PERLUKAH PERJANJIAN PRANIKAH?

Bagaimana peran perjanjian pranikah pada ikatan sakral yang seyogyanya mengedepankan kepercayaan dalam dinamika cinta yang penuh dengan ketidakpastian? 

Published on http://www.kompasiana.com/modenesia/perlukah-perjanjian-pranikah-_595b9058935135322a0571a2

Image : Pixabay

Tak Dibuat Tanpa Tujuan

Seorang kenalan mengakhiri hubungan dengan calon istrinya tepat sebulan sebelum resepsi pernikahan mereka. Peristiwa yang menjadi gosip hangat ini disebabkan pengajuan perjanjian pranikah dari keluarga kekasihnya. Perjanjian yang dimaksud bukan sekedar janji saling setia dalam keadaan kaya-miskin atau sehat-sakit semata. Perjanjian ini mengatur pembagian harta bila suatu saat biduk rumah tangga mereka berakhir melalui perceraian. Tersinggung karena merasa dianggap mengincar harta, kenalan saya membatalkan rencana pernikahan. Cukup tragis. Mereka sudah berpacaran lebih dari delapan tahun.

Pernahkah Anda mendengar perjanjian seperti ini? Menilik definisi wikipedia, perjanjian pranikah itu suatu kontrak yang disetujui calon suami istri sebelum mereka meresmikan ikatan pernikahan. Perjanjian ini mengikat kedua belah pihak secara hukum dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama. Isi perjanjian tak hanya berkaitan dengan risiko dan dampak perpisahan baik karena kematian maupun perceraian yang mungkin terjadi, tapi juga mencakup hak dan kewajiban suami istri saat menjalani pernikahan itu sendiri.

Fungsi perjanjian pranikah secara umum adalah untuk melindungi harta yang dibawa kedua belah pihak ke dalam pernikahan. Didalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang pernikahan,  harta yang berada dalam perkawinan dianggap milik bersama. Sementara itu, di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) pasal 119, dinyatakan bahwa harta yang dibawa pasangan kedalam pernikahan dijadikan harta bersama. Namun pada ayat 2  pasal tersebut dijelaskan bahwa penyatuan harta itu bisa diabaikan jika ada persetujuan sebelumnya. Bila pasangan tidak membuat persetujuan tentang pemisahan harta, masing-masing akan menerima separuh dari seluruh harta saat mereka bercerai. Masalah pasca perceraian kerap terjadi ketika salah satu pihak keberatan berbagi harta yang biasanya merupakan harta warisan atau pusaka keluarga. Disinilah pentingnya persetujuan pemisahan harta dalam perjanjian pranikah.

Masalah berat berkaitan dengan harta dapat terjadi pada perkawinan antar kewarganegaraan. Sesuai hukum di Indonesia, warga negara asing tidak diperbolehkan memiliki properti di tanah air. Apabila ia menikah dengan warga negara Indonesia, kepemilikan properti bisa diperoleh melalui nama pasangannya. Saat pasangannya meninggal dunia atau bercerai, ia bisa saja kehilangan hak atas properti tersebut. Dengan perjanjian pranikah, kehilangan hak atas properti bisa dihindari. Contohnya, setelah perceraian atau kematian pasangan, warga negara asing tersebut harus menjual propertinya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Perjanjian pranikah juga berfungsi sebagai perlindungan hak-hak suami dan istri dalam menjalani ikatan perkawinan. Perjanjian tersebut bisa memuat sanksi-sanksi yang diberikan kepada suami bila melakukan kekerasan kepada istrinya, terbukti berselingkuh, atau meninggalkan istri tanpa kabar berita dalam jangka waktu tertentu. Ia juga menetapkan hak-hak suami atau istri. Contohnya, istri berhak atas pernikahan monogami atau berhak melakukan bedah plastik tanpa izin suami.  Selain itu, perwalian anak apabila perceraian terjadi  dapat ditentukan sebelum menikah melalui perjanjian ini.

Kontroversi Perjanjian Pranikah

Isu perjanjian pranikah memang belum menjadi sesuatu yang umum di masyarakat. Adanya unsur-unsur pembagian harta di dalam perjanjian pranikah masih dianggap tabu. “Ini seperti antisipasi jika ternyata rumah tangganya tak berjalan mulus, pasangan langsung bubar jalan dan membawa pulang harta masing-masing. Perjanjian pembagian harta itu berkesan seolah-olah calon suami istri belum yakin atau kurang percaya diri terhadap kelanggengan pernikahan mereka.  Padahal, bukankah salah satu unsur kekuatan hubungan itu kepercayaan?” ujar seorang staf bank swasta bernama Diki. Sementara  Wawan, seorang pemilik weddingorganizer di Bandung, berpendapat bahwa calon suami istri seharusnya sudah berkomitmen bahwa mereka berbagi  segala hal termasuk harta.

Sementara itu, tak sedikit yang mendukung perjanjian pranikah. Tanty adalah contohnya. “Pernikahan tak selalu berakhir bahagia, kemungkinan cerai itu selalu ada. Perjanjian ini melindungi harta yang dikumpulkan kedua belah pihak, terutama harta wanita karir seperti saya. Saya sendiri menganjurkan hal ini kepada teman-teman pria saya. Apalagi bila melihat mereka berhubungan dengan wanita materialistis,” tuturnya mantap. Menurutnya, pendataan harta bawaan untuk dipisahkan dalam pembagian harta akibat perceraian perlu ditegaskan dalam perjanjian pranikah agar tidak menjadi masalah. “Bahkan hewan peliharaan juga seharusnya disertakan dalam daftar tersebut.”

Membuat Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah memiliki kekuatan hukum. Oleh karena itu, calon suami istri membutuhkan bantuan pengacara atau notaris dalam membuatnya. Sebagaimana dijelaskan situs hukum online, perjanjian ini harus dibuat dengan akte notaris sebelum pernikahan. Selanjutnya, ia  didaftarkan untuk disahkan di Pengawas Pencatat Perkawinan. Apabila sudah terdaftar, perjanjian pranikah ini tak bisa ditarik atau diubah. Karena perjanjian pranikah ini juga bersifat sekali seumur hidup, ia sebaiknya dibuat secara sungguh-sungguh. Konsultasi dengan pengacara sangat dianjurkan untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.

Nah, setelah mengetahui seluk beluk dan kegunaannya, kini semuanya kembali kepada Anda dan calon pasangan. Apakah perjanjian ini dibutuhkan? Pertimbangkanlah dengan bijaksana. Sebagaimana pernikahan, kontrak ini pun dibuat untuk seumur hidup.

 

TREN MAK COMBLANG MASA KINI (MATCHMAKER)

Published in http://v20106.kompasiana.com/modenesia/tren-mak-comblang-di-era-masa-kini_595a21579785357e0f04a342

Image Source: Pixabay

 

Setiap manusia membutuhkan manusia lain dalam kehidupan fana ini. Bila dikaitkan dengan romantika, manusia lain itu disebut kekasih atau pendamping.

Saat kehidupan urban mulai dibatasi oleh rutinitas pekerjaan, kesempatan bersosialisasi dan mencari calon pasangan pun menjadi sulit didapat. Mencoba menemukannya melalui keanggotaan bermacam klub, mulai dari pusat kebugaran hingga komunitas pencicip anggur sebagai contoh, cenderung menghabiskan waktu. Kurang efektif. Apalagi bila berkhayal dan menunggu bertemu jodoh melalui berpapasan atau bertubrukan di jalan layaknya adegan sinetron.

Masyarakat urban pun mulai berpikir kritis dan praktis. Sebuah cara menemukan jodoh yang sudah berlangsung ratusan tahun dibangkitkan kembali. Apa itu? Meminta bantuan seorang matchmaker atau lebih dikenal dengan istilah mak comblang.

Menemukan pasangan hidup dengan bantuan pihak ketiga memang bagian tradisi dalam kehidupan sosial. Berbeda dengan konsep matchmaker ala Siti Nurbaya yang tragis, perjodohan yang dibahas disini tak mengandung unsur paksaan, namun lebih kepada upaya mempertemukan pria dan wanita yang sebelumnya tak saling kenal oleh pihak ketiga yang merasa keduanya akan cocok satu sama lain.

Praktik ini sudah terjadi sejak ratusan tahun silam. Lembar demi lembar literatur mengungkapkannya. Pada tahun 1815 saja, sastrawati Jane Austen menggambarkannya dalam novel berjudul Emma. Sedangkan dalam sastra terkini, dalam abad 21, novel debut Bergdorf Blondes yang ditulis Plum Sykes (sosialita New York yang berkontribusi pada majalah Vogue, Vanity Fair dan saluran televisi E!), menuturkan fenomena wanita-wanita kelas atas yang ingin segera berumah tangga dengan bantuan seorang matchmaker.

Image Source: Pixabay

Sykes menceritakan bagaimana wanita kosmopolitan menggambarkan ciri-ciri dan karakter pria impiannya kepada seorang matchmaker, wanita paruh baya yang mengenal semua pria lintas-usia yang lajang di arena pergaulan sosialita New York. Selanjutnya, matchmakerini akan mengatur pertemuan ‘tak terencana’ melalui intervensi pengaturan kursi di meja makan undangan pada pesta-pesta atau kegiatan amal.

Dalam sinematografi pun perjodohan pasang aksi. Anda ingat episode ketiga di musim pertama Sex and the City? Tokoh Carrie Bradshaw diundang makan siang oleh kedua temannya yang sudah menikah dan, secara kebetulan(!), mereka bertemu rekan pria pasangan itu. Tentu saja pria ‘tak diundang’ itu masih lajang dan diperkenalkan pada Carrie.

Image Source: Pixabay

Seorang matchmaker bisa kita temukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Ia bisa saja seorang saudara dekat yang lebih tua dan mengetahui siapa saja kerabat yang belum mengirim undangan pesta pernikahan. Matchmakerbisa ditemukan diantara teman atau kolega. Tanpa diminta, seseorang yang berbakat mak comblang akan serta merta menawarkan kenalannya apabila ia mengetahui Anda masih sendiri.

Dalam menemukan pasangan hidup, mungkin kita tak ingin merepotkan teman atau saudara. Hal ini bisa disebabkan perasaan bersalah atau tak enak apabila hubungan dengan pria atau wanita yang direkomendasikan tak berjalan sesuai rencana. Daripada mengganggu hubungan persaudaraan yang terjalin sekian lama, mereka pun beralih kepada pihak ketiga yang netral dan ‘aman’. Apalagi tidak semua pria dan wanita ingin usahanya menemukan pendamping hidup diketahui orang banyak.

Dengan kemajuan teknologi, peran seorang matchmaker sempat tergantikan media cetak, telekomunikasi dan internet. Dunia matchmaker melalui layanan publik tertua bisa jadi surat kabar. Hampir setiap surat kabar memiliki kolom biro jodoh yang merahasiakan alamat para anggotanya. Saat penggunaan layanan telepon bernomor premium naik daun, siapa yang tidak kenal istilah party-line yang menyajikan wajah-wajah menarik dalam iklannya? Kemudian ada situs-situs perjodohan, baik yang gratis maupun tidak, yang memudahkan jutaan pria dan wanita mencari sosok pendamping hidup.

Image Source: Pixabay

Namun tak jarang kita mendengar cerita tentang oknum-oknum yang memalsukan identitas dan foto dalam dunia maya. Tak jarang pula ada maksud-maksud tersembunyi berupa motif ekonomi ataupun kepuasan sesaat. Peran seorang manusia yang normal, terutama bila ia merupakan sahabat atau saudara, kembali lebih masuk akal dan terpercaya.

Kehadiran matchmaker profesional baik secara perorangan maupun korporat menjadi solusi terbaik hingga saat ini. Di Amerika Serikat ada Professional Dater yang didirikan Alma Rubenstein (pernah berkontribusi dalam reality show The Bachelor).  Sementara di Indonesia, istilah professional dating service dipelopori oleh Table For Two, satu dekade silam.

Secara personal, para staf Table For Two mengatur pertemuan antar anggota yang dianggap cocok melalui kencan. Setelah kencan, mereka memastikan apakah kencan ini cukup menjanjikan atau tidak. Bila diperlukan, kencan dengan anggota lain akan dijadwalkan sampai anggotanya menemukan calon pasangan yang sesuai.

Menggunakan jasa matchmaker berupa dating service memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, para anggota bisa menyempitkan ruang lingkup pencarian jodoh mereka menjadi lebih spesifik, baik melalui latar belakang sosial maupun ekonomi. Dating service juga menyediakan waktu bagi anggotanya untuk diwawancarai sebagai referensi staf dalam menemukan prospek pasangan.

Image Source: Pixabay

Para anggota juga tak perlu repot-repot memikirkan detil-detil seperti waktu dan tempat pertemuan. Kekurangannya hanya satu, yaitu keberuntungan mereka bertemu belahan jiwa yang benar-benar ‘klik’ bergantung pada kompetensi para staf layanan kencan ini.

Bagaimana dengan Anda? Apakah merasa kesulitan menemukan kekasih karena terlalu sibuk dan tak sempat bersosialisasi? Bila kerinduan akan pendamping hidup sudah merasuki diri, menghubungi seorang matchmaker andal mungkin menempati urutan teratas to do list saat ini. Ingatlah bahwa tak ada yang pasti mengenai asal-muasal pertemuan anda dengan jodoh. Karena itu, kenapa tak mencoba peruntungan melalui bantuan seorang matchmaker?