentunya masih ingat demam model berwajah oriental seperti Dominique, Danish hingga Aline. Lalu serombongan model impor dari Eropa Timur seperti Julia Jamil dan Lolita. Tak ketinggalan wajah eksotis berkulit gelap seperti Laura Muljadi dan Kimmy menjadi alternatif sebagai salah satu standar cantik dalam dunia mode Indonesia.

Kemana sebenarnya standar kecantikan di dunia mode Indonesia menuju? Adakah karakter yang jelas dan standar baku dalam kecantikan di tanah air?

Fritz Panjaitan melalui Profile Management menganggap standar kecantikan di mode Indonesia mau tak mau dipengaruhi pasar. “Ada dua jenis standar kecantikan yang dibutuhkan untuk dua tujuan berbeda,” sebut pria ini. Pertama, cantik yang edgy, dingin, dan mahal. Ini cocok untuk halaman mode. Contohnya Monica Schoupalova. Kedua, ada sweet beauty seperti Shiren Zifa yang selalu dibutuhkan untuk komersial. Wajah-wajah edgy dan dingin banyak didominasi model impor, sementara sweet beauty masih bisa dipenuhi model-model local.

Disainer sekaligus direktur Platinvm Management, Ichwan Thoha, punya pendapat yang sedikit berbeda. Menurutnya, saat ini dunia mode menyukaai kecantikan yang mahal. Cantik mahal bukan saja sekedar bule atau berwajah kebule-bulean, tapi lebih kepada bahasa tubuh atau cara si model membawa diri. Tidak terlihat kampungan atau murahan. “Sebagai disainer, saya sendiri lebih menyukai kecantikan khas Indonesia seperti Sari Nila dan Widhi Basuki,”ucapnya. Ia pun menyukai Izabel Jahja yang meski berdarah campuran namun karakter Indonesia-nya tetap terpancar.

Menyikapi tren global dunia kecantikan di modeling, Ichwan menyesuaikan tren tersebut dengan wanita Indonesia. Wajah boleh Melayu, tapi postur dan gesture-nya bertaraf internasional. Ichwan berpendapat, tren kecantikan di dunia mode akan bergeser kembali ke kecantikan khas Indonesia. Nama-nama seperti Laura Basuki dan Laura Muljadi termasuk beberapa yang akan semakin cemerlang di peragaan busana.

Berbicara kecantikan, disainer Priyo Oktaviano menekankan pentingnya inner beauty. “Saya pikir, inner beauty-lah yang membuat setiap kecantikan fisik wanita mempesona,”ungkapnya di suatu siang.

Mengenai isu kecenderungan keseragaman wajah model, ia menganggapnya hanya rekayasa make-up semata. “Setiap peragaan busana saya selalu berfokus pada konsep koleksi; baju, make-up, look para model dan aksesori. Saya juga memakai semua tipe model apapun warna kulit, tipe wajah atau kebangsaannya. Yang penting tinggi badan mereka memenuhi standar. Perbedaan warna kulit bisa disesuaikan dengan make up dan pilihan warna busana.”

Sementara itu, menurut Irsan – yang tak ingin dirinya disebut disainer – standar kecantikan di dunia mode Indonesia tak bisa diperlakukan serupa seperti standar internasional. Bila di luar sana kita mengenal istilah beauty icon, disini title tersebut sulit ditemukan. Sehingga definisi standar kecantikan di Indonesia menjadi rancu. “Di Indonesia, kita sulit menemukan seseorang yang memiliki gaya busana dan kecantikan yang khas dan menjadi trend setter di dunia mode. Disini kecantikan itu kurang personal. Kita cenderung ikut-ikutan. Setiap wanita tak saja ingin berbusana menyerupai satu sama lain tapi rias wajah dan tata rambut pun demikian sehingga terlihat serupa. Kecantikan wanita-wanita di Indonesia itu telalu deja-vu,”tuturnya.

Irsan mengagumi beberapa sosok yang dianggapnya berkepribadian kuat dan berkarakter seperti Tilda Swinton, Kristen McMenamy, Cate Blanchett dan Sophia Loren. “Saya percaya kalau kecantikan itu merupakan suatu ekspresi dari kepribadian yang kuat. Seberapa kuat kepribadian seseorang mempengaruhi masyarakat, sekuat itulah kecantikannya memancar dan menjadi ikonik. Tak mudah menemukan wanita seperti itu di dunia mode nasional. Mariana Renata adalah contoh kecantikan yang kuat dan langka di negeri ini.

Dengan kurangnya keberanian wanita Indonesia untuk tampil berbeda sesuai karakter dan kepribadiannya, tak mengherankan bila standar kecantikan di dunia mode Indonesia masih dipengaruhi industri mode dengan segala macam dan jenis permintaannya. Inilah yang menjadikan standar kecantikan di dunia mode lokal begitu komplek untuk dibicarakan. Memang kita belum mempunyai ikon kecantikan yang membuat seluruh lapisan masyarakat mengenalnya, namun bagaimanapun juga standar kecantikan di Indonesia berevolusi seiring waktu. Mengapa tak ada nama besar yang bisa kita ingat sebagai ikon kecantikan nasional? Ya…itu tadi, setiap perubahan dilakukan bergotong royong, sehingga tak enak rasanya bila menyebut satu nama saja.

clara quovadis

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

KAIN TRADISIONAL MENJADI TREN (2008)

 

Published in Bandung Advertiser 26 Juni 2008

Teks: Muhammad Reza Foto: Dok. Deden Siswanto (photographed by Anton Mulyana), Dok. Andi Saleh

(muhammadreza_ss@yahoo.com 087877177869)

Sudah melihat peragaan busana spring summer 2008 Diane Von Furstenberg? Kalau belum, coba klik situs style.com dan temukan foto atau video peragaannya. Anda akan menyaksikan disainer gaek ini mengenakan sackdress bermotif grafis yang menurut pengakuan beliau terinspirasi dari motif batik lereng. Tak mengherankan, Diane Von Furstenberg memang mewujudkan kenangannya akan keindahan eksotisme Bali dalam koleksi siap pakai berjudul Under The Volcano. Majalah Harper’s Bazaar Indonesia saja berkomentar, bahwa bangsa ini ‘kecolongan’ lagi dalam mengeksplorasi kekayaan tekstil Indonesia .

Deden Siswanto 2 APPMI
Deden Siswanto

SEKILAS KEKAYAAN TEKSTIL TRADISIONAL INDONESIA

Indonesia memang berlimpah akan kekayaan budaya, termasuk aset mode seperti banyaknya macam baju adat. Apabila setiap suku di Indonesia memiliki ragam tekstil tersendiri seperti kain ulos bagi suku batak, kain prada bagi masyarakat bali, songket bagi masyarakat palembang , dan aneka macam batik dari jenis megamendung hingga pekalongan, belum termasuk variasi asesorinya yang berkembang beratus-ratus tahun, bayangkan saja betapa kayanya potensi mode bangsa ini!

Omong-omong tentang kesadaran akan kebanggaan terhadap budaya tanah air (khususnya di bidang mode), Indonesia sempat memiliki masa kejayaannya. Siapa yang tak ingat instruksi Presiden Sukarno kepada Ibu Sud untuk mempopulerkan kembali busana batik di tahun 50-an? Dalam buku Serasi dan Gaya Berkain gubahan Ami Dianti Wirabudi (pimred majalah Eve) dan Tini Sardadi, disainer terkemuka Carmanita menceritakan betapa cantik dan elegannya para wanita di tahun 50-60an berdansa mengenakan kain dan kebaya berbahan ‘Paris’. Di buku yang diterbitkan Gramedia ini pula, ia menyebutkan daya tarik magis yang muncul dari pemakaian kain tradisional.

Tentunya Anda juga mengenal nama-nama besar di dunia mode Indonesia yang tak lelah mengusung tekstil tradisional dalam helai demi helai busana rancangannya. Ghea Sukarya (kini Ghea Panggabean), misalnya. Batik luriknya terlihat modis dalam cullote dan waistcoat di halaman majalah remaja di akhir 80-an. Ada pula Iwan Tirta dan Prajudi (alm.) yang setia ‘mengolah’ batik. Selain para maestro tadi, disainer-disainer muda pun mencintai warisan kain Indonesia. Ada Obin (Josephine Werratie Komara) yang di tahun 2002 mempersembahkan koleksi ikat dan sulam dengan cara-cara pewarnaan kain yang hanya diajarkan turun temurun selama ratusan tahun. Anda juga tentunya masih ingat Oscar Lawalata yang menyajikan jumputan.

Syukurlah, Edward Hutabarat sukses mengakhiri ‘keangkeran’ kain tradisional ini. Di tahun 2006, ia melansir busana-busana batik ‘anak muda’ di bawah label Part One yang dengan lambat menjamur di kalangan sosialita Jakarta. Setelah diekspos berbagai media, tiruan(knock off)-nya pun beredar dimana-mana. Saat tren ini baru membahana di Bandung pertengahan tahun 2008 ini, tanda tanya pun muncul. Selama itukah waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk menerima kain tradisional kembali dalam kehidupan sehari-harinya?

BATIK IS NOW  IN FASHION. THE NEXT TREND? MORE TRADITIONAL TEXTILES!

Dengan terbukanya mata (dan dompet) masyarakat akan busana tradisional, para disainer segera mengekplorasi referensi tekstil tradisional. Tenun bali, songket, dan sarung bugis, semuanya menjadi lebih modern melalui kelihaian disainer memainkan model, warna, dan styling. Agustus 2007 silam, majalah Prodo memamerkan busana batik modern rancangan Barli Asmara dan Musa Widyaatmaja. Majalah a+ mendandani model prianya dengan kemeja print batik. Di penghujung tahun 2007, disainer Rebecca Ing menyentuh tenun pekalongan, sementara Ferry Sunarto memercikkan nuansa vintage melalui penggunaan kain tenun Bali.

Dalam acara Jakarta Fashion and Food Festival pertengangan Mei 2008 kemarin, sarung bugis mulai unjuk gigi di panggung mode. Sarung bugis yang bermotif kotak-kotak dan sekilas mengingatkan kita pada aktivitas bersembahyang umat muslim ini berubah menjadi one shoulder dan tube dress yang lebih berterima di ruangan pesta. Disainernya, Andi Saleh, terinspirasi akan kesederhanaan motif sarung bugis yang tentunya tak akan sulit dipadu-padankan dengan dandanan urban. Dengan memberi tambahan motif hati, tameng hingga kelopak bunga dengan benang emas, ia mengkombinasikan sarung bugis dengan bahan sifon sutra. Sarung bugis juga ia jadikan detil pita atau lengan balon pada gaun-gaun yang didominasi warna marun, ungu, coklat bata dan emas.

ANDY SALEH KAIN 4
Andy Saleh
ANDY SALEH KAIN 2
Andy Saleh

“Seharusnya kita bangga akan semua kain tradisional yang dimiliki bangsa ini,” tutur Andi Saleh. Saat ia masih belajar di Belanda, ia menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat asing bila disajikan produk budaya Indonesia termasuk kain tradisional. Karena itulah sarung bugis kali ini dipilih oleh disainer yang akan berpartisipasi dalam acara Islamic Fashion Festival bersama disainer lain seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Syahreza Muslim, Adesagi dan masih banyak lagi (termasuk tujuh disainer dari Malaysia)  Juli 2008 mendatang di Hotel Dharmawangsa Jakarta.

TIPS MENGENAKAN KAIN TRADISIONAL DENGAN MODERN

Kesan resmi dan kuno memang kerap melekat di benak orang banyak bila menyangkut kain tradisional. Padahal, membuat penampilan tetap modern dengan kain tradisional itu tak terlalu sulit. Panduannya sama saja; berprinsip pada memaksimalkan kecantikan dan bentuk tubuh yang disesuaikan dengan acara dimana busana itu dikenakan.

Hal yang penting untuk diingat adalah mengenali jenis kain dan kesan yang ingin ditampilkan. Contohnya, jenis kain tertentu seperti songket bertekstur tebal dan kaku. Kalau Anda ingin menampilkan kesan feminin yang lepas melambai, hindari penggunaan kain ini. Kecuali Anda ingin menciptakan efek futuristik dengan menjadikan songket ini jaket kaku dengan bahu mencuat ala Balenciaga atau Yves Saint Laurent, maka hal itu bisa saja.Kalau ingin berbusana ringan melayang seperti sackdress Diane Von Furstenberg, pilih kain ringan seperti kombinasi sarung bugis dan sifon sutra rancangan Andi Saleh.

“Anda harus tahu efek yang didapat dari setiap kain,” saran Andi Saleh tentang tips mengenakan busana berkain tradisional ini. “Mau simple mewah atau mewah glamor, tinggal cocokkan saja dengan kain dan atasannya.” Andi Saleh menuturkan bagaimana menyeimbangkan bawahan batik dengan atasan blus sederhana atau kebaya encim untuk kesan simple. Kalau Anda membutuhkan efek mewah, pilih kain yang lebih ‘berat’ seperti songket atau kain prada dari Bali yang bernuansa emas. “Yang penting, sesuaikan warnanya dengan kulit dan kepribadian Anda,” tambah Andi Saleh. Kalau Anda belum yakin dengan warna kain yang cocok, anda bisa bermain aman dengan memilih warna netral seperti hitam atau beige.

Untuk sehari-hari, cobalah lebih ‘fun’ dalam mengenakan kain tradisional ini. Untuk yang masih malu mengenakan kain tradisional, padankan kain tradisional dengan busana-busana dari label kontemporer. Jadikan kain lurik menjadi rok mini atau selutut, lalu padukan dengan tshirt hitam polos (dari Mango, misalnya). Dengan sepatu flat atau strappy sandal, kain lurik itu akan menjadi sangat casual. Atau kalau ingin bergaya bohemian, ubah saja kain batik megamendung menjadi rok semata kaki, tutup dengan tanktop putih dan kardigan hitam. Tips untuk tampil aman dengan kain tradisional bisa dengan meniru cara Frida Gianini (disainer Gucci saat ini) dalam merancang koleksi musim panas 2008. Dengan dasar warna hitam dan putih, ia bermain dengan satu tambahan ‘warna lain’, solid atau lembut. Warna lain inilah yang bisa Anda terapkan pada pilihan kain tradisional sebagai center piece.

Dengan mengenakan kain tradisional, tampil cantik dan anggun itu sudah pasti didapat. Tak hanya itu saja, Anda akan merasakan sesuatu yang baru dalam berpenampilan. Anda mengusung suatu nilai budaya dan kebanggaan akan identitas nasional. Bayangkan, saat Anda bersosialisasi dengan teman-teman Anda yang berasal dari luar negeri, mereka akan penasaran dengan motif atau bahan busana yang anda kenakan. Bila mereka mengira-ngira rok yang Anda pakai itu dari Cavalli, Anda bisa dengan bangga menjawab; “It’s songket, one of my national heritage.”

Deden Siswanto

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

MODE ITU SENI. SENI ITU MODE? (2009)

Text By: Muhammad Reza

(Dimuat di Majalah CLARA Edisi September 2009 hal.58-61)

Berbicara tentang mode memang tak bisa lepas dari seni. Bagi saya, mode selalu mengandung unsur seni. Pada dasarnya, seni memikat dan memberi pengalaman batin yang menyenangkan melalui indra penglihat.

pollock

Perasaan itulah yang saya rasakan saat melihat Caroline Trentini menyeret-nyeret rok tulle tersembur cat warna-warni ala lukisan Jackson Pollock di panggung peragaan Dolce & Gabbana beberapa tahun silam. Sama halnya saat melihat caged-heel boots Yves Saint Laurent atau tas kulit phyton bermotif floral dari Balenciaga (koleksi Cherce-Midi) yang dicat tangan warna-warni bergaya impresionisme. Apalagi kalau melihat peragaan busana Alexander McQueen. Ada kata “Oh” dan “Ah” ketika melihat produk mode menjadi suatu work of art.

cropped-scan00761.jpg

Apakah Mode itu Seni?

Aktris Tilda Swinton saja pernah mengatakan, “Beberapa seniman terbaik yang saya kenal bekerja di dunia mode.” Nah, lho?

Kalau beberapa contoh tadi disejajarkan, pertanyaan klasik akan muncul? Apakah mode itu seni? Kalau dijawab ya, maka akan berlanjut, tapi seni kan belum tentu mode? Oke, tak usah diperpanjang. Keduanya saling mempengaruhi. Seni bisa menjadi inspirasi warna, motif hingga siluet sehelai busana atau aksesori. Seni pun dipengaruhi mode. Kalau seni hanya bisa kita nikmati dengan mata, mode bisa dikenakan. Kedua-duanya memenuhi kebutuhan estetika manusia.

fildes
Sir Samuel Luke Fildes; Portrait of Mrs. Lockett Agnew, 1887-88. Source: Pinterest.com

Menurut saya, mode berpengaruh pada seni, tapi tidak sebesar seni terhadap mode. Kalau melihat lukisan era Victoria, saya akan mengernyitkan dahi jika model lukisan mengenakan gaun berkerah rendah dengan latar belakang taman di siang bolong. Tentu saja lukisan itu ngawur. Etikanya, di zaman itu busana berkerah rendah hanya dipakai di malam hari. Itu contoh sederhana. Mau tidak mau, mode mempunyai pengaruh pada seni.

Monet
Women in the Garden, 1866 by Claude Monet. Source: Fashion-era.com

Minimalisme, Kubisme dan Art Nouveau

Sejak awal abad 20, seni selalu menjadi inspirasi disainer. Minat dan hubungan mereka dengan seniman berimbas pada karyanya. Tengoklah Paul Poiret. Inspirasi seninya datang dari lingkungan. Poiret terkesan oleh kostum Ballet Russes di Paris pada tahun 1909. Ia mengoleksi lukisan Picasso, Matisse, dan Renault. Ia juga bergaul dengan seniman-seniman kontemporer ini. “Saya selalu menyukai pelukis. Sepertinya, kami berada di dunia yang sama,” katanya.

Paul Poiret
Paul Poiret dress, illustrated by Georges Barbier for the cover of Les Modes magazine in April 1912.

Saat itu modern art sedang naik daun di Prancis. Ketika seniman bereksperimen dengan ide-ide dan material baru, Poiret tertantang untuk bereksperimen dengan tekstil, siluet, dan detil busana. Ia mengikuti tren minimalisme, kubisme, dan art nouveau. Poiret membuang korset dari tubuh wanita dan meninggalkan warna hitam dan putih. Sudah kuno. Ia juga membuat siluet busana wanita menjadi lurus. Tak berlekuk-lekuk seperti huruf “S” yang dijadikan siluet ideal masa itu. Lalu ia ramaikan siluet lurus ide dengan warna-warna cerah.

Di era ’20-an, bukan Poiret saja yang terinspirasi seni. Jean Patou menjadi yang pertama memunculkan motif-motif kubisme pada rancangannya. Sementara itu di Italia, Elsa Schiaparelli tertular semangat surealisme dari pelukis Salvador Dali. Detil-detil surealis yang bersifat mengagetkan, melampaui batas kewajaran persepsi manusia dan tak proporsional diadopsi ke dunia mode. Ornamen dari bahan plastik dan kancing berbentuk bibir dijadikannya terobosan baru. Tak itu saja, Schiaparelli juga mempopulerkan gambar wajah manusia besar-besar yang menutupi torso pemakainya.

jean patou models
Jean Patou and his models, 1924. Source: CMadeleinesVintage.com
schiaparelli
Schiaparelli dress red lips detail and surreal red lips hat. Source: Pinterest.com
shoehat
A collaboration with Salvador Dali, the iconic Schiaparelli’s shoe hat in 1937. Source: krvs.org

Tak disangka, empat puluh tahun kemudian Yves Saint Laurent terinspirasi gaya surealis berupa wajah manusia yang tampil pada koleksinya di tahun ’60-an. Ia juga menginterpretasikan kubisme Picasso, bunga matahari Rembrandt dan burung camar Brague ke dalam motif sulaman.

ysl picasso
Yvest Saint Laurent, inspired by Picasso. Source: Rebelliveblog.com

Pucci = Op Art?

Saya masih ingat kegemaran mengenakan celana jins berwarna neon gara-gara film Factory Girl beberapa tahun silam. Tren yang sama sebenarnya muncul sejak tahun 1960-an. Inspirasinya? Op art dan psychedelia. Inilah aliran seni yang membuat mata saya cukup lelah dan butuh obat tetes. Motif geometris yang dibumbui warna-warna terang benderang dan kontras ini terlalu meriah untuk penglihatan orang yang beranjak tua seperti saya. Tak heran gaya ini kurang lama bertahan setiap diluncurkan. Namun, seni yang popular bersama Andy Warhol dan Edgy Sedgwick ini malah semakin merajalela melalui koleksi Emilio Pucci dan Paco Rabanne. Bahkan, masih banyak yang menganggap Pucci-lah yang melahirkan motif op art. Apa iya?

Saat narkoba dan reggae sedang tren di tahun 1970-an, seni dan mode ikut-ikutan. Tapi bukan ikut teler, lho. Mungkin karena senimannya teler, warna dan bentuk yang diwujudkan aliran seni ini kabur, tidak jelas, mengawang-awang. Eh, dunia mode malah mencetak motif fluorescent baik pada kaus maupun gaun. Saya pun sempat terkena demam fluorescent di tahun 1990-an ketika musik reggae muncul malu-malu untuk kemudian hilang lagi dari peradaban. Mungkin sedang teler lagi.

Seperti tren, seni selalu berputar. Seni graffiti yang dipopulerkan anak jalanan di tahun 1980-an menjadi hits gara-gara Louis Vuitton di tahun 2001. Berkolaborasi dengan seniman Stephen Sprouse dan Takashi Murakami, Marc Jacobs meluncurkan tas Monogram Graffiti dan Monogram Multicolor. Tak bosan-bosan, Marc Jacobs lagi-lagi undang pelukis. Terakhir, lukisan perawat rumah sakit karya Richard Prince memikat Jacobs. Sang pelukisnya langsung diminta merancang tas untuk koleksi musim panas 2008.

Disainer “Nyeni” Kurang Komersil

Saya kemudian penasaran. Selama ini para disainer terinspirasi karya-karya seniman. Apa jadinya jika lulusan sekolah seni saja yang menjadi perancang busana? Mungkin mereka bisa lebih keren saat menciptakan busana yang kental dengan nuansa seni. Ternyata tak semudah yang diharapkan. Tak semua seniman tertarik jadi disainer. Kalaupun ada, karyanya kurang komersil, seperti Viktor & Rolf atau Rei Kawakubo.

Saya sendiri sangat menikmati –baca: mengapresiasi- gaun-gaun rancangan Rei Kawakubo. Namun kalau saya wanita, saya belum tentu tahu kapan saya harus memakai gaun tersebut. Menganut surealisme dalam merancang, hasil pekerjaan Rei Kawakubo memang sudah melampaui persepsi normal manusia akan proporsi dan anatomi. Ia merombak struktur tubuh manusia dan dimodifikasi ulang melalui ilusi bagian-bagian tubuh seperti punggung, lengan atau dada. Inspirasi itu terlihat jelas pada koleksi musim panas 1997. Ia membuat gaun dengan anatomi seolah-olah punggung manusia menggelembung melebihi ukuran kepala! Ia juga mencampur warna-warna yang bertolak belakang tapi sukses mendamaikan keduanya dengan menyelipkan warna hitam.

Menyikapi tanggapan masyarakat yang kurang antusias, Rei Kawakubo sendiri lebih memilih karya-karyanya diulas dan ditampilkan melalui dunia seni, bukan mode. “Dunia seni menerima objektivitas. Dan itulah yang harus dilihat dari busana saya,” katanya.

kawakubo

Saya pikir, Viktor & Rolf –lah yang bisa menjadi pelarian aman bagi para fashionista untuk bermain-main dengan seni yang ekstrim. Duo asal Belanda ini mungkin sudah lelah karyanya diacuhkan pada dekade silam karena dianggap terlalu mengada-ada. Apalagi, busana mereka lebih terlihat seperti instalasi seni. Namun, peragaan busana debut para lulusan Academy of Arts di Arnhem Belanda ini lumayan berdaya pakai. Mereka merancang sebuah kemeja yang dipenuhi balon gas besar menyerupai awan jamur. Efek dramatis dikurangi. Misalnya, kemeja dan rok klasik yang dikejutkan dengan kalung pita merah besar di leher.

Dibandingkan karyanya, peragaan duo disainer yang selalu berdandan identik ini lebih menarik. Mereka mengadakan pameran busana dengan motif dan ukuran yang dibuat seukuran boneka anak-anak. Atau membiarkan para modelnya berjalan di catwalk dengan penerangan yang dilekatkan ke badan sehingga sang model jalan dengan wajah serius –mungkin karena sambil berdoa agar lampu tidak membakar busana yang sedang diperagakan. Ketika majalah New York Times menyebut Viktor & Rolf sebagai seniman yang menggunakan mode sebagai media-nya, saya maklum saja. “Lha mengapa baru sekarang, bukannya dari awal!”

Visual Art dan Mode

Biasanya, saya lebih suka mengamati ulasan peragaan busana melalui media cetak saja. Tapi untuk Alexander McQueen dan Hussein Chalayan, tidak. Kedua rumah mode ini menyajikan peragaan busana sebagai seni pertunjukan. Meskipun dituding sebagai disainer pencari sensasi, karya-karya Alexander McQueen ini berbanding lurus dengan seni peragaan busananya. Selalu mengundang decak kagum. Salah satu peragaan Alexander McQueen yang terus dikenang terjadi di tahun 2006. Seni yang ditampilkan berupa visual art. Saat menutup koleksi musim dinginnya, ia menampilkan hologram tiga dimensi berupa Kate Moss yang menari-nari dengan gaun putih di dalam sebuah piramida kaca.

mcqueen

Peragaan mode Hussein Chalayan juga selalu saya tunggu. Saya sempat bingung. Busana-busana karya disainer asal Turki ini lebih cocok dikategorikan produk mode atau furnitur ya? Bagaimana tidak, ia pernah menggunakan material badan pesawat terbang menjadi baju yang bisa diubah-ubah bentuknya dengan remote control. Yang paling menghebohkan adalah koleksi Afterwords (musim dingin 2000). Disini Hussein Chalayan menyulap seperangkat meja kayu dan bangku menjadi gaun! “Kegilaan”-nya juga dilengkapi dengan aksi menghancurkan sebuah busana keramik dengan sekali getokan palu. Dan adegan seorang model berbusana putih polos yang diciprati bermacam cat untuk menciptakan satu gaun bermotif abstrak?

hussein paint abstract

Seni itu mode?

Saya akan sangat setuju kalau mode bisa dikatakan seni, tapi tidak sebaliknya. Ini kembali lagi ke definisi seni, yakni suatu karya yang menarik bagi indera dan emosi. Saya pikir, fungsi dan seni adalah dua hal yang wajib dipertimbangkan saat berbelanja produk mode. Kalau suatu produk mode tidak menarik dan menyenangkan hati, untuk apa dibeli? Apalagi di jaman susah seperti sekarang. Kita bisa memanfaatkan mode untuk menjadi penghibur. Hidup ini masih ada indah-indahnya. Entah sedikit keindahan itu bisa melalui kesenangan kaki dalam sculptural shoes Alexander McQueen, atau sekedar mengangin-anginkan scarf Pucci di leher.

pucci giselle 2

Seni dan mode bagaimanapun juga memang saling berkaitan. Namun, siapa yang lebih berpengaruh, pemenangnya adalah seni. Walapun dipajang dekat ranjang anda, misalnya. Seni adalah dunia keindahan yang tak tersentuh dan tak terbatas. Itulah dunia yang ingin kita rasakan, yang kita coba dekati lagi dengan melekatkannya di tubuh kita. Apakah melalui sepatu berkonstruksi aneh tapi kokoh seperti pahatan art deco, atau melalui balutan sutra bergambarkan bunga lili yang lembut seperti lukisan Monet.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

cover clara

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.