QUO VADIS KECANTIKAN INDONESIA (2009)

By: Muhammad Reza Seperti apa sih kecantikan khas Indonesia? (Dimuat di majalah CLARA edisi November 2009, halaman 16-19)

Standar kecantikan di negeri tercinta ini tampaknya setali tiga uang dengan usia dunia mode nasional – yang tak setua dunia mode internasional. Cukup kompleks, apalagi bila mengaitkannya dengan standar kecantikan internasional. Perlu disadari, hingga pertengahan tahun 2000-an ini, mode di Indonesia hanya dinikmati segelintir masyarakat jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang 200 juta lebih. Sehingga bila merujuk jauh ke awal kelahiran dunia mode Indonesia di tahun 50-an – dirintis Bapak Peter Sie – seperti meraba-raba saat mencari standar kecantikan di dunia mode.

Dunia mode bagi masyarakat Indonesia di tahun ’50-an jelas masih merupakan barang baru. A very luxurious product! Hanya segelintir orang yang mampu menikmati dan mengapresiasinya. Standar kecantikan di dunia mode masih baur dengan standar kecantikan dunia lainnya. Umumnya yang jadi “ikon” kecantikan secara tidak langsung adalah bintang-bintang film terkenal saat itu. Sebut saja Chitra Dewi, Indriati Iskak, dan Mieke Widjaya yang terkenal lewat film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Masih ada lagi Baby Huwae, Rima Melati, dan Gaby Mambo. Sepuluh tahun kemudian di era ’60 akhir ’70-an muncul nama-nama seperti Titiek Puspa, Widyawati, dan Titik Sandhora. Saat itu standar cantik dalam dunia mode sudah mulai bergeser walau terkadang masih menyatu dengan standar cantik dunia film. Namun, ada satu benang merah yang cukup menonjol: cantik khas wanita Indonesia yang belum tersentuh globalisasi. Berkulit coklat kekuningan, hidung cukup mancung, dengan tinggi badan sedikit lebih tinggi dari kebanyakan wanita Indonesia.

Kecantikan khas Indonesia ini akhirnya merambah ke dunia mode yang pada tahun ’60 s/d ’70-an mulai berkembang. Hal ini masih terasa pada akhir ’70-an dan awal ’80-an. Tubuh semakin semampai dengan wajah yang masih khas negeri ini. Sebut saja Titik Qadarsih, Nani Sakri, Ati Sinuko, Enny Sukamto, Dhanny Dahlan, Ria Juwita, dan Citra Darwis Triadi.

Di pertengahan tahun ’80-an sampai awal ’90-an terjadi sedikit pergeseran secara fisik. Tidak terlalu nyata tetapi bisa dijadikan penanda masuknya pengaruh asing pada standar kecantikan di dunia mode Indonesia. Selain wajah lokal, kulit sawo matang, tulang pipi tinggi, rahang yang keras, serta tubuh yang juga tinggi semampai. Sarita Thayib, Okky Asokawati, Kintan Umari, Ratih Sanggarwati dapat tampil sejajar dengan Saraswati, Sandy Harun, Henidar Amroe, dan Larasati. Di saat ini muncul pula definisi cantik versi baru. Ada Vera Ongko yang muncul dengan wajah campuran timur tengah, berhidung sangat mancung, tulang rahang yang keras, serta tulang pipi yang tinggi. Di samping itu pada saat yang sama dunia mode pun memunculkan Licu dengan kecantikannya yang khas, oriental.

Terasa sekali bahwa pada era ’90-an standar cantik dalam dunia mode di negeri ini semakin majemuk. Ini disebabkan karena media-media cetak wanita – baik dewasa maupun remaja – sudah mulai memiliki standar “cantik” tersendiri. Mira Sayogo, Ines Tagor, Wiwied, Avi Basuki, Ira Duati, Auk Murat, Veronica Wendy, Susan Bachtiar, Marisa Haque, dan Soraya Haque merupakan wajah-wajah cantik Indonesia ataupun Indoriental yang sering menghiasi sampul-sampul majalah wanita di negeri ini.

Pada saat yang sama, ketika komunikasi semakin mudah, saat kampanye komersial produk luar negeri semakin marak dan label asing mulai dikenal di negeri ini, tidak hanya selera berbusana masyarakat local yang semakin global, namun standar kecantikan pun mulai mengalami perubahan yang cukup pesat. Wajah Indo Eropa semakin disukai. Malah pada satu saat wajah serupa ini sempat jadi primadona. Semua orang ingin seperti Ida Iasha, Tamara Bleszynski, dan Nadya Hutagalung. Hidung mancung, kulit putih, tulang pipi tinggi, mata bundar dan besar. Sampai-sampai produk pemutih kulit laku keras… Tapi apa iya bisa bikin kulit coklat jadi putih?

Demam wajah campuran kaukasia tampaknya semakin tak terbendung. Terbukti dengan terpilihnya Tracy Trinita sebagai wakil dari Indonesia yang akan bertarung di ajang Elite Look Model Contest. Di saat ini pula wajah campuran seperti Karenina, Selma Abidin, Arzeti Bilbina menjadi amat disukai. Ini salah satu penyebabnya adalah globalisasi?

Globalisasi membuat standar kecantikan di Indonesia semakin rancu. Berbagai tren akan standar kecantikan berlangsung secepat perancang busana menggelar peragaan. Tentunya masih ingat demam model berwajah oriental seperti Dominique, Danish hingga Aline. Lalu serombongan model impor dari Eropa Timur seperti Julia Jamil dan Lolita. Tak ketinggalan wajah eksotis berkulit gelap seperti Laura Muljadi dan Kimmy menjadi alternatif sebagai salah satu standar cantik dalam dunia mode Indonesia.

Kemana sebenarnya standar kecantikan di dunia mode Indonesia menuju? Adakah karakter yang jelas dan standar baku dalam kecantikan di tanah air?

Fritz Panjaitan melalui Profile Management menganggap standar kecantikan di mode Indonesia mau tak mau dipengaruhi pasar. “Ada dua jenis standar kecantikan yang dibutuhkan untuk dua tujuan berbeda,” sebut pria ini. Pertama, cantik yang edgy, dingin, dan mahal. Ini cocok untuk halaman mode. Contohnya Monica Schoupalova. Kedua, ada sweet beauty seperti Shiren Zifa yang selalu dibutuhkan untuk komersial. Wajah-wajah edgy dan dingin banyak didominasi model impor, sementara sweet beauty masih bisa dipenuhi model-model local.

Disainer sekaligus direktur Platinvm Management, Ichwan Thoha, punya pendapat yang sedikit berbeda. Menurutnya, saat ini dunia mode menyukaai kecantikan yang mahal. Cantik mahal bukan saja sekedar bule atau berwajah kebule-bulean, tapi lebih kepada bahasa tubuh atau cara si model membawa diri. Tidak terlihat kampungan atau murahan. “Sebagai disainer, saya sendiri lebih menyukai kecantikan khas Indonesia seperti Sari Nila dan Widhi Basuki,”ucapnya. Ia pun menyukai Izabel Jahja yang meski berdarah campuran namun karakter Indonesia-nya tetap terpancar.

Menyikapi tren global dunia kecantikan di modeling, Ichwan menyesuaikan tren tersebut dengan wanita Indonesia. Wajah boleh Melayu, tapi postur dan gesture-nya bertaraf internasional. Ichwan berpendapat, tren kecantikan di dunia mode akan bergeser kembali ke kecantikan khas Indonesia. Nama-nama seperti Laura Basuki dan Laura Muljadi termasuk beberapa yang akan semakin cemerlang di peragaan busana.

Berbicara kecantikan, disainer Priyo Oktaviano menekankan pentingnya inner beauty. “Saya pikir, inner beauty-lah yang membuat setiap kecantikan fisik wanita mempesona,”ungkapnya di suatu siang.

Mengenai isu kecenderungan keseragaman wajah model, ia menganggapnya hanya rekayasa make-up semata. “Setiap peragaan busana saya selalu berfokus pada konsep koleksi; baju, make-up, look para model dan aksesori. Saya juga memakai semua tipe model apapun warna kulit, tipe wajah atau kebangsaannya. Yang penting tinggi badan mereka memenuhi standar. Perbedaan warna kulit bisa disesuaikan dengan make up dan pilihan warna busana.”

Sementara itu, menurut Irsan – yang tak ingin dirinya disebut disainer – standar kecantikan di dunia mode Indonesia tak bisa diperlakukan serupa seperti standar internasional. Bila di luar sana kita mengenal istilah beauty icon, disini title tersebut sulit ditemukan. Sehingga definisi standar kecantikan di Indonesia menjadi rancu. “Di Indonesia, kita sulit menemukan seseorang yang memiliki gaya busana dan kecantikan yang khas dan menjadi trend setter di dunia mode. Disini kecantikan itu kurang personal. Kita cenderung ikut-ikutan. Setiap wanita tak saja ingin berbusana menyerupai satu sama lain tapi rias wajah dan tata rambut pun demikian sehingga terlihat serupa. Kecantikan wanita-wanita di Indonesia itu telalu deja-vu,”tuturnya.

Irsan mengagumi beberapa sosok yang dianggapnya berkepribadian kuat dan berkarakter seperti Tilda Swinton, Kristen McMenamy, Cate Blanchett dan Sophia Loren. “Saya percaya kalau kecantikan itu merupakan suatu ekspresi dari kepribadian yang kuat. Seberapa kuat kepribadian seseorang mempengaruhi masyarakat, sekuat itulah kecantikannya memancar dan menjadi ikonik. Tak mudah menemukan wanita seperti itu di dunia mode nasional. Mariana Renata adalah contoh kecantikan yang kuat dan langka di negeri ini.

Dengan kurangnya keberanian wanita Indonesia untuk tampil berbeda sesuai karakter dan kepribadiannya, tak mengherankan bila standar kecantikan di dunia mode Indonesia masih dipengaruhi industri mode dengan segala macam dan jenis permintaannya. Inilah yang menjadikan standar kecantikan di dunia mode lokal begitu komplek untuk dibicarakan. Memang kita belum mempunyai ikon kecantikan yang membuat seluruh lapisan masyarakat mengenalnya, namun bagaimanapun juga standar kecantikan di Indonesia berevolusi seiring waktu. Mengapa tak ada nama besar yang bisa kita ingat sebagai ikon kecantikan nasional? Ya…itu tadi, setiap perubahan dilakukan bergotong royong, sehingga tak enak rasanya bila menyebut satu nama saja.

clara quovadis

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

THE PRESSURE TO BE THIN (2008)

Mengapa Definisi Kecantikan Berada di Label Ukuran Sehelai Pakaian?

By Muhammad Reza (muhammadreza_ss@yahoo.com , +6287877177869)

Tubuh Gemuk sebagai Antitesis Dunia Mode dan Kecantikan

Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa episode serial UGLY BETTY yang ditayangkan di televisi. Dalam serial yang diproduseri Salma Hayek dan disadur dari telenovela Betty La Fea, akan Anda temukan potret dan definisi kecantikan yang terpatri di ujung setiap saraf otak warga Amerika. Cantik itu berwajah simetris dengan hidung kecil, bergigi putih yang rapi, dan tubuh kurus, dengan ukuran baju nomor nol.

Tokoh utama serial ini, Betty Suarez (America Ferrera), adalah gambaran yang berlawanan dengan ide wanita cantik di dunia mode Amerika. Selain berkawat gigi, ia sering dipanggil dengan sebutan ‘gendut’ oleh kolega-koleganya di majalah MODE. Tubuh yang tak kurus ini sepertinya menjadi antitesis terhadap dunia mode.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Pembuka)

dior

Bila Anda membolak-balik halaman rubrik mode dari majalah panutan di bidangnya seperti Vogue Amerika atau W, akan terlihat barisan perempuan yang hanya berbalut kulit di tulang. Sama saja saat Anda menyaksikan parade model berbayaran termahal melalui saluran Fashion TV pada setiap finale peragaan busana. Saat Niki Hilton menjadi model pamungkas untuk Just Cavalli (atau saat Rihanna menutup peragaan musim panas 2008 Dsquared), kedua paha mereka yang tidak setipis top model Tanya Dzhialeva dan Andrea Stancu pun menjadi sesuatu yang janggal dan dibicarakan. Tips-tips berbusana yang dianjurkan pada kebanyakan majalah mode juga selalu berusaha menyiasati penampilan wanita agar terlihat jenjang, tinggi, dan lagi-lagi, kurus.

Ada apa sebenarnya dengan tubuh kurus dan mode? Bila melihat lukisan kuno atau foto setidaknya hingga era Marylin Monroe, bentuk tubuh wanita ideal itu adalah yang berisi dan memiliki lekuk-lekuk tubuh yang padat. Tubuh sintal Madame Bouvary, Ratu Prancis Marie Antoinette, penari penuh skandal Isadora Duncan, hingga ikon seksual Marylin Monroe pada masanya dijadikan acuan para wanita. Di awal tahun 60, Twiggy (lahir bernama Lesley Hornby) mulai menyetel tren baru dalam dunia modeling dengan tubuhnya yang sangat kurus dibandingkan dengan model-model ‘montok’ era Christian Dior.    Demam tubuh ala Twiggy pun merajalela saat film Breakfast at Tiffany beredar dan membuat para wanita ingin tampil setipis lidi bak Audrey Hepburn. Keempat persona bertubuh ‘penuh’ yang sebelumnya disebut seksi lalu berubah menjadi momok yang selanjutnya dianggap ‘gendut’.

Dalam mode, ada relevansi antara tubuh kurus (khususnya yang tinggi) dengan citra keanggunan. Dengan tubuh yang kurus, busana akan jatuh di badan dengan menciptakan efek elegan yang feminin. Setidaknya itulah citra yang dipopulerkan Audrey Hepburn dengan busana-busana simple-elegan Givenchy dan hingga saat ini selalu dijadikan referensi penampilan bersahaja sekaligus berkelas bagi pelaku industri mode dari  pembuat jam tangan Longines hingga couturier Zuhair Murad. Susan Train, mantan editor in chief Vogue Amerika dan Prancis pun mengakui figur Audrey Hepburn selalu menjadi inspirasi mode hingga kini.

Semakin Kurus

Dari era Twiggy, Ali McGraw, Lauren Hutton, hingga Jerry Hall dan Carree Otis, tubuh para model wanita semakin kurus dan mengurus. Bila sebelumnya ukuran baju nomor dua menjadi impian wanita yang ingin terlihat seperti model, ukuran baru yaitu nol pun menggantikan acuan lama. Kate Moss, Shalom Harlow, hingga yang terkini Chanel Iman mendefiniskan ‘kurus’ yang baru.

Menjadi model yang ‘terpakai’ di dunia mode memang harus tunduk pada kemauan pasar. Itulah yang terjadi saat model belasan tahun Ali Michael disuruh pulang dan kembali lagi ke agensi model DNA New York setahun kemudian untuk mengurangi berat badannya. Konon, sebagaimana yang diutarakan Fira Basuki dalam novelnya, Biru, tubuh selalu terlihat lima kilogram lebih gemuk dalam cetakan foto. Hal ini menyebabkan banyak model (dan wanita bukan model tapi mati-matian menyamai model) berusaha keras menjaga berat badannya agar selalu sesuai dengan ukuran ‘sample’ baju yang dipakai saat pemotretan atau peragaan busana.

Ada banyak cara yang dilakukan para model untuk mempertahankan kekurusannya. Dari yang benar dengan makan sehat dan berolahraga, hingga yang salah. Contohnya Kate Moss yang dikabarkan kecanduan rokok dan heroin agar tetap kurus, sementara Carree Otis menahan lapar secara berlebihan yang dikenal dengan istilah anoreksia. Carree Otis juga melengkapi penderitaannya (demi pekerjaan) dengan mengkomsumsi kokain, pil diet, hingga memuntahkan semua makanan (bulimia). Syukurlah, kini keduanya sudah bertobat atas kesalahan tersebut. Kematian model asal Brazil , Ana Carolina Reston, karena anoreksia tak hanya membuka mata dunia bahwa selain sosialisasi pola makan sehat bagi remaja dunia harus dilakukan, teori cantik itu identik dengan tubuh kurus juga harus dikoreksi.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Penutup)

Sebagian selebriti berlomba menjadi kurus seperti Keira Knightley dan Kate Bossworth. Namun ada juga yang puas dengan bentuk tubuhnya yang berisi dan merasa tak perlu menguruskan badan. Kate Winslett, Scarlett Johansson dan Oprah Winfrey adalah buktinya. Oprah yang sebelumnya mengalami kelebihan berat badan melakukan diet makan sehat untuk menghindari efek buruk obesitas seperti penyumbatan pembuluh darah dan diabetes, bukannya untuk menjadi sebatang lidi. Kate Winslett sendiri mengungkapkan bahwa ia memang tidak memiliki metabolisme yang sangat cepat seperti Victoria Beckham yang selalu kurus walau sebanyak apapun mantan personil Spice Girls ini makan. Scarlett Johansson sendiri dengan lantang menyatakan dirinya ingin mengembalikan masa-masa glamour Hollywood saat lekuk indah tubuh wanita adalah kecantikan dan sensualitas sesungguhnya. Queen Latifah yang telah menulis buku Skinny Women Are Evil pun menyatakan bahwa Anda tak perlu berukuran baju nol hanya untuk merasa cantik dan seksi.

Dan bukan berarti semua pelaku industri mode mendukung budaya ‘pengurusan’ tubuh ini. Dari komunitas disainernya sendiri, tak semuanya berusaha tampil seperti model. Miuccia Prada atau Stella McCartney tak merasa dirinya bermasalah dengan berat badan. Kritikus mode Suzy Menkes, atau editor in chief  majalah mode Harper’s Bazaar Amerika Glenda Bailey pun tak bertubuh ceking seperti Anna Wintour yang menggawangi Vogue Amerika.

Beberapa tokoh dalam dua alinea terakhir memiliki satu kesamaan. Kepercayaan diri mereka tidak berada di kulit luar yang bersifat dangkal dan sesaat seperti standar atau ukuran kecantikan yang dibuat oleh orang lain. Apabila mereka memilih menjadi kurus atau berisi, itu adalah semata-mata demi kesehatan dan kenyamanan pribadi. Kalaupun ada yang menyebutkan penampilan bergaya dan modis itu hanya bisa diperoleh dengan tubuh kurus, teori tersebut terpatahkan oleh Miuccia Prada, Glenda Bailey atau Scarlett Johansson yang selalu masuk dalam daftar wanita berpenampilan terbaik versi majalah-majalah gaya hidup. Mungkin ini juga yang menyebabkan pesohor Nicole Richie memecat Rachel Zoe, konsultan mode pribadinya. Setelah lelah didoktrin dan dipaksa membuat tubuhnya sangat kurus, Nicole merasa ini tak ada hubungannya dengan penampilan bergaya.

Kepercayaan diri. Mungkin inilah yang pertama sekali harus ditanamkan dalam diri Anda sebelum melangkahkan kaki keluar rumah dengan baju entah berapa pun nomor ukurannya. Dengan kepercayaan diri, Anda akan menampilkan semua sisi terbaik yang bisa dilakukan dengan isi lemari Anda tanpa harus menjadi budak mode yang tak paham dengan diri sendiri. Tak ada label semahal apapun yang bisa membuat Anda merasa lebih cantik selain rasa percaya diri tersebut.

FEMALE DANDIES (2010)

For Aquila Asia March 2010

Model: Monica Aziz (FRONT)
Styled by me (Muhammad Reza), photographed by Sugiarto Kwan, make up by Harry Sulistioko.

White shirt, backless vest, pants: Mango,

Signature Bowtie : Ichwan Thoha,

Shoes: Nine West,

Bracelet: Guess

The photoshoot is for Aquila Asia magazine with the theme :  edgy, funky, and funny with the braided wig to substitute the conventional headscarve. Aquila Asia is a modern moslem women magazine found in 2010 by Singaporean publisher Liana Rosnita Ridwan Beers.

Aquila Asia is the world’s first english fashion and lifestyle magazine for the cosmopolitan moslem women in Indonesia, Malaysia, Brunei and Singapore. I am in charge for editorial correspondence, obtaining information and images needed. I also did the Syle Guide section and manage Styling and Photoshoot. This is a very great experience because I was involved in many single details acquired in editorial department of a magazine.

cosmed lores

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)