THE STYLISH TOUGHTS OF MUARA BAGDJA (2008)

Dimuat di Bandung Advertiser 2008

Muara Bagdja adalah fashion icon Indonesia yang membantu publik dalam
menerjemahkan mode. Melalui tulisannya, dunia mode dapat dijangkau dan dinikmati oleh masyarakat awam. Saya mewawancarai pria yang berulang tahun tanggal 19 Januari ini selama kurang lebih 45 menit di pertengahan Maret 2007.

muara bagdja
Sudah lebih dari duapuluh tahun Muara Bagdja berdedikasi di dunia fashion nasional. Berawal dari majalah Dewi tahun 80-an, karyanya sudah banyak tercetak di majalah-majalah yang mengulas fashion. Dari yang edgy seperti a+ hingga yang netral dan ‘aman’ seperti Men’s Health Indonesia. Tak ketinggalan media lain berupa surat kabar Jakarta Post dan Kompas, serta majalah gaya hidup Prodo, Her World, Kosmopolitan (termasuk edisi pria mereka), dan Matra.

Tidak hanya di media cetak, Muara Bagdja juga menjadi kepercayaan beberapa media televisi untuk menjadi narasumber program fashion. Diantaranya; Beauty and Style di Metro TV dan Gaya di SCTV. Selain itu, pemilik studio di daerah Kebayoran ini beberapa kali diminta mengkoordinir peragaan busana Oscar Lawalata dan Arantxa Adi, mengatur jalannya Mercedes-Benz Asia Fashion Award dan Mercedes-Benz Indonesia Fashion Festival.

Artis-artis yang ingin tampil cantik pun berkolaborasi dengannya. Kris Dayanti memintanya menjadi pengarah gaya untuk buku 1001 KD, sementara Andien dan Sherina untuk cover album. Okky Asokawati juga tak mau ketinggalan. Supermodel lokal ini melansir buku biografi yang ditulis Muara Bagdja.

Daftar akan semakin panjang bila partisipasinya sebagai juri dan pembicara di berbagai event diteruskan. Termasuk penghargaan.

ABOUT WORK

Apa yang membuat Muara Bagdja menyukai fashion?
Fashion tuh buat saya seperti permen. Setiap enam bulan dia berubah dengan cepat. Dinikmatinya nggak lama tapi menyenangkan. Dia juga dinamis, jadi diikutinya enak. Kita juga menerapkannya lebih bebas, karena pilihannya terus berganti.

Kalau fashion seperti permen, berarti ada yang ‘asem’ juga, dong?
Memang fashion juga ada yang ‘asem’, tapi karena saya suka yang ‘manis’ saya selalu ikuti yang ‘manis’ saja.

Banyak orang menganggap fashion sebagai sesuatu yang dangkal. Bagaimana pendapat Muara Bagdja?
Biasanya orang kalau menilai sesuatu (yang seperti itu) kan mungkin karena nggak kenal lebih dalam kali, ya. Seperti kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi orang kalau melihat fashion selalu ke permukaan, yang bagus-bagus, cantik-cantik, dan mewah-mewah saja. Kalau dilihat dari segi sdm dan kreativitas atau dari proses untuk mencapai sampai kesana, perjuangannya itu nggak sedikit. Fashion melibatkan banyak orang, melibatkan penjahit, strategi market dan promosi. Kreativitas harus ada. Dan nggak semua orang bisa lakukan itu. Fashion itu keahlian dan dunia tersendiri, yang kalau dibandingkan dunia pekerjaan lain kurang lebih sama. Seperti dunia pengacara dan kedokteran, dia harus dipelajari juga. Jadi kalau dikatakan dangkal, ya nggak juga.

Muara Bagdja cukup sering mereview koleksi busana disainer Indonesia. Pernah tidak Muara Bagdja kurang menyukai koleksi seorang disainer? Bagaimana Muara Bagdja membuat reviewnya? Apakah pedas? Atau memilih tak menulis?
Saya punya prinsip, kalau mau melakukan apa-apa kita harus jujur. Jujur itu bisa berarti dua. Pertama, kita memahami dunia itu, kedua, kita mengatakan apa yang benar-benar terjadi di sana. Misalnya pengacara, dia harus menyukai hukum dan dia harus mengatakan yang benar soal keadilan. Begitu juga menulis. Kalau saya melihat kekurangan di satu show, saya akan jujur mengatakan letak kekurangannya dimana. Suka tidak suka itu relatif ya. Intinya adalah saya jujur. Tapi memang akibatnya, tidak semua orang bisa menerima.

Apakah men’s fashion selalu identik dengan gay?
Gay biasanya memiliki kepekaan fashion yang tinggi. Di kalangan apa pun, pegawai negeri atau apa, biasanya dia pasti lebih dandy atau ‘genit’ di banding teman-teman di sekitarnya. Memang, fashion laki di dunia itu pembeli pertamanya pasti gay, setelah itu pria metroseksual, berikutnya pria-pria lainnya. Karena fashion pria saat ini lebih menonjol oleh pria gay, maka imagenya pun menjadi gay. Coba Tora (Tora Sudiro), Surya (Surya Saputra), atau Nicholas Saputra lebih fashionable, imagenya pasti tidak akan jadi seperti itu.

Dunia fashion identik dengan wanita, sehingga pria yang berkarir di dunia itu kerap dianggap gay. Bagaimana pendapat Anda?
Ini masalah stigma atau pandangan masyarakat. Pandangan umum yang lazim itu mengatakan kalau yang membuat baju itu selalu perempuan. Kita dididik dari kecil kalau yang membuat baju itu urusan perempuan. Itu Cuma cara pandang lama. Sekarang sih sudah banyak berubah, ya.

Pandangan publik dan pandangan seorang pengamat mode seperti Muara Bagdja cukup sering berbeda. Saya pernah membaca review Muara di majalah a+ yang mengkritik pendapat publik yang menganggap rancangan seorang disainer lokal melenceng dari tema. Saat itu temanya tahun 20-an era Louise Brooks, dan disainernya pernah bekerja pada seorang disainer senior. Bagaimana rasanya meluruskan kekeliruan dari banyak orang yang menganggap dirinya fashionista ini?
Jadi balik lagi ke perkataan jujur. Saya pengen beri tahu lagi. Lihatlah segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Banyak sekali orang yang berkecimpung di dunia kreatif yang selalu berubah-ubah ini (fashion), tapi cara pandangnya itu-itu saja. Jadi kalau tahun 20-an, bayangan mereka selalu wave rambutnya atau bergaun flapper. Dan kalau tahun 50-an, harus dengan ciri 50-an. Ada sisi lain yang bisa dilihat disitu.

Saya sering baca tulisan atau dengar komentar orang yang hanya berdasarkan apa yang mereka lihat di panggung. Tapi kalau saya, saya selalu bertanya ke disainernya. Saya harus mewawancara dia. Karena sesudah itu saya tahu, oh, ternyata apa yang saya lihat di panggung itu ternyata bukan yang dimaksud oleh si disainer.

Ini juga pernah terjadi waktu saya mereview show Sally Koeswanto di majalah a+. Awalnya saya beranggapan koleksi Sally nggak nyambung antara babak pertama dengan babak kedua. Yang satu maskulin sementara yang lain feminin dengan payet segala macam. Kemudian saya mengobrol dengan dia, kenapa shownya seperti itu. Ternyata dia ingin menggambarkan kalau dirinya ataupun banyak orang selalu memiliki dua sisi yang berbeda. Ada sisi baik, ada sisi buruk. Ada yin dan yang-nya. Oh dari sana saya, menangkap, kalau shownya ternyata ingin menampilkan kedua sisi itu.
Jadi kalau dibilang meluruskan, yah memang harus. Karena saya ingin katakan pada orang, “Lihatlah dari sisi yang lain.”

Menurut Muara Bagdja, sejauh apa opini seorang pengamat mode mampu mempengaruhi eksistensi disainer?
Disini memang selain penulis, media juga berpengaruh. Kalau tulisan itu ada di sebuah media yang ‘dipercaya’, biasanya punya pengaruh. Ini dari beberapa pengalaman teman-teman yang membaca tulisan siapa saja di media apa saja. Misalnya mereka anggap, oh, koleksi ini nggak bagus, nih (menurut satu ulasan), kita nggak usah beli deh.
Tapi kalau seperti Anna Wintour (yang bisa menentukan nasib dan eksistensi seorang disainer) sepertinya belum ada. Karena baik disainer dengan media sepertinya belum saling membutuhkan. Belum sinergi kali ya.

Memang kritik dan pendapat seorang penulis mode itu dibutuhkan sekali, ya. Tapi rata-rata sikap media kita terhadap fashion kan netral. Ujung-ujungnya soal penjualan,. Dia tidak mau dimusuhi disainer, tidak mau dimusuhi pembaca, karena yang ditulisnya tidak sesuai dengan keinginan banyak orang, misalnya. Jadi masih banyak pertimbangan.

PERSONAL

Secara pribadi, saya melihat Muara Bagdja sebagai fashion icon di Indonesia. Tulisan Anda sangat kaya akan informasi seputar fashion yang dikemas dengan ringan dan menarik. Ceritakan dong dari awal bagaimana Muara Bagdja bisa menjadi penulis dan menjadi pengamat mode papan atas?
Sebelumnya saya kuliah di sastra Prancis Universitas Indonesia. Di keluarga juga ada yang penulis. Ibu saya penulis teater anak-anak. Jadi, bakat menulis mungkin menurun dari ibu. Waktu kuliah, beberapa teman saya itu disainer. Jadi dari dulu saya memang sudah berada di dunia itu. Begitu lulus, saya ditawari menjadi fashion editor di majalah Dewi. (Dewi tahun 1986, bukan Dewi yang sekarang).

Sebelum masuk Dewi, saya suka baca tulisan Suzy Mendes (fashion writer dari International Herald Tribune). Saya pikir, ini orang kok seru sekali, ya. Kalau mengkritik di koran berani banget. .Cara dia menulis juga bagus. Dia jadi referensi menulis saya di awal karir. Lalu dari tulisan saya yang satu ke tulisan lain, orang mulai setuju, bahwa apa yang saya ungkapkan disana itu, ada benarnya. Saya merasakannya sih kemudian. Setelah sekian lama, akhirnya orang menerima dan mulai menyebut saya seorang pengamat mode.

Setelah sekian lama, saya lalu punya anggapan, kalau kamu menekuni satu bidang, menjadi spesialis di bidang itu, kamu akan punya tempat di dunia yang kamu mau. Artimya, nggak banyak kan orang yg menekuni fashion editor, nggak banyak yang menekuni bidang menulis fashion.

Dalam hal personal apa Muara Bagdja tidak bisa disentuh atau diganggu?
Banyak orang yang anggap saya tertutup atau misterius, karena pada dasarnya saya nggak senang tampil. Saya di belakang layar saja. Termasuk soal pribadi. Saya nggak terlalu suka ditanya saya senangnya apa, saya tinggal dimana, saya liburan kemana, atau saya sukanya pakai baju apa. Saya nggak ingin orang tahu tentang itu. Kalau ditanya, lebih baik masalah pekerjaan saja.

Bagaimana mas Muara mendefinisikan cinta?
Pacar saya sendiri bilang saya bukan orang yang peka terhadap hal-hal seperti itu ya. Hm… Ngomong apa ya…

Lebih susah daripada mendefinisikan fashionable, yah?
Hahaha… Pastinya… Hahaha. Hm… Pas saja deh.

Apa kebahagiaan terbesar yang pernah Muara Bagdja alami?
Saya selalu bahagia, sih orangnya. Hahaha.
Saya bukan orang yang emosional, atau meletup-letup. Jalan hidup saya tuh lurus-lurus saja. Kalau cerita hidup saya dibuat film, pasti nggak laku karena monoton. Nggak ada dramanya atau action. Yah, datar-datar saja.
Tapi sebenarnya, saya suka sekali dengan summer, dengan panas. Saya suka merasa bahagia waktu sunset, duduk di atap rumah melihat matahari dari yang terang sampai oranye seperti membakar langit. Dan karena saya juga pelihara kucing, kalau saat itu mereka juga ada di sekitar saya, saya suka banget momen itu.

Yang membuat Muara Bagdja gampang menangis?
Saya juga jarang menangis, tapi saya nangis waktu satu kucing saya mati.

Apa hal yang paling Muara Bagdja sesali dalam hidup?
Nggak ada yang saya sesali.

Masa, sih?
Hm… Sebenarnya saya senang banget. Tapi mungkin kalau dibilang disesali, hm… Kenapa ada banyak hal yang baru saya dapatkan sekarang ini, dan bukan lebih awal. Paling itu saja yang saya sesali. Tapi selebihnya sih, enggak ya.

Bila tidak menjadi penulis dan pengamat mode seperti sekarang, kira-kira Muara Bagdja menjalani profesi apa ya?
Hahaha. Saya pernah melamar menjadi diplomat di Deplu dan diterima.

Lalu keluar?
Ya, karena saya diterima di majalah itu (Dewi tahun 1986, red.)

Seandainya Muara Bagdja diibaratkan sebuah koleksi pakaian, siapakah kira-kira disainer yang membuatnya?
Saya suka Burberry.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Advertisements