BEAUTY IN DECADES

Text by Muhammad Reza, Images Source: Pixabay.com, Unsplash.com.

Standar cantik terus berubah  seiring dengan berjalannya waktu. Apakah anda merasa tidak cantik? Jangan kecil hati, karena siapa tahu wajah dan tubuh anda ternyata tergolong sempurna untuk dekade lampau atau dekade masa datang!

(Dimuat di majalah CLARA edisi November 2009, halaman 20-25)

Banyak yang bilang cantik sangat relatif. Bisa saja lelaki yang sedang mabuk kepayang mengatakan kekasihnya yang paling cantik. Namun, kalau orang sekitar menganggap sang pujaan hati biasa-biasa saja, lain cerita. Demikian pula standar kecantikan di dunia mode. Bisa saja tetangga mengernyit dahi melihat Lara Stone menjadi model iklan Chloe. Kok bisa perempuan cungkring berwajah murung dengan cara jalan yang aneh itu dipercaya untuk ‘jualan’?

Bagaimanapun juga, keindahan fisik ideal dalam dunia mode memang menyerupai busana itu sendiri. Ia memiliki masa jayanya. Kalau sempat ada tren celana cutbray dan sepatu platform di dunia mode, maka ada pula tren wajah ‘aneh’ dan wajah ‘boneka’ di ranah kecantikan. Keduanya sama saja. Tren dan standar ini terus berevolusi. Mengapa saya sebut berevolusi, karena ia selalu merujuk ke masa lalu namun dikemas secara baru dengan sedikit permak disana-sini.

1900 THE GIBSON GIRLS

Ketika disainer seperti Paul Poiret atau Madelaine Vionnet ingin menampilkan busananya, para aristokratlah yang menjadi model. Wanita bangsawan ini membeli baju buatan mereka, mengenakannya di depan masyarakat, dan begitulah publikasinya. Kalaupun sebuah peragaan busana diperlukan, tetap saja para perempuan ningrat yang menjadi model. Setelah itu, datanglah hartawati asal Amerika bernama Camille Clifford yang menjadi ikon kecantikan masa itu. Ia dijuluki “Gibson Girl” karena menyerupai ilustrasi mode buatan Dana Gibson. Matanya besar dengan tatapan sayu. Bibirnya mungil dan tipis seperti boneka. Di tangan illustrator Dana Gibson, wanita ini tampil dengan wajah tak berdosa dengan rambut menggelembung berkat hairpad. Tubuhnya pun menyerupai jam pasir melalui bantuan korset. Make up mencolok dihindari karena dianggap vulgar.

Victorian Beauties
Victorian Beauties

 

1920-1930 GARCONNE A LA CHANEL

Perang dunia tiba, ekonomi memburuk, dan hidup pun prihatin. Banyak wanita terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena sang suami berangkat ke medan perang. Tak ada lagi gelung rambut. Tak ada hairpad. Rambut dipotong pendek. Tersebutlah nama Louise Brooks dengan potongan rambut bob legendarisnya yang pendek dengan poni. Tatapannya tajam dan percaya diri, menunjukkan kemandirian wanita di masa itu. Tidak seperti Gibson Girl yang lugu dan gemulai. Emansipasi wanita di masa ini mengakibatkan wajah-wajah cantik yang tegas dan cenderung maskulin menjadi pujaan. Cantik itu tak lagi sayu melempem.

Louise Brooks
Louise Brooks

Antusiasme dan gairah hidup terpancar melalui sorot mata ikon ini yang langsung diikuti aktris dan model berwajah serupa. Saat itu wanita ingin terlihat seperti anak laki-laki. Kalau wajah tak bisa diubah, dandanan dan potongan rambut bisa. Wanita pun beramai-ramai memotong pendek rambutnya yang dikenal dengan potongan Eton.

Payudara dibuat rata. Wanita mulai mengurangi makan karena tubuh sintal tak lagi in fashion.

Tren wajah kelaki-lakian ini tak bertahan lama setelah keadaan pasca. Luka perang mulai terlupa. Wanita kembali merias diri. Tren flapper dan jazz age pun muncul. Joan Crawford memoleskan riasan habis-habisan. Bibir tipis bergincu jadi idaman. Lalu ada Gloria Swanson yang menipiskan alisnya sampai habis. Louise Brooks makin jaya bersama gaya jazz dan Jean Harlow mempopulerkan rambut pirang yang dicat warna platina.

Joan Crawford
Joan Crawford

1930-1940 THE GLAMOUR ERA

Semua harus sempurna. Jika lahir tak sempurna, operasi plastik jadi jawabannya. Dunia mode pun berkibar sejajar dengan popularitas dari dunia film. Aktris Hollywood-lah standarnya. Cirinya; rahang agak keras, hidung mancung mengecil, dan gigi yang rapi. Meski bukan yang pertama, ada dua nama besar yang menjadi ikon kecantikan masa itu. Marlene Dietrich dan Jean Harlow. Marlene terkenal karena alisnya yang dibentuk tipis dan tinggi dengan sempurna dengan mata sayu bersorot sendu. Meski terkesan tak normal, alis tipis ini ditiru semua wanita. Alis tebal tak lagi cantik dan dianggap ketinggakan zaman. Sementara, Jean Harlow menyebar demam rambut pirang yang dicat peroksida. Wanita pirang dianggap lebih lembut dan cantik, terutama saat mengenakan gaun malam warna putih yang saat itu sempat populer.

Veronica Lake
Veronica Lake

Lagi-lagi wanita harus kembali bekerja mengganti suami saat Perang Dunia (PD) II. Namun, apa daya, telanjur terbuai keindahan Hollywood, wanita tidak mau tampil maskulin seperti saat PD I. Tak peduli krisis, aktris Veronica Lake mengembuskan standar kecantikan baru. Wanita bisa tampak tangguh dan feminin sekaligus. Rambut panjang yang dibelah dua dan salah satu sisinya menutupi setengah wajah berkesan misterius. Namun, tak berapa lama, ia diminta mengganti gaya rambutnya. Ternyata, banyak buruh wanita yang mengalami kecelakaan gara-gara ingin cantik seperti Veronica. Mulai dari tersandung, tertabrak, atau salah satu sisi rambutnya tersangkut di mesin pabrik. Ada-ada saja.

 

1950-1960 NEW LOOK-NEW BEAUTY

Seusai perang dunia ke dua, keadaan ekonomi meningkat.Berlimpahlah makanan yang disajikan di rumah-rumah. Tubuh wanita menjadi seksi. Mereka juga lebih bergairah dalam hidup. Ultrafeminin menjadi suatu kata yang mencerminkan kecantikan di masa itu. Wajah persegi sudah basi, diganti dengan wajah tirus. Bibir merah, eyeliner hitam, serta alas bedak netral disapu blush on merah menghias wajah setiap wanita saat itu.

Tapi pada kenyataannya kecantikan di era saat itu terbagi dua: seksi dan elegan. Ada kelompok wanita cantik nan montok seperti Marilyn Monroe, Jayne Mansfield. Namun ada juga kelompok wanita langsing yang ogah mengumbar lekuk tubuhnya seperti Audrey Hepburn dan Grace Kelly. Mereka lebih memilih tampil cantik anggun. Bukan panas merangsang. Audrey dikenal dengan tatanan rambut berponi di atas alis tebal dan bola mata yang besar. Sementara Grace Kelly menjadi standar kecantikan yang anggun dan santun.

Namun, semua ini tiba-tiba sirna saat di dekade ’60-an Twiggy muncul. Menurut saya, Twiggy bisa dikatakan sebagai cikal bakal kecantikan edgy masa kini. Bernama asli Lesley Hornby, Twiggy menyegarkan dunia mode dengan wajah dan tubuhnya yang menyerupai anak-anak. Matanya besar. Kontras dengan badannya yang kurus kecil. Cantiknya tidak biasa dan cenderung aneh. Citra wanita dewasa yang ditampilkan era new look jadi terlihat tua. Twiggy membuat jutaan wanita diet mati-matian untuk menyerupainya.

 

1970 BOHO BEAUTY VERSUS DISCO GLAM

Bosan bermain di dunia kanak-kanak, kecantikan kembali ke kodrat asalnya; wanita dewasa. Selama sedekade lebih ini, berbagai persoalan politik, sosial dan gender mewarnai hidup masyarakat. Masyarakat mulai hidup sederhana dan memaknai kehidupan. Daya tarik boho menjadi karakter kecantikan. Sensualitas tak lagi sekedar dada besar atau lekuk pinggul aduhai. Sensualitas lebih pada misterius dan kemandirian. Penandanya rambut panjang terurai alami, poni hampir menutup mata dengan make up tipis seadanya.

Francoise Hardy, Marianne Faithfull, Jean Shrimpton dan Jane Birkin menggambarkan itu semua. Cantik pun tak harus sempurna seperti era Hollywood. Si Prancis Francoise Hardy, Brigitte Bardot dan Catherine Deneuve memicu demam chic et coquette. Inggris pun mengekspor Jane Birkin – dengan gigi kelincinya – yang membuat Hermes terpesona dan membuat tas dengan namanya.

Sophia Loren
Sophia Loren

Sementara dari Italia, Sophia Loren dan Gina Lollobrigida mempertahankan kemolekan tubuh dan wajah seksi yang tak kemayu. Ini ditandai dengan eyeliner tebal yang tegas, bibir ranum yang merah, dan tulang rahang yang keras.

Tak berlama-lama dengan kesederhanaan hidup, wanita kembali berpesta. Studio 54 mengangkat kembali kesan glamour secara tak sengaja. Diane Von Furstenberg, Diana Ross, Tina Chow dan Jerry Hall menjadi ambassador kecantikan modern. Gincu merah, tata rias warna-warni dan berkilat serta rambut terurai ke samping adalah dandanan wanita yang dianggap cantik saat itu.

Era ini juga menampilkan kecantikan maskulin yang hadir melalui Grace Jones. Jika Diana Ross seorang wanita kulit hitam yang kemayu bak Putri Solo, Grace Jones kebalikannya. Tulang pipinya tinggi, rahangnya keras dan perawakannya perkasa bak lelaki. Bicara tentang wanita berkulit hitam, majalah mode Vogue pertama kalinya memasang model kulit hitam pertama di sampul majalahnya. Dialah Beverly Johnson. Meski berkulit gelap, namun tak sepenuhnya muncul dengan wajah tipe negroid. Masih ada garis-garis kecantikan kaukasia di wajahnya. Tampaknya, standar kecantikan masih mengacu pada ras kulit putih.

Farrah Fawcett
Farrah Fawcett

Di dekade ini muncul tipe kecantikan baru yakni sporty beauty yang ditandai dengan tubuh tinggi atletis serta kulit kecoklatan seperti milik Farah Fawcet, the original Charlie’s Angels.

 

1980-1990 SUPERMODEL VERSUS EDGY BEAUTY

Disinilah para model menancapkan standar kecantikan dalam dunianya. Supermodel tak sekedar profesi, namun juga kepribadian. Tubuh tinggi atletis dengan dada dan bokong sempurna adalah ciri utama supermodel. Wajahnya pun tegas dan berkarakter. Cindy Crawford, Claudia Schiffer, Christy Turlington, Naomi Campbell, Nadja Auermann, Eva Herzigova, dan Linda Evangelista adalah beberapa diantaranya. Mereka layaknya boneka Barbie dalam wujud manusia secara sempurna. Banyak orang tertarik akan peragaan busana hanya untuk melihat penampilan supermodel sehat ini.

Kate Moss
Kate Moss

Di awal tahun ’90-an pesona seluruh supermodel menjadi terancam dengan penemuan Storm Management, Inggris. Ialah Kate Moss yang “mengacaukan” standar kecantikan sebelumnya. Kesempurnaan glamazon supermodel terusik oleh kekurusan dan bentuk muka Kate Moss yang aneh. Tingginya hanya 168cm, jauh di bawah Claudia Schiffer yang bertinggi badan 180cm. Hidungnya pun bengkok. Sorot matanya kuyu seperti kurang gizi. Kekerempengan dan keanehan Kate Moss berbuntut dengan kehadiran wanita-wanita sejenis dirinya. Bosan dengan supermodel yang sempurna, dunia mode mencari kecantikan yang jauh dari klasik. Maka melejitlah model Shalom Harlow dengan tatapan alien, Esther Canadas yang kekurusan dan keanehan wajahnya mengingatkan kita pada E.T. hingga Carmen Kass dengan kecantikan maskulinnya. Masih diikuti dengan rombongan model kerempeng seperti Trish Goff, Kristen Mcmenamy, dan Karen Elson. Di era ini, cantik sama dengan kurus.

 

STANDAR YANG CEPAT BERGANTI

Bosan dengan wajah kurus, dunia mode mencari wujud kecantikan baru. Pilihan jatuh pada Gisele Bundchen. Tinggi dan kurus namun “penuh” di dada dan bagian bokong. Model baru asal Brazilia ini menjadi standar kecantikan baru. Saya ingat sekali, kecantikan tipe ini dikenal dengan sebutan Brazilian Curve. Apalagi saat itu dunia sedang keranjingan dunia latin bersama Ricky Martin, Jennifer  Lopez dan Enrique Iglesias. Standar ini lalu diikuti versi internasionalnya seperti Karolina Kurkova, Heidi Klum, Molly Sims. Namun selera cantik ini semakin cepat berganti.

Heidi Klum
Heidi Klum

Giliran edgy beauty naik ke permukaan, tapi tidak seaneh pendahulunya. Muncul nama besar seperti Gemma Ward. Sejak menjadi cover model termuda majalah Vogue di September 2004, gadis Australia berusia 16 tahun ini memegang kendali. Cantik berarti kulit putih mulus bak porselen, wajah kenakan-kanakan dengan mata bundar, bibir penuh, dengan tubuh kurus dan tinggi menjulang. Mirip boneka! Boneka-boneka lainnya seperti Devon Aoki, Lily Donaldson, Natalia Vodianova hingga Hana Soukupova menguatkan standar baru kecantikan ini. Mereka semua mempunyai ciri yang sama: wajah kanak-kanak tak berdosa.

Tidak lama setelah itu wajah boneka kanak-kanak ini langsung berganti dengan versi dewasanya. Masih bernuansa boneka namun lebih dewasa dan “dingin” seperti Daria Werbowy dan Jessica Stam. Yang menarik disini adalah para model tersebut tampil dengan wajah dan bentuk tubuh yang hampir seragam sehingga sukar dibedakan satu dengan yang lainnya, berbeda dengan era supermodel dimana tiap mereka memiliki tampilan unik yang individual.

Untung hal tersebut berlalu dengan terangkatnya model yang tampilannya unik seperti Agyness Deyn serta model kulit berwarna seperti Chanel Iman, Jourdan Dunn dan Sesilee Lopez. Anything goes!

Standar kecantikan Hollywood abad 21 beda dengan dunia fashion yang standarnya seragam karena di Hollywood semua terwakili, mulai dari kecantikan aristokratik dengan kulit pucat, tubuh tinggi langsing dan rambut blonde seperti Gwyneth Paltrow dan Nicole Kidman, kecantikan yang sporty dan casual dengan rambut yang bebas, lepas, kulit kecoklatan dan tubuh atletis seperti Jennifer Aniston, kecantikan khas asia seperti Lucy Liu, kecantikan khas wanita latin yang eksotis dengan rambut kecoklatan, kulit keemasan dan tubuh berlekuk liku seperti Jennifer Lopez dan Salma Hayek, kecantikan khas wanita afrika seperti Beyonce dan Halle Berry, rasanya semua jenis kecantikan terwakili oleh para bintang Hollywood.

Namun, tetap saja, jika mengacu pada Hollywood , the golden ticket of beauty di dekade ini adalah bibir sensual macam Angelina Jolie, rambut subur dan berkilau seperti milik Jennifer Aniston, dada penuh seperti Mariah Carey, pinggang mungil seperti Vanessa Hudgens, ditambah dengan senyum cemerlang bagai Julia Roberts dan gigi putih berkilau bagai gigi Halle Berry. Jika itu tidak bisa anda dapatkan secara alami, maka itu semua bisa anda beli dengan harga yang pantas tentunya. Jika wajah dan tubuh anda tidak termasuk kategori seperti itu, well, jangan cemas karena siapa tahu di decade berikutnya struktur wajah dan tubuh andalah yang akan dianggap ideal!

FILOSOFI DAN 9 TIPS BUSANA ANAK-ANAK (2008)

Text & Photos: Muhammad Reza. Published in Bandung Advertiser July 2008

Siapa yang tak ikut senang melihat gembiranya anak-anak saat bermain bersama teman-teman atau sanak saudaranya?  Namun ,terkadang kening ini bisa mengernyit saat memperhatikan hasil dandanan sang ibu pada anaknya, terutama anak perempuan. Sedikit heran saja kalau memperhatikan anak-anak perempuan, baik yang masih balita hingga usia pra remaja (kurang dari limabelas tahun),  berpakaian layaknya perempuan seusia ibunya. Atasan halter ketat? Rok mini berbahan kulit? Kitten heels? Apa yang dipikirkan sang ibu saat mendandani peri kecil ini? Tanpa berniat mengkritik (apalagi menghakimi), izinkanlah saya berbagi saran. Saya yakin, para ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi putera-puterinya, termasuk dalam hal berbusana.

filosofi2

Christian Lacroix pernah berkomentar kepada majalah W. Menurutnya, sebagian besar inspirasi perancang banyak dipengaruhi pengalaman visual saat kanak-kanak. Pengalaman inilah yang menjadi fondasi ‘citra’ busana-busana rancangan mereka. Sebagaimana Gianni Versace yang selalu menciptakan kesan glamour dan seksi berkat masa kecilnya yang terbiasa mengagumi dandanan para pelacur di lingkungan tempat tinggalnya, atau Vivienne Westwood yang ‘memberontak’ dengan gaun-gaun inovatif dan tak lazim yang terinspirasi pengalamannya sebagai bagian komunitas punk di masa remaja.

Menurut saya, opini Christian Lacroix ini pun berlaku pada masyarakat pengguna produk mode awam seperti kita. Sadar atau tidak, gaya dandanan Anda saat ini dipengaruhi sosok-sosok yang Anda kagumi di masa kanak-kanak dan pubertas. Yang mengidolakan Lady Diana mungkin akan mengadopsi gaya sederhana dan anggun dari mantan calon ratu Inggris ini. Sementara pengagum Kate Moss akan setia dengan paduan busana ekletik dan bohemian. Penggemar Madonna? Tentunya cenderung mengikuti filosofi dandan sang material girl yang seksi, trendi, dan berani tampil beda.

Coba lihat idola anak-anak Anda saat ini. Siapa yang selalu merajai hatinya? Apakah Carrie Underwood yang relatif sopan dan aman dari cercaan para fashion police? Atau Britney Spears yang sangat kreatif dalam melangkahi semua aturan berbusana hingga terlihat vulgar dan tak lazim? Mungkin terdengar klise, namun secara psikologis, gaya berbusana tak sekedar copy-paste dari panggung peragaan mode ke lemari baju. Gaya berbusana pun merupakan kombinasi reka ulang secara tanpa sadar dari persona yang meinginspirasi di masa kecil dan bagaimana orangtua membiasakan (baca:mendidik) anak dalam memilih baju yang pantas untuk dikenakan ke luar rumah.

filosofi1cover

Beberapa hal dasar yang penting untuk diingat dalam memilih baju anak-anak adalah sebagai berikut.

  1. Utamakan kesopanan. Anda harus membiasakan anak-anak menjaga kesopanannya dalam berpakaian. Memakai kaus singlet atau hot pants mungkin sah-sah saja di dalam rumah, namun jangan biarkan ia membiarkan sebagian kulitnya telanjang saat bepergian. Meskipun masih kecil, ia harus dilatih untuk menutupi bagian tubuh yang suatu saat akan menjadi daya tarik seksual.
  2. Perhatikan bahan pakaian. Katun, linen, wol dan bahan-bahan natural lainnya paling sesuai untuk mereka karena menyerap keringat dan memudahkannya bebas bergerak. Jauhkan anak-anak dari bahan sintetis seperti lurex atau nilon yang hanya membuatnya gerah karena proses penguapan keringat terhambat.
  3. Ceriakan penampilan mereka.  Simpan warna-warna gelap seperti merah marun atau hitam di lemari. Semburkan keceriaan melalui warna pastel dan vibran seperti kuning, biru langit atau merah jambu. Bila ingin anak-anak ‘menjadi lebih lembut’, kenakan baju-baju berwarna pastel. Percayalah, mood  mudah terpengaruh oleh warna.
  4. Dandani mereka sebagai anak-anak. Beberapa produsen busana anak menerapkan model pakaian orang dewasa pada anak-anak seperti rok kulit ketat atau boots berhak tinggi. Jangan biarkan pakaian seperti itu menyetuh kulit tubuh anak anda! Apalagi memakaikan kosmetik. Berdandan jauh lebih muda atau lebih tua dari umur sebenarnya adalah fashion faux pas yang umum.
  5. Waspadai ornamen pakaian anak. Model-model sederhana seperti kaus oblong, celana denim, kapri, celana pendek, kardigan dan jaket bisa menjadi bergaya dengan detil-detil unik seperti renda, sulam atau pita. Hati-hati terhadap detil yang ‘berbahaya’ seperti manik-manik atau studs bisa melukai kulitnya atau tertelan.
  6. Tak perlu menghamburkan uang untuk busana anak-anak yang terlalu mahal. Tubuh anak-anak berkembang dan alangkah sayangnya bila dalam waktu singkat jaket dan kardigan kasmir yang mahal itu tak terpakai lagi. Konsep investasi demi pemakaian busana dalam jangka panjang  lebih cocok diterapkan setelah  dewasa.
  7. Sediakan setelan suit katun untuk anak laki-laki atau gaun berlengan dengan bahan mewah seperti sutra atau sifon untuk anak-anak. Mereka membutuhkannya untuk menyeimbangi penampilan anda di undangan pesta yang resmi.
  8. Aksesori yang wajar. Anak-anak sebaiknya tak usah banyak mengenakan asesori, apalagi perhiasan logam mulia dan batu permata. Biarkan teddy bear menjadi asesori sekaligus teman bermain mereka.
  9. Kenalkan kualitas pada anak-anak, bukan merk. Mengenakan produk fashion bermerk dengan pertimbangan jaminan kualitas memang dianjurkan, namun jangan tanamkan kepercayaan diri dan gengsi anak melalui benda-benda bermerk. Hal itu justru akan membuat dirinya menjadi korban mode saat besar nanti. Tanamkan konsep apresiasi terhadap kualitas produk fashion bermerk pada anak-anak, bukan untuk mengasosiasikan citra dirinya pada benda bermerk.

Anda tentu memahami bahwa mode adalah bagian dari gaya hidup yang mencerminkan budaya. Oleh karena itu, berikanlah gaya hidup yang wajar dan sehat sekaligus tanamkan budaya yang bermartabat bagi anak-anak Anda melalui caranya berbusana sejak dini.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan whatsapp : +6287877177869

MODE EKOLOGI (ECO-FASHION) – 2008

Published in Bandung Advertiser 17-25 Maret 2008, Text: Muhammad Reza, Photos: After Midnite Bag by Vilia Ciputra, Joanne Kitten (VOGAMODA), Dok. Rudy Liem, Rebecca Ing, Muara Bagdja.

Saya pernah memuji motif floral super meriah pada rok longgar bergaya hippie yang dikenakan tetangga. Ia tertawa dan menjawab, “Kan lagi tren eco-fashion, bow…” Menurutnya, eco-fashion itu sekedar mode yang bertema dedaunan dan bunga yang ‘menghijaukan’ mata. Padahal tidak seperti itu. Eco-fashion atau mode ekologi secara umum berhubungan dengan usaha melindungi kelestarian alam, tak hanya melalui pakaian kita.

joannekitten vogamoda
Joanne Kitten (Vogamoda)

Apa dan Mengapa Mode Ekologi?

Rebecca Ing, disainer yang beberapa waktu lalu dengan romantis memadukan sutra dengan tenun Pekalongan, berkomentar mengenai eco-fashion. “Eco-fashion menggunakan bahan ramah lingkungan seperti serat alami atau bahan yang dapat di-recycle dan melalui proses produksi yang dapat dipertanggungjawabkan seperti kondisi kerja yang baik.” Dalam eco-fashion, Rebecca Ing menegaskan kalau model pakaian tersebut tetap gaya.

Pengamat mode nasional Muara Bagdja, memadankan istilah eco-fashion dengan mode ekologi. “Menurut saya, isu terbaru mode ekologi bukan sekedar memakai bahan pakaian alami atau sekedar simbolisasi dengan memakai warna hijau. Isu terbaru mode ekologi di dunia adalah produk mode itu memakai bahan pakaian dari serat organik. Pembibitan pohonnya tidak melalui proses rekayasa genetika atau penggunaan bahan kimia seperti pestisida maupun fungisida. Dan juga, produk mode itu peduli lingkungan sosial; upah layak, tenaga kerja tidak di bawah umur, dan kondisi kerja yang nyaman.” Demikian komentar pria yang tak hanya terkenal melalui kontribusinya di halaman mode majalah terkemuka seperti a+, dewi, atau Cosmopolitan, namun juga mengkoordinir berbagai fashion event dari peragaan busana Oscar Lawalata hingga Mercedez-Benz Asia Fashion Award.

Tahukah Anda bila sehelai pakaian yang dikenakan hari ini mungkin menyukseskan semakin hancurnya ekosistem alam? Lihatlah kapas sebagai contoh. Jangan dikira kapas itu tumbuh alami dengan warna putih bersih. Dari semua kapas yang ditanam, hanya sedikit yang berwarna krem bersih, sisanya mungkin cacat atau kotor. Karena itulah, untuk mendapat warna yang baik dan mempercepat pertumbuhan, industri kapas banyak mencampur pestisida  yang tak hanya merusak kesuburan tanah, namun meracuni para pemetik kapas dan lingkungannya perlahan-lahan. Belum lagi dalam mendapatkan warna yang sesuai, kapas itu dicelup dengan bahan kimia yang beracun.

Kehadiran bahan pakaian sintetis seperti polyester dan nylon pun unjuk gigi sebagai aktor perusak alam. Disainer tas After Midnite, Vilia Ciputra, memaparkan keperkasaan nylon yang dalam proses produksinya melibatkan nitrooksida. Nitrooksida sendiri adalah gas berkekuatan 310 kali lebih kuat daripada karbondioksida dalam menyebabkan pemanasan global.

Mode Ekologi di Indonesia

Kalau di pentas mode dunia, sudah banyak nama dan label yang menerapkan mode ekologi. Levi’s misalnya. Ia baru melansir Levi’s Eco, yakni produk 100% kapas organik. Stella McCartney lain lagi. Ia memperkenalkan produk kosmetik berupa krim pelembab organik yang dinamai Care by Stella McCartney. Sementara disainer Katharine Hamnett membuat tas jinjing yang terbuat dari 100% katun organik dan dicetak dengan tinta berbahan dasar air. Ada pula Giorgio Armani yang menggunakan bambu dan rami.

Bagaimana dengan mode ekologi di Indonesia? Muara Bagdja menganggap mode ekologi belum terlalu diperhatikan walau ada beberapa nama yang mulai kembali memakai bahan serat alam seperti sutra. Tuti Cholid (disainer asal Bandung) dan beberapa perajin batik di Yogya, misalnya.

“Di Bandung sendiri, mode ekologi sudah mulai dilakukan namun belum booming dan membudaya,” ujar Rebecca Ing yang menanggapi mode ekologi secara positif. Mode ekologi juga diterapkan disainer Rudy Liem. Lihat saja gaun rancangannya dari sutra alami warna-warni dengan lipit, atau penggunaan detil bermacam payet alami termasuk bambu pada gaun tulle yang ringan melayang.

Sementara di Jakarta, kalangan muda pun sudah memperhatikan mode ekologi. Lihat saja beberapa koleksi tas tangan After Midnite. Label tas tangan wanita terkini yang ikut meramaikan Bali Fashion Week 2007 kemarin. Vilia Ciputra, disainernya, selalu mengusahakan agar proses pengeringan dan pewarnaan tas berbahan natural ini berdampak kecil terhadap lingkungan. Ia sendiri mengagumi batik ‘daur ulang’ rancangan Ramadani A dari Yogyakarta yang memaknai mode ekologi.

Mode Ekologi Sebagai Solusi Pemanasan Global

“Mode ekologi dapat dianggap sebagai reaksi dari pemanasan global dan bencana alam,” tutur Vilia Ciputra. Ia menambahkan bahwa industri fashion bertanggung jawab dan berusaha melakukan perubahan dengan meningkatkan kesadaran akan lingkungan dengan menerapkan mode ekologi sebagai salah satu solusi.

Muara Bagdja sendiri mengutarakan cara sederhana namun sangat efektif dalam memelihara lingkungan. Contohnya, memakai baju tipis dan tidak berlapis-lapis di musim panas, serta memakai baju tebal di musim dingin untuk mengurangi penghamburan energi melalui pemakaian AC dan pemanas ruangan. Dalam kolomnya di harian Seputar Indonesia, Muara Bagdja pun menganjurkan kita untuk belanja dengan cerdas. Caranya? Bawalah kantung belanja sendiri. Ini akan mengurangi penebangan jutaan pohon untuk produksi kantung kertas dan mencegah semakin rusaknya ekosistem tanah melalui pembuangan kantung-kantung plastik yang tak bisa diuraikan tanah ratusan tahun.

Ada beberapa cara bernafas mode ekologi lainnya yang berkaitan dengan pakaian, yakni perawatan pakaian. Kalau deterjen sudah jadi tokoh utama polusi sungai (sebagaimana kita tahu tapi sepertinya tak terlalu peduli), mari kembali ke cara tradisional dalam membersihkan pakaian seperti yang diungkap situs Natural Health Care. Cucilah pakaian dengan air panas. Lalu bersihkan noda dan keringat dengan jus lemon, borax, atau hydrogen peroxide. Minyak teh hijau juga bisa digunakan (tapi jangan dengan air panas) sebagai antiseptik, antibakteri, antijamur dan antikuman. Karena Anda adalah bagian masyarakat urban yang dalam sehari-harinya hanya berkeringat dan tak berkecimpung dalam lumpur atau berkeliaran di hutan, tentunya noda-noda di pakaian dapat mudah dibersihkan dengan pembersih alami ini. Lalu cara alami menjaga putihnya kain adalah dengan menjemurnya di bawah sinar matahari setidaknya selama lima jam.

Muara Bagdja, dalam tulisannya yang berjudul Eco-Fashionista di majalah dewi, mengungkapkan bahwa mereka yang mengenakan atau menerapkan mode ekologi akan memiliki status lebih. Tak hanya sekedar fashionable, produk yang dikenakan pun bermakna lebih tinggi. Dan menurut saya, bila pakaian bisa bercerita tentang kepribadian, ia tentunya akan mengungkapkan sejauh mana kepedulian Anda terhadap lingkungan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Muara Bagdja, Rebecca Ing, Vilia Ciputra dan Bandung Advertiser.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

7 INVESTASI FASHION YANG HARUS ADA DI LEMARI PRIA (2017)

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com

Published on LanangIndonesia.com, Editor: Rendi Widodo

http://lanangindonesia.com/read/7-investasi-fashion-yang-harus-ada-di-lemari-pria

Penampilan bagi seorang pria tidak saja sarana mengekspresikan kepribadian dan selera, namun juga indikator kekuatan ekonomi. Semakin mapan pria tersebut, semakin tidak terbatas peluangnya untuk tampil mengikuti tren. Namun apakah dengan kebebasan ini,  pria modern lalu menjadi pecandu tren mode yang penampilannya selalu berubah setiap tiga bulan?

Mungkin akan terasa berat di kantong, ya. Apalagi hal ini akan membuat wardrobe kita menjadi ‘tempat sampah’ yang dijejali fashion items dari musim lalu yang sudah ketinggalan zaman.

Pria modern memiliki banyak hal penting lain yang harus dilakukan. Ia harus cerdas dalam menyikapi mode dan bisa menyiasati pengeluarannya. Untuk tampil fashionable dan berkelas tidak harus menjadi budak mode. Untuk berbelanja tren musiman, tentu boleh sesekali, namun berinvestasi untuk produk mode yang berkualitas dan timeless adalah prioritas.

Agar tidak salah langkah berikut ini 7 fashion items yang harus ada di wardrobe kita agar tetap bisa ‘in fashion’ kapan saja, dimana saja.

1.  Sepatu hitam kulit formal

invest2

Umumnya, sepatu adalah hal yang pertama kali dilihat saat orang lain memandang kita. Karena itu, berinvestasilah pada sepasang sepatu hitam yang terbuat dari kulit berkualitas baik yang bermodel klasik dan formal. Anda bisa mengenakannya dengan setelan jas saat ke kantor, atau dengan celana jeans saat hang out bersama teman. Jangan lupa selalu membersihkan dan menyemirnya karena takkan ada yang suka melihat sepatu lusuh semahal apapun dia.

2. Kemeja putih katun

invest3

Kemeja putih itu bagaikan kanvas untuk lukisan. Ia adalah dasar dari begitu banyak variasi look pria modern. Kenakan dengan dasi dan blazer, Anda siap untuk rapat. Kenakan bersama jogger dan sneaker, Anda terlihat smart dalam kesempatan kasual.

3. Blazer

invest4

Blazer begitu kompatibel saat Anda ingin memberi kesan rapi dalam momen apa saja. Bisa dikenakan saat bertemu klient bisnis hingga dinner bersama pasangan. Anda wajib berinvestasi pada blazer hitam  terlebih dahulu agar bisa dipadukan dengan kemeja atau celana warna apa saja. Setelah itu, Anda bisa tambahkan blazer biru navy, abu-abu atau krem. Anda bisa memilih blazer anak muda seperti Zara atau berinvestasi pada yang lebih serius seperti Brioni.

4. Blue Jeans

invest5

Ini adalah fashion item yang membuat semua penampilan kasual Anda berterima. Pastikan Anda memiliki jeans biru tua yang bersih, tanpa efek sobek dan sebagainya. Levi’s adalah pilihan aman sepanjang masa.

5. Jam Tangan

invest6

Dengan jam tangan dari sekelas Jaeger Le Coultre, Rolex hingga Bvlgari, tentunya penampilan dengan jeans belel dan kaus polos akan naik kelas. Untuk jam tangan, sebaiknya Anda memiliki sedikit jam tangan dari mewah dibandingkan setumpuk jam tangan disainer. Jam tangan mewah memiliki nilai investasi bagi para kolektor karena mempunyai nilai historis dari masa pembuatannya. Sementara jam tangan disainer akan berakhir menjadi sekedar ‘barang bekas bermerk’.

6. Cardigan

invest7

Cardigan berkesan hangat dan smart. Saat Anda mengenakannya dengan kemeja dan dasi, Anda terlihat lebih santai. Cardigan juga bisa dikenakan dengan celana pendek. Dapat dikenakan saat panas terik hingga ketika musim hujan. Begitu kompatibel, kardigan juga tak pernah ketinggalan jaman. Pilih kardigan kashmir untuk penampilan terbaik.

7. Kacamata hitam

invest8

Tak ada yang lebih cool daripada kacamata hitam untuk penampilan modis pria. Kesan tough dan bergaya adalah finishing untuk totalitas gaya Anda. Pastikan bentuk frame sesuai dengan bentuk wajah Anda. Dan jangan pernah pakai kacamata hitam di dalam ruangan. Hanya selebriti narsis yang terlihat  pantas melakukannya.

 

Ketujuh fashion item ini wajib Anda miliki sebagai investasi di lemari pakaian. Secara finansial, ia memperkaya Anda dengan mengurangi frekuensi pengeluaran belanja. Sementara dari sisi mode, variasi penampilan Anda pun lebih kaya dengan semakin banyaknya look baru yang bisa Anda tampilkan dengan mix and match ketujuh investasi fashion ini dengan fashion item Anda lainnya.

Styling for AQUILA ASIA (2010)

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com

Aquila Asia is the world’s first english fashion and lifestyle magazine for the cosmopolitan moslem women in Indonesia, Malaysia, Brunei and Singapore. I am in charge for editorial correspondence, obtaining information and images needed. I also did the Syle Guide section and manage Styling and Photoshoot. This is a very great experience because I was involved in many single details acquired in editorial department of a magazine.

aquilaasia

aquila2

aquila3

aquila 4

Muhammad Reza

Email : muhammadreza_ss@yahoo.com

Text/Whatsapp : +6287877177869