YOUNG INDONESIAN DESIGNERS (2008)

Image source: Pexels

Dua perancang muda berbagi cerita. Dimuat di Bandung Advertiser, Juni 2008.

 Teks: Muhammad Reza  Foto: Pexels, Dok. Andi Saleh, Dok. Vera Alexandra Tjiam for DEAR SIR

Pertengahan tahun umumnya ditandai dengan kelulusan siswa berbagai sekolah di tanah air, termasuk sekolah mode. Para alumnui yang telah menekuni bidang rancang busana pun bergegas menciptakan eksistensinya di masyarakat. Ada yang langsung dikenal masyarakat melalui brand pribadi, ada juga yang mengawali karir dengan bekerja pada disainer atau perusahaan yang sudah mapan. Saat wisuda, tentulah orangtua mereka merasa lega karena proses pendidikan telah rampung, Namun kekhawatiran pun tentu masih dimiliki meski secuil. Akankah calon disainer ini berhasil? Berapa lama kesuksesan akan tergapai?

Tak sedikit orangtua yang meragukan masa depan anaknya yang bermimpi menjadi perancang, apalagi jika mereka merasa kemampuan ekonominya jauh dari kesan mewah bidang yang ditekuni anaknya. Dunia mode yang kerap terlihat glamor dan mewah mahal ini memang lekat dengan kalangan kelas atas. Padahal tak semua perancang busana ternama berasal dari keluarga dengan kekayaan berlimpah. John Galliano, misalnya, sempat tak memiliki rumah dan menumpang saat menimba ilmu di sekolah mode St. martin London. Christopher Bailey sendiri pun dibesarkan di perkampungan West Yorkshire di Inggris dan berayahkan tukang kayu.

Namun, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Untuk berhasill di dunia mode, bakat, keterampilan dan penguasaan bidang yang digeluti sangat berperan. Sebagaimana pernah diutarakan Muara Bagdja kepada saya, mode itu merupakan dunia pekerjaan yang kompleks dan perlu dipelajari. Mode tak hanya berkisar antara kreatifitas dan estetika pakaian-pakaian cantik dalam foto-foto di majalah dan fashion show.  Banyak talenta dan kerja keras yang dilibatkan dalam dunia ini seperti sumber daya penjahit yang harus sesuai tuntutan perkembangan zaman, strategi pemasaran, hingga efisiensi promosi tepat sasaran. Itu sebabnya, latar belakang ekonomi keluarga tidak menjadi hambatan besar bagi siapa saja yang berbakat dan ingin mewujudkan cita-cita memiliki usaha dalam mempercantik penampilan masyarakat. Di sekolah mode, para disainer masa depan tak hanya diajarkan bagaimana merancang pakaian, tapi juga menggali ilmu mengenai berbagai aspek bisnisnya.

Vera Alexandra Tjiam, misalnya. Setelah lulus dari sekolah mode Esmod Jakarta dengan spesialisasi busana pria, ia berkonsentrasi di label Dear Sir. Masa-masa penuh tantangan yang sulit dilupakannya saat menimba ilmu di Esmod adalah pada tahun ketiga pendidikan dimana mereka harus mempersiapkan koleksi kelulusan yang merupakan tugas akhir. Ia mengaku bahwa banyak rekan-rekannya yang hanya memiliki waktu sekitar empat jam sehari pada masa itu. “It was really tough,”ujarnya.

Wanita yang berdomisili di Jakarta ini juga menunjukkan seleksi alam sudah terjadi bahkan ketika masih dalam masa pendidikan. “Saat tahun pertama, ada tiga kelas di bidang yang sama. Pada tahun terakhir hanya tersisa dua kelas dan kelas yang saya hadiri hanya berjumalah dua belas siswa! Namun, pendidikannya sangat intensif. Saya diajarkan dunia mode dari a hingga z yang pada akhirnya memudahkan saya untuk siap bekerja di bagian manapun dari industri mode.”

Dear Sir by Vera Alexandra Tjiam

Di antara nama-nama perancang busana yang sedang menanjak karirnya, ada beberapa nama yang tak terdaftar di buku lulusan sekolah mode manapun. Hal ini menujmoijfnjukkan bahwa untuk menjadi seorang perancang busana yang memiliki ‘pasar’ itu ternyata tak harus selalu melalui jalur pendidikan formal. Beberapa nama disainer yang sudah termasuk berpengaruh dan tidak mengikuti pendidikan mode di sekolah formal adalah Ivan Gunawan dan Anne Avantie. Ivan Gunawan mempelajari rancang busana langsung dari pamannya; Adjie Notonegoro dengan bekerja selama lima tahun pada disainer yang pernah mendeklarasikan kebaya sebagai milik Indonesia ini. Sama halnya dengan Anne Avantie. Belajar merancang busana secara otodidak tak membuat ia berkecil hati apalagi sampai mundur dari kecintaannya pada mode.

Andi Saleh adalah salah satu perancang muda yang membangun brand busana tanpa melalui jalur formal seperti sekolah mode. Perancang busana yang pada Jakarta Fashion Food Festival 2008 kemarin menyuguhkan sarung bugis makasar menjadi pakaian yang modern ini menceritakan pengalamannya saat belajar menciptakan busana secara non-formal di Broek In Waterland – Belanda pada tahun 2002 – 2003. Ia mengembangkan skill-nya melalui seorang seniman yang membuka kelas privat dan menunjukkan padanya seni kombinasi warna, aplikasi dan pencampuran kain. Setelah bertahun-tahun memperkenalkan karyanya, ia pun mulai memiliki kalangan pelanggan sendiri, yaitu wanita-wanita matang yang feminin dan para pria berjiwa muda yang berani tampil beda. Lambat laun, ia mendapat tempat di hati banyak pencinta mode. Saat ini ia sedang mempersiapkan peragaan busana muslim Malaysia-Indonesia yang akan diadakan bulan Juli 2008. Jasanya sebagai fashion stylist pun sering diminta beberapa band baru di Indonesia .

Andi Saleh

Untuk menjadi perancang busana yang diterima di masyarakat mungkin tak melulu harus ditempuh melalui sekolah mode. Andi saleh memberikan saran kepada mereka yang ingin menjadi perancang busana, “Gali terus selera fashion Anda karena fashion itu terus berputar. Anda juga harus bisa meramu selera pasar dengan idealisme pribadi sehingga keduanya bisa bersatu dengan harmonis.” Disainer muda yang ingin segera memiliki butik dengan konsep rumah peninggalan Belanda sebagaimana yang banyak dilihatnya di Bandung ini  juga menyarankan agar mereka rajin melihat kanal-kanal mode, majalah dan internet.

Vera Alexandra Tjiam pun memiliki pesan kepada mereka yang ingin menjadi disainer. “Pastikan kalau Anda benar-benar meminati mode. Bukan hanya karena kesannya enak dan mudah. It’s not that simple to be a fashion designer, especially the good one. Banyak hal-hal rumit yang harus benar-benar dijalani dengan serius dan ini akan menyita waktu banyak. But it’s worthed. Jangan sampai putus di tengah jalan. Cari informasi mengenai sekolah mode yang bagus supaya tidak salah pilih, dan kalo memang sudah cocok, just go for it!”

10 BUSANA DAN AKSESORI YANG WAJIB DIMILIKI KAUM WANITA (2011)

Dimuat di Style Factor OMG Yahoo! Indonesia pada April 2011.

Teks: Muhammad Reza, Foto: Pexels.com

CHIC SHOPPER pexels-photo-291762

Terus menerus mengikuti tren mode yang selalu berganti, pasti akan melelahkan. Padahal tanpa perlu bergaya sesuai tren, kita tetap bisa tampil stylish dengan gaya klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Untuk itu, ada 10 fashion item yang wajib dimiliki oleh seorang wanita.

1. Celana panjang hitam. Dengannya, kita bisa memakai kemeja dan blazer untuk berangkat ke kantor. Jika dipadu dengan blus dan aksesori girly, kita siap berangkat kencan dengan si dia. Celana panjang hitam juga pantas dikenakan bersama T-shirt untuk bersantai.

 

White Shirt and Black Trousers
White Shirt and Black Trousers

2. Kemeja putih. Kemeja ini bagaikan kanvas yang siap menerima nuansa tata rias dan rambut apa saja. Ia juga sangat fleksibel terhadap waktu dan resmi/tidaknya kegiatan. Dengan kemeja putih yang sama, kita bisa memadu-padankan jaket, blazer, vest, atau syal.

3. Sepatu hak tinggi hitam. Sama halnya dengan celana panjang hitam, sepatu hak tinggi ini bisa dikenakan untuk kegiatan formal dan kasual. Pilih yang bermodel stiletto atau platform sederhana dengan bagian ujung kaki tertutup. Sepatu dengan warna lain atau model ujung kaki terbuka boleh Anda miliki setelah punya sepatu wajib ini.

woman black shoes
Image source: Pixabay.com

4. Blazer hitam. Selain menghangatkan tubuh, blazer “merapikan” tampilan. Bisa dipakai untuk urusan kantor dengan bawahan rok pensil, bisa juga dipakai jalan-jalan dengan bawahan rok jins. Pilih blazer yang ukurannya pas di badan, bukan ketat. Blazer yang kekecilan akan menampakkan tonjolan lemak dan terlihat berantakan.

black blazer pexels-photo-325531

 

5. Celana jins biru tua. Biru tua atau indigo tak saja membuat tubuh tampak lebih langsing, tapi juga mudah dipadu-padankan dengan warna lain. Umumnya kelihatan santai dengan T-shirt, tapi bisa naik kelas juga menjadi glamor bila dipadukan dengan jaket kulit, jaket berkerah bulu, atau perhiasan berwarna emas dan perak.

jeans and cardi

6. Sweater & cardigan. Sweater dan cardigan memberi sentuhan manis dan ‘effortless’ pada gaya busana apa saja. Selain dipakai di atas kaus, cardigan juga bisa menutupi gaun mini, gaun koktil bertali tipis atau tak bertali. Sedangkan sweater memberi kesan feminin dan tangguh sekaligus. Keduanya dengan mudah serasi dengan rok atau celana apa saja.

7. Pakaian dalam yang tepat. Meski tak terlihat, namun bila pakaian dalam terasa salah, penampilan kita juga akan terlihat kurang enak dipandang. Miliki setidaknya beha berwarna putih untuk atasan berwarna putih, hitam tanpa tali untuk gaun hitam, sport bra untuk berolahraga dan warna nude bila ingin mengenakan busana menerawang seperti berbahan lace. Miliki juga G-string atau thong untuk celana atau gaun ketat yang menempel di tubuh untuk menghindari penampakan garis celana dalam yang “mengganggu”.

little black dress pexels-photo-219604

8. Little black dress.  Gaun hitam selalu klasik, elegan dan mudah dipadu padan dengan aksesori.

9. Kacamata hitam. Kacamata hitam adalah aksesori utama untuk mendapatkan kesan selebritas dengan mudah. Mau model aviator seperti yang dikenakan Sarah Jessica Parker atau model belalang ala Paris Hilton, yang penting sesuaikan dengan bentuk muka Anda. Bila ragu, ajak ibu atau teman terdekat yang bisa diandalkan sarannya saat berbelanja kacamata. Dengan kacamata hitam berkualitas, tampilan kasual berupa jins dan T-shirt langsung menjadi gaya.

summer-young-woman-pretty-sunglasses

10. Tas tangan bergaya klasik. Sebaiknya Anda menyisihkan uang untuk membeli sebuah tas tangan berkualitas dengan model yang klasik. Berkualitas; berbahan kulit asli yang tentunya tahan lama dengan jahitan yang rapi. Tidak harus bermerk, namun dengan sekali pandang saja tidak terlihat murahan. Sebagai alternatif kulit, bahan kanvas pun boleh. Pilih model klasik yang bersih dari detil aneh-aneh atau yang trendy. Bentuk kotak atau trapesium adalah pilihan terbaik.

red croco bag
Image source: Pixabay.com

TIGA ALASAN LOGIS UNTUK BERHIJAB

hijab style pexels-photo-196753

Teks: Muhammad Reza, Foto: Pexels.com

Dimuat di Kompasiana.com pada 8 Juni 2017.

http://v20106.kompasiana.com/modenesia/tiga-alasan-logis-untuk-berhijab_59384c623791c4197562f912

Sebelumnya saya mohon maaf, apabila ada yang kurang berkenan dengan yang akan saya utarakan. Artikel ini hanya berdasarkan pemikiran sederhana. Kalaupun tak setuju, setidaknya bisa jadi cara untuk mengenal aturan berbusana yang dianjurkan bagi saudari kita yang menganut kepercayaan mayoritas di tanah air. Sekali lagi, saya tidak berniat menistakan kepercayaan apapun disini. Dan saya, untuk itu, memohon maaf sebesar-besarnya.

Berhijab, yakni berbusana dengan menutupi  seluruh tubuh hingga pergelangan tangan dan wajah bagi wanita, merupakan bagian ajaran Islam. Panduan berbusana ini dijelaskan dalam kitab Al Quran. Dalam surat An Nur ayat 31, wanita diperintahkan mengenakan kerudung yang menutupi hingga dadanya. Perintah berhijab juga disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 59. Memang, berjilbab tidak menjadi ukuran kadar keimanan. Namun, bila ajaran itu untuk keselamatan, kenapa tidak mengikutinya?

Islam juga mengajarkan wanita untuk berpakaian sewajarnya; tidak ekstravagan tanpa tujuan yang bermanfaat. Saya menafsirkannya sebagai cara berpakaian yang mencegah diri dari sifat keangkuhan sekaligus menolong saudari lain untuk terhindar dari sifat iri dengki yang mungkin belum dapat mereka kontrol. Bila Anda mencintai keindahan dan ingin mengekspresikannya melalui  tekstil atau dekorasi busana yang mewah,  mengapa tidak? Namun tidakkah sebaiknya dikenakan di rumah sendiri? Kalau dipakai bepergian, mungkin harus lihat-lihat tempat tujuan dan lingkungannya dulu, ya.

Saya pikir ada banyak sekali alasan logis dan praktis mengapa berhijab sangat bermanfaat dan mempermudah kehidupan. Tiga diantaranya adalah sebagai berikut.

 

1. Menghindarkan diri dari fitnah.

Ya, kita tak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran setiap orang di sekitar kita. Beberapa model busana yang bukan  ditujukan untuk gaya berhijab memang menyanjung kecantikan wanita dengan menegaskan indahnya kulit dan lekuk tubuh alami pemakainya. Bagi perempuan, tubuh adalah haknya, mau diperlihatkan atau tidak. Namun seringkali hak yang dilindungi ini disalahartikan. Kerapkali wanita yang berbusana terbuka disalahtafsirkan karena cara berpakaian tersebut  lekat dengan seksualitas.

shutting up the voices pexels-photo-129862

 

Saya teringat contoh kejadian fitnah karena busana yang minim bahan.  Sekali waktu, saya bersedih menonton video yang diunggah di youtube, dimana seorang wanita begitu marah dan menghardik warga suatu kampung disebabkan beberapa diantaranya menyampahinya dengan ujaran yang kurang pantas. Melihat gaya berbusananya yang luar bisa dermawan memperlihatkan kemolekan tubuh seraya memamerkan belahan dada dan paha, beberapa warga mengasosiasikan penampilan itu dengan para pemeran film-film panas, atau para wanita penghibur. Jika wanita tersebut tersinggung karena merasa difitnah, saya memahami kemarahannya. Bisa jadi dia bukan wanita penghibur. Menurut saya, tentu saja dia berhak meluruskan fitnah, walau saat itu dilakukan dengan begitu dramatis sehingga ada pihak yang merasa kehebohan tersebut layak dipertontonkan di media sosial. Namun, tidakkah peristiwa itu memalukan?  Syukurlah, konflik tersebut berakhir damai. Warga yang melontarkan fitnah meminta maaf.

Saya hanya bisa mendoakan, semoga berbagai permasalahan miskomunikasi seperti itu tak terjadi lagi. Menurut saya, sebaiknya kita semua mempertimbangkan dampak cara kita berpakaian sebelum meninggalkan kediaman masing-masing.

 

2. Menghindarkan diri dari kejahatan seksual.

Anda pernah membaca atau menyaksikan berita mengenai kekerasan seksual dan juga demo hak mengenakan rok mini? Kasus perkosaan  umumnya disebabkan pelaku terdorong beraksi karena terangsang melihat bagian tubuh korban yang dipertontonkan. Namun, sebagian wanita menganggap berpakaian seksi adalah hak mereka dan bukan menjadi  pembenaran atas perbuatan jahat pelaku.

sad woman pexels-photo-271418

Menurut situs resminya, Komnas Perempuan telah mendata sebanyak 93.960 kasus kekerasan seksual pada kaum hawa yang terjadi sejak 1998 hingga 2010.  Artinya, dalam kurun 13 tahun, setiap hari ada 20 (19.80) korban. Dari angka tersebut, Komnas ini mengelompokkannya kepada jenis kekerasan yang lebih spesifik. Mereka menemukan bahwa perkosaanlah jenis  kasus terbanyak. Kasus pelecehan seksual secara fisik, verbal atau tindakan yang menjadikan korban sebagai objek seks berada di peringkat ketiga.

Terkait himbauan mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, agar perempuan sebaiknya tidak mengenakan rok mini saat bepergian dengan kendaraan umum, sekelompok perempuan menyuarakan aspirasinya. Para perempuan yang menamai diri Kelompok Perempuan Menolak Perkosaan berdemo di kawasan Bundaran HI pada 18 September 2011 silam dengan mengenakan rok mini dan beberapa diantaranya juga memakai atasan tanpa lengan. Sebagaimana diberitakan di situs Tribunnews, mereka menganggap pemikiran bahwa perkosaan yang diakibatkan penampilan seksi itu tak bisa diterima.

Bagaimana menurut Anda?

Kalau saya boleh beropini, ada begitu banyak alternatif untuk mempermudah kehidupan kita. Sebagaimana di bidang kehidupan lainnya, pilihlah yang aman. Ya, kita memang memiliki hukum yang melindungi. Namun itu tidak berarti menghentikan kemungkinan kasus  kriminal  untuk menghampiri kita. Ingatlah, pria adalah makhluk visual. Ketika Anda berpakaian seksi di dalam rumah, tentu jauh dari bahaya . Namun, saat bepergian dimana setiap pria tak dikenal melihat Anda dalam pakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh apalagi terbuka, apakah Anda bisa memastikan terbebas dari kemungkinan pelecehan seksual? Ibarat mengunci rumah untuk menghindari perampok, kuncilah kesempatan ‘maling’ untuk menjahati kehormatan yang berharga. Ingatlah, selain disebabkan adanya kesempatan, maling cenderung memilih korban yang lebih ‘gampang dan mengundang’ untuk ditaklukkan.

fashion-woman-countryside-clothes.jpg

Dalam konteks ini, saya melihat begitu besarnya kemungkinan saudari kita yang berhijab untuk terhindar dari kejadian-kejadian serupa.  Begitu besar pula kemungkinan mereka untuk menjaga nama baik keluarganya hanya dengan cara menutupi tubuh melalui pakaian yang sesuai aturan agama.

 

3. Melindungi kesehatan dan kecantikan.

Gaya berbusana hijab menjaga kesehatan wanita yang mengenakannya. Bayangkan polusi udara dan pemanasan global. Betapa buruknya mereka berdampak pada rambut dan kulit. Kulit adalah jalan masuk berbagai kuman. Bila tak terlindungi, ia pun menjadi target kanker kulit melalui paparan matahari secara langsung.

Kanker kulit disebabkan paparan sinar ultraviolet (UV) alami maupun buatan (lampu UV dan tanning bed) yang  diperburuk dengan menipisnya lapisan ozon. Situs Faktakanker.com mengatakan betapa kanker ini bisa menyebar dan mempengaruhi organ tubuh lain dan berakhir fatal seperti kebutaan. Menurut data WHO, sebagaimana disebutkan dalam situs Alodokter, sekitar 132 ribu kasus kanker kulit bernama melanoma  muncul setiap tahun di seluruh dunia. Situs ini pun menyebutkan bahwa wanitalah yang lebih berisiko menderita penyakit mematikan ini.

pretty eyes pexels-photo-87293

Rambut, seperti yang diyakini banyak salon kecantikan, adalah mahkota. Anda mungkin berpendapat sama. Nah, bila mahkota kesayangan ini rontok atau rusak karena paparan sinar matahari, tak mau dong? Memakai produk anti sinar UV pada rambut ternyata tak seefektif mengenakan penutup kepala, ungkap situs Livestrong.com. Wah kalau begitu, kenapa tak berhijab saja? Praktis tak perlu berbagai pernak-pernik perawatan yang rumit.

Tak mau gerah  mengenakan pakaian tertutup?  Jangan khawatir. Dengan blus, tunik atau kaftan berpotongan  longgar ,  penguapan keringat akan lebih cepat. Gerah atau gatal karena keringat biasanya disebabkan busana yang ketat. Sebenarnya banyak dampak negatif busana ketat. Selain berpotensi penjamuran, memakai baju ketat juga bisa menyebabkan penyakit asam lambung, lho. Tak percaya? Google saja.

Saya percaya, saudariku semua sudah mengetahui betapa maju dan berkembangnya dunia mode hijab. Ini tidak saja di Indonesia namun juga di luar negeri. Di Indonesia, sejak tahun 2011 kita mulai mengenal disainer dan merk busana muslim yang koleksi rancangannya begitu modern dan bergaya, seperti Dian  Pelangi dan Anniesa Hasibuan. Di negara tetangga, kita mengenal Ahley Isham, Tom Abang Saufi hingga Jovian Rayke Mandagie yang merancang busana yang cocok untuk para muslimah. Sementara di  kancah global, sejak 2016, Dolce & Gabbana telah meluncukan lini khusus dengan menyajikan koleksi abaya yang Islami. Alhamdulillah. Pilihan dan inspirasi gaya berhijab semakin beraneka ragam.

Dengan ketiga alasan yang sangat logis tadi, menurut saya, sebaiknya muslimah menjadikan  hijab sebagai gaya berbusana. Kalau gaya ini jelas-jelas mendatangkan banyak manfaat, mengapa memilih gaya lain berisiko mendatangkan mudharat? Berhijab, yuk.

 

Untuk saran dan pertanyaan; email ke muhammadreza_ss@yahoo.com , whatsapp 087877177869 .

BLAZER DAN KEPEDULIAN

Sebagai bagian budaya, mode merefleksikan etika yang diterapkan dalam kehidupan.

Teks: Muhammad Reza

Sebagai pecinta fashion, saya mengagumi setiap aspek dalam  bidang yang kerap diasosiasikan dengan estetika ini. Beranjak dewasa, melalui para penulis dan pekerja mode yang membagikan ilmu dan pengalamannya, semakin terpesonalah saya. Sesekali diri yang awam ini heran dengan begitu kompleksnya  bidang yang sudah ratusan tahun menjadi bagian peradaban. Mode, ternyata tak hanya sekedar perkara berbelanja atau padu padan pakaian demi menghias diri. Ia  juga refleksi sekaligus pengaruh pada kehidupan secara finansial dan sosial. Bila Anda pernah menyempatkan diri membaca novel  yang terinspirasi pengalaman pribadi penulisnya (atau menonton filmnya yang dibintangi Meryl Streep dan Anne Hathaway), sebuah adegan dimana sang pemimpin majalah fashion menyantap Wall Street Journal setiap hari bersama surat kabar dan beberapa majalah lain mungkin bisa memberi sebersit ilustrasi bahwa bidang terkait kebutuhan sandang ini memegang peran penting dalam setiap aspek kehidupan.

The Devil Wears Prada The Movie
Image Source : the-toast.net

Itulah sebabnya, ketika suatu waktu saya mendengar komentar dari seseorang yang mengecilkan manfaat mode bagi dirinya, saya berempati. Mungkin memang mode perkara remeh, baginya. Entah karena kondisi wawasannya dengan elemen budaya tersebut, atau ia belum berkesempatan berkenalan dengan kalangan yang termasuk dalam bidang usaha penyumbang terbesar kedua dunia industri kreatif nasional  setelah industri kuliner dan menempati posisi teratas  dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 32,3% pada 2016.  Namun memang, sebagaimana pernah diungkapkan ilusionis Deddy Corbuzier kepada saya, manusia cenderung menarik kesimpulan termudah bagi hal-hal yang kurang dipahaminya. Dalam konteks dimana seseorang tadi, yang menurut saya, memberi pandangan yang kurang sedap didengar terhadap dunia mode, saya memaklumi  kemungkinan alasan ujaran yang terdengar jujur tersebut.

Pengalaman terkait perbedaan pandangan mengenai mode pun terjadi saat mendengar komentar lainnya. Dalam suatu kesempatan, ketika saya pernah bekerja di suatu tempat sebagai penulis dokumen-dokumen perusahaan, ada rumor mengenai kebijakan untuk memakai blazer saat menemui narasumber kami. Seorang kolega mempertanyakan. Haruskah memakai jas yang berkesan formal ini?

Saat itu saya juga memikirkannya. Seingat saya, sebagai pekerja kreatif berupa penulis di tabloid dan majalah mode di masa lampau, tak pernah ada anjuran demikian. Saya boleh memakai kaos oblong dan celana jeans saat melakukan wawancara. Namun itu terjadi karena saya menulis untuk tabloid atau majalah hiburan. Sementara saat ini, saya menulis untuk laporan korporat yang bersifat resmi. Kami menemui organ manajemen, petinggi-petinggi perusahaan yang tentulah sangat penting karena mereka memberi keputusan dan arahan yang menentukan keberlangsungan kehidupan perekonomian orang banyak, seperti para karyawannya. Haruskah saya memakai blazer saat menemui mereka?  Saya kan hanya mau wawancara untuk tulisan.

Memori yang kurang nyambung tiba-tiba muncul saat saya merenungkan ikhwal blazer yang tampak sepele dan remeh ini. Visualisasi para artis dalam balutan busana avant garde di karpet merah acara tahunan Met Gala 2016 di Museum of  Modern Art New York menyeruak tanpa diundang. Kok jadi teringat ke acara itu? Entahlah. Saya hanya ingat,  acara itu bertema Art of the In-Between dan merupakan penghargaan kepada disainer surealis Rei Kawakubo atas koleksi busana rancangannya yang sangat berseni sehingga layak dimuseumkan. Dan sebagaimana budaya di sana, mengenakan pakaian sang disainer atau setidaknya yang sesuai dengan tema menghasilkan parade manusia-manusia ‘berpakaian ajaib’. Ketika  ada undangan yang berbusana ‘biasa-biasa saja’ tentu tidak menjadi masalah besar, namun di saat mereka diharapkan seharusnya mampu menghargai dan menghormati acara dan pengundang, kenapa tidak melakukannya? Ini mengenai dress code. Nyaris menyerupai situasi di saat kita diundang ke kondangan, namun lebih memilih memakai kaus kasual yang cute dibanding batik, kebaya atau gaun pesta. Tidak masalah bila kita tak peduli untuk menghormati pengundang, kan? Juga tak menjadi beban bila kita tak peduli untuk terlihat atau merasa seperti tamu yang tak diundang, tidak pada tempatnya.

met-gala-2017-best-dressed
Celebrities in Met Gala 2017. Image Source: Vanityfair.com

Nah, perihal kepedulian menyesuaikan penampilan dengan acara ini mirip dengan isu sebelumnya, si blazer yang menimbulkan ketidaknyamanan tadi. Memakai blazer untuk menemui sang petinggi perusahaan, menurut saya, hanyalah masalah etika. Dengan berpakaian sama rapi dan resminya dengan mereka, kita menghargai. Bukan berarti tanpa blazer kita kurang menghormati. Hanya saja, ketidakpedulian akan hal kecil biasanya meninggalkan kesan kurang menyenangkan.

Saya kemudian membayangkan, tentulah tak nyaman bagi mereka yang tak terbiasa memakai blazer kemudian ‘dipaksa’ memakainya. Bukankan busana kita mencerminkan kepribadian? Kalau jas yang resmi itu kontradiktif dengan gaya berpakaian personal yang bebas dan santai, kenapa harus dipakai? Ya mungkin memang seharusnya tak dipakai. Namun kita bekerja pada pihak yang mensyaratkan  perilaku (termasuk cara berbusana) sesuai nilai-nilai mereka. Oleh karena itu, berbusanalah sebagaimana yang diharapkan.

devil-wears-prada-anne-hathaway-chanel-blazer
Image Source: Glamour.com

Mode memang dunia penuh keindahan yang kerap terlihat dibuat-buat dan kurang bermanfaat. Namun beberapa hal utama kehidupan-salah satunya etika-merupakan esensinya. Kali ini saya menulis mode sebagai bagian etika. Mungkin kapan-kapan saya menulisnya dari sudut pandang lain; ekonomi, misalnya. Namun entah kenapa, saya suka menulis hal yang kurang penting saja, yang umumnya terilhami oleh pengalaman dan kebingungan yang disebabkan pemahaman yang kurang signifikan untuk dibahas; mode sebagai bagian etika.

PERJALANAN MODE ANAK-ANAK (2008)

Teks: Muhammad Reza 

Published in Bandung Advertiser July 2008 

Mode anak-anak merupakan fragmen yang tak terpisahkan dari dunia mode yang dinamis. Sebagai bagian kebudayaan, ia berevolusi mengikuti perubahan sosial dan teknologi. Perjalanan mode anak-anak sejak awal kelahiran dunia mode hingga saat ini akan digambarkan secara singkat dalam Bandung Advertiser edisi khusus anak-anak ini.

 marie antoinette 1

Mode anak-anak memang bukan sesuatu yang baru atau asing. Sejak masa kejayaan Marie Antoinette yang diakui sebagai kelahiran dunia mode, anak-anak memiliki tren mode tersendiri. Selama abad delapan belas, setelah melalui masa-masa bayi (dimana mereka berpakaian secara uniseks), anak-anak didandani dengan model pakaian seperti orang dewasa. Perbedaannya hanya terletak pada pemakaian pantalon di dalam rok dan panjang rok anak perempuan yang bisa dijadikan acuan usia. Rok anak perempuan berusia enam belas tahun sebatas mata kaki, usia empat belas tahun sebatas betis, sementara usia dua belas tahun ke bawah sebatas lutut. Pakaian anak-anak berbahan sutra pun sempat naik daun yang berfungsi menghubungkan anak-anak dengan komunitas bangsawan, sekaligus membedakannya dengan anak-anak rakyat jelata yang hanya mampu berpakaian katun dan wol.

Saat revolusi Perancis meletus dan permaisuri Josephine mempopulerkan empire line, anak-anak perempuan pun dibebaskan dari himpitan korset. Mereka berlarian dengan lepas mengenakan pakaian katun ringan yang pada masa revolusi industri marak diproduksi.

Tren berikutnya adalah apron yang dipopulerkan di era Victoria dan Edward. Tak hanya berfungsi menjaga kebersihan, apron juga menjadi media pamer dekorasi sulam atau lace yang mewah.Beberapa tren yang berusia singkat pun mewarnai perjalanan tren busana anak-anak seperti pemakaian bahan tartan, ragam topi dan hiasan kepala seperti pita, hingga gaya pelaut. Setelah kedua era tersebut, tren baju anak-anak kembali menyerupai busana dewasa.

Mode anak-anak semakin memiliki ciri khas dengan laju waktu, khususnya di abad duapuluh. Dunia mode berkembang dan bergerak cepat dengan pertumbuhan rumah-rumah mode seperti Chanel dan Lanvin, serta publikasi melalui majalah-majalah mode sekelas Vogue dan Der Bazaar.

mode anak shirley t

Hadirnya bisnis hiburan seperti film menciptakan ikon-ikon mode yang membantu peredaran sebuah gaya, termasuk gaya berbusana anak-anak. Gaya berbusana anak-anak yang paling terkenal pada saat itu melibatkan bintang film cilik Shirley Temple. “Shirley Temple mempunyai pengaruh yang sangat besar pada industri mode anak-anak. Setiap ibu (di masa itu) menginginkan putrinya terlihat seperti Shirley, berbalut gaun pendek yang melambai dan berambut ikal,” ujar Gini Stephens Frings dalam buku berjudul Fashion from Concept to Consumer. Munculnya televisi pun mempercepat perputaran tren mode baju anak-anak. Apa yang dikenakan aktor dan aktris cilik di layar kaca segera ditiru. Baju anak-anak selanjutnya menjadi komoditi industri. Baju-baju siap pakai diproduksi besar-besaran dan ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Majalah Vogue pun merilis Vogue Bambini, yang mengundang penerbit lain membuat majalah serupa.

 Setelah aksi pembakaran kutang wanita di tahun 1960-an, kebebasan sepertinya menjadi tema utama dunia mode, termasuk mode anak-anak. Celana pendek dan kaus t-shirt dengan warna-warna menyolok sesuai tren warna-warna burung merak pun membahana. Anak-anak juga diajarkan untuk lebih sering aktif bergerak dengan dipopulerkannya olahraga bersepeda, bersepatu roda, dan skateboard hingga era tahun 1980-an.

mode anak fullhouse

Mode anak-anak kemudian menikmati kemakmuran di tahun 1980-an saat kondisi ekonomi dunia sedang menanjak. Saat orangtuanya berlomba-lomba bergaya “dress to impress” dengan balutan baju disainer dan perhiasan emas, anak-anak pun merasakan helai demi helai benda-benda bermerk di tubuhnya. Saat Prada sukses membuat orang dewasa mengincar tas sandang dari nilon dengan logonya yang cukup besar, anak-anak pun tak ketinggalan. Film Clueless yang dibintangi Alicia Silverstone menggambarkan kebutuhan anak-anak dan pra remaja akan barang mode bermerk di era 1990-an. Kebutuhan yang serius akan mode di kalangan anak-anak juga ditampilkan dalam film The Clique yang diproduksi Tyra Banks pada 2008. Para disainer dan brand papan atas akhirnya melirik pasar baru yang cukup menjanjikan; anak-anak.

mode anak the clique

Hingga saat ini, disainer dan label busana internasional berbondong-bondong meluncurkan label busana untuk anak-anak. Beberapa contohnya adalah Matthew Williamson yang merilis koleksi Butterflies, Little Marc dari Marc Jacobs, Ralph Lauren Children’s Wear, Crewcuts dari J.Crew hingga Dolce & Gabbana yang menyajikan D&G Junior.

 Bagaimana dengan perjalanan mode anak-anak di tanah air? Di Indonesia, tigapuluh tahun silam ibu-ibu di Bandung dan Jakarta mungkin sudah puas dengan menjahit sendiri atau membeli pakaian anak-anak yang diproduksi garmen secara massal. Sekarang, mereka pun berkesempatan memakaikan pakaian ekslusif rancangan disainer nasional pada anak-anaknya, meski disainer yang tersedia untuk koleksi anak-anak tak seabrek-abrek seperti di luar negeri. Beberapa disainer lokal yang menggarap koleksi anak-anak tersebut adalah Sofie dan Sebastian Gunawan dengan label Bubble Girls.

 Di Indonesia, brand high fashion untuk anak-anak hanya dikerjakan oleh segelintir disainer. Hal ini bersinggungan dengan faktor ekonomi. Bagi disainer, bersaing dengan garmen-garmen lokal tentunya tidak mudah. Harga sepotong busana buatan disainer tentunya tak bisa disamakan dengan harga produk garmen. Selain disainer umumnya hanya menggunakan kain yang terbaik (sehingga lebih mahal), kualitas pengerjaan dan ekslusivitas rancangan tentu membuat nilainya berlipat-lipat dibandingkan baju buatan garmen yang dijahit dengan mesin Yuki. Oleh karena itu, industri high fashion nasional untuk anak-anak tidak spektakuler geraknya seperti industri high fashion dewasa.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email: muhammadreza_ss@yahoo.com dan whatsapp +6287877177869

MAINTAIN YOUR STYLE THROUGH THE HARD TIMES (2008)

When the road to the stores gets bumpy for economic crisis, you still can look great.These previous five tips keep you in style. (Fashion meets Finance).Text & Photo: Muhammad Reza, Published on Bandung Advertiser Dec 11 2008.

The current issue in the end of 2008 is not global warming anymore. Major fashion designers solved that issue with the invention of fabric-mixture and lightweight coat, our fashionable life survived. This time, it’s financial crisis. When crisis is ‘in’, do we have to stop shopping? Is there anything we can do to meet this fashion need without making us broke?

It feels like when we had our economic crisis in 1997-1998. However, in such monetary crisis, some of us apparently shopped more often than before. Some likely needed to escape this financial depression by shopping. That’s suicidal. What a financially healthy fashionistas should do is to shop wisely to maintain their style despite the hard times.

1. Sale Doesn’t Always Save Money

If you think shopping around the sale racks would save you a little more money, it’s not. In fact, you might end up stocking your wardrobe with trash you will never wear. Here’s why: the sale racks would be loaded with the last season clothes. The trendy clothes, in particular. For example, since it’s going to be 2009 soon and the designers has been sending their upcoming collection to the stores, the old clothes in the stores must go. You probably think it’s lucky to get those “last season to be” clothes in much bigger fraction of the price. But you’ll feel OK to wear them for only a week or two. Because once the new season arrives, you would look like the archive of last season look book. The result? Those sale finds stay inside the closet forever. What a waste of money.

centro 1

2. Buy Classic Pieces and You’ll Shop No More

Whoever says classic style is boring might end up shopping all the time. Here’s the reason; being fashionable is not always being stylish. Being fashionable requires you to look in  latest trend . There’s no fashionable person wearing dated shoes or frocks. But being stylish, in classic style in particular, is another thing. It’s your personal style that is not mandated by the temporary fad. That means you don’t desperately need to reload your wardrobe every three months. Your style is not dictated by fashion magazines.

The items for classic style include the boxy jacket, black cotton blazer, black pipe pants or denim, white shirt, a pair of high heels and flats, and a little black dress. They’re so essential that you can keep several variants or designs and wear them all the time without looking dated. When you want to make your classic look a little bit more current, shop only the contemporary accessories such as jewelry or seasonal  ‘it’ bags. Classic look fits you anywhere, any occasion.

centro 2

3. Price and Labels for Quality

Well, this is true. When you buy clothes from well established labels, you invest. I don’t say that you have to be brand-minded, but these labels won’t settle for anything less than good quality. You are getting value guarantee  that lasts for long time. They may be clothes, bags or watches that you can pass to your children in the future. This is very  good for your wallet instead of buying bunch of cheap clothes that makes you repeating spending money all over again just because the fabric ruins or the color fades fast. Remember this; shop to invest. Price and value is not the same thing.

4. Always Try The Clothes On

When you go shopping, try on the clothes to make sure that they fit as if they were your second skin. You may be pretty sure about your size but still I recommend, make sure they really fit before you take them home. You may think if it’s too tight, you can just do some cardio at the gym. Duh. The possible exercise you’ll do is walking to the same store again to get more clothes.

centro 3

5. Proper Care

Nothing will last long if it’s not treated properly. It’s important that you know how to maintain each kind of clothes based on their fabric. For example, you can’t machine-wash tulle frocks because it would ruin the fabric and its crisp. When you drop your silk dresses to the dry cleaner, make sure the staff hang them separately from rough garments to avoid scratches. You also may understand that batik dresses require specific care. Dry clean and machine wash fade its color. Wrong care results in more money to spend for shopping.

Fashion is crucial and it does involve money. To look your best surely needs maintainance constantly. When the road to the stores are bumpy for economic crisis, you would still look great.These previous five tips keep you in style.

centro 4 cover

For questions and comments:

email : muhammadreza_ss@yahoo.com

whatsapp : +6287877177869

STYLING JOB : STYLE FACTOR YAHOO! INDONESIA (2011)

The first time I saw Minimal dresses, I wanted to see them on the fashion video host I styled in 2011. I knew this brand would be huge. Minimal is elegance. That’s how I wanted the host to be.

Watch the video here :

Natalia Haman wore Angelina Dress by MINIMAL, and her jewelry by NEW G and Truly (Available in Centro). Hair and Make Up : Wulan, Production : indoXPLORE. Location: Domain Bar & Grill, Senayan City, and Alfon’s Hair and Beauty Salon.

foto01

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

PANDUAN MERAWAT BUSANA BERDASARKAN BAHANNYA (2011)

(Sutra, Tulle, and Batik)

Busana berbahan spesial membutuhkan perawatan yang berbeda.

(By : Muhammad Reza. Published partially in 3 postings in Yahoo! Indonesia  in March-April 2011)

Sutra, tulle dan batik adalah tiga bahan busana yang berharga. Anda tentu tak ingin pakaian mahal itu terpaksa dibuang karena rusak, kan? Memang, pakaian yang cepat rusak biasanya disebabkan perawatan yang kurang tepat. Padahal, apabila Anda mengenali jenis bahannya, pastilah hal ini bisa dihindari. Tulisan ini  merupakan beberapa panduan dasar dalam merawat busana berbahan sutra, tulle dan batik melalui cara membersihkan, pengeringan, penyetrikaan, hingga penyimpanan di dalam lemari.

SUTRA

Sutra mencerminkan keanggunan yang ekslusif. Ia juga memiliki kelebihan yang membedakannya dengan kain lain yaitu sifat anti debu yang membuat pakaian terlihat bersih dan rapi.

Hingga kini, banyak orang yang meyakini bahwa cara terbaik membersihkan busana sutra adalah melalui drycleaning. Jika anda juga melakukannya, selalu pastikan petugas drycleaning tidak meletakkan busana sutra anda di antara busana-busana berbahan kasar seperti katun, tweed, jeans atau akrilik (woll sintetis). Anda tak ingin bahan kasar dari busana lain merusak kemulusan pakaian sutra Anda, kan?

IMG_20170513_171117

Untuk perawatan yang lebih maksimal, sebaiknya bersihkan sendiri busana sutra ini di rumah dengan dengan tangan. Sutra terbuat dari serat protein alami yang menyerupai rambut. Itulah sebabnya sutra bisa dibersihkan dengan shampo. Jangan gunakan shampo yang mengandung minyak atau petroleum karena mereka membuat permukaan sutra terasa lengket. Hindari merendam busana sutra (bahkan jangan pernah dicuci dengan mesin cuci), namun usap-usaplah dengan lembut. Gunakan air hangat agar pelapis (coating) sutra anda bersinar kembali. Hal menguntungkan dari sutra adalah sifat anti debu dan anti noda. Namun, bila Anda menemukan noda membandel, percikkan sedikit cuka dan gosok noda tersebut dengan jari sampai hilang.

Untuk mengeringkannya, gulunglah dengan handuk dan tekan hingga air merembes keluar (jangan sekali-sekali memeras sutra kecuali Anda ingin seratnya rusak). Biarkan busana sutra mengering di tempat berangin yang tidak terpapar sinar matahari. Ingatlah bahwa sinar matahari bisa membuat sutra menguning.

Lalu bagaimana bila ingin menyetrika busana sutra? Selalu balik busana sutra sehingga bagian dalamnya berada di luar. Setelah itu lapisi dengan kain katun dan seterikalah dengan panas minimum. Penggunaan seterika uap juga cukup efektif, tetapi Anda harus ekstra hati-hati, kalau tidak, seterika uap ini bisa meninggalkan bekas uap yang permanen di permukaan busana Anda.

Setelah membersikan, mencuci, mengeringkan dan menyeterika busana sutra, simpanlah busana sutra Anda dengan benar. Cukup sederhana. Sarungkan ia dengan sarung bantal berbahan katun. Katun berserat alami dan berpori sehingga  memungkinkan busana sutra bernafas. Bayangkan bila Anda membungkusnya dengan plastik. Tak saja menjadi lembab, ia pun bisa berjamur!

TULLE

Bahan tulle menjadi favorit untuk dijadikan rok dan gaun feminin termasuk kebaya. Teksturnya yang rapuh dan mengembang cocok untuk busana yang girly. Jangan hilangkan efek volume dan keringkihan busana tulle anda hanya karena salah cara mencuci, mengeringkan dan menyimpannya.

Cara terburuk membersihkan busana tulle adalah melalui dry-cleaning. Bahan-bahan kimia dalam proses dry-cleaning bisa membuat tulle mengempes dan keropos. Cara terburuk lainnya adalah dengan mencelupkannya ke dalam mesin cuci bersama pakaian sehari-hari anda. Kalaupun terpaksa mencuci busana tulle dengan mesin cuci, pisahkan ia dengan pakaian berbahan keras dan kasar seperti jeans atau katun. Cara terbaik membersihkan busana berbahan tulle adalah merendam dan mencucinya dengan tangan. Gunakan sabun hanya untuk menghilangkan noda. Hati-hati, jangan gosok tulle dengan kasar atau ia akan sobek.

Tulle mudah mengering. Karena sangat rapuh, sebaiknya anda jangan pernah menyetrikanya kecuali dengan seterika uap. Bila kusut, cukup semprotkan air dan regangkan hingga kekusutannya hilang.

Supaya busana tulle anda tetap mengembang, jangan pernah melipat atau membuatnya tertindih di dalam lemari. Gantungkan busana tulle dengan tidak terhimpit busana lain.

BATIK

Batik terbuat dari sejenis lilin yang dinamai malam. Pewarnaan alami yang digunakan dalam proses pembuatan batik menyebabkannya harus dirawat dengan serius. Banyak diantara kita membersihkan busana batik dengan drycleaning, padahal bahan kimia dalam proses tersebut bisa memudarkan warnanya. Kerusakan yang sama dapat ditimbulkan oleh deterjen dalam pembersihan dengan mesin cuci. Bagaimanapun juga, cara membersihkan batik yang disarankan adalah dengan mencucinya dengan tangan. Gunakanlah sabun dan shampoo dalam air hangat. Hilangkan noda membandel dengan irisan lemon. Untuk mengeringkan batik anda, gantunglah di tempat yang terlindung sinar matahari dan jangan peras busana batik anda.

15-22-31-00190fullscreen

Anda bisa mempertahankan pesona warna busana batik anda dengan menyimpannya dengan seksama. Caranya, lapisi busana batik anda dengan kain katun saat menyetrikanya. Agar warna busana batik tidak bercampur saat disimpan di lemari, hindari melipat dan menyimpannya dalam tumpukan pakaian. Lapisi busana batik tersebut dengan kertas minyak (jangan gunakan kertas koran karena tinta koran bisa menodai batik), lalu gulung dan gantunglah di lemari.

Dengan cara yang tepat dalam membersihkan, mengeringkan, menyetrika dan menyimpan, busana spesial Anda bisa tahan lama dan awet keindahannya. Kini, Anda pun bisa menganggap busana-busana ekslusif tersebut sebagai investasi  dalam mempresentasikan diri melalui gaya dan penampilan terbaik Anda.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

MEMAHAMI GAYA FORMAL PRAKTISI KEUANGAN (Bagian I & II) – 2017

Bagian I

Bagaimana bayangan Anda tentang penampilan pria berprofesi pialang saham, profesional perbankan, atau perencana keuangan? Setelan jas hitam formal dengan rambut tersisir rapi dengan satu ton pomade? Penampilan monokrom dan klasik yang sama dari hari ke hari?
Bila fashion tak lepas dari gaya hidup masyarakat berbudaya, maka pria modern yang berkarier di dunia keuangan tentunya memiliki kesesuaian gaya dengan dunia keuangan sekaligus mampu mengaktualisasikan tendensi mode terkini.
Common Look of the Financial Professional
Fashion mencerminkan cara kita menjalani hidup. Bukan saja tentang apa yang Anda pakai, tapi juga bagaimana, dimana serta dengan siapa Anda beraktivitas. Hal ini membantu kita memahami keharusan penampilan formal bagi para praktisi keuangan.
“Kebanyakan pria yang menggeluti bidang keuangan berpenampilan rapi dan resmi. Bidang ini erat kaitannya dengan trust. Penampilan yang profesional tentu membangun kepercayaan dalam awal hubungan bisnis,” ujar Novi Syabrina, branch manager perusahaan asuransi terkemuka Manulife.
Menurutnya, gaya berpakaian yang cocok untuk praktisi bidang asuransi atau investasi memang mewajibkan kemeja berlengan panjang, celana panjang, dasi, dan juga jas. Alfons Lee, desainer yang sedang populer dan diminati sederetan sosialita dan selebriti tanah air, juga menambahkan bahwa kerapian adalah elemen kunci gaya para profesional tersebut.
Mengapa harus formal?
Financial educator & advisor Elsa Febiola Aryanti memaparkan alasan betapa pentingnya hubungan gaya formal para pelaku keuangan dengan tujuan utama mereka mendapatkan kepercayaan dari klien.
“Bisnis keuangan adalah bisnis kepercayaan. Penampilan yang rapi dan formal sangat penting karena mempresentasikan kepercayaan, trustworthyness, dan reliability tidak saja dari praktisi tersebut namun juga perusahaan yang diwakilinya.” ungkapnya.
Industri keuangan mencakup banyak bidang termasuk perbankan, pasar modal, dan asuransi. Elsa menambahkan, bahwa ada bidang yang secara tradisional gaya berpakaiannya lebih formal dibanding bidang lain. Biasanya sub bidang yang sejarahnya lebih tua seperti perbankan dan asuransi lebih mewajibkan praktisinya berpakaian formal.
Siddiqi Patiagama, seorang manager dari salah satu divisi bank swasta di Jakarta juga menegaskan bahwa kerapian dan formalitas penampilan para staf perbankan adalah tuntutan pekerjaan, bukan sekedar pilihan gaya berbusana. Sangat mungkin seorang profesional ‘tersisihkan’ hanya karena tidak mengikuti pakem berpakaian yang sudah menjadi bagian kultur perusahaan.
Sepenting itulah sebuah gaya formal bagi seorang praktisi keuangan. Tak hanya sekedar rapi dan enak dipandang, tapi gaya berpakaian profesi ini memiliki dasar yang sangat mendalam tentang fungsi.
Bagian II
Jika sebelumnya sudah dibahas tentang kenapa praktisi keuangan berpakaian formal, di bagian ke dua ini kita akan memaparkan bagaimana cara membuat gaya formal itu sendiri tidak terasa kaku, dan nyaman dipandang.
Make It Stylish
Menyeimbangkan keduanya dalam proporsi yang wajar membutuhkan pemahaman akan proporsi dan komposisi dalam padu padan pakaian serta aksesori. Beberapa profesional keuangan dan mode tanah air pun memberi tips sederhana untuk membuat gaya formal ini stylish tapi effortless.
Lanangindonesia.com menerima masukan dari desainer tanah air yang sudah go international, Lenny Agustin. Desainer yang terkenal berkat kepiawaiannya menggubah keindahan kain tradisional seperti tenun dan batik menjadi ready to wear yang modern ini menawarkan beberapa tips untuk upgrade penampilan formal jadi lebih modis.
“Coba kemeja dengan detil atau motif yang unik namun tidak terlalu menyolok seperti kemeja dengan kerah yang lebih kecil dari biasanya, kerah shanghai, atau kantong dengan warna jahitan yang berbeda,” ujar Lenny.
shanghai-1
Sementara itu branch manager Manulife, Novi Syabrina, menyarankan batik sebagai pilihan kemeja bila mendapatkan acara dengan dress code. Batik dianggap formal sekaligus personal karena menunjukkan taste kita dalam pemilihan kualitas dan kesesuaian warna dengan kulit. Ada begitu banyak pilihan kemeja batik, dari yang klasik hingga kontemporer. “Yang pasti, jangan sampai terlihat cheap,” tandasnya.
 shanghai 3
Financial educator dan advisor Elsa Febiola juga merekomendasikan pemakaian kemeja tenun ikat untuk penampilan praktisi keuangan yang dikenakan dengan sepatu dan belt kulit berkualitas.
Mix and Match
Dalam mix and match, Desainer Lenny menyarankan pemakaian jas atau blazer yang berbahan tipis dan tak usah dikancingkan. Beberapa rekomendasinya untuk bawahan adalah pilihan celana panjang bertekstur seperti denim untuk penampilan formal yang fresh.
“Namun tetap dalam warna senada dengan keseluruhan penampilan,”ungkap desainer yang juga sedang disibukkan dengan persiapan perhelatan mode Surabaya Fashion Parade Mei mendatang ini.
Kami memahami pentingnya dress code yang sudah pakem di lingkungan praktisi keuangan. Karena itu, kami juga menganggap sentuhan mode kekinian pada penampilan profesional harus sewajarnya dan tidak mendominasi. Bila kantor mewajibkan kita mengenakan suit atau seragam tertentu, coba kenakan dengan detil-detil dalam ukuran semini mungkin seperti motif houndstooth atau kotak-kotak dalam warna netral dan formal seperti hitam, abu-abu, biru navy atau krem.
shanghai 2
Kita juga bisa ciptakan sedikit keseruan melalui sedikit aksen dengan burst out some colors pada aksesori dasi, cufflinks, atau pocket squares. Jika Anda berkacamata, mengapa tidak memilih kacamata desainer dari koleksi mutakhir? Folio atau clutch sesuai tren saat ini juga sudah cukup untuk menyuarakan ‘Fashion’ dalam penampilan kantoran Anda yang formal.
Pada akhirnya, penampilan profesional keuangan terbaik bagi pria modern menekankan pada kualitas dan kepatuhan berpakaian dengan sedikit ruang untuk eksplorasi tanpa mengubah tujuan penampilan secara keseluruhan; trust dan wibawa perusahaan.
Bagaimana Sobat Lanang sekalian, sekarang kalian sudah paham kan kenapa cara berpakaian para praktisi keuangan selalu eye catchy. Intinya gaya pakaian yang formal tapi stylish tetap bisa diadaptasikan pada beberapa profesi yang khususnya banyak di indoor. Nilai diri kita sebenarnya bukanlah apa profesi kita, tapi seperti apa cara berpakaian kita.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

MEMPERTANYAKAN KEBAYA KONTEMPORER (2008)

Saat kebaya mengalami modifikasi melalui disain kontemporer, ada yang menganggapnya melenceng terlalu jauh dari tradisi. Salahkah bila kebaya bergerak menjauh dari pakem aslinya?

Teks : Muhammad Reza, Published in Bandung Advertiser June 2008

Jauh sebelum Anne Avantie membuka mata dunia di ajang Miss Universe 2005 melalui busana kebaya yang dikenakan Nadine Chandra Winata, keindahan warisan budaya tanah air sudah mempesona dunia. Lima belas tahun sebelumnya, koleksi busana batik Iwan Tirta diliput majalah mode bergengsi seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Kain dan busana tradisional pun menjadi sesuatu yang agung. Saat kebaya mengalami modifikasi melalui disain kontemporer, ada yang menganggapnya melenceng terlalu jauh dari tradisi. Salahkah bila kebaya bergerak menjauh dari pakem aslinya?

Benarkah Kebaya itu Asli dari Indonesia?

kebaya dewi sukarno
Ratna Dewi Sukarno

Dalam bukunya yang berjudul Chic in Kebaya, Ria Pentasari menunjukkan bahwa kebaya muncul setelah kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia. Artinya, sebelumnya para wanita pribumi hanya mengenakan kain yang dililitkan dari bagian dada hingga mata kaki atau hingga betisnya. Dengan pengaruh agama dan nilai kesopanan yang dibawa penjajah, wanita pribumi pun menutup bahu dan lengannya dengan atasan pas badan yang kini kita sebut kebaya. Ensiklopedi maya Wikipedia sendiri menyebutkan bahwa kebaya berasal dari Tiongkok lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi. Sementara dalam suatu artikelnya, harian Seputar Indonesia berpendapat bahwa kebaya berasal dari bahasa arab yakni habaya (pakaian labuh yang memiliki belahan di depan).

Ketika Malaysia membuat kita emosi dengan mempatenkan batik sebagai miliknya, Indonesia langsung memeluk kebayanya erat-erat. Salah satu reaksi disainer Indonesia, yakni Adjie Notonegoro, adalah mendeklarasikan kebaya sebagai busana nasional milik Indonesia. Aksi ini dilakukan bersama Menbudpar Jero Wacik didampingi Direktur Hak Cipta Desain Industri Ansori Sinunga.

Namun, dengan bercermin pada fakta bahwa kebaya hadir sebagai asimilasi budaya luar yang masuk ke Indonesia, masih bisakah kita ‘ngotot’ kalau kebaya itu benar-benar asli Indonesia? Bagaimana jika seandainya couturier ternama seperti Zuhair Murad atau Georges Chakra membuat sepotong blus tipis pas badan berbahan lace dan berlengan panjang dengan kerah meruncing (V) lalu dihiasi gemerlap aneka payet? Bisa saja ia menyebutnya body-fitted sequined V-neck lace top. Akankah kita keberatan?

Kontroversi Kebaya Kontemporer

kebaya nadine
Nadine Chandrawinata

Anne Avantie terkenal karena disain kebaya-kebaya rancangannya yang revolusioner. Kebayanya tak seperti stereotipe kebaya klasik seperti halnya kebaya encim (kebaya yang dipopulerkan wanita peranakan Tionghoa dan bercirikan bordir di kancingnya), kebaya sunda (berkerah meruncing membentuk huruf V), atau kebaya jawa (berkutu baru dengan lintangan kain di dada). Anne Avantie mempopulerkan apa yang sekarang kita kenal dengan sebutan kebaya kontemporer. Namun, beberapa pihak menudingnya merusak keagungan kebaya. Dalam buku biografi Anne Avantie yang ditulis oleh pimred majalah Prodo yakni Alberthiene Endah, Anne memaparkan ketabahannya dalam menghadapi cobaan tersebut. Walau demikian, karya indah dan bernilai akan selalu medapat tempat di hati. Kebaya-kebaya Anne Avantie inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya kebaya kontemporer.

Untuk Bandung saja, beberapa nama mempunyai koleksi kebaya modern dan kontemporer. Kebaya GEULIS, misalnya. Salah satu pendirinya, Astri Kunto, mengakui jika kebaya modern buatan mereka banyak diminati wanita muda dan remaja. Selain Kebaya GEULIS, Drs. Uday Hidayat, seorang kolektor kebaya dan pengusaha UDAY Enterprise, juga menyediakan kebaya modern. Disain kontemporer pada kebayanya terlihat pada kerah yang beraksen bulu atau kerah besar yang mencuat keluar bernuansa couture. Lengan yang menggelembung (bishop sleeves) atau melebar dari bagian siku ke bagian pergelangan (angel sleeves) juga memberi kesegaran pada kebaya koleksinya.

uday
Kebaya Uday Hidayat

Disainer ternama dari Yohannes Bridal; Yohannes Yunarko, menganggap kontoversi seputar kebaya kontemporer ini sebagai sesuatu yang konstruktif. “Justru dengan pro dan kontra itulah kita semakin kreatif.” Menurut disainer yang akan memperoleh penghargaan MURI ke-4 melalui gaun spektakuler dari sisik ikan ini, kontroversi itu dapat dijadikan kesempatan untuk introspeksi diri. “Menyangkut tudingan kepada Anne Avantie, orang mungkin keberatan saat melihat lengan kebayanya yang tampak seperti dua potongan terpisah, ditambah modifikasi lipit atau model shanghai. Tetapi menurut saya, itu sah-sah saja. Justru nama Indonesia semakin terkenal di mata dunia karena kebaya kontemporer.”

Kebaya Kontemporer dan Tradisi

Zuhair Murad Haute Couture Dresses Spring-Summer 2007-2008 (1)
Zuhair Murad

Dengan kebaya kontemporer yang modern, generasi muda melihat kebaya melalui sudut pandang baru. Selama ini, kebaya identik dengan ibu-ibu atau berkesan kuno. Setelah meremajakan diri dengan disain kontemporer, kebaya lebih berterima di kalangan muda dan diteruskan untuk dikenakan dengan bangga sebagai identitas dan tradisi.

Menurut saya, hadirnya kebaya kontemporer justru memperkaya dunia fashion. Bila batik semakin modern dengan kehadiran batik lycra seperti rancangan Carmanita, batik eyelet (kain bertekstur dan bordir) dari label [bi], atau batik ‘anak muda’ dari Part One by Edward Hutabarat, mengapa kebaya hanya berinovasi melalui kebaya kontemporer saja? Janganlah biarkan warisan kebudayaan berupa kebaya ini hanya bisa dikenakan di kondangan saja. Kebaya pun seharusnya lebih berdaya pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Literatur: “Indonesian Garment & Apparel Directory” (1992, PT Satria Ezapariwara), “Chic in Kebaya” (Ria Pentasari), “Aku, Anugerah, dan Kebaya” Biografi Anne Avantie (Alberthiene Endah), , Wikipedia, Seputar Indonesia 28 Maret 2007, dan bisnis.com.

(Penulis mengucapkan terimakasih kepada Yohannes dari Yohannes Bridal, Drs. Uday Hidayat dan Astri Kunto atas partisipasinya berkaitan artikel ini)

Untuk saran dan pertanyaan; Email: muhammadreza_ss@yahoo.com WA: +6287877177869

PERANCANG DARI MASA KE MASA (PERJALANAN MODE INDONESIA) – 2009

Ditulis oleh Muhammad Reza. Diterbitkan di Majalah U,Maret 2009.

Berbicara tentang sejarah mode Indonesia bukanlah hal yang mudah. Usia kemerdekaan bangsa yang sudah 63 tahun ini tidak berarti mode Indonesia sudah berjalan selama 63 tahun. Hingga saat ini pun belum ada buku yang sepenuhnya memaparkan sejarah mode tanah air. Berbagai obrolan dengan disainer dan kumpulan tulisan dari majalah dan buku-buku yang menyinggung mode di Indonesia lah yang akhirnya bisa dijadikan sumber terpercaya.

Kapan sebenarnya mode Indonesia itu lahir? Kita dapat mengaitkan kelahiran mode Indonesia melalui eksistensi disainer lokal pertama. Setiap referensi akan mengaitkannya dengan Peter Sie yang dianggap sebagai pelopor mode Indonesia .

1950-1970

Di tahun-tahun pertama Peter Sie menancapkan mode nasional (sekitar pertengahan tahun 1950-an), ia mengaku bahwa profesi disainer belum diterima masyarakat termasuk keluarganya. Hasilnya, ia sempat dikucilkan keluarga. Ia juga tak menganggap dirinya lebih sukses secara finansial dibanding disainer-disainer masa kini. Dalam buku Inspirasi Mode Indonesia terbitan Yayasan Buku bangsa dan Gramedia, ia mengungkapkan dirinya lebih senang disebut pelopor dunia mode.

Awalnya, Peter berkonsentrasi membuat busana pria. Pesona busana bergaris A-Line (yang menyempit di pinggang lalu melebar/mengembang ke batas betis) ala New Look dari Dior-lah yang mempengaruhinya untuk beralih membuat busana wanita. Dalam mendisain busana, pria yang belajar di Vakschool voor Kleermakers-Encoupeurs Den Haag Belanda selama enam tahun sejak 1947 ini tak menyerap semua tren busana yang datang dari Eropa. Contohnya saat tren gaya ‘mod’ yang dikumandangkan Mary Quant dan Ossie Clark melanda dunia, Peter merasa rok mini itu kurang pantas untuk kebanyakan wanita Indonesia (kecuali beberapa jenis wanita tertentu seperti Titi Qadarsih). Begitu juga saat tren hippies atau daisy flower berkibar. Gaya berbusana compang-camping bak gelandangan yang tak pernah mandi ini tak menarik baginya. Alasannya, keadaan ekonomi Indonesia saat itu memprihatinkan. “Tanpa mengenakan gaya hippies juga sudah compang-camping,” ujarnya.

Kehadiran disainer seperti Peter Sie mengundang disainer lain seperti Non Kawilarang dan Elsie Sunarya. Di tahun 1960-an gaya hipster, mod, bahkan agogo yang ramai motif dan warna ala burung merak tak hanya konsumsi ibu-ibu kalangan atas Jakarta saja. Popularitas bioskop pun mensosialisasikan gaya berbusana terbaru. Masyarakat mulai mengenal peragawati seperti Titi Qadarsih dan Rima Melati. Lalu beramai-ramai mengikuti gaya rambut bersasak atau pendek ala Twiggi.

1970-1990

Dunia mode nasional mulai mengadaptasi kegiatan mode eropa. Salah satunya koreografi dalam peragaan busana. Sejak diperkenalkan Norbert Schmitt pada tahun 1969 di Eropa, koreografi untuk peragaan busana mendarat di Jakarta pada tahun 1974. Perintis nasionalnya adalah Rudy Wowor yang merupakan murid Schmitt. Pada saat itu, istilah show director dalam peragaan busana belum dikenal sehingga beliau tak saja mengatur langkah dan ekspresi sang model, tapi juga menata pencahayaan, dekorasi dan musik pengiring. “Model tak boleh goblog,” ujar Rudy Wowor kepada penulis majalah a+, Karin Wijaya. Mereka harus hafal semua langkah dan hitungan sambil menyesuaikan dengan musik kalau tidak ingin terlihat aneh. Profesi koreografer ini lalu diikuti Doddy Haykel, Denny Malik dan Guruh Sukarnoputera.

Dalam dunia jurnalisme mode, majalah wanita Femina hadir pada tahun 1972. Menurut catatan situsnya, Femina menunjukkan perhatian besar kepada dunia mode sejak edisi keduanya (bulan Oktober) melalui sebuah reportase tren mode 2003 yang ditulis oleh Irma Hadisurya. Selain menghadirkan berita mode dari pusat mode seperti Pierre Cardin, Femina pun menunjukkan apresiasi terhadap mode nasional. Terutama saat Pia Alisjahbana dan Irma Hadisurya mengusulkan Femina mengadakan Lomba Perancang Mode secara tahunan sejak tahun 1979. Dari ajang inilah hingga sekarang banyak disainer baru muncul seperti Chossy Latu, Samuel Wattimena, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy.

Sementara itu, keterbatasan kesempatan bersekolah mode atau rancang busana di tanah air tak mematahkan semangat mereka yang ingin menjadi disainer. Sebagian melanglang buana ke luar negeri. Harry Dharsono, Poppy Dharsono, dan Iwan Tirta adalah beberapa contohnya.

Boleh dibilang, Iwan Tirta cukup berperan dalam menciptakan karakter mode tanah air yang unik dan kaya tanpa mengabaikan tren mode Eropa. Kepada pengamat mode Muara Bagdja di buku Inspirasi Mode Indonesia , ia menekankan pentingnya memberi unsur barat (technical skill) dan timur (budaya) dalam busana bila seseorang ingin menjadi disainer yang diakui baik di dalam maupun luar negeri. Teorinya memang beralasan, karena Iwan Tirta terkenal hingga ke amerika dan eropa atas kepiawaiannya mengolah batik menjadi produk mode yang berdaya pakai dan modern. Tak melalui busana batik di bahan lycra saja, karyanya merambah ke luar negeri berupa piring bermotif batik saat bekerjasama dengan Royal Doulton. Bahkan disainer sekelas Pierre Balmain pernah meminta izin Iwan Tirta untuk meniru ide sarung rancangannya. Busana-busana Iwan Tirta juga pernah diliput majalah mode internasional Vogue.

Dalam hal high fashion, Harry Dharsonolah yang pertama kali memperkenalkan citarasa tersebut di tanah air pada tahun 1974. Ia lulusan beberapa sekolah termasuk Ecoles de Beaux Arts Paris dan Fashion Merchandising and Clothing Technology di London School of Fashion. Harry tak sekedar merancang busana, ia juga pebisnis handal. Kondisi industri tekstil nasional yang hanya memproduksi polyester saat itu mengharuskannya mendatangi Three Golden Cups, produsen sutra di Shanghai China . Kontribusi Harry Dharsono di panggung mode internasional ditandai pada tahun 1978 ketika rumah-rumah mode bergengsi seperti Carven, Louis Ferraud, Azzaro de Ville dan Lanvin membeli disain-disain tekstilnya. Meski sukses di luar negeri, Harry Dharsono tetap berkiprah di tanah air. Ia membuka Batik Keris dan merancang seragam untuk perusahaan seperti Bank Mandiri, Bali Air dan maskapai penerbangan Australia Anzet.

Hadir pula nama-nama disainer yang menjadikan warisan tekstil bangsa sebagai inspirasi karyanya. Sebutlah Samuel Wattimena, Ghea Panggabean, Edward Hutabarat dan Carmanita. Ghea mempopulerkan kain tradisional seperti kain lurik dalam model pakaian modern seperti kulot dan waistcoat. Ada pula koleksi lain seperti jumputan. Sementara itu. Carmanita mengembangkan batik di bahan jeans dan lycra. Keduanya mencintai dan menganjurkan pemakaian kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

1990-2008

Tahun 1990-an ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya, kemudahan masyarakat mengakses informasi mode dari luar negeri menyebabkan kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini terasa pada karya disainer-disainer yang naik daun di tahun 1990-an. Sebastian Gunawan, misalnya. Setelah menggelar koleksinya yang terdiri atas ballgown dan aneka payet, manik dan kristal, demam kemewahan ala selebritas Hollywood pun mewabah. Kemewahan ini juga terasa melalui gaun-gaun Biyan, Arantxa Adi, Adjie Notonegoro dan Eddy Betty. Hingga akhir 1990-an, persaingan untuk mendapatkan tempat di hati para pecinta mode semakin ketat diikuti semakin banyaknya nama-nama baru, apalagi dengan kehadiran sekolah mode franchisee seperti Esmod dan Lasalle.

Di tahun 2000-an, mode Indonesia semakin kaya akan ide dan inspirasi. Setiap disainer memiliki ciri tersendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana-busana mereka yang sangat bernafaskan seni. Ada juga yang sukses mensosialisasikan busana tradisional sebagai busana modern seperti Edward Hutabarat dan Anne Avantie. Beberapa meraih penghargaan melalui event seperti Indonesian Mercedes Benz Fashion Award dan Harper’s Bazaar fashion Concerto. Ada pula yang ditampilkan melalui film seperti busana Tri Handoko, Sebastian Gunawan dan Didi Budiarjo yang dikenakan Aida Nurmala dalam film Arisan. Namun, ada juga yang lebih sukses di luar negeri seperti Farah Angsana di Paris atau Mardiana Ika dan Ali Charisma di Hongkong.

Dunia mode semakin dinamis. Modeling tak lagi didominasi para pemenang kontes wajah sampul seperti Cover Boy/Girl majalah MODE atau Gadis Sampul. Saat Kintan Oemari dan Ratih Sanggarwati harus jauh-jauh mengetuk pintu-pintu agensi model di Italia beberapa tahun sebelumnya, agensi model internasional seperti ELITE Models mendatangi Indonesia di tahun 1996. Maka terpilihlah Tracy Trinita (pemenang Cover Girl majalah MODE 1995) dan melengganglah ia di panggung peragaan Yves Saint Laurent bersama Naomi Campbell. Agensi model lokal pun disibukkan dengan berubah-ubahnya selera pasar. Terkadang, wajah kaukasia digandrungi sehingga tren model ‘impor’ pun hadir. Pernah pula wajah-wajah oriental menjadi pujaan. Dan saat Alek Wek menghias majalah mode internasional, wajah-wajah dari timur Indonesia pun menghiasi peragaan busana lokal.

Semakin dibutuhkannya berita mode di media mengukuhkan beberapa nama pengamat mode nasional. Muara Bagdja dan Samuel Mulia adalah dua nama yang cukup dihormati atas opini dan kritik mode mereka. Tak ketinggalan barisan penulis mode yang sibuk menganalisa mode mancanegara dan dalam negeri seperti Syahmedi Dean, Ai Syarif, Boedi Basuki, Regina Kencana dan Karin Wijaya. Dan hingga saat ini dua majalah gaya hidup lokal yang menyajikan informasi mode terbaik adalah Harper’s Bazaar Indonesia dan majalah a+.

Kisah perjalanan dunia mode tanah air rasanya tak cukup dimuat dalam kurang dari limaribu karakter program word. Namun dari beberapa gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa melihat perkembangan yang ada di dunia mode nasional. Dan tanpa kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno 63 tahun silam, sejarah mode Indonesia mungkin tidaklah seperti yang telah dipaparkan.

Scan0083

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

MODE EKOLOGI (ECO-FASHION) – 2008

Published in Bandung Advertiser 17-25 Maret 2008, Text: Muhammad Reza, Photos: After Midnite Bag by Vilia Ciputra, Joanne Kitten (VOGAMODA), Dok. Rudy Liem, Rebecca Ing, Muara Bagdja.

Saya pernah memuji motif floral super meriah pada rok longgar bergaya hippie yang dikenakan tetangga. Ia tertawa dan menjawab, “Kan lagi tren eco-fashion, bow…” Menurutnya, eco-fashion itu sekedar mode yang bertema dedaunan dan bunga yang ‘menghijaukan’ mata. Padahal tidak seperti itu. Eco-fashion atau mode ekologi secara umum berhubungan dengan usaha melindungi kelestarian alam, tak hanya melalui pakaian kita.

joannekitten vogamoda
Joanne Kitten (Vogamoda)

Apa dan Mengapa Mode Ekologi?

Rebecca Ing, disainer yang beberapa waktu lalu dengan romantis memadukan sutra dengan tenun Pekalongan, berkomentar mengenai eco-fashion. “Eco-fashion menggunakan bahan ramah lingkungan seperti serat alami atau bahan yang dapat di-recycle dan melalui proses produksi yang dapat dipertanggungjawabkan seperti kondisi kerja yang baik.” Dalam eco-fashion, Rebecca Ing menegaskan kalau model pakaian tersebut tetap gaya.

Pengamat mode nasional Muara Bagdja, memadankan istilah eco-fashion dengan mode ekologi. “Menurut saya, isu terbaru mode ekologi bukan sekedar memakai bahan pakaian alami atau sekedar simbolisasi dengan memakai warna hijau. Isu terbaru mode ekologi di dunia adalah produk mode itu memakai bahan pakaian dari serat organik. Pembibitan pohonnya tidak melalui proses rekayasa genetika atau penggunaan bahan kimia seperti pestisida maupun fungisida. Dan juga, produk mode itu peduli lingkungan sosial; upah layak, tenaga kerja tidak di bawah umur, dan kondisi kerja yang nyaman.” Demikian komentar pria yang tak hanya terkenal melalui kontribusinya di halaman mode majalah terkemuka seperti a+, dewi, atau Cosmopolitan, namun juga mengkoordinir berbagai fashion event dari peragaan busana Oscar Lawalata hingga Mercedez-Benz Asia Fashion Award.

Tahukah Anda bila sehelai pakaian yang dikenakan hari ini mungkin menyukseskan semakin hancurnya ekosistem alam? Lihatlah kapas sebagai contoh. Jangan dikira kapas itu tumbuh alami dengan warna putih bersih. Dari semua kapas yang ditanam, hanya sedikit yang berwarna krem bersih, sisanya mungkin cacat atau kotor. Karena itulah, untuk mendapat warna yang baik dan mempercepat pertumbuhan, industri kapas banyak mencampur pestisida  yang tak hanya merusak kesuburan tanah, namun meracuni para pemetik kapas dan lingkungannya perlahan-lahan. Belum lagi dalam mendapatkan warna yang sesuai, kapas itu dicelup dengan bahan kimia yang beracun.

Kehadiran bahan pakaian sintetis seperti polyester dan nylon pun unjuk gigi sebagai aktor perusak alam. Disainer tas After Midnite, Vilia Ciputra, memaparkan keperkasaan nylon yang dalam proses produksinya melibatkan nitrooksida. Nitrooksida sendiri adalah gas berkekuatan 310 kali lebih kuat daripada karbondioksida dalam menyebabkan pemanasan global.

Mode Ekologi di Indonesia

Kalau di pentas mode dunia, sudah banyak nama dan label yang menerapkan mode ekologi. Levi’s misalnya. Ia baru melansir Levi’s Eco, yakni produk 100% kapas organik. Stella McCartney lain lagi. Ia memperkenalkan produk kosmetik berupa krim pelembab organik yang dinamai Care by Stella McCartney. Sementara disainer Katharine Hamnett membuat tas jinjing yang terbuat dari 100% katun organik dan dicetak dengan tinta berbahan dasar air. Ada pula Giorgio Armani yang menggunakan bambu dan rami.

Bagaimana dengan mode ekologi di Indonesia? Muara Bagdja menganggap mode ekologi belum terlalu diperhatikan walau ada beberapa nama yang mulai kembali memakai bahan serat alam seperti sutra. Tuti Cholid (disainer asal Bandung) dan beberapa perajin batik di Yogya, misalnya.

“Di Bandung sendiri, mode ekologi sudah mulai dilakukan namun belum booming dan membudaya,” ujar Rebecca Ing yang menanggapi mode ekologi secara positif. Mode ekologi juga diterapkan disainer Rudy Liem. Lihat saja gaun rancangannya dari sutra alami warna-warni dengan lipit, atau penggunaan detil bermacam payet alami termasuk bambu pada gaun tulle yang ringan melayang.

Sementara di Jakarta, kalangan muda pun sudah memperhatikan mode ekologi. Lihat saja beberapa koleksi tas tangan After Midnite. Label tas tangan wanita terkini yang ikut meramaikan Bali Fashion Week 2007 kemarin. Vilia Ciputra, disainernya, selalu mengusahakan agar proses pengeringan dan pewarnaan tas berbahan natural ini berdampak kecil terhadap lingkungan. Ia sendiri mengagumi batik ‘daur ulang’ rancangan Ramadani A dari Yogyakarta yang memaknai mode ekologi.

Mode Ekologi Sebagai Solusi Pemanasan Global

“Mode ekologi dapat dianggap sebagai reaksi dari pemanasan global dan bencana alam,” tutur Vilia Ciputra. Ia menambahkan bahwa industri fashion bertanggung jawab dan berusaha melakukan perubahan dengan meningkatkan kesadaran akan lingkungan dengan menerapkan mode ekologi sebagai salah satu solusi.

Muara Bagdja sendiri mengutarakan cara sederhana namun sangat efektif dalam memelihara lingkungan. Contohnya, memakai baju tipis dan tidak berlapis-lapis di musim panas, serta memakai baju tebal di musim dingin untuk mengurangi penghamburan energi melalui pemakaian AC dan pemanas ruangan. Dalam kolomnya di harian Seputar Indonesia, Muara Bagdja pun menganjurkan kita untuk belanja dengan cerdas. Caranya? Bawalah kantung belanja sendiri. Ini akan mengurangi penebangan jutaan pohon untuk produksi kantung kertas dan mencegah semakin rusaknya ekosistem tanah melalui pembuangan kantung-kantung plastik yang tak bisa diuraikan tanah ratusan tahun.

Ada beberapa cara bernafas mode ekologi lainnya yang berkaitan dengan pakaian, yakni perawatan pakaian. Kalau deterjen sudah jadi tokoh utama polusi sungai (sebagaimana kita tahu tapi sepertinya tak terlalu peduli), mari kembali ke cara tradisional dalam membersihkan pakaian seperti yang diungkap situs Natural Health Care. Cucilah pakaian dengan air panas. Lalu bersihkan noda dan keringat dengan jus lemon, borax, atau hydrogen peroxide. Minyak teh hijau juga bisa digunakan (tapi jangan dengan air panas) sebagai antiseptik, antibakteri, antijamur dan antikuman. Karena Anda adalah bagian masyarakat urban yang dalam sehari-harinya hanya berkeringat dan tak berkecimpung dalam lumpur atau berkeliaran di hutan, tentunya noda-noda di pakaian dapat mudah dibersihkan dengan pembersih alami ini. Lalu cara alami menjaga putihnya kain adalah dengan menjemurnya di bawah sinar matahari setidaknya selama lima jam.

Muara Bagdja, dalam tulisannya yang berjudul Eco-Fashionista di majalah dewi, mengungkapkan bahwa mereka yang mengenakan atau menerapkan mode ekologi akan memiliki status lebih. Tak hanya sekedar fashionable, produk yang dikenakan pun bermakna lebih tinggi. Dan menurut saya, bila pakaian bisa bercerita tentang kepribadian, ia tentunya akan mengungkapkan sejauh mana kepedulian Anda terhadap lingkungan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Muara Bagdja, Rebecca Ing, Vilia Ciputra dan Bandung Advertiser.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

QUO VADIS KECANTIKAN INDONESIA (2009)

By: Muhammad Reza Seperti apa sih kecantikan khas Indonesia? (Dimuat di majalah CLARA edisi November 2009, halaman 16-19)

Standar kecantikan di negeri tercinta ini tampaknya setali tiga uang dengan usia dunia mode nasional – yang tak setua dunia mode internasional. Cukup kompleks, apalagi bila mengaitkannya dengan standar kecantikan internasional. Perlu disadari, hingga pertengahan tahun 2000-an ini, mode di Indonesia hanya dinikmati segelintir masyarakat jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang 200 juta lebih. Sehingga bila merujuk jauh ke awal kelahiran dunia mode Indonesia di tahun 50-an – dirintis Bapak Peter Sie – seperti meraba-raba saat mencari standar kecantikan di dunia mode.

Dunia mode bagi masyarakat Indonesia di tahun ’50-an jelas masih merupakan barang baru. A very luxurious product! Hanya segelintir orang yang mampu menikmati dan mengapresiasinya. Standar kecantikan di dunia mode masih baur dengan standar kecantikan dunia lainnya. Umumnya yang jadi “ikon” kecantikan secara tidak langsung adalah bintang-bintang film terkenal saat itu. Sebut saja Chitra Dewi, Indriati Iskak, dan Mieke Widjaya yang terkenal lewat film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Masih ada lagi Baby Huwae, Rima Melati, dan Gaby Mambo. Sepuluh tahun kemudian di era ’60 akhir ’70-an muncul nama-nama seperti Titiek Puspa, Widyawati, dan Titik Sandhora. Saat itu standar cantik dalam dunia mode sudah mulai bergeser walau terkadang masih menyatu dengan standar cantik dunia film. Namun, ada satu benang merah yang cukup menonjol: cantik khas wanita Indonesia yang belum tersentuh globalisasi. Berkulit coklat kekuningan, hidung cukup mancung, dengan tinggi badan sedikit lebih tinggi dari kebanyakan wanita Indonesia.

Kecantikan khas Indonesia ini akhirnya merambah ke dunia mode yang pada tahun ’60 s/d ’70-an mulai berkembang. Hal ini masih terasa pada akhir ’70-an dan awal ’80-an. Tubuh semakin semampai dengan wajah yang masih khas negeri ini. Sebut saja Titik Qadarsih, Nani Sakri, Ati Sinuko, Enny Sukamto, Dhanny Dahlan, Ria Juwita, dan Citra Darwis Triadi.

Di pertengahan tahun ’80-an sampai awal ’90-an terjadi sedikit pergeseran secara fisik. Tidak terlalu nyata tetapi bisa dijadikan penanda masuknya pengaruh asing pada standar kecantikan di dunia mode Indonesia. Selain wajah lokal, kulit sawo matang, tulang pipi tinggi, rahang yang keras, serta tubuh yang juga tinggi semampai. Sarita Thayib, Okky Asokawati, Kintan Umari, Ratih Sanggarwati dapat tampil sejajar dengan Saraswati, Sandy Harun, Henidar Amroe, dan Larasati. Di saat ini muncul pula definisi cantik versi baru. Ada Vera Ongko yang muncul dengan wajah campuran timur tengah, berhidung sangat mancung, tulang rahang yang keras, serta tulang pipi yang tinggi. Di samping itu pada saat yang sama dunia mode pun memunculkan Licu dengan kecantikannya yang khas, oriental.

Terasa sekali bahwa pada era ’90-an standar cantik dalam dunia mode di negeri ini semakin majemuk. Ini disebabkan karena media-media cetak wanita – baik dewasa maupun remaja – sudah mulai memiliki standar “cantik” tersendiri. Mira Sayogo, Ines Tagor, Wiwied, Avi Basuki, Ira Duati, Auk Murat, Veronica Wendy, Susan Bachtiar, Marisa Haque, dan Soraya Haque merupakan wajah-wajah cantik Indonesia ataupun Indoriental yang sering menghiasi sampul-sampul majalah wanita di negeri ini.

Pada saat yang sama, ketika komunikasi semakin mudah, saat kampanye komersial produk luar negeri semakin marak dan label asing mulai dikenal di negeri ini, tidak hanya selera berbusana masyarakat local yang semakin global, namun standar kecantikan pun mulai mengalami perubahan yang cukup pesat. Wajah Indo Eropa semakin disukai. Malah pada satu saat wajah serupa ini sempat jadi primadona. Semua orang ingin seperti Ida Iasha, Tamara Bleszynski, dan Nadya Hutagalung. Hidung mancung, kulit putih, tulang pipi tinggi, mata bundar dan besar. Sampai-sampai produk pemutih kulit laku keras… Tapi apa iya bisa bikin kulit coklat jadi putih?

Demam wajah campuran kaukasia tampaknya semakin tak terbendung. Terbukti dengan terpilihnya Tracy Trinita sebagai wakil dari Indonesia yang akan bertarung di ajang Elite Look Model Contest. Di saat ini pula wajah campuran seperti Karenina, Selma Abidin, Arzeti Bilbina menjadi amat disukai. Ini salah satu penyebabnya adalah globalisasi?

Globalisasi membuat standar kecantikan di Indonesia semakin rancu. Berbagai tren akan standar kecantikan berlangsung secepat perancang busana menggelar peragaan. Tentunya masih ingat demam model berwajah oriental seperti Dominique, Danish hingga Aline. Lalu serombongan model impor dari Eropa Timur seperti Julia Jamil dan Lolita. Tak ketinggalan wajah eksotis berkulit gelap seperti Laura Muljadi dan Kimmy menjadi alternatif sebagai salah satu standar cantik dalam dunia mode Indonesia.

Kemana sebenarnya standar kecantikan di dunia mode Indonesia menuju? Adakah karakter yang jelas dan standar baku dalam kecantikan di tanah air?

Fritz Panjaitan melalui Profile Management menganggap standar kecantikan di mode Indonesia mau tak mau dipengaruhi pasar. “Ada dua jenis standar kecantikan yang dibutuhkan untuk dua tujuan berbeda,” sebut pria ini. Pertama, cantik yang edgy, dingin, dan mahal. Ini cocok untuk halaman mode. Contohnya Monica Schoupalova. Kedua, ada sweet beauty seperti Shiren Zifa yang selalu dibutuhkan untuk komersial. Wajah-wajah edgy dan dingin banyak didominasi model impor, sementara sweet beauty masih bisa dipenuhi model-model local.

Disainer sekaligus direktur Platinvm Management, Ichwan Thoha, punya pendapat yang sedikit berbeda. Menurutnya, saat ini dunia mode menyukaai kecantikan yang mahal. Cantik mahal bukan saja sekedar bule atau berwajah kebule-bulean, tapi lebih kepada bahasa tubuh atau cara si model membawa diri. Tidak terlihat kampungan atau murahan. “Sebagai disainer, saya sendiri lebih menyukai kecantikan khas Indonesia seperti Sari Nila dan Widhi Basuki,”ucapnya. Ia pun menyukai Izabel Jahja yang meski berdarah campuran namun karakter Indonesia-nya tetap terpancar.

Menyikapi tren global dunia kecantikan di modeling, Ichwan menyesuaikan tren tersebut dengan wanita Indonesia. Wajah boleh Melayu, tapi postur dan gesture-nya bertaraf internasional. Ichwan berpendapat, tren kecantikan di dunia mode akan bergeser kembali ke kecantikan khas Indonesia. Nama-nama seperti Laura Basuki dan Laura Muljadi termasuk beberapa yang akan semakin cemerlang di peragaan busana.

Berbicara kecantikan, disainer Priyo Oktaviano menekankan pentingnya inner beauty. “Saya pikir, inner beauty-lah yang membuat setiap kecantikan fisik wanita mempesona,”ungkapnya di suatu siang.

Mengenai isu kecenderungan keseragaman wajah model, ia menganggapnya hanya rekayasa make-up semata. “Setiap peragaan busana saya selalu berfokus pada konsep koleksi; baju, make-up, look para model dan aksesori. Saya juga memakai semua tipe model apapun warna kulit, tipe wajah atau kebangsaannya. Yang penting tinggi badan mereka memenuhi standar. Perbedaan warna kulit bisa disesuaikan dengan make up dan pilihan warna busana.”

Sementara itu, menurut Irsan – yang tak ingin dirinya disebut disainer – standar kecantikan di dunia mode Indonesia tak bisa diperlakukan serupa seperti standar internasional. Bila di luar sana kita mengenal istilah beauty icon, disini title tersebut sulit ditemukan. Sehingga definisi standar kecantikan di Indonesia menjadi rancu. “Di Indonesia, kita sulit menemukan seseorang yang memiliki gaya busana dan kecantikan yang khas dan menjadi trend setter di dunia mode. Disini kecantikan itu kurang personal. Kita cenderung ikut-ikutan. Setiap wanita tak saja ingin berbusana menyerupai satu sama lain tapi rias wajah dan tata rambut pun demikian sehingga terlihat serupa. Kecantikan wanita-wanita di Indonesia itu telalu deja-vu,”tuturnya.

Irsan mengagumi beberapa sosok yang dianggapnya berkepribadian kuat dan berkarakter seperti Tilda Swinton, Kristen McMenamy, Cate Blanchett dan Sophia Loren. “Saya percaya kalau kecantikan itu merupakan suatu ekspresi dari kepribadian yang kuat. Seberapa kuat kepribadian seseorang mempengaruhi masyarakat, sekuat itulah kecantikannya memancar dan menjadi ikonik. Tak mudah menemukan wanita seperti itu di dunia mode nasional. Mariana Renata adalah contoh kecantikan yang kuat dan langka di negeri ini.

Dengan kurangnya keberanian wanita Indonesia untuk tampil berbeda sesuai karakter dan kepribadiannya, tak mengherankan bila standar kecantikan di dunia mode Indonesia masih dipengaruhi industri mode dengan segala macam dan jenis permintaannya. Inilah yang menjadikan standar kecantikan di dunia mode lokal begitu komplek untuk dibicarakan. Memang kita belum mempunyai ikon kecantikan yang membuat seluruh lapisan masyarakat mengenalnya, namun bagaimanapun juga standar kecantikan di Indonesia berevolusi seiring waktu. Mengapa tak ada nama besar yang bisa kita ingat sebagai ikon kecantikan nasional? Ya…itu tadi, setiap perubahan dilakukan bergotong royong, sehingga tak enak rasanya bila menyebut satu nama saja.

clara quovadis

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

RESORT WEAR – BUSANA PLESIR (2008)

Text: Muhammad Reza
Photographer: M. Shanti (untuk busana Andy Saleh), Photo : Joanne Kitten (Vogamoda), Muhammad Reza (CENTRO Fashion Festival), Published in Bandung Advertiser 2008.

Pernahkah terpikir kalau sehelai busana bisa membuat pikiran anda lebih santai seolah-olah sedang berlibur? Sebagai fashion therapy, resort wear atau busana plesir membawa energi positif dengan kesan santai yang ditampilkannya.

Asal-Usul Resort Wear

Fashion dan tekhnologi memang tak bisa dipisahkan. Kemajuan teknologi melalui penemuan alat transportasi yang semakin canggih memudahkan manusia memperluas cakrawalanya dengan berplesir ke berbagai tempat di penjuru dunia. Gaya hidup ini pun berimbas pada industri mode. Kebutuhan sandang tak lagi sekedar busana musim panas atau musim dingin, namun juga busana untuk musim liburan; resort wear.

Resort wear lahir setelah berakhirnya era Victoria dan bertahtanya raja Edward VIII. Raja Edward berpembawaan santai dan melonggarkan kerahnya saat memegang kekuasaan. Ia mempopulerkan perjalanan dengan kapal yacht-nya ke negara-negara kecil di Mediterania dan Bahama, suatu aktivitas yang tak bisa dilakukan banyak orang di masanya. Sudah jadi pengetahuan umum bila hal yang langka setali tiga uang dengan harga yang mahal. Di era Edwardian, bepergian menggelapkan kulit dengan kapal yacht di negara-negara tropis nan jauh menjadi simbol kemewahan . Ini pembuktian kalau mereka cukup mapan untuk bisa mengakomodasi liburan ke  tempat-tempat eksotis di penjuru dunia.

edward
King Edward III & Wallis Simpson

Reaksi pelaku fashion terhadap tren gaya hidup baru di masa itu tentulah tak jauh dari busana dan asesori.  Untuk kebutuhan gaya hidup baru itu pula, dirancanglah busana khusus berplesir yang fungsional; nyaman, gaya dan memungkinkan kesenangan menggelapkan kulit.

Sebelum bathing suit dilempar ke masyarakat dua dekade kemudian, para wanita hanya mencoklatkan wajah dan lengannya. Ini disebabkan norma kesopanan yang berlaku. Maka diciptakanlah resort wear yang mirip maxi dress ; berupa gaun katun longgar yang ringkas.

wallis
Wallis Simpson

Melalui evolusi fashion yang digerakkan disainer pionir Coco Chanel dan Jean Patou, serta para feminis, perempuan mulai membiarkan keliman gaunnya memendek. Hingga saat itu, gaun-gaun mini ini lebih berterima di daerah pantai walaupun di West Palm Coast ada polisi yang khusus mengawasi kesopanan busana pantai. Seiring waktu dan perubahan pola pikir masyarakat, gaun-gaun yang dibuat untuk keperluan resort ini menjadi hal yang lumrah dan selanjutnya dibawa ke ruang publik yang lebih luas. Sekarang, resort wear malah menjadi kabur maknanya karena gaya berbusana ini tak hanya terlihat di daerah wisata seperti Bali atau St. Tropez, tapi juga di mal atau kampus-kampus di perkotaan.

Resort Wear Kini

Seperti apa tampilan resort wear yang ideal? Coba lihat majalah-majalah gaya hidup luar negeri yang suka memuat foto-foto selebritas berlibur. Kimora Lee Simmons di Cannes, Elle MacPherson di Nice, atau Beyonce Knowles dan Jay-Z di St Tropez. Majalah-majalah mode sengaja mengirim juru fotonya untuk menyoroti pesohor disana. Tujuannya? Agar pecinta mode di ujung dunia tahu seperti apa tren resort wear yang sedang digandrungi.

resort centro 1
CENTRO Fashion Festival

Ada permintaan, pasti ada penawaran. Resort Wear selanjutnya memiliki tempat di blantika fashion. Koleksi busana tak sekedar musim semi, gugur, panas atau dingin. Para perancang kelas dunia melansir koleksi khusus berlibur. Ada koleksi cruise dari Gucci, Prada, dan Louis Vuitton. Gucci memperkenalkan setelan jas berbahan katun yang tipis dan nyaman. Melihat kampanye iklannya di majalah mode seperti Vogue atau W, kita yang belum paham tentu merasa heran. Masa memakai setelan jas di siang hari bolong di daerah pantai? Tapi dengan kain 100% katun dengan perforasi maksimal, tampil rapi dan elegan di tempat panas seperti ini tentulah tak jadi masalah.

Resort wear itu mengutamakan kenyamanan. Katun adalah kain yang paling cocok untuk resort wear. Katun menyerap kelembaban dan berevaporasi dengan cepat. Katun sendiri juga memberi efek dingin ke kulit sehingga tak membuat kita gerah. Intinya, tubuh bernafas dengan lega di bawah sengatan matahari. Berdasar karakteristik dan fungsinya, kain linen juga menjadi pilihan yang pas.

Tampilan resort wear melibatkan gaun-gaun tipis seperti shift dress (dress terusan mini atau selutut tanpa garis pinggang), maxi dress (dress terusan dengan rok panjang hingga mata kaki), dan tube dress (dress tanpa lengan). Gaya lain yang umum adalah pemakaian tunik, rok longgar selutut , hingga celana capri dan celana pendek. Asesoris bergaya resort banyak pilihannya. Dari sepatu saja, ada sepatu wedges (semacam selop berhak tinggi yang menyatu dengan sol), ballerina/flat (sepatu teplek), hingga sandal (dari yang elegan seperti Tods hingga casual seperti Havaianas). Untuk tas, tote bag (tas jinjing) atau straw bag (tas sandang ataupun tangan berbahan anyaman) yang berukuran besar adalah item favorit. Tas ini bisa memuat semua bawaan dari majalah, payung hingga perlengkapan renang. Topi dan kacamata hitam? Barang wajib, tentunya.

Motif kain yang digunakan pada busana-busana bergaya resort ini umumnya floral. Nuansa safari pun muncul melalui motif zebra, phyton dan leopard. Sementara pilihan warna bervariasi dari warna-warna permen yang lembut hingga warna menyengat seperti kuning lemon atau hot pink. Putih dan khaki? Selalu klasik dan tak lekang waktu.

Untuk pria, karakter resort wear pada umumnya meliputi kemeja, pullover dan blazer katun longgar yang dipadankan dengan celana pendek linen dan sepatu moccasin, sandal serta topi fedora atau trilby.

RESORT WEAR BY ANDY SALEH
Andy Saleh

Bergaya Resort Wear di Bandung?

Ya, kenapa tidak? Bersyukurlah kita yang tinggal di negara beriklim tropis. Cuacanya yang mendukung gaya ini membuat kita sah-sah saja mengenakannya sepanjang tahun. Tapi tentunya ada batasannya. Gaya ini tak selalu berterima di setiap tempat. Mal atau kafe bolehlah. Tapi beberapa ciri gaya resort wear yang sangat casual pastinya tak pantas di tempat resmi seperti undangan pesta perkawinan (gaun panjang tak selamanya resmi, lho).

Disainer Andy Saleh pernah memamerkan koleksi busana prianya yang bertema liburan di awal 2007. Ini reaksinya terhadap mumetnya kondisi sosial dan ekonomi Indonesia. Secara psikologis, busana memang mampu membentuk suasana hati kita. Sebagai fashion therapy, resort wear sangat efektif menyegarkan pikiran. Apabila anda ingin melepas penat tanpa bepergian ke luar kota, mungkin berbusana dengan gaya ini dapat diterapkan

(Terimakasih penulis ucapkan atas izin Andy Saleh dan M.Shanti untuk pemuatan foto berkaitan artikel ini.)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

KAIN TRADISIONAL MENJADI TREN (2008)

 

Published in Bandung Advertiser 26 Juni 2008

Teks: Muhammad Reza Foto: Dok. Deden Siswanto (photographed by Anton Mulyana), Dok. Andi Saleh

(muhammadreza_ss@yahoo.com 087877177869)

Sudah melihat peragaan busana spring summer 2008 Diane Von Furstenberg? Kalau belum, coba klik situs style.com dan temukan foto atau video peragaannya. Anda akan menyaksikan disainer gaek ini mengenakan sackdress bermotif grafis yang menurut pengakuan beliau terinspirasi dari motif batik lereng. Tak mengherankan, Diane Von Furstenberg memang mewujudkan kenangannya akan keindahan eksotisme Bali dalam koleksi siap pakai berjudul Under The Volcano. Majalah Harper’s Bazaar Indonesia saja berkomentar, bahwa bangsa ini ‘kecolongan’ lagi dalam mengeksplorasi kekayaan tekstil Indonesia .

Deden Siswanto 2 APPMI
Deden Siswanto

SEKILAS KEKAYAAN TEKSTIL TRADISIONAL INDONESIA

Indonesia memang berlimpah akan kekayaan budaya, termasuk aset mode seperti banyaknya macam baju adat. Apabila setiap suku di Indonesia memiliki ragam tekstil tersendiri seperti kain ulos bagi suku batak, kain prada bagi masyarakat bali, songket bagi masyarakat palembang , dan aneka macam batik dari jenis megamendung hingga pekalongan, belum termasuk variasi asesorinya yang berkembang beratus-ratus tahun, bayangkan saja betapa kayanya potensi mode bangsa ini!

Omong-omong tentang kesadaran akan kebanggaan terhadap budaya tanah air (khususnya di bidang mode), Indonesia sempat memiliki masa kejayaannya. Siapa yang tak ingat instruksi Presiden Sukarno kepada Ibu Sud untuk mempopulerkan kembali busana batik di tahun 50-an? Dalam buku Serasi dan Gaya Berkain gubahan Ami Dianti Wirabudi (pimred majalah Eve) dan Tini Sardadi, disainer terkemuka Carmanita menceritakan betapa cantik dan elegannya para wanita di tahun 50-60an berdansa mengenakan kain dan kebaya berbahan ‘Paris’. Di buku yang diterbitkan Gramedia ini pula, ia menyebutkan daya tarik magis yang muncul dari pemakaian kain tradisional.

Tentunya Anda juga mengenal nama-nama besar di dunia mode Indonesia yang tak lelah mengusung tekstil tradisional dalam helai demi helai busana rancangannya. Ghea Sukarya (kini Ghea Panggabean), misalnya. Batik luriknya terlihat modis dalam cullote dan waistcoat di halaman majalah remaja di akhir 80-an. Ada pula Iwan Tirta dan Prajudi (alm.) yang setia ‘mengolah’ batik. Selain para maestro tadi, disainer-disainer muda pun mencintai warisan kain Indonesia. Ada Obin (Josephine Werratie Komara) yang di tahun 2002 mempersembahkan koleksi ikat dan sulam dengan cara-cara pewarnaan kain yang hanya diajarkan turun temurun selama ratusan tahun. Anda juga tentunya masih ingat Oscar Lawalata yang menyajikan jumputan.

Syukurlah, Edward Hutabarat sukses mengakhiri ‘keangkeran’ kain tradisional ini. Di tahun 2006, ia melansir busana-busana batik ‘anak muda’ di bawah label Part One yang dengan lambat menjamur di kalangan sosialita Jakarta. Setelah diekspos berbagai media, tiruan(knock off)-nya pun beredar dimana-mana. Saat tren ini baru membahana di Bandung pertengahan tahun 2008 ini, tanda tanya pun muncul. Selama itukah waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk menerima kain tradisional kembali dalam kehidupan sehari-harinya?

BATIK IS NOW  IN FASHION. THE NEXT TREND? MORE TRADITIONAL TEXTILES!

Dengan terbukanya mata (dan dompet) masyarakat akan busana tradisional, para disainer segera mengekplorasi referensi tekstil tradisional. Tenun bali, songket, dan sarung bugis, semuanya menjadi lebih modern melalui kelihaian disainer memainkan model, warna, dan styling. Agustus 2007 silam, majalah Prodo memamerkan busana batik modern rancangan Barli Asmara dan Musa Widyaatmaja. Majalah a+ mendandani model prianya dengan kemeja print batik. Di penghujung tahun 2007, disainer Rebecca Ing menyentuh tenun pekalongan, sementara Ferry Sunarto memercikkan nuansa vintage melalui penggunaan kain tenun Bali.

Dalam acara Jakarta Fashion and Food Festival pertengangan Mei 2008 kemarin, sarung bugis mulai unjuk gigi di panggung mode. Sarung bugis yang bermotif kotak-kotak dan sekilas mengingatkan kita pada aktivitas bersembahyang umat muslim ini berubah menjadi one shoulder dan tube dress yang lebih berterima di ruangan pesta. Disainernya, Andi Saleh, terinspirasi akan kesederhanaan motif sarung bugis yang tentunya tak akan sulit dipadu-padankan dengan dandanan urban. Dengan memberi tambahan motif hati, tameng hingga kelopak bunga dengan benang emas, ia mengkombinasikan sarung bugis dengan bahan sifon sutra. Sarung bugis juga ia jadikan detil pita atau lengan balon pada gaun-gaun yang didominasi warna marun, ungu, coklat bata dan emas.

ANDY SALEH KAIN 4
Andy Saleh
ANDY SALEH KAIN 2
Andy Saleh

“Seharusnya kita bangga akan semua kain tradisional yang dimiliki bangsa ini,” tutur Andi Saleh. Saat ia masih belajar di Belanda, ia menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat asing bila disajikan produk budaya Indonesia termasuk kain tradisional. Karena itulah sarung bugis kali ini dipilih oleh disainer yang akan berpartisipasi dalam acara Islamic Fashion Festival bersama disainer lain seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Syahreza Muslim, Adesagi dan masih banyak lagi (termasuk tujuh disainer dari Malaysia)  Juli 2008 mendatang di Hotel Dharmawangsa Jakarta.

TIPS MENGENAKAN KAIN TRADISIONAL DENGAN MODERN

Kesan resmi dan kuno memang kerap melekat di benak orang banyak bila menyangkut kain tradisional. Padahal, membuat penampilan tetap modern dengan kain tradisional itu tak terlalu sulit. Panduannya sama saja; berprinsip pada memaksimalkan kecantikan dan bentuk tubuh yang disesuaikan dengan acara dimana busana itu dikenakan.

Hal yang penting untuk diingat adalah mengenali jenis kain dan kesan yang ingin ditampilkan. Contohnya, jenis kain tertentu seperti songket bertekstur tebal dan kaku. Kalau Anda ingin menampilkan kesan feminin yang lepas melambai, hindari penggunaan kain ini. Kecuali Anda ingin menciptakan efek futuristik dengan menjadikan songket ini jaket kaku dengan bahu mencuat ala Balenciaga atau Yves Saint Laurent, maka hal itu bisa saja.Kalau ingin berbusana ringan melayang seperti sackdress Diane Von Furstenberg, pilih kain ringan seperti kombinasi sarung bugis dan sifon sutra rancangan Andi Saleh.

“Anda harus tahu efek yang didapat dari setiap kain,” saran Andi Saleh tentang tips mengenakan busana berkain tradisional ini. “Mau simple mewah atau mewah glamor, tinggal cocokkan saja dengan kain dan atasannya.” Andi Saleh menuturkan bagaimana menyeimbangkan bawahan batik dengan atasan blus sederhana atau kebaya encim untuk kesan simple. Kalau Anda membutuhkan efek mewah, pilih kain yang lebih ‘berat’ seperti songket atau kain prada dari Bali yang bernuansa emas. “Yang penting, sesuaikan warnanya dengan kulit dan kepribadian Anda,” tambah Andi Saleh. Kalau Anda belum yakin dengan warna kain yang cocok, anda bisa bermain aman dengan memilih warna netral seperti hitam atau beige.

Untuk sehari-hari, cobalah lebih ‘fun’ dalam mengenakan kain tradisional ini. Untuk yang masih malu mengenakan kain tradisional, padankan kain tradisional dengan busana-busana dari label kontemporer. Jadikan kain lurik menjadi rok mini atau selutut, lalu padukan dengan tshirt hitam polos (dari Mango, misalnya). Dengan sepatu flat atau strappy sandal, kain lurik itu akan menjadi sangat casual. Atau kalau ingin bergaya bohemian, ubah saja kain batik megamendung menjadi rok semata kaki, tutup dengan tanktop putih dan kardigan hitam. Tips untuk tampil aman dengan kain tradisional bisa dengan meniru cara Frida Gianini (disainer Gucci saat ini) dalam merancang koleksi musim panas 2008. Dengan dasar warna hitam dan putih, ia bermain dengan satu tambahan ‘warna lain’, solid atau lembut. Warna lain inilah yang bisa Anda terapkan pada pilihan kain tradisional sebagai center piece.

Dengan mengenakan kain tradisional, tampil cantik dan anggun itu sudah pasti didapat. Tak hanya itu saja, Anda akan merasakan sesuatu yang baru dalam berpenampilan. Anda mengusung suatu nilai budaya dan kebanggaan akan identitas nasional. Bayangkan, saat Anda bersosialisasi dengan teman-teman Anda yang berasal dari luar negeri, mereka akan penasaran dengan motif atau bahan busana yang anda kenakan. Bila mereka mengira-ngira rok yang Anda pakai itu dari Cavalli, Anda bisa dengan bangga menjawab; “It’s songket, one of my national heritage.”

Deden Siswanto

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

THE PRESSURE TO BE THIN (2008)

Mengapa Definisi Kecantikan Berada di Label Ukuran Sehelai Pakaian?

By Muhammad Reza (muhammadreza_ss@yahoo.com , +6287877177869)

Tubuh Gemuk sebagai Antitesis Dunia Mode dan Kecantikan

Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa episode serial UGLY BETTY yang ditayangkan di televisi. Dalam serial yang diproduseri Salma Hayek dan disadur dari telenovela Betty La Fea, akan Anda temukan potret dan definisi kecantikan yang terpatri di ujung setiap saraf otak warga Amerika. Cantik itu berwajah simetris dengan hidung kecil, bergigi putih yang rapi, dan tubuh kurus, dengan ukuran baju nomor nol.

Tokoh utama serial ini, Betty Suarez (America Ferrera), adalah gambaran yang berlawanan dengan ide wanita cantik di dunia mode Amerika. Selain berkawat gigi, ia sering dipanggil dengan sebutan ‘gendut’ oleh kolega-koleganya di majalah MODE. Tubuh yang tak kurus ini sepertinya menjadi antitesis terhadap dunia mode.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Pembuka)

dior

Bila Anda membolak-balik halaman rubrik mode dari majalah panutan di bidangnya seperti Vogue Amerika atau W, akan terlihat barisan perempuan yang hanya berbalut kulit di tulang. Sama saja saat Anda menyaksikan parade model berbayaran termahal melalui saluran Fashion TV pada setiap finale peragaan busana. Saat Niki Hilton menjadi model pamungkas untuk Just Cavalli (atau saat Rihanna menutup peragaan musim panas 2008 Dsquared), kedua paha mereka yang tidak setipis top model Tanya Dzhialeva dan Andrea Stancu pun menjadi sesuatu yang janggal dan dibicarakan. Tips-tips berbusana yang dianjurkan pada kebanyakan majalah mode juga selalu berusaha menyiasati penampilan wanita agar terlihat jenjang, tinggi, dan lagi-lagi, kurus.

Ada apa sebenarnya dengan tubuh kurus dan mode? Bila melihat lukisan kuno atau foto setidaknya hingga era Marylin Monroe, bentuk tubuh wanita ideal itu adalah yang berisi dan memiliki lekuk-lekuk tubuh yang padat. Tubuh sintal Madame Bouvary, Ratu Prancis Marie Antoinette, penari penuh skandal Isadora Duncan, hingga ikon seksual Marylin Monroe pada masanya dijadikan acuan para wanita. Di awal tahun 60, Twiggy (lahir bernama Lesley Hornby) mulai menyetel tren baru dalam dunia modeling dengan tubuhnya yang sangat kurus dibandingkan dengan model-model ‘montok’ era Christian Dior.    Demam tubuh ala Twiggy pun merajalela saat film Breakfast at Tiffany beredar dan membuat para wanita ingin tampil setipis lidi bak Audrey Hepburn. Keempat persona bertubuh ‘penuh’ yang sebelumnya disebut seksi lalu berubah menjadi momok yang selanjutnya dianggap ‘gendut’.

Dalam mode, ada relevansi antara tubuh kurus (khususnya yang tinggi) dengan citra keanggunan. Dengan tubuh yang kurus, busana akan jatuh di badan dengan menciptakan efek elegan yang feminin. Setidaknya itulah citra yang dipopulerkan Audrey Hepburn dengan busana-busana simple-elegan Givenchy dan hingga saat ini selalu dijadikan referensi penampilan bersahaja sekaligus berkelas bagi pelaku industri mode dari  pembuat jam tangan Longines hingga couturier Zuhair Murad. Susan Train, mantan editor in chief Vogue Amerika dan Prancis pun mengakui figur Audrey Hepburn selalu menjadi inspirasi mode hingga kini.

Semakin Kurus

Dari era Twiggy, Ali McGraw, Lauren Hutton, hingga Jerry Hall dan Carree Otis, tubuh para model wanita semakin kurus dan mengurus. Bila sebelumnya ukuran baju nomor dua menjadi impian wanita yang ingin terlihat seperti model, ukuran baru yaitu nol pun menggantikan acuan lama. Kate Moss, Shalom Harlow, hingga yang terkini Chanel Iman mendefiniskan ‘kurus’ yang baru.

Menjadi model yang ‘terpakai’ di dunia mode memang harus tunduk pada kemauan pasar. Itulah yang terjadi saat model belasan tahun Ali Michael disuruh pulang dan kembali lagi ke agensi model DNA New York setahun kemudian untuk mengurangi berat badannya. Konon, sebagaimana yang diutarakan Fira Basuki dalam novelnya, Biru, tubuh selalu terlihat lima kilogram lebih gemuk dalam cetakan foto. Hal ini menyebabkan banyak model (dan wanita bukan model tapi mati-matian menyamai model) berusaha keras menjaga berat badannya agar selalu sesuai dengan ukuran ‘sample’ baju yang dipakai saat pemotretan atau peragaan busana.

Ada banyak cara yang dilakukan para model untuk mempertahankan kekurusannya. Dari yang benar dengan makan sehat dan berolahraga, hingga yang salah. Contohnya Kate Moss yang dikabarkan kecanduan rokok dan heroin agar tetap kurus, sementara Carree Otis menahan lapar secara berlebihan yang dikenal dengan istilah anoreksia. Carree Otis juga melengkapi penderitaannya (demi pekerjaan) dengan mengkomsumsi kokain, pil diet, hingga memuntahkan semua makanan (bulimia). Syukurlah, kini keduanya sudah bertobat atas kesalahan tersebut. Kematian model asal Brazil , Ana Carolina Reston, karena anoreksia tak hanya membuka mata dunia bahwa selain sosialisasi pola makan sehat bagi remaja dunia harus dilakukan, teori cantik itu identik dengan tubuh kurus juga harus dikoreksi.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Penutup)

Sebagian selebriti berlomba menjadi kurus seperti Keira Knightley dan Kate Bossworth. Namun ada juga yang puas dengan bentuk tubuhnya yang berisi dan merasa tak perlu menguruskan badan. Kate Winslett, Scarlett Johansson dan Oprah Winfrey adalah buktinya. Oprah yang sebelumnya mengalami kelebihan berat badan melakukan diet makan sehat untuk menghindari efek buruk obesitas seperti penyumbatan pembuluh darah dan diabetes, bukannya untuk menjadi sebatang lidi. Kate Winslett sendiri mengungkapkan bahwa ia memang tidak memiliki metabolisme yang sangat cepat seperti Victoria Beckham yang selalu kurus walau sebanyak apapun mantan personil Spice Girls ini makan. Scarlett Johansson sendiri dengan lantang menyatakan dirinya ingin mengembalikan masa-masa glamour Hollywood saat lekuk indah tubuh wanita adalah kecantikan dan sensualitas sesungguhnya. Queen Latifah yang telah menulis buku Skinny Women Are Evil pun menyatakan bahwa Anda tak perlu berukuran baju nol hanya untuk merasa cantik dan seksi.

Dan bukan berarti semua pelaku industri mode mendukung budaya ‘pengurusan’ tubuh ini. Dari komunitas disainernya sendiri, tak semuanya berusaha tampil seperti model. Miuccia Prada atau Stella McCartney tak merasa dirinya bermasalah dengan berat badan. Kritikus mode Suzy Menkes, atau editor in chief  majalah mode Harper’s Bazaar Amerika Glenda Bailey pun tak bertubuh ceking seperti Anna Wintour yang menggawangi Vogue Amerika.

Beberapa tokoh dalam dua alinea terakhir memiliki satu kesamaan. Kepercayaan diri mereka tidak berada di kulit luar yang bersifat dangkal dan sesaat seperti standar atau ukuran kecantikan yang dibuat oleh orang lain. Apabila mereka memilih menjadi kurus atau berisi, itu adalah semata-mata demi kesehatan dan kenyamanan pribadi. Kalaupun ada yang menyebutkan penampilan bergaya dan modis itu hanya bisa diperoleh dengan tubuh kurus, teori tersebut terpatahkan oleh Miuccia Prada, Glenda Bailey atau Scarlett Johansson yang selalu masuk dalam daftar wanita berpenampilan terbaik versi majalah-majalah gaya hidup. Mungkin ini juga yang menyebabkan pesohor Nicole Richie memecat Rachel Zoe, konsultan mode pribadinya. Setelah lelah didoktrin dan dipaksa membuat tubuhnya sangat kurus, Nicole merasa ini tak ada hubungannya dengan penampilan bergaya.

Kepercayaan diri. Mungkin inilah yang pertama sekali harus ditanamkan dalam diri Anda sebelum melangkahkan kaki keluar rumah dengan baju entah berapa pun nomor ukurannya. Dengan kepercayaan diri, Anda akan menampilkan semua sisi terbaik yang bisa dilakukan dengan isi lemari Anda tanpa harus menjadi budak mode yang tak paham dengan diri sendiri. Tak ada label semahal apapun yang bisa membuat Anda merasa lebih cantik selain rasa percaya diri tersebut.

7 INVESTASI FASHION YANG HARUS ADA DI LEMARI PRIA (2017)

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com

Published on LanangIndonesia.com, Editor: Rendi Widodo

http://lanangindonesia.com/read/7-investasi-fashion-yang-harus-ada-di-lemari-pria

Penampilan bagi seorang pria tidak saja sarana mengekspresikan kepribadian dan selera, namun juga indikator kekuatan ekonomi. Semakin mapan pria tersebut, semakin tidak terbatas peluangnya untuk tampil mengikuti tren. Namun apakah dengan kebebasan ini,  pria modern lalu menjadi pecandu tren mode yang penampilannya selalu berubah setiap tiga bulan?

Mungkin akan terasa berat di kantong, ya. Apalagi hal ini akan membuat wardrobe kita menjadi ‘tempat sampah’ yang dijejali fashion items dari musim lalu yang sudah ketinggalan zaman.

Pria modern memiliki banyak hal penting lain yang harus dilakukan. Ia harus cerdas dalam menyikapi mode dan bisa menyiasati pengeluarannya. Untuk tampil fashionable dan berkelas tidak harus menjadi budak mode. Untuk berbelanja tren musiman, tentu boleh sesekali, namun berinvestasi untuk produk mode yang berkualitas dan timeless adalah prioritas.

Agar tidak salah langkah berikut ini 7 fashion items yang harus ada di wardrobe kita agar tetap bisa ‘in fashion’ kapan saja, dimana saja.

1.  Sepatu hitam kulit formal

invest2

Umumnya, sepatu adalah hal yang pertama kali dilihat saat orang lain memandang kita. Karena itu, berinvestasilah pada sepasang sepatu hitam yang terbuat dari kulit berkualitas baik yang bermodel klasik dan formal. Anda bisa mengenakannya dengan setelan jas saat ke kantor, atau dengan celana jeans saat hang out bersama teman. Jangan lupa selalu membersihkan dan menyemirnya karena takkan ada yang suka melihat sepatu lusuh semahal apapun dia.

2. Kemeja putih katun

invest3

Kemeja putih itu bagaikan kanvas untuk lukisan. Ia adalah dasar dari begitu banyak variasi look pria modern. Kenakan dengan dasi dan blazer, Anda siap untuk rapat. Kenakan bersama jogger dan sneaker, Anda terlihat smart dalam kesempatan kasual.

3. Blazer

invest4

Blazer begitu kompatibel saat Anda ingin memberi kesan rapi dalam momen apa saja. Bisa dikenakan saat bertemu klient bisnis hingga dinner bersama pasangan. Anda wajib berinvestasi pada blazer hitam  terlebih dahulu agar bisa dipadukan dengan kemeja atau celana warna apa saja. Setelah itu, Anda bisa tambahkan blazer biru navy, abu-abu atau krem. Anda bisa memilih blazer anak muda seperti Zara atau berinvestasi pada yang lebih serius seperti Brioni.

4. Blue Jeans

invest5

Ini adalah fashion item yang membuat semua penampilan kasual Anda berterima. Pastikan Anda memiliki jeans biru tua yang bersih, tanpa efek sobek dan sebagainya. Levi’s adalah pilihan aman sepanjang masa.

5. Jam Tangan

invest6

Dengan jam tangan dari sekelas Jaeger Le Coultre, Rolex hingga Bvlgari, tentunya penampilan dengan jeans belel dan kaus polos akan naik kelas. Untuk jam tangan, sebaiknya Anda memiliki sedikit jam tangan dari mewah dibandingkan setumpuk jam tangan disainer. Jam tangan mewah memiliki nilai investasi bagi para kolektor karena mempunyai nilai historis dari masa pembuatannya. Sementara jam tangan disainer akan berakhir menjadi sekedar ‘barang bekas bermerk’.

6. Cardigan

invest7

Cardigan berkesan hangat dan smart. Saat Anda mengenakannya dengan kemeja dan dasi, Anda terlihat lebih santai. Cardigan juga bisa dikenakan dengan celana pendek. Dapat dikenakan saat panas terik hingga ketika musim hujan. Begitu kompatibel, kardigan juga tak pernah ketinggalan jaman. Pilih kardigan kashmir untuk penampilan terbaik.

7. Kacamata hitam

invest8

Tak ada yang lebih cool daripada kacamata hitam untuk penampilan modis pria. Kesan tough dan bergaya adalah finishing untuk totalitas gaya Anda. Pastikan bentuk frame sesuai dengan bentuk wajah Anda. Dan jangan pernah pakai kacamata hitam di dalam ruangan. Hanya selebriti narsis yang terlihat  pantas melakukannya.

 

Ketujuh fashion item ini wajib Anda miliki sebagai investasi di lemari pakaian. Secara finansial, ia memperkaya Anda dengan mengurangi frekuensi pengeluaran belanja. Sementara dari sisi mode, variasi penampilan Anda pun lebih kaya dengan semakin banyaknya look baru yang bisa Anda tampilkan dengan mix and match ketujuh investasi fashion ini dengan fashion item Anda lainnya.

BE A PRETTY AND SMART BRIDE (when fashion meets finance) – 2010

A wedding dress is very special but it doesn’t have to make you broke.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Published in Bandung Advertiser,  2010

pexels-photo-237432

Wedding dress, or wedding gown, is the only one you cherish to wear once in a life time. A wedding dress is a manifestation of your psyche; your Cinderella fantasy. Fashion-wise, the dress is the piece that personifies your fantasy yet fits your figure, skin tone and taste. Money-wise, the dress shouldn’t suspend your any other plan like purchasing a house or starting up a new business.

Many brides are so emotionally attached to the dream of the perfect wedding dress and would spend a fortune to have it. They tend to forget the most important essence of the wedding; the marriage itself. The wedding is where the bride and groom celebrate their vow. Focusing too much on the wedding dress is however a slight form of silent war between women to be the best of their peer. Yes, you can compete on dresses in some cocktail parties. But when the occasion is your own wedding, who do you compete with?

A designer’s wedding gown could cost as much as a new car. It’s not a problem if you’re rich, but when your man and you are still building your career and saving for the house, the pricey designer’s gown would be an obvious unnecessary expense. That would be a very selfish of you, too.

Looking fabulous on your wedding day doesn’t have to result in problem. It doesn’t mean you should wear a sad wedding dress either. So, what’s a smart bride to do?

Have a Made to Order Wedding Dress

A designer’s gown costs a fortune for the high quality of the fabric they use, the craftsmanship/trimming they do on the gown, and the value of the authentic design. You could save a lot by commissioning your trusty tailor/dress maker to do your gown. Find your perfect model of the dress on tla wedding magazine. This way you could save more money because you don’t need to fit or customize your dress since the dress is made your size. Ask advice about the fabric to your tailor. Rayon is much affordable substitute for expensive silk. It’s easier to sew as well. It’s difficult to differ silk and rayon only by look. So the gown would still look lavish and glamorous on your wedding picture. Since the gown would be stored on your wardrobe forever, who would care if it’s rayon?

A designer’s wedding gown is so expensive for its ornamentation as well. Swarovski crystals beading, French lace, or other details that cost hours of hand work and expertise. For your own wedding gown, find the simple model and accessorize it. You could accentuate your gown with a crystal tiara, your grandmother pearl choker, or perhaps simply your flawless skin.

Borrow Your Mother’s Wedding Dress

I believe many mothers-or grandmothers- want her daughter wear their wedding gown. How many times we hear the story of two sisters fight for such dress? If you have the chance to wear the legacy, feel lucky. Yes, her wedding dress might be a little retro for the moment so that a tailor would be needed for help.

Rent The Wedding Dress

This is the real benefit of those hours spent in the gym to get your perfect figure. If you work hard for the model size, you could easily slip to the rental wedding gown. This might be the best option to economise. You could experience the high quality dress without spending money as much as on the price tag. Many wedding organizers and bridal boutiques provide this rental.

Buy Young Designer’s Wedding Gowns

That’s why we always love young designers. They make quality clothes with introductory prices. Investment-wise, the dress value could double in the future when it’s regarded vintage designer’s gown. Quite a smart purchase, isn’t it?

Just like being in relationship, you have to be logical in your entire wedding plan. Don’t splurge emotionally for a wedding dress. You don’t want to regret the loss of  those big money in the future, right? Be a pretty and smart bride.

Styling for AQUILA ASIA (2010)

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com

Aquila Asia is the world’s first english fashion and lifestyle magazine for the cosmopolitan moslem women in Indonesia, Malaysia, Brunei and Singapore. I am in charge for editorial correspondence, obtaining information and images needed. I also did the Syle Guide section and manage Styling and Photoshoot. This is a very great experience because I was involved in many single details acquired in editorial department of a magazine.

aquilaasia

aquila2

aquila3

aquila 4

Muhammad Reza

Email : muhammadreza_ss@yahoo.com

Text/Whatsapp : +6287877177869

10 ISTILAH UMUM DI DUNIA FASHION (2013)

Published for official blog of VOGAMODA on January 15, 2013.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

https://vogamoda.wordpress.com/2013/01/15/sepuluh-istilah-umum-di-dunia-fashion/

Dalam dunia mode yang dinamis, kita sering mendengar atau membaca beberapa istilah yang tak lazim bagi masyarakat awam. Apa saja dan apa sih artinya? Yuk disimak semua definisinya!

istilah-fsdhion-cover

1. Haute Couture
Haute Couture (baca: ot kutyur) merupakan mahakarya tertinggi dalam dunia mode. Dalam bahasa Indonesia ia dipadankan dengan adibusana. Sebagai wujud kemewahan tertinggi atas produk mode, sehelai adibusana secara ekslusif dibuat sesuai ukuran tubuh pelanggan. Dengan bahan berkualitas terbaik dan tekhnik pengerjaan terjenius dan sarat detil, harga busana berkisar antara ratusan juta hingga miliaran rupiah. Jangan lupakan juga biaya tambahan seperti akomodasi dan tiket penerbangan pribadi karena pelanggan harus beberapa kali melakukan pengepasan (fitting) di ruang kerja sang disainer yang bermarkas di Paris.

2. Ready To Wear
Ready to Wear atau busana siap pakai (busana jadi) merupakan busana massal yang diproduksi dalam berbagai ukuran dan warna berdasarkan satu disain. Busana jadi ini memiliki banyak klasifikasi, dari high fashion yang merupakan busana jadi rancangan disainer papan atas seperti Gucci dan Calvin Klein, street fashion seperti Adidas dan Gap, hingga low end yang melingkupi label-label lokal di pusat perbelanjaan.

3. Costume Jewelry
Costume jewelry merupakan perhiasan yang menggunakan bebatuan tak berharga dan pertama kali diperkenalkan oleh Coco Chanel. Alih-alih memadankan busana rancangannya dengan perhiasan berlian dan mutiara asli, ia memilih menjuntaikan tiga lilit kalung mutiara imitasi. Costume Jewelry merupakan alternatif penggunaan perhiasan berharga seperti berlian, rubi dan batu mulia lainnya. Dengan costume jewelry, risiko kerugian karena perhiasan hilang atau dicuri menjadi kecil.

4. Fad
Fad adalah suatu tren mode yang usianya sangat singkat, minimal semusim (tiga bulan). Contoh fad yang pernah terjadi adalah turban ala Prada, dan kacamata belalang ala Paris Hilton yang kini jarang terlihat lagi di jalanan.

5. Knock Off
Knock off, meskipun berkonotasi negatif, membuat seorang disainer atau label menjadi trend setter. Knock off sendiri adalah produk-produk yang meniru suatu rancangan dari disainer atau label terkemuka. Contohnya bisa dilihat di toko-toko pakaian beberapa tahun silam. Saat DSquared2 dan Vivienne Westwood menggunakan tartan untuk celana dan rok, garmen-garmen lokal pun menyetok toko-toko lokal dengan produk serupa. Knock off, bagaimanapun juga, menghidupkan roda ekonomi bisnis mode.. Konsumen bisa menjangkau tren mode, dan produsen mendapat keuntungan dari pembelian musiman tersebut.

6. Avant Garde
Bayangkan busana-busana rancangan Adrian Gan dan Irsan. Itulah contoh busana bernafas avant garde yang inovatif dan eksperimental dalam disain dan tekhnik pengerjaan. Busana avant garde menembus batasan konvensional akan kelaziman berbusana dan menciptakan bentuknya sendiri yang secara awam dipandang eksentrik, aneh dan hanya pantas dikenakan di panggung peragaan busana. Namun tak selamanya busana avant garde tak berdaya pakai. Koleksi busana rancangan Irsan misalnya, meski avant garde tapi tetap terlihat cantik saat dikenakan wanita.

7. Muse

Muse merupakan persona yang menjadi sumber inspirasi seorang perancang. Dengan kata lain, seorang perancang akan menciptakan berbagai busana yang dianggapnya sempurna untuk dikenakan sang muse dalam berbagai kesempatan. Alasan memilih seorang muse pun beragam dan personal. Di Indonesia ada Ghea Panggabean yang menjadikan kedua putrinya sebagai muse, sementara di Paris,muse mendiang Yves Saint Laurent merupakan disainer perhiasan Loulou de La Falaise dan mantan aktris Catherine Deneuve. Siapa pula yang tak kenal Amanda Harlech yang menjadi konsultan sekaligus muse Karl Lagerfeld.

8. First Look dan First Face
Dalam suatu peragaan busana, first look dan first face merupakan gambaran umum secara keseluruhan koleksi yang akan diperagakan. First Look merupakan suatu busana yang disainnya menerangkan seluruh konsep koleksi busana dengan jelas, melalui warna, model hingga bahan. Sementara itu, first face merupakan seorang model yang dianggap paling pas menjiwai tema atau konsep busana yang dipersembahkan baik melalui penampilan fisik dan cara berjalan. Seorang model junior akan terangkat karirnya bila dijadikan first face karena hal ini membuatnya dikenal lebih cepat di media mode.

9.Buyer dan Consumer
Buyer dan consumer seringkali disalahartikan. Buyer merupakan seorang perwakilan dari perusahaan ritel yang bertugas memilih busana-busana rancangan disainer atau label terkemuka untuk dijual (tentunya dalam jumlah yang banyak). Oleh karena itu, saat anda berbelanja di Debenhams atau Metro, misalnya, produk yang disajikan adalah pilihan seorang buyer. Besar-kecilnya keuntungan sebuah perusahaan ritel ditentukan oleh kredibilitas seorang buyer yang memiliki selera mode yang sesuai dengan pangsa pasar dan mampu meramalkan produk-produk mode yang akan diinginkan para pengunjung ritel tersebut. Berbeda dengan buyer, consumer merupakan pembeli produk mode yang digunakan untuk keperluan sendiri.

10. Personal Shopper
Personal shopper merupakan profesi baru yang sesungguhnya sudah ada sejak awal abad 20 di Eropa namun masih asing di Indonesia. Personal shopper merupakan seseorang yang berprofesi layaknya fashion stylist (penata gaya) pribadi yang bekerja dengan memilihkan produk-produk mode untuk kliennya. Sebelum berbelanja, seorang personal shopper akan menganalisa sang klien melalui proporsi tubuh, warna kulit, selera berbusana, gaya hidup dan keuangan. Cara bekerja personal shopper berbeda-beda. Ia bisa berbelanja bersama sang klien atau berbelanja sendiri. Umumnya ia juga memiliki look book (buku berisi banyak foto padu padan busana) yang digunakan untuk membaca selera mode sang klien. Jasa personal shopper memiliki tarif berbeda-beda. Ada yang berdasarkan durasi/waktu yang dihabiskan bersamanya, atau komisi sekian persen dari total pembelanjaan.

Nah, dengan penjelasan istilah-istilah fashion di atas, semoga kamu tidak bingung lagi, VOGAMODERS… Sebenarnya masih ada banyak istilah dalam dunia mode. Tapi jangan khawatir, VOGAMODA akan merangkumnya untuk kamu di artikel yang akan datang.  Mudah-mudahan artikel ini membuat pengetahuan fashionmu semakin up to date dan memperluas wawasan. Stay lovely and smart, ladies… Love. VOGAMODA.

FEMALE DANDIES (2010)

For Aquila Asia March 2010

Model: Monica Aziz (FRONT)
Styled by me (Muhammad Reza), photographed by Sugiarto Kwan, make up by Harry Sulistioko.

White shirt, backless vest, pants: Mango,

Signature Bowtie : Ichwan Thoha,

Shoes: Nine West,

Bracelet: Guess

The photoshoot is for Aquila Asia magazine with the theme :  edgy, funky, and funny with the braided wig to substitute the conventional headscarve. Aquila Asia is a modern moslem women magazine found in 2010 by Singaporean publisher Liana Rosnita Ridwan Beers.

Aquila Asia is the world’s first english fashion and lifestyle magazine for the cosmopolitan moslem women in Indonesia, Malaysia, Brunei and Singapore. I am in charge for editorial correspondence, obtaining information and images needed. I also did the Syle Guide section and manage Styling and Photoshoot. This is a very great experience because I was involved in many single details acquired in editorial department of a magazine.

cosmed lores

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

TRIK LANGSING DARI PAKAR MODE (2011)

 

By: Muhammad Reza

Caption Image: Mel Ahyar Happa

Published on Yahoo! Indonesia Style Factor in 2011

Pilihan dan padu padan pakaian terbukti bisa membuat badan terlihat lebih langsing. Disainer ternama Ichwan Thoha, Oka Diputra, dan Priyo Oktaviano membocorkan rahasianya. Trik serupa dibagikan para pakar  seperti penulis mode Irma Hardisurya, beauty icon Kintan Umari serta pengorbit model Fritz Panjaitan dari F Models.

MEL AHYAR DRESS

Yahoo!: GAYA ATAU BAJU SEPERTI APA YANG BISA MEMBERI EFEK LANGSING? 

IRMA HARDISURYA: Kenakan busana berwarna gelap dengan aksen meninggi, bisa berupa motif garis vertikal, detil deretan kancing, jahitan dan lipit dengan asesori yang ukurannya sedang atau seimbang dengan tubuh. Pilih juga bahan baju yang jatuhnya luwes mengikuti gerak tubuh dan tidak terlalu ketat atau terlampau longgar. 

PRIYO OKTAVIANO: Pakailah busana dengan siluet H atau boxy.

OKA DIPUTRA: Warna hitam dengan mudah memberi ilusi langsing. Contohnya sack dress hitam sepanjang lutut.

ICHWAN THOHA: Untuk atasan, pilih yang berkerah bentuk V yang cukup rendah, boat neckline atau off-shoulder, dan sebaiknya atasan ini tidak dimasukkan ke dalam celana atau rok. Celana lebih efektif dalam melangsingkan dan bila mau memakai ikat pinggang, posisikan dia di pinggul. Pilih atasan berupa terusan yang panjangnya mencapai pinggul atau paha seperti tunik.

KINTAN UMARI: Kenali dulu bentuk tubuh kita. Meski tubuh sudah langsing, tapi kalau salah pilih busana bisa terlihat tak langsing. Bila tungkai kaki tidak panjang, sepatu hak tinggi selalu bisa diandalkan. Baju yang mengikuti potongan badan tapi tidak ketat selalu memberi kesan meninggi.

FRITZ PANJAITAN: Pakailah busana yang simple. Untuk kemeja misalnya, tak selalu harus bermotif dan ada baiknya kancing teratas kemeja tidak dikancingkan agar leher tampak jenjang. Untuk celana, pilih celana tanpa motif berpipa lurus dan bersih tanpa lipatan di bagian depannya. Cobalah gaya santai tetapi tetap stylish yang simple yaitu, kemeja lengan panjang yang dilipat lengannya, tambahkan ban pinggang warna netral seperti biru tua dan celana jeans berwarna indigo. Orang yang melihat anda akan lebih terkesima melihat gaya anda, dari pada bentuk badan anda.

Yahoo! : LALU, GAYA ATAU BAJU SEPERTI APA YANG HARUS DIHINDARI SUPAYA TETAP TERLIHAT SLIM? 

KINTAN UMARI: Motif besar-besar umumnya berkesan lebar. Baju yang memiliki banyak lipit juga berkesan besar.

ICHWAN THOHA: Baju berwarna terang, rok, dan atasan berkerah tinggi.

FRITZ PANJAITAN: Jangan pernah memakai pakaian yang bermotif besar. Jika pun ingin ada motif, sebaiknya menghindari motif garis horizontal yang akan membuat badan terluhat semakin lebar.

OKA DIPUTRA: Jauh-jauh dari baby doll jika gaun tersebut berpotongan empire line! Rok menggelembung juga pilihan yang buruk bila ingin tampak langsing.

PRIYO OKTAVIANO: Hindari busana dengan banyak aksen kerut-kerut. Jangan memakai banyak layer atau tumpuk-tumpuk seperti atasan dengan cardigan tebal atau jaket.

IRMA HARDISURYA: Perhatikan keseimbangan. Panjang baju yang tidak seimbang dengan proporsi tubuh akan membuat kita terlihat pendek dan gemuk. Baju dan pakaian dalam terlalu ketat (kekecilan) akan menonjolkan bagian-bagian yang seharusnya disamarkan. Hindari pula baju berbahan kaku, tebal atau berat, menempel di tubuh, kusut, mengkilat, bertekstur kuat dan bermotif horizontal.

Semoga tips busana dari para pakar mode ini bermanfaat bagi kita yang ingin terlihat lebih langsing!

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

TIPS BERBUSANA SESUAI BENTUK TUBUH (2011)

(Unedited Script and Styling for Yahoo! Indonesia “STYLE FACTOR’s Tips Berbusana Sesuai Bentuk Tubuh in 2011)

Watch the video here:

 Siapa sih yang nggak mau tampil oke dengan baju apa aja yang lagi nge-tren? Bisa mengenakan busana ketat ala cheongsam seperti di koleksi Louis Vuitton tahun ini, atau ingin terlihat feminine dalam balutan gaun  babydoll Mel Ahyar Happa. Semua juga pasti mau.

Sayangnya, kita diberi tipe tubuh yang berbeda. Nggak semua jenis baju cocok kita pakai. Kalau salah pilih baju, tubuh kita bisa terlihat kurang proporsional. Nggak mau, kan? Yuk kenali tipe tubuh kita dan cari tahu jenis baju apa aja yang pas!

Kalau dilihat dari rasio ukuran badan atas dan bawahnya,  tubuh kita terbagi atas empat jenis. Ada tipe jam pasir, buah pear, buah apel dan lurus.

Kalau perbandingan ukuran dada, pundak dan pinggul kamu hampir sama, kamu termasuk wanita bertubuh jam pasir. Tipe ini  biasanya memiliki ukuran pinggang yang ramping banget.

Ada lagi tipe tubuh buah pear. Nah, kalau yang ini, pemiliknya akan punya rasio tubuh bawahnya lebih besar dari yang atas. Ukuran pinggul dan pahanya lebih besar daripada dada dan bahu.

Tipe tubuh yang ketiga; buah apel. Meski ada yang menyebut tubuh buah apel ini seperti segitiga terbalik, tapi umumnya wanita bertubuh apel memiliki bagian tengah tubuh yang lebih besar. Area pinggangnya lebih luas dibanding dada dan pinggul. Meski nggak gemuk, wanita ini bisa kelihatan gemuk bila salah memilih busana.

Tipe tubuh terakhir nih yang banyak dimiliki para model, yakni tipe tubuh lurus. Ukuran dada, pinggang dan pinggul nyaris sama. Wanita  bertubuh lurus biasanya tinggi dan berkaki panjang, serta memiliki tulang yang kecil sehingga terlihat sangat kurus.

Tipe Tubuh Jam Pasir

Kalau kamu bertubuh jam pasir, kamu beruntung banget, karena hampir semua jenis gaun bisa kamu pakai. Bisa gaun dengan rok mengembang, rok pensil yang mengecil di lutut, hingga rok midi yang mencapai betis. Mau pakai maxi dress yang menyapu lantai juga oke. Misalnya gaun bergaya cheongsam berwarna merah rancangan Andy Saleh ini. Siluetnya yang memeluk badan semakin menonjolkan lekuk indahmu.   Gaun panjang model menerawang juga cocok untuk kamu karena detilnya yang di bagian pinggang menekankan kurva tubuh yang harmoni.  (worn by model, CAPTION;ANDY SALEH]. Bila bertubuh jam pasir, kamu bisa tampil seksi dengan gaun yang pas badan dan juga tampil elegan dengan gaun gaun panjang berbahan lembut menerawang. Asesori seperti kalung tak saja membuat wajahmu menjadi pusat perhatian, tapi juga dadamu. Kalau nggak mau dadamu dilihatin, jangan kenakan asesori atau warna warna terang disana. Kamu bisa pilih gelang atau hiasan rambut sebagai asesori yang aman.

Tipe Tubuh Pear.

Banyak wanita yang kurang pede dengan tubuh berbentuk buah pear, Umumnya merasa dadanya terlihat kecil karena pinggulnya yang besar. Sebenarnya, porsi tubuh bagian atas yang lebih kecil ini justru membuat lenganmu kelihatan lebih langsing dan panjang. Apalagi rata-rata wanita bertubuh pear memiliki pinggang yang kecil. Kamu bisa pakai gaun strapless atau model kemben, bisa pakai baju berlengan pendek, atau gaun gaun dengan bahu terbuka. Untuk membuat bagian dada kelihatan lebih berisi, pilih baju dan gaun jenis baby doll. Bisa juga gaun empire line yang panjang. Gaun-gaun ini memberi aksen pada bagian dada dan membuatnya terlihat seimbang dengan pinggulmu. Coba lihat busana dengan lengan pendek dari kolesi Ichwan Thoha ini. Lengan pendeknya membuat bahumu terlihat lebih lebar sehingga seimbang dengan bagian pinggul yang lebar. Pilihlah busana yang memiliki detil dan warna cerah terutama di bagian tubuh atasnya sehingga memberi efek lebih berisi dan lebar. [worn by model, CAPTION:ICHWAN THOHA]. Kamu juga bisa memakai jaket longgar dengan motif garis-garis horizontal.

Tipe Tubuh Apel

Yang sering dikhawatirkan wanita umumnya bagian pinggang yang terlihat lebar. Sayangnya, pinggang lebar itu ciri-ciri wanita bertubuh apel. Jadi, meskipun pinggulnya lebih kecil, pinggangnya yang lebar ini membuatnya terlihat gemuk. Kalau kamu bertubuh apel, sebaiknya jangan mengenakan asesori atau detil busana yang ramai di area pinggang ini. Begitu juga dengan busana yang ketat. Itu hanya membuat pinggangmu kelihatan lebih besar. Kamu lebih cocok mengenakan busana bergaya baby doll yang longgar dan melambai dalam warna-warna gelap. Untuk menyamarkan area pinggang ini, kamu bisa pakai vest atau jaket yang longgar. [ worn by model,CAPTION; ANDY SALEH] . Daripada mengenakan asesori seperti ikat pinggang, pilih asesori seperti anting besar, sepatu high heels atau kalung yang akan mengalihkan perhatian dari area pinggangmu.

STRAIGHT

Kamu termasuki beruntung bila memiliki tubuh lurus karena kamu bisa meniru hampir semua penampilan dari panggung peragaan busana. Dengan tubuh yang lurus dan dan juga tinggi, kamu bisa pakai semua gaun dari yang panjang hingga mini, dari gaya seksi, maskulin hingga bohemian. Kamu bisa memperlihatkan kakimu yang jenjang dengan gaun mini, atau lenganmu dengan gaun strapless. Untuk membuat dada terlihat berisi, pilih gaun yang bermotif ramai atau tekstur seperti motif bunga atau gaun berbahan lace dan lipit. Kenakan juga bustier agar dada terlihat lebih berbentuk.

 [worn by model, CAPTION; ANDY SALEH]. Pilih juga warna gaun atau warna motif yang cerah supaya tubuhmu kelihatan lebih berisi.

Nah, meskipun setiap jenis tubuh memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, kita tetap bisa menampilkan yang terbaik melalui pilihan busana dan gaun yang tepat. Apapun gaya yang ingin kamu tampilkan, jadikan keseimbangan sebagai patokan. Dengan busana yang tepat, kamu akan selalu terlihat cantik, apapun bentuk tubuhmu!

Designer’s Dresses: Andy Saleh, Ichwan Thoha.

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

MODE ITU SENI. SENI ITU MODE? (2009)

Text By: Muhammad Reza

(Dimuat di Majalah CLARA Edisi September 2009 hal.58-61)

Berbicara tentang mode memang tak bisa lepas dari seni. Bagi saya, mode selalu mengandung unsur seni. Pada dasarnya, seni memikat dan memberi pengalaman batin yang menyenangkan melalui indra penglihat.

pollock

Perasaan itulah yang saya rasakan saat melihat Caroline Trentini menyeret-nyeret rok tulle tersembur cat warna-warni ala lukisan Jackson Pollock di panggung peragaan Dolce & Gabbana beberapa tahun silam. Sama halnya saat melihat caged-heel boots Yves Saint Laurent atau tas kulit phyton bermotif floral dari Balenciaga (koleksi Cherce-Midi) yang dicat tangan warna-warni bergaya impresionisme. Apalagi kalau melihat peragaan busana Alexander McQueen. Ada kata “Oh” dan “Ah” ketika melihat produk mode menjadi suatu work of art.

cropped-scan00761.jpg

Apakah Mode itu Seni?

Aktris Tilda Swinton saja pernah mengatakan, “Beberapa seniman terbaik yang saya kenal bekerja di dunia mode.” Nah, lho?

Kalau beberapa contoh tadi disejajarkan, pertanyaan klasik akan muncul? Apakah mode itu seni? Kalau dijawab ya, maka akan berlanjut, tapi seni kan belum tentu mode? Oke, tak usah diperpanjang. Keduanya saling mempengaruhi. Seni bisa menjadi inspirasi warna, motif hingga siluet sehelai busana atau aksesori. Seni pun dipengaruhi mode. Kalau seni hanya bisa kita nikmati dengan mata, mode bisa dikenakan. Kedua-duanya memenuhi kebutuhan estetika manusia.

fildes
Sir Samuel Luke Fildes; Portrait of Mrs. Lockett Agnew, 1887-88. Source: Pinterest.com

Menurut saya, mode berpengaruh pada seni, tapi tidak sebesar seni terhadap mode. Kalau melihat lukisan era Victoria, saya akan mengernyitkan dahi jika model lukisan mengenakan gaun berkerah rendah dengan latar belakang taman di siang bolong. Tentu saja lukisan itu ngawur. Etikanya, di zaman itu busana berkerah rendah hanya dipakai di malam hari. Itu contoh sederhana. Mau tidak mau, mode mempunyai pengaruh pada seni.

Monet
Women in the Garden, 1866 by Claude Monet. Source: Fashion-era.com

Minimalisme, Kubisme dan Art Nouveau

Sejak awal abad 20, seni selalu menjadi inspirasi disainer. Minat dan hubungan mereka dengan seniman berimbas pada karyanya. Tengoklah Paul Poiret. Inspirasi seninya datang dari lingkungan. Poiret terkesan oleh kostum Ballet Russes di Paris pada tahun 1909. Ia mengoleksi lukisan Picasso, Matisse, dan Renault. Ia juga bergaul dengan seniman-seniman kontemporer ini. “Saya selalu menyukai pelukis. Sepertinya, kami berada di dunia yang sama,” katanya.

Paul Poiret
Paul Poiret dress, illustrated by Georges Barbier for the cover of Les Modes magazine in April 1912.

Saat itu modern art sedang naik daun di Prancis. Ketika seniman bereksperimen dengan ide-ide dan material baru, Poiret tertantang untuk bereksperimen dengan tekstil, siluet, dan detil busana. Ia mengikuti tren minimalisme, kubisme, dan art nouveau. Poiret membuang korset dari tubuh wanita dan meninggalkan warna hitam dan putih. Sudah kuno. Ia juga membuat siluet busana wanita menjadi lurus. Tak berlekuk-lekuk seperti huruf “S” yang dijadikan siluet ideal masa itu. Lalu ia ramaikan siluet lurus ide dengan warna-warna cerah.

Di era ’20-an, bukan Poiret saja yang terinspirasi seni. Jean Patou menjadi yang pertama memunculkan motif-motif kubisme pada rancangannya. Sementara itu di Italia, Elsa Schiaparelli tertular semangat surealisme dari pelukis Salvador Dali. Detil-detil surealis yang bersifat mengagetkan, melampaui batas kewajaran persepsi manusia dan tak proporsional diadopsi ke dunia mode. Ornamen dari bahan plastik dan kancing berbentuk bibir dijadikannya terobosan baru. Tak itu saja, Schiaparelli juga mempopulerkan gambar wajah manusia besar-besar yang menutupi torso pemakainya.

jean patou models
Jean Patou and his models, 1924. Source: CMadeleinesVintage.com
schiaparelli
Schiaparelli dress red lips detail and surreal red lips hat. Source: Pinterest.com
shoehat
A collaboration with Salvador Dali, the iconic Schiaparelli’s shoe hat in 1937. Source: krvs.org

Tak disangka, empat puluh tahun kemudian Yves Saint Laurent terinspirasi gaya surealis berupa wajah manusia yang tampil pada koleksinya di tahun ’60-an. Ia juga menginterpretasikan kubisme Picasso, bunga matahari Rembrandt dan burung camar Brague ke dalam motif sulaman.

ysl picasso
Yvest Saint Laurent, inspired by Picasso. Source: Rebelliveblog.com

Pucci = Op Art?

Saya masih ingat kegemaran mengenakan celana jins berwarna neon gara-gara film Factory Girl beberapa tahun silam. Tren yang sama sebenarnya muncul sejak tahun 1960-an. Inspirasinya? Op art dan psychedelia. Inilah aliran seni yang membuat mata saya cukup lelah dan butuh obat tetes. Motif geometris yang dibumbui warna-warna terang benderang dan kontras ini terlalu meriah untuk penglihatan orang yang beranjak tua seperti saya. Tak heran gaya ini kurang lama bertahan setiap diluncurkan. Namun, seni yang popular bersama Andy Warhol dan Edgy Sedgwick ini malah semakin merajalela melalui koleksi Emilio Pucci dan Paco Rabanne. Bahkan, masih banyak yang menganggap Pucci-lah yang melahirkan motif op art. Apa iya?

Saat narkoba dan reggae sedang tren di tahun 1970-an, seni dan mode ikut-ikutan. Tapi bukan ikut teler, lho. Mungkin karena senimannya teler, warna dan bentuk yang diwujudkan aliran seni ini kabur, tidak jelas, mengawang-awang. Eh, dunia mode malah mencetak motif fluorescent baik pada kaus maupun gaun. Saya pun sempat terkena demam fluorescent di tahun 1990-an ketika musik reggae muncul malu-malu untuk kemudian hilang lagi dari peradaban. Mungkin sedang teler lagi.

Seperti tren, seni selalu berputar. Seni graffiti yang dipopulerkan anak jalanan di tahun 1980-an menjadi hits gara-gara Louis Vuitton di tahun 2001. Berkolaborasi dengan seniman Stephen Sprouse dan Takashi Murakami, Marc Jacobs meluncurkan tas Monogram Graffiti dan Monogram Multicolor. Tak bosan-bosan, Marc Jacobs lagi-lagi undang pelukis. Terakhir, lukisan perawat rumah sakit karya Richard Prince memikat Jacobs. Sang pelukisnya langsung diminta merancang tas untuk koleksi musim panas 2008.

Disainer “Nyeni” Kurang Komersil

Saya kemudian penasaran. Selama ini para disainer terinspirasi karya-karya seniman. Apa jadinya jika lulusan sekolah seni saja yang menjadi perancang busana? Mungkin mereka bisa lebih keren saat menciptakan busana yang kental dengan nuansa seni. Ternyata tak semudah yang diharapkan. Tak semua seniman tertarik jadi disainer. Kalaupun ada, karyanya kurang komersil, seperti Viktor & Rolf atau Rei Kawakubo.

Saya sendiri sangat menikmati –baca: mengapresiasi- gaun-gaun rancangan Rei Kawakubo. Namun kalau saya wanita, saya belum tentu tahu kapan saya harus memakai gaun tersebut. Menganut surealisme dalam merancang, hasil pekerjaan Rei Kawakubo memang sudah melampaui persepsi normal manusia akan proporsi dan anatomi. Ia merombak struktur tubuh manusia dan dimodifikasi ulang melalui ilusi bagian-bagian tubuh seperti punggung, lengan atau dada. Inspirasi itu terlihat jelas pada koleksi musim panas 1997. Ia membuat gaun dengan anatomi seolah-olah punggung manusia menggelembung melebihi ukuran kepala! Ia juga mencampur warna-warna yang bertolak belakang tapi sukses mendamaikan keduanya dengan menyelipkan warna hitam.

Menyikapi tanggapan masyarakat yang kurang antusias, Rei Kawakubo sendiri lebih memilih karya-karyanya diulas dan ditampilkan melalui dunia seni, bukan mode. “Dunia seni menerima objektivitas. Dan itulah yang harus dilihat dari busana saya,” katanya.

kawakubo

Saya pikir, Viktor & Rolf –lah yang bisa menjadi pelarian aman bagi para fashionista untuk bermain-main dengan seni yang ekstrim. Duo asal Belanda ini mungkin sudah lelah karyanya diacuhkan pada dekade silam karena dianggap terlalu mengada-ada. Apalagi, busana mereka lebih terlihat seperti instalasi seni. Namun, peragaan busana debut para lulusan Academy of Arts di Arnhem Belanda ini lumayan berdaya pakai. Mereka merancang sebuah kemeja yang dipenuhi balon gas besar menyerupai awan jamur. Efek dramatis dikurangi. Misalnya, kemeja dan rok klasik yang dikejutkan dengan kalung pita merah besar di leher.

Dibandingkan karyanya, peragaan duo disainer yang selalu berdandan identik ini lebih menarik. Mereka mengadakan pameran busana dengan motif dan ukuran yang dibuat seukuran boneka anak-anak. Atau membiarkan para modelnya berjalan di catwalk dengan penerangan yang dilekatkan ke badan sehingga sang model jalan dengan wajah serius –mungkin karena sambil berdoa agar lampu tidak membakar busana yang sedang diperagakan. Ketika majalah New York Times menyebut Viktor & Rolf sebagai seniman yang menggunakan mode sebagai media-nya, saya maklum saja. “Lha mengapa baru sekarang, bukannya dari awal!”

Visual Art dan Mode

Biasanya, saya lebih suka mengamati ulasan peragaan busana melalui media cetak saja. Tapi untuk Alexander McQueen dan Hussein Chalayan, tidak. Kedua rumah mode ini menyajikan peragaan busana sebagai seni pertunjukan. Meskipun dituding sebagai disainer pencari sensasi, karya-karya Alexander McQueen ini berbanding lurus dengan seni peragaan busananya. Selalu mengundang decak kagum. Salah satu peragaan Alexander McQueen yang terus dikenang terjadi di tahun 2006. Seni yang ditampilkan berupa visual art. Saat menutup koleksi musim dinginnya, ia menampilkan hologram tiga dimensi berupa Kate Moss yang menari-nari dengan gaun putih di dalam sebuah piramida kaca.

mcqueen

Peragaan mode Hussein Chalayan juga selalu saya tunggu. Saya sempat bingung. Busana-busana karya disainer asal Turki ini lebih cocok dikategorikan produk mode atau furnitur ya? Bagaimana tidak, ia pernah menggunakan material badan pesawat terbang menjadi baju yang bisa diubah-ubah bentuknya dengan remote control. Yang paling menghebohkan adalah koleksi Afterwords (musim dingin 2000). Disini Hussein Chalayan menyulap seperangkat meja kayu dan bangku menjadi gaun! “Kegilaan”-nya juga dilengkapi dengan aksi menghancurkan sebuah busana keramik dengan sekali getokan palu. Dan adegan seorang model berbusana putih polos yang diciprati bermacam cat untuk menciptakan satu gaun bermotif abstrak?

hussein paint abstract

Seni itu mode?

Saya akan sangat setuju kalau mode bisa dikatakan seni, tapi tidak sebaliknya. Ini kembali lagi ke definisi seni, yakni suatu karya yang menarik bagi indera dan emosi. Saya pikir, fungsi dan seni adalah dua hal yang wajib dipertimbangkan saat berbelanja produk mode. Kalau suatu produk mode tidak menarik dan menyenangkan hati, untuk apa dibeli? Apalagi di jaman susah seperti sekarang. Kita bisa memanfaatkan mode untuk menjadi penghibur. Hidup ini masih ada indah-indahnya. Entah sedikit keindahan itu bisa melalui kesenangan kaki dalam sculptural shoes Alexander McQueen, atau sekedar mengangin-anginkan scarf Pucci di leher.

pucci giselle 2

Seni dan mode bagaimanapun juga memang saling berkaitan. Namun, siapa yang lebih berpengaruh, pemenangnya adalah seni. Walapun dipajang dekat ranjang anda, misalnya. Seni adalah dunia keindahan yang tak tersentuh dan tak terbatas. Itulah dunia yang ingin kita rasakan, yang kita coba dekati lagi dengan melekatkannya di tubuh kita. Apakah melalui sepatu berkonstruksi aneh tapi kokoh seperti pahatan art deco, atau melalui balutan sutra bergambarkan bunga lili yang lembut seperti lukisan Monet.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

cover clara

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.