YOUNG INDONESIAN DESIGNERS (2008)

Image source: Pexels

Dua perancang muda berbagi cerita. Dimuat di Bandung Advertiser, Juni 2008.

 Teks: Muhammad Reza  Foto: Pexels, Dok. Andi Saleh, Dok. Vera Alexandra Tjiam for DEAR SIR

Pertengahan tahun umumnya ditandai dengan kelulusan siswa berbagai sekolah di tanah air, termasuk sekolah mode. Para alumnui yang telah menekuni bidang rancang busana pun bergegas menciptakan eksistensinya di masyarakat. Ada yang langsung dikenal masyarakat melalui brand pribadi, ada juga yang mengawali karir dengan bekerja pada disainer atau perusahaan yang sudah mapan. Saat wisuda, tentulah orangtua mereka merasa lega karena proses pendidikan telah rampung, Namun kekhawatiran pun tentu masih dimiliki meski secuil. Akankah calon disainer ini berhasil? Berapa lama kesuksesan akan tergapai?

Tak sedikit orangtua yang meragukan masa depan anaknya yang bermimpi menjadi perancang, apalagi jika mereka merasa kemampuan ekonominya jauh dari kesan mewah bidang yang ditekuni anaknya. Dunia mode yang kerap terlihat glamor dan mewah mahal ini memang lekat dengan kalangan kelas atas. Padahal tak semua perancang busana ternama berasal dari keluarga dengan kekayaan berlimpah. John Galliano, misalnya, sempat tak memiliki rumah dan menumpang saat menimba ilmu di sekolah mode St. martin London. Christopher Bailey sendiri pun dibesarkan di perkampungan West Yorkshire di Inggris dan berayahkan tukang kayu.

Namun, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Untuk berhasill di dunia mode, bakat, keterampilan dan penguasaan bidang yang digeluti sangat berperan. Sebagaimana pernah diutarakan Muara Bagdja kepada saya, mode itu merupakan dunia pekerjaan yang kompleks dan perlu dipelajari. Mode tak hanya berkisar antara kreatifitas dan estetika pakaian-pakaian cantik dalam foto-foto di majalah dan fashion show.  Banyak talenta dan kerja keras yang dilibatkan dalam dunia ini seperti sumber daya penjahit yang harus sesuai tuntutan perkembangan zaman, strategi pemasaran, hingga efisiensi promosi tepat sasaran. Itu sebabnya, latar belakang ekonomi keluarga tidak menjadi hambatan besar bagi siapa saja yang berbakat dan ingin mewujudkan cita-cita memiliki usaha dalam mempercantik penampilan masyarakat. Di sekolah mode, para disainer masa depan tak hanya diajarkan bagaimana merancang pakaian, tapi juga menggali ilmu mengenai berbagai aspek bisnisnya.

Vera Alexandra Tjiam, misalnya. Setelah lulus dari sekolah mode Esmod Jakarta dengan spesialisasi busana pria, ia berkonsentrasi di label Dear Sir. Masa-masa penuh tantangan yang sulit dilupakannya saat menimba ilmu di Esmod adalah pada tahun ketiga pendidikan dimana mereka harus mempersiapkan koleksi kelulusan yang merupakan tugas akhir. Ia mengaku bahwa banyak rekan-rekannya yang hanya memiliki waktu sekitar empat jam sehari pada masa itu. “It was really tough,”ujarnya.

Wanita yang berdomisili di Jakarta ini juga menunjukkan seleksi alam sudah terjadi bahkan ketika masih dalam masa pendidikan. “Saat tahun pertama, ada tiga kelas di bidang yang sama. Pada tahun terakhir hanya tersisa dua kelas dan kelas yang saya hadiri hanya berjumalah dua belas siswa! Namun, pendidikannya sangat intensif. Saya diajarkan dunia mode dari a hingga z yang pada akhirnya memudahkan saya untuk siap bekerja di bagian manapun dari industri mode.”

Dear Sir by Vera Alexandra Tjiam

Di antara nama-nama perancang busana yang sedang menanjak karirnya, ada beberapa nama yang tak terdaftar di buku lulusan sekolah mode manapun. Hal ini menujmoijfnjukkan bahwa untuk menjadi seorang perancang busana yang memiliki ‘pasar’ itu ternyata tak harus selalu melalui jalur pendidikan formal. Beberapa nama disainer yang sudah termasuk berpengaruh dan tidak mengikuti pendidikan mode di sekolah formal adalah Ivan Gunawan dan Anne Avantie. Ivan Gunawan mempelajari rancang busana langsung dari pamannya; Adjie Notonegoro dengan bekerja selama lima tahun pada disainer yang pernah mendeklarasikan kebaya sebagai milik Indonesia ini. Sama halnya dengan Anne Avantie. Belajar merancang busana secara otodidak tak membuat ia berkecil hati apalagi sampai mundur dari kecintaannya pada mode.

Andi Saleh adalah salah satu perancang muda yang membangun brand busana tanpa melalui jalur formal seperti sekolah mode. Perancang busana yang pada Jakarta Fashion Food Festival 2008 kemarin menyuguhkan sarung bugis makasar menjadi pakaian yang modern ini menceritakan pengalamannya saat belajar menciptakan busana secara non-formal di Broek In Waterland – Belanda pada tahun 2002 – 2003. Ia mengembangkan skill-nya melalui seorang seniman yang membuka kelas privat dan menunjukkan padanya seni kombinasi warna, aplikasi dan pencampuran kain. Setelah bertahun-tahun memperkenalkan karyanya, ia pun mulai memiliki kalangan pelanggan sendiri, yaitu wanita-wanita matang yang feminin dan para pria berjiwa muda yang berani tampil beda. Lambat laun, ia mendapat tempat di hati banyak pencinta mode. Saat ini ia sedang mempersiapkan peragaan busana muslim Malaysia-Indonesia yang akan diadakan bulan Juli 2008. Jasanya sebagai fashion stylist pun sering diminta beberapa band baru di Indonesia .

Andi Saleh

Untuk menjadi perancang busana yang diterima di masyarakat mungkin tak melulu harus ditempuh melalui sekolah mode. Andi saleh memberikan saran kepada mereka yang ingin menjadi perancang busana, “Gali terus selera fashion Anda karena fashion itu terus berputar. Anda juga harus bisa meramu selera pasar dengan idealisme pribadi sehingga keduanya bisa bersatu dengan harmonis.” Disainer muda yang ingin segera memiliki butik dengan konsep rumah peninggalan Belanda sebagaimana yang banyak dilihatnya di Bandung ini  juga menyarankan agar mereka rajin melihat kanal-kanal mode, majalah dan internet.

Vera Alexandra Tjiam pun memiliki pesan kepada mereka yang ingin menjadi disainer. “Pastikan kalau Anda benar-benar meminati mode. Bukan hanya karena kesannya enak dan mudah. It’s not that simple to be a fashion designer, especially the good one. Banyak hal-hal rumit yang harus benar-benar dijalani dengan serius dan ini akan menyita waktu banyak. But it’s worthed. Jangan sampai putus di tengah jalan. Cari informasi mengenai sekolah mode yang bagus supaya tidak salah pilih, dan kalo memang sudah cocok, just go for it!”

RESORT WEAR – BUSANA PLESIR (2008)

Text: Muhammad Reza
Photographer: M. Shanti (untuk busana Andy Saleh), Photo : Joanne Kitten (Vogamoda), Muhammad Reza (CENTRO Fashion Festival), Published in Bandung Advertiser 2008.

Pernahkah terpikir kalau sehelai busana bisa membuat pikiran anda lebih santai seolah-olah sedang berlibur? Sebagai fashion therapy, resort wear atau busana plesir membawa energi positif dengan kesan santai yang ditampilkannya.

Asal-Usul Resort Wear

Fashion dan tekhnologi memang tak bisa dipisahkan. Kemajuan teknologi melalui penemuan alat transportasi yang semakin canggih memudahkan manusia memperluas cakrawalanya dengan berplesir ke berbagai tempat di penjuru dunia. Gaya hidup ini pun berimbas pada industri mode. Kebutuhan sandang tak lagi sekedar busana musim panas atau musim dingin, namun juga busana untuk musim liburan; resort wear.

Resort wear lahir setelah berakhirnya era Victoria dan bertahtanya raja Edward VIII. Raja Edward berpembawaan santai dan melonggarkan kerahnya saat memegang kekuasaan. Ia mempopulerkan perjalanan dengan kapal yacht-nya ke negara-negara kecil di Mediterania dan Bahama, suatu aktivitas yang tak bisa dilakukan banyak orang di masanya. Sudah jadi pengetahuan umum bila hal yang langka setali tiga uang dengan harga yang mahal. Di era Edwardian, bepergian menggelapkan kulit dengan kapal yacht di negara-negara tropis nan jauh menjadi simbol kemewahan . Ini pembuktian kalau mereka cukup mapan untuk bisa mengakomodasi liburan ke  tempat-tempat eksotis di penjuru dunia.

edward
King Edward III & Wallis Simpson

Reaksi pelaku fashion terhadap tren gaya hidup baru di masa itu tentulah tak jauh dari busana dan asesori.  Untuk kebutuhan gaya hidup baru itu pula, dirancanglah busana khusus berplesir yang fungsional; nyaman, gaya dan memungkinkan kesenangan menggelapkan kulit.

Sebelum bathing suit dilempar ke masyarakat dua dekade kemudian, para wanita hanya mencoklatkan wajah dan lengannya. Ini disebabkan norma kesopanan yang berlaku. Maka diciptakanlah resort wear yang mirip maxi dress ; berupa gaun katun longgar yang ringkas.

wallis
Wallis Simpson

Melalui evolusi fashion yang digerakkan disainer pionir Coco Chanel dan Jean Patou, serta para feminis, perempuan mulai membiarkan keliman gaunnya memendek. Hingga saat itu, gaun-gaun mini ini lebih berterima di daerah pantai walaupun di West Palm Coast ada polisi yang khusus mengawasi kesopanan busana pantai. Seiring waktu dan perubahan pola pikir masyarakat, gaun-gaun yang dibuat untuk keperluan resort ini menjadi hal yang lumrah dan selanjutnya dibawa ke ruang publik yang lebih luas. Sekarang, resort wear malah menjadi kabur maknanya karena gaya berbusana ini tak hanya terlihat di daerah wisata seperti Bali atau St. Tropez, tapi juga di mal atau kampus-kampus di perkotaan.

Resort Wear Kini

Seperti apa tampilan resort wear yang ideal? Coba lihat majalah-majalah gaya hidup luar negeri yang suka memuat foto-foto selebritas berlibur. Kimora Lee Simmons di Cannes, Elle MacPherson di Nice, atau Beyonce Knowles dan Jay-Z di St Tropez. Majalah-majalah mode sengaja mengirim juru fotonya untuk menyoroti pesohor disana. Tujuannya? Agar pecinta mode di ujung dunia tahu seperti apa tren resort wear yang sedang digandrungi.

resort centro 1
CENTRO Fashion Festival

Ada permintaan, pasti ada penawaran. Resort Wear selanjutnya memiliki tempat di blantika fashion. Koleksi busana tak sekedar musim semi, gugur, panas atau dingin. Para perancang kelas dunia melansir koleksi khusus berlibur. Ada koleksi cruise dari Gucci, Prada, dan Louis Vuitton. Gucci memperkenalkan setelan jas berbahan katun yang tipis dan nyaman. Melihat kampanye iklannya di majalah mode seperti Vogue atau W, kita yang belum paham tentu merasa heran. Masa memakai setelan jas di siang hari bolong di daerah pantai? Tapi dengan kain 100% katun dengan perforasi maksimal, tampil rapi dan elegan di tempat panas seperti ini tentulah tak jadi masalah.

Resort wear itu mengutamakan kenyamanan. Katun adalah kain yang paling cocok untuk resort wear. Katun menyerap kelembaban dan berevaporasi dengan cepat. Katun sendiri juga memberi efek dingin ke kulit sehingga tak membuat kita gerah. Intinya, tubuh bernafas dengan lega di bawah sengatan matahari. Berdasar karakteristik dan fungsinya, kain linen juga menjadi pilihan yang pas.

Tampilan resort wear melibatkan gaun-gaun tipis seperti shift dress (dress terusan mini atau selutut tanpa garis pinggang), maxi dress (dress terusan dengan rok panjang hingga mata kaki), dan tube dress (dress tanpa lengan). Gaya lain yang umum adalah pemakaian tunik, rok longgar selutut , hingga celana capri dan celana pendek. Asesoris bergaya resort banyak pilihannya. Dari sepatu saja, ada sepatu wedges (semacam selop berhak tinggi yang menyatu dengan sol), ballerina/flat (sepatu teplek), hingga sandal (dari yang elegan seperti Tods hingga casual seperti Havaianas). Untuk tas, tote bag (tas jinjing) atau straw bag (tas sandang ataupun tangan berbahan anyaman) yang berukuran besar adalah item favorit. Tas ini bisa memuat semua bawaan dari majalah, payung hingga perlengkapan renang. Topi dan kacamata hitam? Barang wajib, tentunya.

Motif kain yang digunakan pada busana-busana bergaya resort ini umumnya floral. Nuansa safari pun muncul melalui motif zebra, phyton dan leopard. Sementara pilihan warna bervariasi dari warna-warna permen yang lembut hingga warna menyengat seperti kuning lemon atau hot pink. Putih dan khaki? Selalu klasik dan tak lekang waktu.

Untuk pria, karakter resort wear pada umumnya meliputi kemeja, pullover dan blazer katun longgar yang dipadankan dengan celana pendek linen dan sepatu moccasin, sandal serta topi fedora atau trilby.

RESORT WEAR BY ANDY SALEH
Andy Saleh

Bergaya Resort Wear di Bandung?

Ya, kenapa tidak? Bersyukurlah kita yang tinggal di negara beriklim tropis. Cuacanya yang mendukung gaya ini membuat kita sah-sah saja mengenakannya sepanjang tahun. Tapi tentunya ada batasannya. Gaya ini tak selalu berterima di setiap tempat. Mal atau kafe bolehlah. Tapi beberapa ciri gaya resort wear yang sangat casual pastinya tak pantas di tempat resmi seperti undangan pesta perkawinan (gaun panjang tak selamanya resmi, lho).

Disainer Andy Saleh pernah memamerkan koleksi busana prianya yang bertema liburan di awal 2007. Ini reaksinya terhadap mumetnya kondisi sosial dan ekonomi Indonesia. Secara psikologis, busana memang mampu membentuk suasana hati kita. Sebagai fashion therapy, resort wear sangat efektif menyegarkan pikiran. Apabila anda ingin melepas penat tanpa bepergian ke luar kota, mungkin berbusana dengan gaya ini dapat diterapkan

(Terimakasih penulis ucapkan atas izin Andy Saleh dan M.Shanti untuk pemuatan foto berkaitan artikel ini.)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

24 Hours Warnet People (1st Styling Job for Hai Magazine in 2009)

First fashion spread for Hai Magazine.
Published in Hai 49th (annual edition) : 7-13 dec 2009.

edo hai 1

Look 1:

Selesai sarapan, loe nggak bisa langsung nge-gym bro… Tunggu makanan turun ke perut dulu. Paling oke nunggunya sambil browsing cara baru gedein bisep. Tapi kalau warnetnya penuh, ya silakan nunggu aja seperti yang lainnya.

Cardigan: Topman (Rp.679.000,-), High waisted cotton trainer: Zara , Sneakers: Zara (Rp.799.900,-).
Sport shoes (on the bag): Reebok (Rp.499.000,-), Sunglasses: New G(Rp.69.000,-), Travel bag (worn as a gym bag): Crysalis (Rp.329.000,-). All available at Centro Plaza Semanggi.
Plastic skull ring: Populo (Rp.525.000,-), woven leather key ring (on the bag):Populo (Rp.975.000,-).
Deep V-neck tshirt: model’s own

Look 2 & 3:

edo hai 2

Top: Siapa bilang warnet cuma buat nge-game online atau chatting? Kalau bingung dengan tugas sekolah yang harus segera dikumpul, ketik aja judul yang dimaksud di google search. Sebagian bilang kalau ini bukan nyontek, tapi cari inspirasi. Hehehe.

Grey hat: Populo (Rp.1.100.000,-), plastic skull ring: Populo Rp.525.000,-), sunglasses with black leather detail: Raf Simon (Rp.3.300.000,-), dark navy coin holder: Y3 (Rp.1.900.000,-) all available at Populo Senayan City.
Tote bag: Levi’s (Rp349.900,-), Belt: Hush Puppies (Rp.109.000,-) Sandal: Parachute (Rp.129.000), all available at Centro Plaza Semanggi.
White collared pullover: Zara (Rp.499.900), Short pants: Zara (Rp.499.000,-), military jacket: Zara (Rp.1.299.000,-)

Bottom: Facebook mendekatkan yang jauh. Termasuk mendekatkan anak-anak band yang pengen nge-top dengan calon-calon penggemarnya. Karena itu demo cd harus di-burn sebanyak-banyaknya dan selalu diupload di myspace. Lokasi parkiran warnet juga pas buat nge-jogrok bareng komunitas band lain.

Leather jacket: Zara (Rp. 1.299.000,-), shirt: .Endorse (Rp.155.000,-), Black Tshirt: Bloop (Rp.93.000), High waisted cotton trainer: Zara , silver chains as one: Topman (Rp.359.000,-).
Grey hat: Populo (Rp.1.100.000,-), plastic skull ring: Populo Rp.525.000,-), sunglasses with black leather detail: Raf Simon (Rp.3.300.000,-) all available at Populo Senayan City.
Boots: Kickers (Rp.1.229.000) available at Centro Plaza Semanggi.

Look 4: 

edo hai 3

Dimana ketemu jodoh, kita nggak pernah tahu. Tapi kalau bisa dapet lewat bantuan dunia maya, kenapa enggak. Kabarnya cewek-cewek suka kopi darat dan cowok yang romantis. Kalau bisa menaklukkan mereka dengan penampilan rapi dan wangi, siap-siap aja jadi playboy dunia online.

Blazer, shirt and short: Andy Saleh.
Grey hat: Populo (Rp.1.100.000,-), dark navy coin holder: Y3 (Rp.1.900.000,-), woven leather key ring:Populo (Rp.975.000,-) all available at Populo Senayan City.
Sunglasses: New G(Rp.69.000,-) available at Centro Plaza Semanggi.

The Cover of The Magazine Where This Fashion Spread Was Published:

edo hai cover

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

TIPS BERBUSANA SESUAI BENTUK TUBUH (2011)

(Unedited Script and Styling for Yahoo! Indonesia “STYLE FACTOR’s Tips Berbusana Sesuai Bentuk Tubuh in 2011)

Watch the video here:

 Siapa sih yang nggak mau tampil oke dengan baju apa aja yang lagi nge-tren? Bisa mengenakan busana ketat ala cheongsam seperti di koleksi Louis Vuitton tahun ini, atau ingin terlihat feminine dalam balutan gaun  babydoll Mel Ahyar Happa. Semua juga pasti mau.

Sayangnya, kita diberi tipe tubuh yang berbeda. Nggak semua jenis baju cocok kita pakai. Kalau salah pilih baju, tubuh kita bisa terlihat kurang proporsional. Nggak mau, kan? Yuk kenali tipe tubuh kita dan cari tahu jenis baju apa aja yang pas!

Kalau dilihat dari rasio ukuran badan atas dan bawahnya,  tubuh kita terbagi atas empat jenis. Ada tipe jam pasir, buah pear, buah apel dan lurus.

Kalau perbandingan ukuran dada, pundak dan pinggul kamu hampir sama, kamu termasuk wanita bertubuh jam pasir. Tipe ini  biasanya memiliki ukuran pinggang yang ramping banget.

Ada lagi tipe tubuh buah pear. Nah, kalau yang ini, pemiliknya akan punya rasio tubuh bawahnya lebih besar dari yang atas. Ukuran pinggul dan pahanya lebih besar daripada dada dan bahu.

Tipe tubuh yang ketiga; buah apel. Meski ada yang menyebut tubuh buah apel ini seperti segitiga terbalik, tapi umumnya wanita bertubuh apel memiliki bagian tengah tubuh yang lebih besar. Area pinggangnya lebih luas dibanding dada dan pinggul. Meski nggak gemuk, wanita ini bisa kelihatan gemuk bila salah memilih busana.

Tipe tubuh terakhir nih yang banyak dimiliki para model, yakni tipe tubuh lurus. Ukuran dada, pinggang dan pinggul nyaris sama. Wanita  bertubuh lurus biasanya tinggi dan berkaki panjang, serta memiliki tulang yang kecil sehingga terlihat sangat kurus.

Tipe Tubuh Jam Pasir

Kalau kamu bertubuh jam pasir, kamu beruntung banget, karena hampir semua jenis gaun bisa kamu pakai. Bisa gaun dengan rok mengembang, rok pensil yang mengecil di lutut, hingga rok midi yang mencapai betis. Mau pakai maxi dress yang menyapu lantai juga oke. Misalnya gaun bergaya cheongsam berwarna merah rancangan Andy Saleh ini. Siluetnya yang memeluk badan semakin menonjolkan lekuk indahmu.   Gaun panjang model menerawang juga cocok untuk kamu karena detilnya yang di bagian pinggang menekankan kurva tubuh yang harmoni.  (worn by model, CAPTION;ANDY SALEH]. Bila bertubuh jam pasir, kamu bisa tampil seksi dengan gaun yang pas badan dan juga tampil elegan dengan gaun gaun panjang berbahan lembut menerawang. Asesori seperti kalung tak saja membuat wajahmu menjadi pusat perhatian, tapi juga dadamu. Kalau nggak mau dadamu dilihatin, jangan kenakan asesori atau warna warna terang disana. Kamu bisa pilih gelang atau hiasan rambut sebagai asesori yang aman.

Tipe Tubuh Pear.

Banyak wanita yang kurang pede dengan tubuh berbentuk buah pear, Umumnya merasa dadanya terlihat kecil karena pinggulnya yang besar. Sebenarnya, porsi tubuh bagian atas yang lebih kecil ini justru membuat lenganmu kelihatan lebih langsing dan panjang. Apalagi rata-rata wanita bertubuh pear memiliki pinggang yang kecil. Kamu bisa pakai gaun strapless atau model kemben, bisa pakai baju berlengan pendek, atau gaun gaun dengan bahu terbuka. Untuk membuat bagian dada kelihatan lebih berisi, pilih baju dan gaun jenis baby doll. Bisa juga gaun empire line yang panjang. Gaun-gaun ini memberi aksen pada bagian dada dan membuatnya terlihat seimbang dengan pinggulmu. Coba lihat busana dengan lengan pendek dari kolesi Ichwan Thoha ini. Lengan pendeknya membuat bahumu terlihat lebih lebar sehingga seimbang dengan bagian pinggul yang lebar. Pilihlah busana yang memiliki detil dan warna cerah terutama di bagian tubuh atasnya sehingga memberi efek lebih berisi dan lebar. [worn by model, CAPTION:ICHWAN THOHA]. Kamu juga bisa memakai jaket longgar dengan motif garis-garis horizontal.

Tipe Tubuh Apel

Yang sering dikhawatirkan wanita umumnya bagian pinggang yang terlihat lebar. Sayangnya, pinggang lebar itu ciri-ciri wanita bertubuh apel. Jadi, meskipun pinggulnya lebih kecil, pinggangnya yang lebar ini membuatnya terlihat gemuk. Kalau kamu bertubuh apel, sebaiknya jangan mengenakan asesori atau detil busana yang ramai di area pinggang ini. Begitu juga dengan busana yang ketat. Itu hanya membuat pinggangmu kelihatan lebih besar. Kamu lebih cocok mengenakan busana bergaya baby doll yang longgar dan melambai dalam warna-warna gelap. Untuk menyamarkan area pinggang ini, kamu bisa pakai vest atau jaket yang longgar. [ worn by model,CAPTION; ANDY SALEH] . Daripada mengenakan asesori seperti ikat pinggang, pilih asesori seperti anting besar, sepatu high heels atau kalung yang akan mengalihkan perhatian dari area pinggangmu.

STRAIGHT

Kamu termasuki beruntung bila memiliki tubuh lurus karena kamu bisa meniru hampir semua penampilan dari panggung peragaan busana. Dengan tubuh yang lurus dan dan juga tinggi, kamu bisa pakai semua gaun dari yang panjang hingga mini, dari gaya seksi, maskulin hingga bohemian. Kamu bisa memperlihatkan kakimu yang jenjang dengan gaun mini, atau lenganmu dengan gaun strapless. Untuk membuat dada terlihat berisi, pilih gaun yang bermotif ramai atau tekstur seperti motif bunga atau gaun berbahan lace dan lipit. Kenakan juga bustier agar dada terlihat lebih berbentuk.

 [worn by model, CAPTION; ANDY SALEH]. Pilih juga warna gaun atau warna motif yang cerah supaya tubuhmu kelihatan lebih berisi.

Nah, meskipun setiap jenis tubuh memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, kita tetap bisa menampilkan yang terbaik melalui pilihan busana dan gaun yang tepat. Apapun gaya yang ingin kamu tampilkan, jadikan keseimbangan sebagai patokan. Dengan busana yang tepat, kamu akan selalu terlihat cantik, apapun bentuk tubuhmu!

Designer’s Dresses: Andy Saleh, Ichwan Thoha.

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.