MEMPERTANYAKAN KEBAYA KONTEMPORER (2008)

Saat kebaya mengalami modifikasi melalui disain kontemporer, ada yang menganggapnya melenceng terlalu jauh dari tradisi. Salahkah bila kebaya bergerak menjauh dari pakem aslinya?

Teks : Muhammad Reza, Published in Bandung Advertiser June 2008

Jauh sebelum Anne Avantie membuka mata dunia di ajang Miss Universe 2005 melalui busana kebaya yang dikenakan Nadine Chandra Winata, keindahan warisan budaya tanah air sudah mempesona dunia. Lima belas tahun sebelumnya, koleksi busana batik Iwan Tirta diliput majalah mode bergengsi seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Kain dan busana tradisional pun menjadi sesuatu yang agung. Saat kebaya mengalami modifikasi melalui disain kontemporer, ada yang menganggapnya melenceng terlalu jauh dari tradisi. Salahkah bila kebaya bergerak menjauh dari pakem aslinya?

Benarkah Kebaya itu Asli dari Indonesia?

kebaya dewi sukarno
Ratna Dewi Sukarno

Dalam bukunya yang berjudul Chic in Kebaya, Ria Pentasari menunjukkan bahwa kebaya muncul setelah kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia. Artinya, sebelumnya para wanita pribumi hanya mengenakan kain yang dililitkan dari bagian dada hingga mata kaki atau hingga betisnya. Dengan pengaruh agama dan nilai kesopanan yang dibawa penjajah, wanita pribumi pun menutup bahu dan lengannya dengan atasan pas badan yang kini kita sebut kebaya. Ensiklopedi maya Wikipedia sendiri menyebutkan bahwa kebaya berasal dari Tiongkok lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi. Sementara dalam suatu artikelnya, harian Seputar Indonesia berpendapat bahwa kebaya berasal dari bahasa arab yakni habaya (pakaian labuh yang memiliki belahan di depan).

Ketika Malaysia membuat kita emosi dengan mempatenkan batik sebagai miliknya, Indonesia langsung memeluk kebayanya erat-erat. Salah satu reaksi disainer Indonesia, yakni Adjie Notonegoro, adalah mendeklarasikan kebaya sebagai busana nasional milik Indonesia. Aksi ini dilakukan bersama Menbudpar Jero Wacik didampingi Direktur Hak Cipta Desain Industri Ansori Sinunga.

Namun, dengan bercermin pada fakta bahwa kebaya hadir sebagai asimilasi budaya luar yang masuk ke Indonesia, masih bisakah kita ‘ngotot’ kalau kebaya itu benar-benar asli Indonesia? Bagaimana jika seandainya couturier ternama seperti Zuhair Murad atau Georges Chakra membuat sepotong blus tipis pas badan berbahan lace dan berlengan panjang dengan kerah meruncing (V) lalu dihiasi gemerlap aneka payet? Bisa saja ia menyebutnya body-fitted sequined V-neck lace top. Akankah kita keberatan?

Kontroversi Kebaya Kontemporer

kebaya nadine
Nadine Chandrawinata

Anne Avantie terkenal karena disain kebaya-kebaya rancangannya yang revolusioner. Kebayanya tak seperti stereotipe kebaya klasik seperti halnya kebaya encim (kebaya yang dipopulerkan wanita peranakan Tionghoa dan bercirikan bordir di kancingnya), kebaya sunda (berkerah meruncing membentuk huruf V), atau kebaya jawa (berkutu baru dengan lintangan kain di dada). Anne Avantie mempopulerkan apa yang sekarang kita kenal dengan sebutan kebaya kontemporer. Namun, beberapa pihak menudingnya merusak keagungan kebaya. Dalam buku biografi Anne Avantie yang ditulis oleh pimred majalah Prodo yakni Alberthiene Endah, Anne memaparkan ketabahannya dalam menghadapi cobaan tersebut. Walau demikian, karya indah dan bernilai akan selalu medapat tempat di hati. Kebaya-kebaya Anne Avantie inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya kebaya kontemporer.

Untuk Bandung saja, beberapa nama mempunyai koleksi kebaya modern dan kontemporer. Kebaya GEULIS, misalnya. Salah satu pendirinya, Astri Kunto, mengakui jika kebaya modern buatan mereka banyak diminati wanita muda dan remaja. Selain Kebaya GEULIS, Drs. Uday Hidayat, seorang kolektor kebaya dan pengusaha UDAY Enterprise, juga menyediakan kebaya modern. Disain kontemporer pada kebayanya terlihat pada kerah yang beraksen bulu atau kerah besar yang mencuat keluar bernuansa couture. Lengan yang menggelembung (bishop sleeves) atau melebar dari bagian siku ke bagian pergelangan (angel sleeves) juga memberi kesegaran pada kebaya koleksinya.

uday
Kebaya Uday Hidayat

Disainer ternama dari Yohannes Bridal; Yohannes Yunarko, menganggap kontoversi seputar kebaya kontemporer ini sebagai sesuatu yang konstruktif. “Justru dengan pro dan kontra itulah kita semakin kreatif.” Menurut disainer yang akan memperoleh penghargaan MURI ke-4 melalui gaun spektakuler dari sisik ikan ini, kontroversi itu dapat dijadikan kesempatan untuk introspeksi diri. “Menyangkut tudingan kepada Anne Avantie, orang mungkin keberatan saat melihat lengan kebayanya yang tampak seperti dua potongan terpisah, ditambah modifikasi lipit atau model shanghai. Tetapi menurut saya, itu sah-sah saja. Justru nama Indonesia semakin terkenal di mata dunia karena kebaya kontemporer.”

Kebaya Kontemporer dan Tradisi

Zuhair Murad Haute Couture Dresses Spring-Summer 2007-2008 (1)
Zuhair Murad

Dengan kebaya kontemporer yang modern, generasi muda melihat kebaya melalui sudut pandang baru. Selama ini, kebaya identik dengan ibu-ibu atau berkesan kuno. Setelah meremajakan diri dengan disain kontemporer, kebaya lebih berterima di kalangan muda dan diteruskan untuk dikenakan dengan bangga sebagai identitas dan tradisi.

Menurut saya, hadirnya kebaya kontemporer justru memperkaya dunia fashion. Bila batik semakin modern dengan kehadiran batik lycra seperti rancangan Carmanita, batik eyelet (kain bertekstur dan bordir) dari label [bi], atau batik ‘anak muda’ dari Part One by Edward Hutabarat, mengapa kebaya hanya berinovasi melalui kebaya kontemporer saja? Janganlah biarkan warisan kebudayaan berupa kebaya ini hanya bisa dikenakan di kondangan saja. Kebaya pun seharusnya lebih berdaya pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Literatur: “Indonesian Garment & Apparel Directory” (1992, PT Satria Ezapariwara), “Chic in Kebaya” (Ria Pentasari), “Aku, Anugerah, dan Kebaya” Biografi Anne Avantie (Alberthiene Endah), , Wikipedia, Seputar Indonesia 28 Maret 2007, dan bisnis.com.

(Penulis mengucapkan terimakasih kepada Yohannes dari Yohannes Bridal, Drs. Uday Hidayat dan Astri Kunto atas partisipasinya berkaitan artikel ini)

Untuk saran dan pertanyaan; Email: muhammadreza_ss@yahoo.com WA: +6287877177869

Advertisements

PERANCANG DARI MASA KE MASA (PERJALANAN MODE INDONESIA) – 2009

Ditulis oleh Muhammad Reza. Diterbitkan di Majalah U,Maret 2009.

Berbicara tentang sejarah mode Indonesia bukanlah hal yang mudah. Usia kemerdekaan bangsa yang sudah 63 tahun ini tidak berarti mode Indonesia sudah berjalan selama 63 tahun. Hingga saat ini pun belum ada buku yang sepenuhnya memaparkan sejarah mode tanah air. Berbagai obrolan dengan disainer dan kumpulan tulisan dari majalah dan buku-buku yang menyinggung mode di Indonesia lah yang akhirnya bisa dijadikan sumber terpercaya.

Kapan sebenarnya mode Indonesia itu lahir? Kita dapat mengaitkan kelahiran mode Indonesia melalui eksistensi disainer lokal pertama. Setiap referensi akan mengaitkannya dengan Peter Sie yang dianggap sebagai pelopor mode Indonesia .

1950-1970

Di tahun-tahun pertama Peter Sie menancapkan mode nasional (sekitar pertengahan tahun 1950-an), ia mengaku bahwa profesi disainer belum diterima masyarakat termasuk keluarganya. Hasilnya, ia sempat dikucilkan keluarga. Ia juga tak menganggap dirinya lebih sukses secara finansial dibanding disainer-disainer masa kini. Dalam buku Inspirasi Mode Indonesia terbitan Yayasan Buku bangsa dan Gramedia, ia mengungkapkan dirinya lebih senang disebut pelopor dunia mode.

Awalnya, Peter berkonsentrasi membuat busana pria. Pesona busana bergaris A-Line (yang menyempit di pinggang lalu melebar/mengembang ke batas betis) ala New Look dari Dior-lah yang mempengaruhinya untuk beralih membuat busana wanita. Dalam mendisain busana, pria yang belajar di Vakschool voor Kleermakers-Encoupeurs Den Haag Belanda selama enam tahun sejak 1947 ini tak menyerap semua tren busana yang datang dari Eropa. Contohnya saat tren gaya ‘mod’ yang dikumandangkan Mary Quant dan Ossie Clark melanda dunia, Peter merasa rok mini itu kurang pantas untuk kebanyakan wanita Indonesia (kecuali beberapa jenis wanita tertentu seperti Titi Qadarsih). Begitu juga saat tren hippies atau daisy flower berkibar. Gaya berbusana compang-camping bak gelandangan yang tak pernah mandi ini tak menarik baginya. Alasannya, keadaan ekonomi Indonesia saat itu memprihatinkan. “Tanpa mengenakan gaya hippies juga sudah compang-camping,” ujarnya.

Kehadiran disainer seperti Peter Sie mengundang disainer lain seperti Non Kawilarang dan Elsie Sunarya. Di tahun 1960-an gaya hipster, mod, bahkan agogo yang ramai motif dan warna ala burung merak tak hanya konsumsi ibu-ibu kalangan atas Jakarta saja. Popularitas bioskop pun mensosialisasikan gaya berbusana terbaru. Masyarakat mulai mengenal peragawati seperti Titi Qadarsih dan Rima Melati. Lalu beramai-ramai mengikuti gaya rambut bersasak atau pendek ala Twiggi.

1970-1990

Dunia mode nasional mulai mengadaptasi kegiatan mode eropa. Salah satunya koreografi dalam peragaan busana. Sejak diperkenalkan Norbert Schmitt pada tahun 1969 di Eropa, koreografi untuk peragaan busana mendarat di Jakarta pada tahun 1974. Perintis nasionalnya adalah Rudy Wowor yang merupakan murid Schmitt. Pada saat itu, istilah show director dalam peragaan busana belum dikenal sehingga beliau tak saja mengatur langkah dan ekspresi sang model, tapi juga menata pencahayaan, dekorasi dan musik pengiring. “Model tak boleh goblog,” ujar Rudy Wowor kepada penulis majalah a+, Karin Wijaya. Mereka harus hafal semua langkah dan hitungan sambil menyesuaikan dengan musik kalau tidak ingin terlihat aneh. Profesi koreografer ini lalu diikuti Doddy Haykel, Denny Malik dan Guruh Sukarnoputera.

Dalam dunia jurnalisme mode, majalah wanita Femina hadir pada tahun 1972. Menurut catatan situsnya, Femina menunjukkan perhatian besar kepada dunia mode sejak edisi keduanya (bulan Oktober) melalui sebuah reportase tren mode 2003 yang ditulis oleh Irma Hadisurya. Selain menghadirkan berita mode dari pusat mode seperti Pierre Cardin, Femina pun menunjukkan apresiasi terhadap mode nasional. Terutama saat Pia Alisjahbana dan Irma Hadisurya mengusulkan Femina mengadakan Lomba Perancang Mode secara tahunan sejak tahun 1979. Dari ajang inilah hingga sekarang banyak disainer baru muncul seperti Chossy Latu, Samuel Wattimena, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy.

Sementara itu, keterbatasan kesempatan bersekolah mode atau rancang busana di tanah air tak mematahkan semangat mereka yang ingin menjadi disainer. Sebagian melanglang buana ke luar negeri. Harry Dharsono, Poppy Dharsono, dan Iwan Tirta adalah beberapa contohnya.

Boleh dibilang, Iwan Tirta cukup berperan dalam menciptakan karakter mode tanah air yang unik dan kaya tanpa mengabaikan tren mode Eropa. Kepada pengamat mode Muara Bagdja di buku Inspirasi Mode Indonesia , ia menekankan pentingnya memberi unsur barat (technical skill) dan timur (budaya) dalam busana bila seseorang ingin menjadi disainer yang diakui baik di dalam maupun luar negeri. Teorinya memang beralasan, karena Iwan Tirta terkenal hingga ke amerika dan eropa atas kepiawaiannya mengolah batik menjadi produk mode yang berdaya pakai dan modern. Tak melalui busana batik di bahan lycra saja, karyanya merambah ke luar negeri berupa piring bermotif batik saat bekerjasama dengan Royal Doulton. Bahkan disainer sekelas Pierre Balmain pernah meminta izin Iwan Tirta untuk meniru ide sarung rancangannya. Busana-busana Iwan Tirta juga pernah diliput majalah mode internasional Vogue.

Dalam hal high fashion, Harry Dharsonolah yang pertama kali memperkenalkan citarasa tersebut di tanah air pada tahun 1974. Ia lulusan beberapa sekolah termasuk Ecoles de Beaux Arts Paris dan Fashion Merchandising and Clothing Technology di London School of Fashion. Harry tak sekedar merancang busana, ia juga pebisnis handal. Kondisi industri tekstil nasional yang hanya memproduksi polyester saat itu mengharuskannya mendatangi Three Golden Cups, produsen sutra di Shanghai China . Kontribusi Harry Dharsono di panggung mode internasional ditandai pada tahun 1978 ketika rumah-rumah mode bergengsi seperti Carven, Louis Ferraud, Azzaro de Ville dan Lanvin membeli disain-disain tekstilnya. Meski sukses di luar negeri, Harry Dharsono tetap berkiprah di tanah air. Ia membuka Batik Keris dan merancang seragam untuk perusahaan seperti Bank Mandiri, Bali Air dan maskapai penerbangan Australia Anzet.

Hadir pula nama-nama disainer yang menjadikan warisan tekstil bangsa sebagai inspirasi karyanya. Sebutlah Samuel Wattimena, Ghea Panggabean, Edward Hutabarat dan Carmanita. Ghea mempopulerkan kain tradisional seperti kain lurik dalam model pakaian modern seperti kulot dan waistcoat. Ada pula koleksi lain seperti jumputan. Sementara itu. Carmanita mengembangkan batik di bahan jeans dan lycra. Keduanya mencintai dan menganjurkan pemakaian kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

1990-2008

Tahun 1990-an ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya, kemudahan masyarakat mengakses informasi mode dari luar negeri menyebabkan kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini terasa pada karya disainer-disainer yang naik daun di tahun 1990-an. Sebastian Gunawan, misalnya. Setelah menggelar koleksinya yang terdiri atas ballgown dan aneka payet, manik dan kristal, demam kemewahan ala selebritas Hollywood pun mewabah. Kemewahan ini juga terasa melalui gaun-gaun Biyan, Arantxa Adi, Adjie Notonegoro dan Eddy Betty. Hingga akhir 1990-an, persaingan untuk mendapatkan tempat di hati para pecinta mode semakin ketat diikuti semakin banyaknya nama-nama baru, apalagi dengan kehadiran sekolah mode franchisee seperti Esmod dan Lasalle.

Di tahun 2000-an, mode Indonesia semakin kaya akan ide dan inspirasi. Setiap disainer memiliki ciri tersendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana-busana mereka yang sangat bernafaskan seni. Ada juga yang sukses mensosialisasikan busana tradisional sebagai busana modern seperti Edward Hutabarat dan Anne Avantie. Beberapa meraih penghargaan melalui event seperti Indonesian Mercedes Benz Fashion Award dan Harper’s Bazaar fashion Concerto. Ada pula yang ditampilkan melalui film seperti busana Tri Handoko, Sebastian Gunawan dan Didi Budiarjo yang dikenakan Aida Nurmala dalam film Arisan. Namun, ada juga yang lebih sukses di luar negeri seperti Farah Angsana di Paris atau Mardiana Ika dan Ali Charisma di Hongkong.

Dunia mode semakin dinamis. Modeling tak lagi didominasi para pemenang kontes wajah sampul seperti Cover Boy/Girl majalah MODE atau Gadis Sampul. Saat Kintan Oemari dan Ratih Sanggarwati harus jauh-jauh mengetuk pintu-pintu agensi model di Italia beberapa tahun sebelumnya, agensi model internasional seperti ELITE Models mendatangi Indonesia di tahun 1996. Maka terpilihlah Tracy Trinita (pemenang Cover Girl majalah MODE 1995) dan melengganglah ia di panggung peragaan Yves Saint Laurent bersama Naomi Campbell. Agensi model lokal pun disibukkan dengan berubah-ubahnya selera pasar. Terkadang, wajah kaukasia digandrungi sehingga tren model ‘impor’ pun hadir. Pernah pula wajah-wajah oriental menjadi pujaan. Dan saat Alek Wek menghias majalah mode internasional, wajah-wajah dari timur Indonesia pun menghiasi peragaan busana lokal.

Semakin dibutuhkannya berita mode di media mengukuhkan beberapa nama pengamat mode nasional. Muara Bagdja dan Samuel Mulia adalah dua nama yang cukup dihormati atas opini dan kritik mode mereka. Tak ketinggalan barisan penulis mode yang sibuk menganalisa mode mancanegara dan dalam negeri seperti Syahmedi Dean, Ai Syarif, Boedi Basuki, Regina Kencana dan Karin Wijaya. Dan hingga saat ini dua majalah gaya hidup lokal yang menyajikan informasi mode terbaik adalah Harper’s Bazaar Indonesia dan majalah a+.

Kisah perjalanan dunia mode tanah air rasanya tak cukup dimuat dalam kurang dari limaribu karakter program word. Namun dari beberapa gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa melihat perkembangan yang ada di dunia mode nasional. Dan tanpa kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno 63 tahun silam, sejarah mode Indonesia mungkin tidaklah seperti yang telah dipaparkan.

Scan0083

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.