PERJALANAN MODE ANAK-ANAK (2008)

Teks: Muhammad Reza 

Published in Bandung Advertiser July 2008 

Mode anak-anak merupakan fragmen yang tak terpisahkan dari dunia mode yang dinamis. Sebagai bagian kebudayaan, ia berevolusi mengikuti perubahan sosial dan teknologi. Perjalanan mode anak-anak sejak awal kelahiran dunia mode hingga saat ini akan digambarkan secara singkat dalam Bandung Advertiser edisi khusus anak-anak ini.

 marie antoinette 1

Mode anak-anak memang bukan sesuatu yang baru atau asing. Sejak masa kejayaan Marie Antoinette yang diakui sebagai kelahiran dunia mode, anak-anak memiliki tren mode tersendiri. Selama abad delapan belas, setelah melalui masa-masa bayi (dimana mereka berpakaian secara uniseks), anak-anak didandani dengan model pakaian seperti orang dewasa. Perbedaannya hanya terletak pada pemakaian pantalon di dalam rok dan panjang rok anak perempuan yang bisa dijadikan acuan usia. Rok anak perempuan berusia enam belas tahun sebatas mata kaki, usia empat belas tahun sebatas betis, sementara usia dua belas tahun ke bawah sebatas lutut. Pakaian anak-anak berbahan sutra pun sempat naik daun yang berfungsi menghubungkan anak-anak dengan komunitas bangsawan, sekaligus membedakannya dengan anak-anak rakyat jelata yang hanya mampu berpakaian katun dan wol.

Saat revolusi Perancis meletus dan permaisuri Josephine mempopulerkan empire line, anak-anak perempuan pun dibebaskan dari himpitan korset. Mereka berlarian dengan lepas mengenakan pakaian katun ringan yang pada masa revolusi industri marak diproduksi.

Tren berikutnya adalah apron yang dipopulerkan di era Victoria dan Edward. Tak hanya berfungsi menjaga kebersihan, apron juga menjadi media pamer dekorasi sulam atau lace yang mewah.Beberapa tren yang berusia singkat pun mewarnai perjalanan tren busana anak-anak seperti pemakaian bahan tartan, ragam topi dan hiasan kepala seperti pita, hingga gaya pelaut. Setelah kedua era tersebut, tren baju anak-anak kembali menyerupai busana dewasa.

Mode anak-anak semakin memiliki ciri khas dengan laju waktu, khususnya di abad duapuluh. Dunia mode berkembang dan bergerak cepat dengan pertumbuhan rumah-rumah mode seperti Chanel dan Lanvin, serta publikasi melalui majalah-majalah mode sekelas Vogue dan Der Bazaar.

mode anak shirley t

Hadirnya bisnis hiburan seperti film menciptakan ikon-ikon mode yang membantu peredaran sebuah gaya, termasuk gaya berbusana anak-anak. Gaya berbusana anak-anak yang paling terkenal pada saat itu melibatkan bintang film cilik Shirley Temple. “Shirley Temple mempunyai pengaruh yang sangat besar pada industri mode anak-anak. Setiap ibu (di masa itu) menginginkan putrinya terlihat seperti Shirley, berbalut gaun pendek yang melambai dan berambut ikal,” ujar Gini Stephens Frings dalam buku berjudul Fashion from Concept to Consumer. Munculnya televisi pun mempercepat perputaran tren mode baju anak-anak. Apa yang dikenakan aktor dan aktris cilik di layar kaca segera ditiru. Baju anak-anak selanjutnya menjadi komoditi industri. Baju-baju siap pakai diproduksi besar-besaran dan ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Majalah Vogue pun merilis Vogue Bambini, yang mengundang penerbit lain membuat majalah serupa.

 Setelah aksi pembakaran kutang wanita di tahun 1960-an, kebebasan sepertinya menjadi tema utama dunia mode, termasuk mode anak-anak. Celana pendek dan kaus t-shirt dengan warna-warna menyolok sesuai tren warna-warna burung merak pun membahana. Anak-anak juga diajarkan untuk lebih sering aktif bergerak dengan dipopulerkannya olahraga bersepeda, bersepatu roda, dan skateboard hingga era tahun 1980-an.

mode anak fullhouse

Mode anak-anak kemudian menikmati kemakmuran di tahun 1980-an saat kondisi ekonomi dunia sedang menanjak. Saat orangtuanya berlomba-lomba bergaya “dress to impress” dengan balutan baju disainer dan perhiasan emas, anak-anak pun merasakan helai demi helai benda-benda bermerk di tubuhnya. Saat Prada sukses membuat orang dewasa mengincar tas sandang dari nilon dengan logonya yang cukup besar, anak-anak pun tak ketinggalan. Film Clueless yang dibintangi Alicia Silverstone menggambarkan kebutuhan anak-anak dan pra remaja akan barang mode bermerk di era 1990-an. Kebutuhan yang serius akan mode di kalangan anak-anak juga ditampilkan dalam film The Clique yang diproduksi Tyra Banks pada 2008. Para disainer dan brand papan atas akhirnya melirik pasar baru yang cukup menjanjikan; anak-anak.

mode anak the clique

Hingga saat ini, disainer dan label busana internasional berbondong-bondong meluncurkan label busana untuk anak-anak. Beberapa contohnya adalah Matthew Williamson yang merilis koleksi Butterflies, Little Marc dari Marc Jacobs, Ralph Lauren Children’s Wear, Crewcuts dari J.Crew hingga Dolce & Gabbana yang menyajikan D&G Junior.

 Bagaimana dengan perjalanan mode anak-anak di tanah air? Di Indonesia, tigapuluh tahun silam ibu-ibu di Bandung dan Jakarta mungkin sudah puas dengan menjahit sendiri atau membeli pakaian anak-anak yang diproduksi garmen secara massal. Sekarang, mereka pun berkesempatan memakaikan pakaian ekslusif rancangan disainer nasional pada anak-anaknya, meski disainer yang tersedia untuk koleksi anak-anak tak seabrek-abrek seperti di luar negeri. Beberapa disainer lokal yang menggarap koleksi anak-anak tersebut adalah Sofie dan Sebastian Gunawan dengan label Bubble Girls.

 Di Indonesia, brand high fashion untuk anak-anak hanya dikerjakan oleh segelintir disainer. Hal ini bersinggungan dengan faktor ekonomi. Bagi disainer, bersaing dengan garmen-garmen lokal tentunya tidak mudah. Harga sepotong busana buatan disainer tentunya tak bisa disamakan dengan harga produk garmen. Selain disainer umumnya hanya menggunakan kain yang terbaik (sehingga lebih mahal), kualitas pengerjaan dan ekslusivitas rancangan tentu membuat nilainya berlipat-lipat dibandingkan baju buatan garmen yang dijahit dengan mesin Yuki. Oleh karena itu, industri high fashion nasional untuk anak-anak tidak spektakuler geraknya seperti industri high fashion dewasa.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email: muhammadreza_ss@yahoo.com dan whatsapp +6287877177869

MEMPERTANYAKAN KEBAYA KONTEMPORER (2008)

Saat kebaya mengalami modifikasi melalui disain kontemporer, ada yang menganggapnya melenceng terlalu jauh dari tradisi. Salahkah bila kebaya bergerak menjauh dari pakem aslinya?

Teks : Muhammad Reza, Published in Bandung Advertiser June 2008

Jauh sebelum Anne Avantie membuka mata dunia di ajang Miss Universe 2005 melalui busana kebaya yang dikenakan Nadine Chandra Winata, keindahan warisan budaya tanah air sudah mempesona dunia. Lima belas tahun sebelumnya, koleksi busana batik Iwan Tirta diliput majalah mode bergengsi seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Kain dan busana tradisional pun menjadi sesuatu yang agung. Saat kebaya mengalami modifikasi melalui disain kontemporer, ada yang menganggapnya melenceng terlalu jauh dari tradisi. Salahkah bila kebaya bergerak menjauh dari pakem aslinya?

Benarkah Kebaya itu Asli dari Indonesia?

kebaya dewi sukarno
Ratna Dewi Sukarno

Dalam bukunya yang berjudul Chic in Kebaya, Ria Pentasari menunjukkan bahwa kebaya muncul setelah kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia. Artinya, sebelumnya para wanita pribumi hanya mengenakan kain yang dililitkan dari bagian dada hingga mata kaki atau hingga betisnya. Dengan pengaruh agama dan nilai kesopanan yang dibawa penjajah, wanita pribumi pun menutup bahu dan lengannya dengan atasan pas badan yang kini kita sebut kebaya. Ensiklopedi maya Wikipedia sendiri menyebutkan bahwa kebaya berasal dari Tiongkok lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi. Sementara dalam suatu artikelnya, harian Seputar Indonesia berpendapat bahwa kebaya berasal dari bahasa arab yakni habaya (pakaian labuh yang memiliki belahan di depan).

Ketika Malaysia membuat kita emosi dengan mempatenkan batik sebagai miliknya, Indonesia langsung memeluk kebayanya erat-erat. Salah satu reaksi disainer Indonesia, yakni Adjie Notonegoro, adalah mendeklarasikan kebaya sebagai busana nasional milik Indonesia. Aksi ini dilakukan bersama Menbudpar Jero Wacik didampingi Direktur Hak Cipta Desain Industri Ansori Sinunga.

Namun, dengan bercermin pada fakta bahwa kebaya hadir sebagai asimilasi budaya luar yang masuk ke Indonesia, masih bisakah kita ‘ngotot’ kalau kebaya itu benar-benar asli Indonesia? Bagaimana jika seandainya couturier ternama seperti Zuhair Murad atau Georges Chakra membuat sepotong blus tipis pas badan berbahan lace dan berlengan panjang dengan kerah meruncing (V) lalu dihiasi gemerlap aneka payet? Bisa saja ia menyebutnya body-fitted sequined V-neck lace top. Akankah kita keberatan?

Kontroversi Kebaya Kontemporer

kebaya nadine
Nadine Chandrawinata

Anne Avantie terkenal karena disain kebaya-kebaya rancangannya yang revolusioner. Kebayanya tak seperti stereotipe kebaya klasik seperti halnya kebaya encim (kebaya yang dipopulerkan wanita peranakan Tionghoa dan bercirikan bordir di kancingnya), kebaya sunda (berkerah meruncing membentuk huruf V), atau kebaya jawa (berkutu baru dengan lintangan kain di dada). Anne Avantie mempopulerkan apa yang sekarang kita kenal dengan sebutan kebaya kontemporer. Namun, beberapa pihak menudingnya merusak keagungan kebaya. Dalam buku biografi Anne Avantie yang ditulis oleh pimred majalah Prodo yakni Alberthiene Endah, Anne memaparkan ketabahannya dalam menghadapi cobaan tersebut. Walau demikian, karya indah dan bernilai akan selalu medapat tempat di hati. Kebaya-kebaya Anne Avantie inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya kebaya kontemporer.

Untuk Bandung saja, beberapa nama mempunyai koleksi kebaya modern dan kontemporer. Kebaya GEULIS, misalnya. Salah satu pendirinya, Astri Kunto, mengakui jika kebaya modern buatan mereka banyak diminati wanita muda dan remaja. Selain Kebaya GEULIS, Drs. Uday Hidayat, seorang kolektor kebaya dan pengusaha UDAY Enterprise, juga menyediakan kebaya modern. Disain kontemporer pada kebayanya terlihat pada kerah yang beraksen bulu atau kerah besar yang mencuat keluar bernuansa couture. Lengan yang menggelembung (bishop sleeves) atau melebar dari bagian siku ke bagian pergelangan (angel sleeves) juga memberi kesegaran pada kebaya koleksinya.

uday
Kebaya Uday Hidayat

Disainer ternama dari Yohannes Bridal; Yohannes Yunarko, menganggap kontoversi seputar kebaya kontemporer ini sebagai sesuatu yang konstruktif. “Justru dengan pro dan kontra itulah kita semakin kreatif.” Menurut disainer yang akan memperoleh penghargaan MURI ke-4 melalui gaun spektakuler dari sisik ikan ini, kontroversi itu dapat dijadikan kesempatan untuk introspeksi diri. “Menyangkut tudingan kepada Anne Avantie, orang mungkin keberatan saat melihat lengan kebayanya yang tampak seperti dua potongan terpisah, ditambah modifikasi lipit atau model shanghai. Tetapi menurut saya, itu sah-sah saja. Justru nama Indonesia semakin terkenal di mata dunia karena kebaya kontemporer.”

Kebaya Kontemporer dan Tradisi

Zuhair Murad Haute Couture Dresses Spring-Summer 2007-2008 (1)
Zuhair Murad

Dengan kebaya kontemporer yang modern, generasi muda melihat kebaya melalui sudut pandang baru. Selama ini, kebaya identik dengan ibu-ibu atau berkesan kuno. Setelah meremajakan diri dengan disain kontemporer, kebaya lebih berterima di kalangan muda dan diteruskan untuk dikenakan dengan bangga sebagai identitas dan tradisi.

Menurut saya, hadirnya kebaya kontemporer justru memperkaya dunia fashion. Bila batik semakin modern dengan kehadiran batik lycra seperti rancangan Carmanita, batik eyelet (kain bertekstur dan bordir) dari label [bi], atau batik ‘anak muda’ dari Part One by Edward Hutabarat, mengapa kebaya hanya berinovasi melalui kebaya kontemporer saja? Janganlah biarkan warisan kebudayaan berupa kebaya ini hanya bisa dikenakan di kondangan saja. Kebaya pun seharusnya lebih berdaya pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Literatur: “Indonesian Garment & Apparel Directory” (1992, PT Satria Ezapariwara), “Chic in Kebaya” (Ria Pentasari), “Aku, Anugerah, dan Kebaya” Biografi Anne Avantie (Alberthiene Endah), , Wikipedia, Seputar Indonesia 28 Maret 2007, dan bisnis.com.

(Penulis mengucapkan terimakasih kepada Yohannes dari Yohannes Bridal, Drs. Uday Hidayat dan Astri Kunto atas partisipasinya berkaitan artikel ini)

Untuk saran dan pertanyaan; Email: muhammadreza_ss@yahoo.com WA: +6287877177869

PERANCANG DARI MASA KE MASA (PERJALANAN MODE INDONESIA) – 2009

Ditulis oleh Muhammad Reza. Diterbitkan di Majalah U,Maret 2009.

Berbicara tentang sejarah mode Indonesia bukanlah hal yang mudah. Usia kemerdekaan bangsa yang sudah 63 tahun ini tidak berarti mode Indonesia sudah berjalan selama 63 tahun. Hingga saat ini pun belum ada buku yang sepenuhnya memaparkan sejarah mode tanah air. Berbagai obrolan dengan disainer dan kumpulan tulisan dari majalah dan buku-buku yang menyinggung mode di Indonesia lah yang akhirnya bisa dijadikan sumber terpercaya.

Kapan sebenarnya mode Indonesia itu lahir? Kita dapat mengaitkan kelahiran mode Indonesia melalui eksistensi disainer lokal pertama. Setiap referensi akan mengaitkannya dengan Peter Sie yang dianggap sebagai pelopor mode Indonesia .

1950-1970

Di tahun-tahun pertama Peter Sie menancapkan mode nasional (sekitar pertengahan tahun 1950-an), ia mengaku bahwa profesi disainer belum diterima masyarakat termasuk keluarganya. Hasilnya, ia sempat dikucilkan keluarga. Ia juga tak menganggap dirinya lebih sukses secara finansial dibanding disainer-disainer masa kini. Dalam buku Inspirasi Mode Indonesia terbitan Yayasan Buku bangsa dan Gramedia, ia mengungkapkan dirinya lebih senang disebut pelopor dunia mode.

Awalnya, Peter berkonsentrasi membuat busana pria. Pesona busana bergaris A-Line (yang menyempit di pinggang lalu melebar/mengembang ke batas betis) ala New Look dari Dior-lah yang mempengaruhinya untuk beralih membuat busana wanita. Dalam mendisain busana, pria yang belajar di Vakschool voor Kleermakers-Encoupeurs Den Haag Belanda selama enam tahun sejak 1947 ini tak menyerap semua tren busana yang datang dari Eropa. Contohnya saat tren gaya ‘mod’ yang dikumandangkan Mary Quant dan Ossie Clark melanda dunia, Peter merasa rok mini itu kurang pantas untuk kebanyakan wanita Indonesia (kecuali beberapa jenis wanita tertentu seperti Titi Qadarsih). Begitu juga saat tren hippies atau daisy flower berkibar. Gaya berbusana compang-camping bak gelandangan yang tak pernah mandi ini tak menarik baginya. Alasannya, keadaan ekonomi Indonesia saat itu memprihatinkan. “Tanpa mengenakan gaya hippies juga sudah compang-camping,” ujarnya.

Kehadiran disainer seperti Peter Sie mengundang disainer lain seperti Non Kawilarang dan Elsie Sunarya. Di tahun 1960-an gaya hipster, mod, bahkan agogo yang ramai motif dan warna ala burung merak tak hanya konsumsi ibu-ibu kalangan atas Jakarta saja. Popularitas bioskop pun mensosialisasikan gaya berbusana terbaru. Masyarakat mulai mengenal peragawati seperti Titi Qadarsih dan Rima Melati. Lalu beramai-ramai mengikuti gaya rambut bersasak atau pendek ala Twiggi.

1970-1990

Dunia mode nasional mulai mengadaptasi kegiatan mode eropa. Salah satunya koreografi dalam peragaan busana. Sejak diperkenalkan Norbert Schmitt pada tahun 1969 di Eropa, koreografi untuk peragaan busana mendarat di Jakarta pada tahun 1974. Perintis nasionalnya adalah Rudy Wowor yang merupakan murid Schmitt. Pada saat itu, istilah show director dalam peragaan busana belum dikenal sehingga beliau tak saja mengatur langkah dan ekspresi sang model, tapi juga menata pencahayaan, dekorasi dan musik pengiring. “Model tak boleh goblog,” ujar Rudy Wowor kepada penulis majalah a+, Karin Wijaya. Mereka harus hafal semua langkah dan hitungan sambil menyesuaikan dengan musik kalau tidak ingin terlihat aneh. Profesi koreografer ini lalu diikuti Doddy Haykel, Denny Malik dan Guruh Sukarnoputera.

Dalam dunia jurnalisme mode, majalah wanita Femina hadir pada tahun 1972. Menurut catatan situsnya, Femina menunjukkan perhatian besar kepada dunia mode sejak edisi keduanya (bulan Oktober) melalui sebuah reportase tren mode 2003 yang ditulis oleh Irma Hadisurya. Selain menghadirkan berita mode dari pusat mode seperti Pierre Cardin, Femina pun menunjukkan apresiasi terhadap mode nasional. Terutama saat Pia Alisjahbana dan Irma Hadisurya mengusulkan Femina mengadakan Lomba Perancang Mode secara tahunan sejak tahun 1979. Dari ajang inilah hingga sekarang banyak disainer baru muncul seperti Chossy Latu, Samuel Wattimena, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy.

Sementara itu, keterbatasan kesempatan bersekolah mode atau rancang busana di tanah air tak mematahkan semangat mereka yang ingin menjadi disainer. Sebagian melanglang buana ke luar negeri. Harry Dharsono, Poppy Dharsono, dan Iwan Tirta adalah beberapa contohnya.

Boleh dibilang, Iwan Tirta cukup berperan dalam menciptakan karakter mode tanah air yang unik dan kaya tanpa mengabaikan tren mode Eropa. Kepada pengamat mode Muara Bagdja di buku Inspirasi Mode Indonesia , ia menekankan pentingnya memberi unsur barat (technical skill) dan timur (budaya) dalam busana bila seseorang ingin menjadi disainer yang diakui baik di dalam maupun luar negeri. Teorinya memang beralasan, karena Iwan Tirta terkenal hingga ke amerika dan eropa atas kepiawaiannya mengolah batik menjadi produk mode yang berdaya pakai dan modern. Tak melalui busana batik di bahan lycra saja, karyanya merambah ke luar negeri berupa piring bermotif batik saat bekerjasama dengan Royal Doulton. Bahkan disainer sekelas Pierre Balmain pernah meminta izin Iwan Tirta untuk meniru ide sarung rancangannya. Busana-busana Iwan Tirta juga pernah diliput majalah mode internasional Vogue.

Dalam hal high fashion, Harry Dharsonolah yang pertama kali memperkenalkan citarasa tersebut di tanah air pada tahun 1974. Ia lulusan beberapa sekolah termasuk Ecoles de Beaux Arts Paris dan Fashion Merchandising and Clothing Technology di London School of Fashion. Harry tak sekedar merancang busana, ia juga pebisnis handal. Kondisi industri tekstil nasional yang hanya memproduksi polyester saat itu mengharuskannya mendatangi Three Golden Cups, produsen sutra di Shanghai China . Kontribusi Harry Dharsono di panggung mode internasional ditandai pada tahun 1978 ketika rumah-rumah mode bergengsi seperti Carven, Louis Ferraud, Azzaro de Ville dan Lanvin membeli disain-disain tekstilnya. Meski sukses di luar negeri, Harry Dharsono tetap berkiprah di tanah air. Ia membuka Batik Keris dan merancang seragam untuk perusahaan seperti Bank Mandiri, Bali Air dan maskapai penerbangan Australia Anzet.

Hadir pula nama-nama disainer yang menjadikan warisan tekstil bangsa sebagai inspirasi karyanya. Sebutlah Samuel Wattimena, Ghea Panggabean, Edward Hutabarat dan Carmanita. Ghea mempopulerkan kain tradisional seperti kain lurik dalam model pakaian modern seperti kulot dan waistcoat. Ada pula koleksi lain seperti jumputan. Sementara itu. Carmanita mengembangkan batik di bahan jeans dan lycra. Keduanya mencintai dan menganjurkan pemakaian kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

1990-2008

Tahun 1990-an ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya, kemudahan masyarakat mengakses informasi mode dari luar negeri menyebabkan kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini terasa pada karya disainer-disainer yang naik daun di tahun 1990-an. Sebastian Gunawan, misalnya. Setelah menggelar koleksinya yang terdiri atas ballgown dan aneka payet, manik dan kristal, demam kemewahan ala selebritas Hollywood pun mewabah. Kemewahan ini juga terasa melalui gaun-gaun Biyan, Arantxa Adi, Adjie Notonegoro dan Eddy Betty. Hingga akhir 1990-an, persaingan untuk mendapatkan tempat di hati para pecinta mode semakin ketat diikuti semakin banyaknya nama-nama baru, apalagi dengan kehadiran sekolah mode franchisee seperti Esmod dan Lasalle.

Di tahun 2000-an, mode Indonesia semakin kaya akan ide dan inspirasi. Setiap disainer memiliki ciri tersendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana-busana mereka yang sangat bernafaskan seni. Ada juga yang sukses mensosialisasikan busana tradisional sebagai busana modern seperti Edward Hutabarat dan Anne Avantie. Beberapa meraih penghargaan melalui event seperti Indonesian Mercedes Benz Fashion Award dan Harper’s Bazaar fashion Concerto. Ada pula yang ditampilkan melalui film seperti busana Tri Handoko, Sebastian Gunawan dan Didi Budiarjo yang dikenakan Aida Nurmala dalam film Arisan. Namun, ada juga yang lebih sukses di luar negeri seperti Farah Angsana di Paris atau Mardiana Ika dan Ali Charisma di Hongkong.

Dunia mode semakin dinamis. Modeling tak lagi didominasi para pemenang kontes wajah sampul seperti Cover Boy/Girl majalah MODE atau Gadis Sampul. Saat Kintan Oemari dan Ratih Sanggarwati harus jauh-jauh mengetuk pintu-pintu agensi model di Italia beberapa tahun sebelumnya, agensi model internasional seperti ELITE Models mendatangi Indonesia di tahun 1996. Maka terpilihlah Tracy Trinita (pemenang Cover Girl majalah MODE 1995) dan melengganglah ia di panggung peragaan Yves Saint Laurent bersama Naomi Campbell. Agensi model lokal pun disibukkan dengan berubah-ubahnya selera pasar. Terkadang, wajah kaukasia digandrungi sehingga tren model ‘impor’ pun hadir. Pernah pula wajah-wajah oriental menjadi pujaan. Dan saat Alek Wek menghias majalah mode internasional, wajah-wajah dari timur Indonesia pun menghiasi peragaan busana lokal.

Semakin dibutuhkannya berita mode di media mengukuhkan beberapa nama pengamat mode nasional. Muara Bagdja dan Samuel Mulia adalah dua nama yang cukup dihormati atas opini dan kritik mode mereka. Tak ketinggalan barisan penulis mode yang sibuk menganalisa mode mancanegara dan dalam negeri seperti Syahmedi Dean, Ai Syarif, Boedi Basuki, Regina Kencana dan Karin Wijaya. Dan hingga saat ini dua majalah gaya hidup lokal yang menyajikan informasi mode terbaik adalah Harper’s Bazaar Indonesia dan majalah a+.

Kisah perjalanan dunia mode tanah air rasanya tak cukup dimuat dalam kurang dari limaribu karakter program word. Namun dari beberapa gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa melihat perkembangan yang ada di dunia mode nasional. Dan tanpa kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno 63 tahun silam, sejarah mode Indonesia mungkin tidaklah seperti yang telah dipaparkan.

Scan0083

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.

QUO VADIS KECANTIKAN INDONESIA (2009)

By: Muhammad Reza Seperti apa sih kecantikan khas Indonesia? (Dimuat di majalah CLARA edisi November 2009, halaman 16-19)

Standar kecantikan di negeri tercinta ini tampaknya setali tiga uang dengan usia dunia mode nasional – yang tak setua dunia mode internasional. Cukup kompleks, apalagi bila mengaitkannya dengan standar kecantikan internasional. Perlu disadari, hingga pertengahan tahun 2000-an ini, mode di Indonesia hanya dinikmati segelintir masyarakat jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang 200 juta lebih. Sehingga bila merujuk jauh ke awal kelahiran dunia mode Indonesia di tahun 50-an – dirintis Bapak Peter Sie – seperti meraba-raba saat mencari standar kecantikan di dunia mode.

Dunia mode bagi masyarakat Indonesia di tahun ’50-an jelas masih merupakan barang baru. A very luxurious product! Hanya segelintir orang yang mampu menikmati dan mengapresiasinya. Standar kecantikan di dunia mode masih baur dengan standar kecantikan dunia lainnya. Umumnya yang jadi “ikon” kecantikan secara tidak langsung adalah bintang-bintang film terkenal saat itu. Sebut saja Chitra Dewi, Indriati Iskak, dan Mieke Widjaya yang terkenal lewat film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Masih ada lagi Baby Huwae, Rima Melati, dan Gaby Mambo. Sepuluh tahun kemudian di era ’60 akhir ’70-an muncul nama-nama seperti Titiek Puspa, Widyawati, dan Titik Sandhora. Saat itu standar cantik dalam dunia mode sudah mulai bergeser walau terkadang masih menyatu dengan standar cantik dunia film. Namun, ada satu benang merah yang cukup menonjol: cantik khas wanita Indonesia yang belum tersentuh globalisasi. Berkulit coklat kekuningan, hidung cukup mancung, dengan tinggi badan sedikit lebih tinggi dari kebanyakan wanita Indonesia.

Kecantikan khas Indonesia ini akhirnya merambah ke dunia mode yang pada tahun ’60 s/d ’70-an mulai berkembang. Hal ini masih terasa pada akhir ’70-an dan awal ’80-an. Tubuh semakin semampai dengan wajah yang masih khas negeri ini. Sebut saja Titik Qadarsih, Nani Sakri, Ati Sinuko, Enny Sukamto, Dhanny Dahlan, Ria Juwita, dan Citra Darwis Triadi.

Di pertengahan tahun ’80-an sampai awal ’90-an terjadi sedikit pergeseran secara fisik. Tidak terlalu nyata tetapi bisa dijadikan penanda masuknya pengaruh asing pada standar kecantikan di dunia mode Indonesia. Selain wajah lokal, kulit sawo matang, tulang pipi tinggi, rahang yang keras, serta tubuh yang juga tinggi semampai. Sarita Thayib, Okky Asokawati, Kintan Umari, Ratih Sanggarwati dapat tampil sejajar dengan Saraswati, Sandy Harun, Henidar Amroe, dan Larasati. Di saat ini muncul pula definisi cantik versi baru. Ada Vera Ongko yang muncul dengan wajah campuran timur tengah, berhidung sangat mancung, tulang rahang yang keras, serta tulang pipi yang tinggi. Di samping itu pada saat yang sama dunia mode pun memunculkan Licu dengan kecantikannya yang khas, oriental.

Terasa sekali bahwa pada era ’90-an standar cantik dalam dunia mode di negeri ini semakin majemuk. Ini disebabkan karena media-media cetak wanita – baik dewasa maupun remaja – sudah mulai memiliki standar “cantik” tersendiri. Mira Sayogo, Ines Tagor, Wiwied, Avi Basuki, Ira Duati, Auk Murat, Veronica Wendy, Susan Bachtiar, Marisa Haque, dan Soraya Haque merupakan wajah-wajah cantik Indonesia ataupun Indoriental yang sering menghiasi sampul-sampul majalah wanita di negeri ini.

Pada saat yang sama, ketika komunikasi semakin mudah, saat kampanye komersial produk luar negeri semakin marak dan label asing mulai dikenal di negeri ini, tidak hanya selera berbusana masyarakat local yang semakin global, namun standar kecantikan pun mulai mengalami perubahan yang cukup pesat. Wajah Indo Eropa semakin disukai. Malah pada satu saat wajah serupa ini sempat jadi primadona. Semua orang ingin seperti Ida Iasha, Tamara Bleszynski, dan Nadya Hutagalung. Hidung mancung, kulit putih, tulang pipi tinggi, mata bundar dan besar. Sampai-sampai produk pemutih kulit laku keras… Tapi apa iya bisa bikin kulit coklat jadi putih?

Demam wajah campuran kaukasia tampaknya semakin tak terbendung. Terbukti dengan terpilihnya Tracy Trinita sebagai wakil dari Indonesia yang akan bertarung di ajang Elite Look Model Contest. Di saat ini pula wajah campuran seperti Karenina, Selma Abidin, Arzeti Bilbina menjadi amat disukai. Ini salah satu penyebabnya adalah globalisasi?

Globalisasi membuat standar kecantikan di Indonesia semakin rancu. Berbagai tren akan standar kecantikan berlangsung secepat perancang busana menggelar peragaan. Tentunya masih ingat demam model berwajah oriental seperti Dominique, Danish hingga Aline. Lalu serombongan model impor dari Eropa Timur seperti Julia Jamil dan Lolita. Tak ketinggalan wajah eksotis berkulit gelap seperti Laura Muljadi dan Kimmy menjadi alternatif sebagai salah satu standar cantik dalam dunia mode Indonesia.

Kemana sebenarnya standar kecantikan di dunia mode Indonesia menuju? Adakah karakter yang jelas dan standar baku dalam kecantikan di tanah air?

Fritz Panjaitan melalui Profile Management menganggap standar kecantikan di mode Indonesia mau tak mau dipengaruhi pasar. “Ada dua jenis standar kecantikan yang dibutuhkan untuk dua tujuan berbeda,” sebut pria ini. Pertama, cantik yang edgy, dingin, dan mahal. Ini cocok untuk halaman mode. Contohnya Monica Schoupalova. Kedua, ada sweet beauty seperti Shiren Zifa yang selalu dibutuhkan untuk komersial. Wajah-wajah edgy dan dingin banyak didominasi model impor, sementara sweet beauty masih bisa dipenuhi model-model local.

Disainer sekaligus direktur Platinvm Management, Ichwan Thoha, punya pendapat yang sedikit berbeda. Menurutnya, saat ini dunia mode menyukaai kecantikan yang mahal. Cantik mahal bukan saja sekedar bule atau berwajah kebule-bulean, tapi lebih kepada bahasa tubuh atau cara si model membawa diri. Tidak terlihat kampungan atau murahan. “Sebagai disainer, saya sendiri lebih menyukai kecantikan khas Indonesia seperti Sari Nila dan Widhi Basuki,”ucapnya. Ia pun menyukai Izabel Jahja yang meski berdarah campuran namun karakter Indonesia-nya tetap terpancar.

Menyikapi tren global dunia kecantikan di modeling, Ichwan menyesuaikan tren tersebut dengan wanita Indonesia. Wajah boleh Melayu, tapi postur dan gesture-nya bertaraf internasional. Ichwan berpendapat, tren kecantikan di dunia mode akan bergeser kembali ke kecantikan khas Indonesia. Nama-nama seperti Laura Basuki dan Laura Muljadi termasuk beberapa yang akan semakin cemerlang di peragaan busana.

Berbicara kecantikan, disainer Priyo Oktaviano menekankan pentingnya inner beauty. “Saya pikir, inner beauty-lah yang membuat setiap kecantikan fisik wanita mempesona,”ungkapnya di suatu siang.

Mengenai isu kecenderungan keseragaman wajah model, ia menganggapnya hanya rekayasa make-up semata. “Setiap peragaan busana saya selalu berfokus pada konsep koleksi; baju, make-up, look para model dan aksesori. Saya juga memakai semua tipe model apapun warna kulit, tipe wajah atau kebangsaannya. Yang penting tinggi badan mereka memenuhi standar. Perbedaan warna kulit bisa disesuaikan dengan make up dan pilihan warna busana.”

Sementara itu, menurut Irsan – yang tak ingin dirinya disebut disainer – standar kecantikan di dunia mode Indonesia tak bisa diperlakukan serupa seperti standar internasional. Bila di luar sana kita mengenal istilah beauty icon, disini title tersebut sulit ditemukan. Sehingga definisi standar kecantikan di Indonesia menjadi rancu. “Di Indonesia, kita sulit menemukan seseorang yang memiliki gaya busana dan kecantikan yang khas dan menjadi trend setter di dunia mode. Disini kecantikan itu kurang personal. Kita cenderung ikut-ikutan. Setiap wanita tak saja ingin berbusana menyerupai satu sama lain tapi rias wajah dan tata rambut pun demikian sehingga terlihat serupa. Kecantikan wanita-wanita di Indonesia itu telalu deja-vu,”tuturnya.

Irsan mengagumi beberapa sosok yang dianggapnya berkepribadian kuat dan berkarakter seperti Tilda Swinton, Kristen McMenamy, Cate Blanchett dan Sophia Loren. “Saya percaya kalau kecantikan itu merupakan suatu ekspresi dari kepribadian yang kuat. Seberapa kuat kepribadian seseorang mempengaruhi masyarakat, sekuat itulah kecantikannya memancar dan menjadi ikonik. Tak mudah menemukan wanita seperti itu di dunia mode nasional. Mariana Renata adalah contoh kecantikan yang kuat dan langka di negeri ini.

Dengan kurangnya keberanian wanita Indonesia untuk tampil berbeda sesuai karakter dan kepribadiannya, tak mengherankan bila standar kecantikan di dunia mode Indonesia masih dipengaruhi industri mode dengan segala macam dan jenis permintaannya. Inilah yang menjadikan standar kecantikan di dunia mode lokal begitu komplek untuk dibicarakan. Memang kita belum mempunyai ikon kecantikan yang membuat seluruh lapisan masyarakat mengenalnya, namun bagaimanapun juga standar kecantikan di Indonesia berevolusi seiring waktu. Mengapa tak ada nama besar yang bisa kita ingat sebagai ikon kecantikan nasional? Ya…itu tadi, setiap perubahan dilakukan bergotong royong, sehingga tak enak rasanya bila menyebut satu nama saja.

clara quovadis

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

THE PRESSURE TO BE THIN (2008)

Mengapa Definisi Kecantikan Berada di Label Ukuran Sehelai Pakaian?

By Muhammad Reza (muhammadreza_ss@yahoo.com , +6287877177869)

Tubuh Gemuk sebagai Antitesis Dunia Mode dan Kecantikan

Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa episode serial UGLY BETTY yang ditayangkan di televisi. Dalam serial yang diproduseri Salma Hayek dan disadur dari telenovela Betty La Fea, akan Anda temukan potret dan definisi kecantikan yang terpatri di ujung setiap saraf otak warga Amerika. Cantik itu berwajah simetris dengan hidung kecil, bergigi putih yang rapi, dan tubuh kurus, dengan ukuran baju nomor nol.

Tokoh utama serial ini, Betty Suarez (America Ferrera), adalah gambaran yang berlawanan dengan ide wanita cantik di dunia mode Amerika. Selain berkawat gigi, ia sering dipanggil dengan sebutan ‘gendut’ oleh kolega-koleganya di majalah MODE. Tubuh yang tak kurus ini sepertinya menjadi antitesis terhadap dunia mode.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Pembuka)

dior

Bila Anda membolak-balik halaman rubrik mode dari majalah panutan di bidangnya seperti Vogue Amerika atau W, akan terlihat barisan perempuan yang hanya berbalut kulit di tulang. Sama saja saat Anda menyaksikan parade model berbayaran termahal melalui saluran Fashion TV pada setiap finale peragaan busana. Saat Niki Hilton menjadi model pamungkas untuk Just Cavalli (atau saat Rihanna menutup peragaan musim panas 2008 Dsquared), kedua paha mereka yang tidak setipis top model Tanya Dzhialeva dan Andrea Stancu pun menjadi sesuatu yang janggal dan dibicarakan. Tips-tips berbusana yang dianjurkan pada kebanyakan majalah mode juga selalu berusaha menyiasati penampilan wanita agar terlihat jenjang, tinggi, dan lagi-lagi, kurus.

Ada apa sebenarnya dengan tubuh kurus dan mode? Bila melihat lukisan kuno atau foto setidaknya hingga era Marylin Monroe, bentuk tubuh wanita ideal itu adalah yang berisi dan memiliki lekuk-lekuk tubuh yang padat. Tubuh sintal Madame Bouvary, Ratu Prancis Marie Antoinette, penari penuh skandal Isadora Duncan, hingga ikon seksual Marylin Monroe pada masanya dijadikan acuan para wanita. Di awal tahun 60, Twiggy (lahir bernama Lesley Hornby) mulai menyetel tren baru dalam dunia modeling dengan tubuhnya yang sangat kurus dibandingkan dengan model-model ‘montok’ era Christian Dior.    Demam tubuh ala Twiggy pun merajalela saat film Breakfast at Tiffany beredar dan membuat para wanita ingin tampil setipis lidi bak Audrey Hepburn. Keempat persona bertubuh ‘penuh’ yang sebelumnya disebut seksi lalu berubah menjadi momok yang selanjutnya dianggap ‘gendut’.

Dalam mode, ada relevansi antara tubuh kurus (khususnya yang tinggi) dengan citra keanggunan. Dengan tubuh yang kurus, busana akan jatuh di badan dengan menciptakan efek elegan yang feminin. Setidaknya itulah citra yang dipopulerkan Audrey Hepburn dengan busana-busana simple-elegan Givenchy dan hingga saat ini selalu dijadikan referensi penampilan bersahaja sekaligus berkelas bagi pelaku industri mode dari  pembuat jam tangan Longines hingga couturier Zuhair Murad. Susan Train, mantan editor in chief Vogue Amerika dan Prancis pun mengakui figur Audrey Hepburn selalu menjadi inspirasi mode hingga kini.

Semakin Kurus

Dari era Twiggy, Ali McGraw, Lauren Hutton, hingga Jerry Hall dan Carree Otis, tubuh para model wanita semakin kurus dan mengurus. Bila sebelumnya ukuran baju nomor dua menjadi impian wanita yang ingin terlihat seperti model, ukuran baru yaitu nol pun menggantikan acuan lama. Kate Moss, Shalom Harlow, hingga yang terkini Chanel Iman mendefiniskan ‘kurus’ yang baru.

Menjadi model yang ‘terpakai’ di dunia mode memang harus tunduk pada kemauan pasar. Itulah yang terjadi saat model belasan tahun Ali Michael disuruh pulang dan kembali lagi ke agensi model DNA New York setahun kemudian untuk mengurangi berat badannya. Konon, sebagaimana yang diutarakan Fira Basuki dalam novelnya, Biru, tubuh selalu terlihat lima kilogram lebih gemuk dalam cetakan foto. Hal ini menyebabkan banyak model (dan wanita bukan model tapi mati-matian menyamai model) berusaha keras menjaga berat badannya agar selalu sesuai dengan ukuran ‘sample’ baju yang dipakai saat pemotretan atau peragaan busana.

Ada banyak cara yang dilakukan para model untuk mempertahankan kekurusannya. Dari yang benar dengan makan sehat dan berolahraga, hingga yang salah. Contohnya Kate Moss yang dikabarkan kecanduan rokok dan heroin agar tetap kurus, sementara Carree Otis menahan lapar secara berlebihan yang dikenal dengan istilah anoreksia. Carree Otis juga melengkapi penderitaannya (demi pekerjaan) dengan mengkomsumsi kokain, pil diet, hingga memuntahkan semua makanan (bulimia). Syukurlah, kini keduanya sudah bertobat atas kesalahan tersebut. Kematian model asal Brazil , Ana Carolina Reston, karena anoreksia tak hanya membuka mata dunia bahwa selain sosialisasi pola makan sehat bagi remaja dunia harus dilakukan, teori cantik itu identik dengan tubuh kurus juga harus dikoreksi.

Tubuh Kurus Identik dengan  Dunia Mode dan Kecantikan? (Penutup)

Sebagian selebriti berlomba menjadi kurus seperti Keira Knightley dan Kate Bossworth. Namun ada juga yang puas dengan bentuk tubuhnya yang berisi dan merasa tak perlu menguruskan badan. Kate Winslett, Scarlett Johansson dan Oprah Winfrey adalah buktinya. Oprah yang sebelumnya mengalami kelebihan berat badan melakukan diet makan sehat untuk menghindari efek buruk obesitas seperti penyumbatan pembuluh darah dan diabetes, bukannya untuk menjadi sebatang lidi. Kate Winslett sendiri mengungkapkan bahwa ia memang tidak memiliki metabolisme yang sangat cepat seperti Victoria Beckham yang selalu kurus walau sebanyak apapun mantan personil Spice Girls ini makan. Scarlett Johansson sendiri dengan lantang menyatakan dirinya ingin mengembalikan masa-masa glamour Hollywood saat lekuk indah tubuh wanita adalah kecantikan dan sensualitas sesungguhnya. Queen Latifah yang telah menulis buku Skinny Women Are Evil pun menyatakan bahwa Anda tak perlu berukuran baju nol hanya untuk merasa cantik dan seksi.

Dan bukan berarti semua pelaku industri mode mendukung budaya ‘pengurusan’ tubuh ini. Dari komunitas disainernya sendiri, tak semuanya berusaha tampil seperti model. Miuccia Prada atau Stella McCartney tak merasa dirinya bermasalah dengan berat badan. Kritikus mode Suzy Menkes, atau editor in chief  majalah mode Harper’s Bazaar Amerika Glenda Bailey pun tak bertubuh ceking seperti Anna Wintour yang menggawangi Vogue Amerika.

Beberapa tokoh dalam dua alinea terakhir memiliki satu kesamaan. Kepercayaan diri mereka tidak berada di kulit luar yang bersifat dangkal dan sesaat seperti standar atau ukuran kecantikan yang dibuat oleh orang lain. Apabila mereka memilih menjadi kurus atau berisi, itu adalah semata-mata demi kesehatan dan kenyamanan pribadi. Kalaupun ada yang menyebutkan penampilan bergaya dan modis itu hanya bisa diperoleh dengan tubuh kurus, teori tersebut terpatahkan oleh Miuccia Prada, Glenda Bailey atau Scarlett Johansson yang selalu masuk dalam daftar wanita berpenampilan terbaik versi majalah-majalah gaya hidup. Mungkin ini juga yang menyebabkan pesohor Nicole Richie memecat Rachel Zoe, konsultan mode pribadinya. Setelah lelah didoktrin dan dipaksa membuat tubuhnya sangat kurus, Nicole merasa ini tak ada hubungannya dengan penampilan bergaya.

Kepercayaan diri. Mungkin inilah yang pertama sekali harus ditanamkan dalam diri Anda sebelum melangkahkan kaki keluar rumah dengan baju entah berapa pun nomor ukurannya. Dengan kepercayaan diri, Anda akan menampilkan semua sisi terbaik yang bisa dilakukan dengan isi lemari Anda tanpa harus menjadi budak mode yang tak paham dengan diri sendiri. Tak ada label semahal apapun yang bisa membuat Anda merasa lebih cantik selain rasa percaya diri tersebut.

MODE ITU SENI. SENI ITU MODE? (2009)

Text By: Muhammad Reza

(Dimuat di Majalah CLARA Edisi September 2009 hal.58-61)

Berbicara tentang mode memang tak bisa lepas dari seni. Bagi saya, mode selalu mengandung unsur seni. Pada dasarnya, seni memikat dan memberi pengalaman batin yang menyenangkan melalui indra penglihat.

pollock

Perasaan itulah yang saya rasakan saat melihat Caroline Trentini menyeret-nyeret rok tulle tersembur cat warna-warni ala lukisan Jackson Pollock di panggung peragaan Dolce & Gabbana beberapa tahun silam. Sama halnya saat melihat caged-heel boots Yves Saint Laurent atau tas kulit phyton bermotif floral dari Balenciaga (koleksi Cherce-Midi) yang dicat tangan warna-warni bergaya impresionisme. Apalagi kalau melihat peragaan busana Alexander McQueen. Ada kata “Oh” dan “Ah” ketika melihat produk mode menjadi suatu work of art.

cropped-scan00761.jpg

Apakah Mode itu Seni?

Aktris Tilda Swinton saja pernah mengatakan, “Beberapa seniman terbaik yang saya kenal bekerja di dunia mode.” Nah, lho?

Kalau beberapa contoh tadi disejajarkan, pertanyaan klasik akan muncul? Apakah mode itu seni? Kalau dijawab ya, maka akan berlanjut, tapi seni kan belum tentu mode? Oke, tak usah diperpanjang. Keduanya saling mempengaruhi. Seni bisa menjadi inspirasi warna, motif hingga siluet sehelai busana atau aksesori. Seni pun dipengaruhi mode. Kalau seni hanya bisa kita nikmati dengan mata, mode bisa dikenakan. Kedua-duanya memenuhi kebutuhan estetika manusia.

fildes
Sir Samuel Luke Fildes; Portrait of Mrs. Lockett Agnew, 1887-88. Source: Pinterest.com

Menurut saya, mode berpengaruh pada seni, tapi tidak sebesar seni terhadap mode. Kalau melihat lukisan era Victoria, saya akan mengernyitkan dahi jika model lukisan mengenakan gaun berkerah rendah dengan latar belakang taman di siang bolong. Tentu saja lukisan itu ngawur. Etikanya, di zaman itu busana berkerah rendah hanya dipakai di malam hari. Itu contoh sederhana. Mau tidak mau, mode mempunyai pengaruh pada seni.

Monet
Women in the Garden, 1866 by Claude Monet. Source: Fashion-era.com

Minimalisme, Kubisme dan Art Nouveau

Sejak awal abad 20, seni selalu menjadi inspirasi disainer. Minat dan hubungan mereka dengan seniman berimbas pada karyanya. Tengoklah Paul Poiret. Inspirasi seninya datang dari lingkungan. Poiret terkesan oleh kostum Ballet Russes di Paris pada tahun 1909. Ia mengoleksi lukisan Picasso, Matisse, dan Renault. Ia juga bergaul dengan seniman-seniman kontemporer ini. “Saya selalu menyukai pelukis. Sepertinya, kami berada di dunia yang sama,” katanya.

Paul Poiret
Paul Poiret dress, illustrated by Georges Barbier for the cover of Les Modes magazine in April 1912.

Saat itu modern art sedang naik daun di Prancis. Ketika seniman bereksperimen dengan ide-ide dan material baru, Poiret tertantang untuk bereksperimen dengan tekstil, siluet, dan detil busana. Ia mengikuti tren minimalisme, kubisme, dan art nouveau. Poiret membuang korset dari tubuh wanita dan meninggalkan warna hitam dan putih. Sudah kuno. Ia juga membuat siluet busana wanita menjadi lurus. Tak berlekuk-lekuk seperti huruf “S” yang dijadikan siluet ideal masa itu. Lalu ia ramaikan siluet lurus ide dengan warna-warna cerah.

Di era ’20-an, bukan Poiret saja yang terinspirasi seni. Jean Patou menjadi yang pertama memunculkan motif-motif kubisme pada rancangannya. Sementara itu di Italia, Elsa Schiaparelli tertular semangat surealisme dari pelukis Salvador Dali. Detil-detil surealis yang bersifat mengagetkan, melampaui batas kewajaran persepsi manusia dan tak proporsional diadopsi ke dunia mode. Ornamen dari bahan plastik dan kancing berbentuk bibir dijadikannya terobosan baru. Tak itu saja, Schiaparelli juga mempopulerkan gambar wajah manusia besar-besar yang menutupi torso pemakainya.

jean patou models
Jean Patou and his models, 1924. Source: CMadeleinesVintage.com
schiaparelli
Schiaparelli dress red lips detail and surreal red lips hat. Source: Pinterest.com
shoehat
A collaboration with Salvador Dali, the iconic Schiaparelli’s shoe hat in 1937. Source: krvs.org

Tak disangka, empat puluh tahun kemudian Yves Saint Laurent terinspirasi gaya surealis berupa wajah manusia yang tampil pada koleksinya di tahun ’60-an. Ia juga menginterpretasikan kubisme Picasso, bunga matahari Rembrandt dan burung camar Brague ke dalam motif sulaman.

ysl picasso
Yvest Saint Laurent, inspired by Picasso. Source: Rebelliveblog.com

Pucci = Op Art?

Saya masih ingat kegemaran mengenakan celana jins berwarna neon gara-gara film Factory Girl beberapa tahun silam. Tren yang sama sebenarnya muncul sejak tahun 1960-an. Inspirasinya? Op art dan psychedelia. Inilah aliran seni yang membuat mata saya cukup lelah dan butuh obat tetes. Motif geometris yang dibumbui warna-warna terang benderang dan kontras ini terlalu meriah untuk penglihatan orang yang beranjak tua seperti saya. Tak heran gaya ini kurang lama bertahan setiap diluncurkan. Namun, seni yang popular bersama Andy Warhol dan Edgy Sedgwick ini malah semakin merajalela melalui koleksi Emilio Pucci dan Paco Rabanne. Bahkan, masih banyak yang menganggap Pucci-lah yang melahirkan motif op art. Apa iya?

Saat narkoba dan reggae sedang tren di tahun 1970-an, seni dan mode ikut-ikutan. Tapi bukan ikut teler, lho. Mungkin karena senimannya teler, warna dan bentuk yang diwujudkan aliran seni ini kabur, tidak jelas, mengawang-awang. Eh, dunia mode malah mencetak motif fluorescent baik pada kaus maupun gaun. Saya pun sempat terkena demam fluorescent di tahun 1990-an ketika musik reggae muncul malu-malu untuk kemudian hilang lagi dari peradaban. Mungkin sedang teler lagi.

Seperti tren, seni selalu berputar. Seni graffiti yang dipopulerkan anak jalanan di tahun 1980-an menjadi hits gara-gara Louis Vuitton di tahun 2001. Berkolaborasi dengan seniman Stephen Sprouse dan Takashi Murakami, Marc Jacobs meluncurkan tas Monogram Graffiti dan Monogram Multicolor. Tak bosan-bosan, Marc Jacobs lagi-lagi undang pelukis. Terakhir, lukisan perawat rumah sakit karya Richard Prince memikat Jacobs. Sang pelukisnya langsung diminta merancang tas untuk koleksi musim panas 2008.

Disainer “Nyeni” Kurang Komersil

Saya kemudian penasaran. Selama ini para disainer terinspirasi karya-karya seniman. Apa jadinya jika lulusan sekolah seni saja yang menjadi perancang busana? Mungkin mereka bisa lebih keren saat menciptakan busana yang kental dengan nuansa seni. Ternyata tak semudah yang diharapkan. Tak semua seniman tertarik jadi disainer. Kalaupun ada, karyanya kurang komersil, seperti Viktor & Rolf atau Rei Kawakubo.

Saya sendiri sangat menikmati –baca: mengapresiasi- gaun-gaun rancangan Rei Kawakubo. Namun kalau saya wanita, saya belum tentu tahu kapan saya harus memakai gaun tersebut. Menganut surealisme dalam merancang, hasil pekerjaan Rei Kawakubo memang sudah melampaui persepsi normal manusia akan proporsi dan anatomi. Ia merombak struktur tubuh manusia dan dimodifikasi ulang melalui ilusi bagian-bagian tubuh seperti punggung, lengan atau dada. Inspirasi itu terlihat jelas pada koleksi musim panas 1997. Ia membuat gaun dengan anatomi seolah-olah punggung manusia menggelembung melebihi ukuran kepala! Ia juga mencampur warna-warna yang bertolak belakang tapi sukses mendamaikan keduanya dengan menyelipkan warna hitam.

Menyikapi tanggapan masyarakat yang kurang antusias, Rei Kawakubo sendiri lebih memilih karya-karyanya diulas dan ditampilkan melalui dunia seni, bukan mode. “Dunia seni menerima objektivitas. Dan itulah yang harus dilihat dari busana saya,” katanya.

kawakubo

Saya pikir, Viktor & Rolf –lah yang bisa menjadi pelarian aman bagi para fashionista untuk bermain-main dengan seni yang ekstrim. Duo asal Belanda ini mungkin sudah lelah karyanya diacuhkan pada dekade silam karena dianggap terlalu mengada-ada. Apalagi, busana mereka lebih terlihat seperti instalasi seni. Namun, peragaan busana debut para lulusan Academy of Arts di Arnhem Belanda ini lumayan berdaya pakai. Mereka merancang sebuah kemeja yang dipenuhi balon gas besar menyerupai awan jamur. Efek dramatis dikurangi. Misalnya, kemeja dan rok klasik yang dikejutkan dengan kalung pita merah besar di leher.

Dibandingkan karyanya, peragaan duo disainer yang selalu berdandan identik ini lebih menarik. Mereka mengadakan pameran busana dengan motif dan ukuran yang dibuat seukuran boneka anak-anak. Atau membiarkan para modelnya berjalan di catwalk dengan penerangan yang dilekatkan ke badan sehingga sang model jalan dengan wajah serius –mungkin karena sambil berdoa agar lampu tidak membakar busana yang sedang diperagakan. Ketika majalah New York Times menyebut Viktor & Rolf sebagai seniman yang menggunakan mode sebagai media-nya, saya maklum saja. “Lha mengapa baru sekarang, bukannya dari awal!”

Visual Art dan Mode

Biasanya, saya lebih suka mengamati ulasan peragaan busana melalui media cetak saja. Tapi untuk Alexander McQueen dan Hussein Chalayan, tidak. Kedua rumah mode ini menyajikan peragaan busana sebagai seni pertunjukan. Meskipun dituding sebagai disainer pencari sensasi, karya-karya Alexander McQueen ini berbanding lurus dengan seni peragaan busananya. Selalu mengundang decak kagum. Salah satu peragaan Alexander McQueen yang terus dikenang terjadi di tahun 2006. Seni yang ditampilkan berupa visual art. Saat menutup koleksi musim dinginnya, ia menampilkan hologram tiga dimensi berupa Kate Moss yang menari-nari dengan gaun putih di dalam sebuah piramida kaca.

mcqueen

Peragaan mode Hussein Chalayan juga selalu saya tunggu. Saya sempat bingung. Busana-busana karya disainer asal Turki ini lebih cocok dikategorikan produk mode atau furnitur ya? Bagaimana tidak, ia pernah menggunakan material badan pesawat terbang menjadi baju yang bisa diubah-ubah bentuknya dengan remote control. Yang paling menghebohkan adalah koleksi Afterwords (musim dingin 2000). Disini Hussein Chalayan menyulap seperangkat meja kayu dan bangku menjadi gaun! “Kegilaan”-nya juga dilengkapi dengan aksi menghancurkan sebuah busana keramik dengan sekali getokan palu. Dan adegan seorang model berbusana putih polos yang diciprati bermacam cat untuk menciptakan satu gaun bermotif abstrak?

hussein paint abstract

Seni itu mode?

Saya akan sangat setuju kalau mode bisa dikatakan seni, tapi tidak sebaliknya. Ini kembali lagi ke definisi seni, yakni suatu karya yang menarik bagi indera dan emosi. Saya pikir, fungsi dan seni adalah dua hal yang wajib dipertimbangkan saat berbelanja produk mode. Kalau suatu produk mode tidak menarik dan menyenangkan hati, untuk apa dibeli? Apalagi di jaman susah seperti sekarang. Kita bisa memanfaatkan mode untuk menjadi penghibur. Hidup ini masih ada indah-indahnya. Entah sedikit keindahan itu bisa melalui kesenangan kaki dalam sculptural shoes Alexander McQueen, atau sekedar mengangin-anginkan scarf Pucci di leher.

pucci giselle 2

Seni dan mode bagaimanapun juga memang saling berkaitan. Namun, siapa yang lebih berpengaruh, pemenangnya adalah seni. Walapun dipajang dekat ranjang anda, misalnya. Seni adalah dunia keindahan yang tak tersentuh dan tak terbatas. Itulah dunia yang ingin kita rasakan, yang kita coba dekati lagi dengan melekatkannya di tubuh kita. Apakah melalui sepatu berkonstruksi aneh tapi kokoh seperti pahatan art deco, atau melalui balutan sutra bergambarkan bunga lili yang lembut seperti lukisan Monet.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)

cover clara

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.