TUNICS FOR ALL OCCASIONS

They’re glamour, resort-y, casual, sophisticated, and sexy. Tunics should be one of your wardrobe essentials.

Text: Muhammad Reza

 

It’s fasting month for moslems now. And tunics are so identical with the season. It would be easy to imagine some fashion spread showcasing girls in veil wearing tunic. But should tunic be only worn at this certain occasion? Just Ramadhan and Hari Raya? Why not wear tunics daily, more often?

tunik bcbg-resort23
BCBG Max Azria

Historically, it’s not the arabians who wore tunics first (as I presumed), but the romans. Tunic derived from the latin word tunica. It’s a type of sleeved or sleeveless clothing whose hem line  reaches one’s hip or ankles. As fashion evolves, tunics were  worn and modified in many countries. In the medieval time, the embroidered tunic stated the social status. The riches embroidered it with lavish stones or threads. It lost its popularity as fashion trend changed and kept on coming back as another fad periodically.

 

Tunics look, however, sophisticated, relaxed and very feminine. They also reflect virtue, likely because most of clergymen and yogis are seen in them. But if we look the other way, tunics could be glamorous and seductive as well. There are so many other looks in them. It’s how we style them.

 

Glam Tunics

Let’s fall in love with tunics. Start with the glam ones. You have more chances to fit in any dresscode with different kind of them (except business attire, for sure). When you’re invited to a formal party and expected to look glamour, you can respect the dresscode in flashy sequined tunics. I am sure that dark silk or satin pieces, embroidered with sparkling crystals or finely made emroidery would enhance the celebrated moment as well. For the less formal parties, you can rock  the thighs-length tunic that’s ensembled with printed leggings and heels.

tunik glamor 1 joansmall
Balmain H&M
tuni jlo
Source : marokko.nl
tunik kasual glamor chanel
Chanel

 

Resort Tunics

The key is relaxation, volume, color, brightness and prints. When it comes to vacation, you need volume on your tunic to let your skin breathe in the joy of  sun.

tunik bcbg-max-azria-look-book-resort-201512

tunik Roberto-Cavalli-floral-print-silk-tunic-4

Opt for some loose tunics in light fabric such as cotton or linen. You can have fun with bright colors and prints (from floral to geometric). Pair these flamboyant tops with shorts, capri pants, sandals or wedges. Cinch it with a belt and you’re chic in five second.

 

Casual Tunics

tunik Tory_Burch_Resort_2013_Look_04
Tory Burch

For hanging out with your girls or going to campus, vary your look with these comfy outfits. You can wear a hips-length or the thighs-length tunic. The crisp  cotton or jersey short-sleeved (or sleeveless if it’s appropriate at the occasion), two-toned (or more) tunic would look casual with pipe pants or skinny jeans. Play monochrome if you like slimmer or taller illusion. To accessorize, I’ll suggest (again!) an enormous belt or obi  that accentuates.

tunik Rihanna-Dines-At-Nobu-In-NYC-2
Celine

 

tunik tory burch resort 2014 6
Tory Burch

Sophisticated Tunics

Wear tunics to get the sophisticated look. The secret is in the simplicity. Wear a very simple tunic that is strong in color (avoid the colors that wash your skin tone away), without too much ornament or embroidery. Such tunic looks elegant. You could pair it with pipe pants and heels.

tunik alberta ferretti
Alberta Ferretti

 

tunic gucci-spring-2013-blue-tunic-top-profile
Gucci

Sexy Tunics

Could tunics look seductive? Certainly. Tunics may cover your skin and curves, but with chiffon-silk tunics,  a tempting mistery is created in your tunic’s swished fragile fabric. Other fabric (like silk, lame or taffeta) would create the understated sensuality when the fabric covers your body closely. You don’t have to show off all your skin to look sexy. This tunic defines sensuality in subtlety.

tunik Valentino-white-long-tunic-catwalk
Valentino
tunik naeem khan
Naeem Khan

There are so many different kind of tunics and they go along with all  occasions.  You don’t have to wear them only at Ramadhan or Hari Raya. They should be your wardrobe essentials because tunics are for all occasions.

 

Advertisements

TUNIK GLAMOR, KASUAL, DAN RESORT

 BERBAGAI GAYA TUNIK

Dengan variasi model dan styling , tunik bisa tampil dalam gaya glamor, kasual, dan resort. Teruslah mengenakannya, tak hanya di momen lebaran.

Teks: Muhammad Reza

tunik long chanel
Chanel Cruise 2015 Dubai, source: sparklestyle.co.uk

Sekilas Tren Mode Tunik

Menjelang hari raya lebaran, beberapa jenis pakaian naik daun. Tunik salah satunya. Sebagaimana tren mode yang selalu berputar, ia kembali menjadi pilihan untuk membalut tubuh pria dan wanita di acara perayaan. Berbagai majalah dan katalog mode beramai-ramai menyajikan tips padu-padan busana muslim yang diperankan atasan ini .

Bila berbicara tentang tunik, nuansa etnik timur tengah mungkin muncul di benak kita. Namun, tunik bukan berasal dari jazirah arab. Tunik ini pertama kali diperkenalkan bangsa romawi sebagai pakaian sehari-hari. Tunik berasal dari bahasa latin, yakni tunica. Ia berupa pakaian berlengan atau tanpa lengan dengan kerah bervariasi dari leher berbentuk V, bundar hingga persegi yang umumnya diberi ornamen bordir atau hiasan di garis leher. Panjangnya sendiri bervariasi dari sebatas pinggang hingga batas mata kaki. Mengikuti perkembangan zaman, tunik mengalami modifikasi. Di abad pertengahan, tunik dengan hiasan bordir menjadi favorit sekaligus mewakili status sosial. Pada pertengahan abad 21, tunik sudah mengalami ragam pilihan model, corak dan bahan. Selanjutnya tunik mengalami siklus tren sesuai permintaan pasar.

Kesan yang umum ditampilkan tunik adalah kesederhanaan, terkadang religius. Namun, tunik pun bisa tampil glamor, kasual hingga bohemian. Coba bayangkan tunik bernuansa islami yang pernah berkali-kali dikenakan Siti Nurhaliza dengan yang bergaya bohemian seperti rancangan Kate Moss untuk Topshop.  Masih ingat jugakah dengan tunik glamor penuh kilau ornamen yang tertangkap kamera paparazi di tubuh Kendal Jenner? Anda mungkin mengira ketiga busana itu berbeda, namun sesungguhnya mereka termasuk tunik. Hanya saja, bahan, model, aplikasi dan penataan gaya tunik-tunik ini berbeda. Itulah yang akan kita bahas dalam lembar mode kali ini, bagaimana memilah tunik untuk  kebutuhan tampil glamor, santai,  dan resort.

 

Tunik  Itu Mudah Dipadu-padan, Nyaman dan Terlihat Feminin  Saat Dipakai

Mengapa? Rahasianya ada di model yang bersahaja. Dengan banyaknya pilihan warna dan ornamen serta panjang lengan dan hem line, tak sulit menyandingkannya dengan variasi bawahan. Kenakanlah tunik bermodel sederhana namun kuat dalam warna seperti biru tua, merah darah, ungu atau warna netral seperti hitam dan putih. Hindari ornamen seperti bordir atau payet yang menyolok. Coba pilih tunik klasik, berlengan panjang dengan hem sebetis atau mata kaki. Bila ingin tampil feminin atau girly tanpa memakai dress atau rok, tunik yang panjang ini bisa jadi alternatif. Untuk kegiatan sehari-hari yang membutuhkan kemudahan bergerak, Anda bisa tetap bergaya dengan memadankan tunik sejenis dengan celana panjang berbentuk pipa dan sepatu stiletto atau sepatu flat.

tunik basic emilio-pucci-whiteblue-embroidered-voile-tunic-product-3-7980916-722337148
Emilio Pucci, source : lystit.com

 

Tunik Glamor

Mari mulai menyesuaikan tunik dengan gaya dan tujuan pemakaiannya. Untuk kesan glamor yang sesuai dengan dresscode acara pesta, Anda bisa mengenakan tunik berbahan satin, sutra atau lame baik dengan ornamen bordir benang emas atau payet kristal maupun tanpa ornamen. Sesuaikan panjang lengan dan hem line tunik anda dengan acara. Bila ingin mengenakan tunik ini ke pesta atau acara keluarga, tunik selutut dengan bawahan celana pipa tentu berterima. Sementara untuk acara yang kurang formal dengan teman-teman, tunik pendek dengan legging (atau tanpa legging) jadi opsi yang gaya sekaligus aman . Tunik glamour ini bisa dipadankan dengan stiletto atau boots.

tunik glamor chanel
Chanel Cruise 2015 Dubai, source : sparklestyle.com

 

Tunik Kasual

Untuk dikenakan saat beraktivitas sehari-hari seperti bekerja atau bepergian, tunik kasual cocok karena praktis. Tunik berbahan katun atau berlengan pendek  akan terasa dan terlihat santai dengan jeggings atau leggings bermotif atau tekstur unik. Agar memudahkan saat bergerak, pilih tunik dengan hemline yang jatuh di pinggang (atau sepaha bila tunik yang anda pilih sedikit longgar). Anda bisa memilih tunik kasual bergaya hippie atau bohemian yang longgar saat beraktivitas di siang hari, atau tunik berbahan rajut yang terlihat rapi dan cocok untuk dipakai di malam hari. Sebagai aksen penampilan kasual ini, lilitkan ikat pinggang besar atau obi.

tunik Rihanna-Dines-At-Nobu-In-NYC-2
Rihanna in Celine’s long tunic, source : fashionbombdaily.com
Balmain for H&M
Balmain for H&M

 

Tunik Resort

Inti gaya resort adalah relaksasi, yang bisa ditunjukkan melalui tunik longgar dengan warna dan motif cetak yang meriah. Saat berlibur, anda membutuhkan tunik longgar yang membuat kulit anda bernafas lega di bawah sinar mentari. Pilih bahan yang ‘mendinginkan’ seperti linen dan katun. Nikmati warna-warna penuh keceriaan seperti kuning, merah jambu menyala, turqoise atau hijau limau dengan atau tanpa motif cetak floral dan geometris yang identik dengan musim panas. Untuk bawahan, pilih celana panjang atau celana capri berwarna terang dengan sandal gladiator atau wedges.

 

tunic resort pucci-turban-retro-style
source : theglampad.com

Nah, bagaimana? Tunik tak hanya pantas dikenakan di saat lebaran. Pilihan dan padu padan tunik yang berbeda bisa memberi variasi dalam kegiatan berbusana sehari-hari. Selain praktis, nyaman, dan sangat  berterima untuk dikenakan di berbagai aktivitas, tunik menjadi pilihan  untuk penampilan yang feminin, santun dan elegan.

 

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

PANDUAN MERAWAT BUSANA BERDASARKAN BAHANNYA (2011)

(Sutra, Tulle, and Batik)

Busana berbahan spesial membutuhkan perawatan yang berbeda.

(By : Muhammad Reza. Published partially in 3 postings in Yahoo! Indonesia  in March-April 2011)

Sutra, tulle dan batik adalah tiga bahan busana yang berharga. Anda tentu tak ingin pakaian mahal itu terpaksa dibuang karena rusak, kan? Memang, pakaian yang cepat rusak biasanya disebabkan perawatan yang kurang tepat. Padahal, apabila Anda mengenali jenis bahannya, pastilah hal ini bisa dihindari. Tulisan ini  merupakan beberapa panduan dasar dalam merawat busana berbahan sutra, tulle dan batik melalui cara membersihkan, pengeringan, penyetrikaan, hingga penyimpanan di dalam lemari.

SUTRA

Sutra mencerminkan keanggunan yang ekslusif. Ia juga memiliki kelebihan yang membedakannya dengan kain lain yaitu sifat anti debu yang membuat pakaian terlihat bersih dan rapi.

Hingga kini, banyak orang yang meyakini bahwa cara terbaik membersihkan busana sutra adalah melalui drycleaning. Jika anda juga melakukannya, selalu pastikan petugas drycleaning tidak meletakkan busana sutra anda di antara busana-busana berbahan kasar seperti katun, tweed, jeans atau akrilik (woll sintetis). Anda tak ingin bahan kasar dari busana lain merusak kemulusan pakaian sutra Anda, kan?

IMG_20170513_171117

Untuk perawatan yang lebih maksimal, sebaiknya bersihkan sendiri busana sutra ini di rumah dengan dengan tangan. Sutra terbuat dari serat protein alami yang menyerupai rambut. Itulah sebabnya sutra bisa dibersihkan dengan shampo. Jangan gunakan shampo yang mengandung minyak atau petroleum karena mereka membuat permukaan sutra terasa lengket. Hindari merendam busana sutra (bahkan jangan pernah dicuci dengan mesin cuci), namun usap-usaplah dengan lembut. Gunakan air hangat agar pelapis (coating) sutra anda bersinar kembali. Hal menguntungkan dari sutra adalah sifat anti debu dan anti noda. Namun, bila Anda menemukan noda membandel, percikkan sedikit cuka dan gosok noda tersebut dengan jari sampai hilang.

Untuk mengeringkannya, gulunglah dengan handuk dan tekan hingga air merembes keluar (jangan sekali-sekali memeras sutra kecuali Anda ingin seratnya rusak). Biarkan busana sutra mengering di tempat berangin yang tidak terpapar sinar matahari. Ingatlah bahwa sinar matahari bisa membuat sutra menguning.

Lalu bagaimana bila ingin menyetrika busana sutra? Selalu balik busana sutra sehingga bagian dalamnya berada di luar. Setelah itu lapisi dengan kain katun dan seterikalah dengan panas minimum. Penggunaan seterika uap juga cukup efektif, tetapi Anda harus ekstra hati-hati, kalau tidak, seterika uap ini bisa meninggalkan bekas uap yang permanen di permukaan busana Anda.

Setelah membersikan, mencuci, mengeringkan dan menyeterika busana sutra, simpanlah busana sutra Anda dengan benar. Cukup sederhana. Sarungkan ia dengan sarung bantal berbahan katun. Katun berserat alami dan berpori sehingga  memungkinkan busana sutra bernafas. Bayangkan bila Anda membungkusnya dengan plastik. Tak saja menjadi lembab, ia pun bisa berjamur!

TULLE

Bahan tulle menjadi favorit untuk dijadikan rok dan gaun feminin termasuk kebaya. Teksturnya yang rapuh dan mengembang cocok untuk busana yang girly. Jangan hilangkan efek volume dan keringkihan busana tulle anda hanya karena salah cara mencuci, mengeringkan dan menyimpannya.

Cara terburuk membersihkan busana tulle adalah melalui dry-cleaning. Bahan-bahan kimia dalam proses dry-cleaning bisa membuat tulle mengempes dan keropos. Cara terburuk lainnya adalah dengan mencelupkannya ke dalam mesin cuci bersama pakaian sehari-hari anda. Kalaupun terpaksa mencuci busana tulle dengan mesin cuci, pisahkan ia dengan pakaian berbahan keras dan kasar seperti jeans atau katun. Cara terbaik membersihkan busana berbahan tulle adalah merendam dan mencucinya dengan tangan. Gunakan sabun hanya untuk menghilangkan noda. Hati-hati, jangan gosok tulle dengan kasar atau ia akan sobek.

Tulle mudah mengering. Karena sangat rapuh, sebaiknya anda jangan pernah menyetrikanya kecuali dengan seterika uap. Bila kusut, cukup semprotkan air dan regangkan hingga kekusutannya hilang.

Supaya busana tulle anda tetap mengembang, jangan pernah melipat atau membuatnya tertindih di dalam lemari. Gantungkan busana tulle dengan tidak terhimpit busana lain.

BATIK

Batik terbuat dari sejenis lilin yang dinamai malam. Pewarnaan alami yang digunakan dalam proses pembuatan batik menyebabkannya harus dirawat dengan serius. Banyak diantara kita membersihkan busana batik dengan drycleaning, padahal bahan kimia dalam proses tersebut bisa memudarkan warnanya. Kerusakan yang sama dapat ditimbulkan oleh deterjen dalam pembersihan dengan mesin cuci. Bagaimanapun juga, cara membersihkan batik yang disarankan adalah dengan mencucinya dengan tangan. Gunakanlah sabun dan shampoo dalam air hangat. Hilangkan noda membandel dengan irisan lemon. Untuk mengeringkan batik anda, gantunglah di tempat yang terlindung sinar matahari dan jangan peras busana batik anda.

15-22-31-00190fullscreen

Anda bisa mempertahankan pesona warna busana batik anda dengan menyimpannya dengan seksama. Caranya, lapisi busana batik anda dengan kain katun saat menyetrikanya. Agar warna busana batik tidak bercampur saat disimpan di lemari, hindari melipat dan menyimpannya dalam tumpukan pakaian. Lapisi busana batik tersebut dengan kertas minyak (jangan gunakan kertas koran karena tinta koran bisa menodai batik), lalu gulung dan gantunglah di lemari.

Dengan cara yang tepat dalam membersihkan, mengeringkan, menyetrika dan menyimpan, busana spesial Anda bisa tahan lama dan awet keindahannya. Kini, Anda pun bisa menganggap busana-busana ekslusif tersebut sebagai investasi  dalam mempresentasikan diri melalui gaya dan penampilan terbaik Anda.

Untuk saran dan pertanyaan, silakan email : muhammadreza_ss@yahoo.com atau whatsapp +6287877177869

KAIN TRADISIONAL MENJADI TREN (2008)

 

Published in Bandung Advertiser 26 Juni 2008

Teks: Muhammad Reza Foto: Dok. Deden Siswanto (photographed by Anton Mulyana), Dok. Andi Saleh

(muhammadreza_ss@yahoo.com 087877177869)

Sudah melihat peragaan busana spring summer 2008 Diane Von Furstenberg? Kalau belum, coba klik situs style.com dan temukan foto atau video peragaannya. Anda akan menyaksikan disainer gaek ini mengenakan sackdress bermotif grafis yang menurut pengakuan beliau terinspirasi dari motif batik lereng. Tak mengherankan, Diane Von Furstenberg memang mewujudkan kenangannya akan keindahan eksotisme Bali dalam koleksi siap pakai berjudul Under The Volcano. Majalah Harper’s Bazaar Indonesia saja berkomentar, bahwa bangsa ini ‘kecolongan’ lagi dalam mengeksplorasi kekayaan tekstil Indonesia .

Deden Siswanto 2 APPMI
Deden Siswanto

SEKILAS KEKAYAAN TEKSTIL TRADISIONAL INDONESIA

Indonesia memang berlimpah akan kekayaan budaya, termasuk aset mode seperti banyaknya macam baju adat. Apabila setiap suku di Indonesia memiliki ragam tekstil tersendiri seperti kain ulos bagi suku batak, kain prada bagi masyarakat bali, songket bagi masyarakat palembang , dan aneka macam batik dari jenis megamendung hingga pekalongan, belum termasuk variasi asesorinya yang berkembang beratus-ratus tahun, bayangkan saja betapa kayanya potensi mode bangsa ini!

Omong-omong tentang kesadaran akan kebanggaan terhadap budaya tanah air (khususnya di bidang mode), Indonesia sempat memiliki masa kejayaannya. Siapa yang tak ingat instruksi Presiden Sukarno kepada Ibu Sud untuk mempopulerkan kembali busana batik di tahun 50-an? Dalam buku Serasi dan Gaya Berkain gubahan Ami Dianti Wirabudi (pimred majalah Eve) dan Tini Sardadi, disainer terkemuka Carmanita menceritakan betapa cantik dan elegannya para wanita di tahun 50-60an berdansa mengenakan kain dan kebaya berbahan ‘Paris’. Di buku yang diterbitkan Gramedia ini pula, ia menyebutkan daya tarik magis yang muncul dari pemakaian kain tradisional.

Tentunya Anda juga mengenal nama-nama besar di dunia mode Indonesia yang tak lelah mengusung tekstil tradisional dalam helai demi helai busana rancangannya. Ghea Sukarya (kini Ghea Panggabean), misalnya. Batik luriknya terlihat modis dalam cullote dan waistcoat di halaman majalah remaja di akhir 80-an. Ada pula Iwan Tirta dan Prajudi (alm.) yang setia ‘mengolah’ batik. Selain para maestro tadi, disainer-disainer muda pun mencintai warisan kain Indonesia. Ada Obin (Josephine Werratie Komara) yang di tahun 2002 mempersembahkan koleksi ikat dan sulam dengan cara-cara pewarnaan kain yang hanya diajarkan turun temurun selama ratusan tahun. Anda juga tentunya masih ingat Oscar Lawalata yang menyajikan jumputan.

Syukurlah, Edward Hutabarat sukses mengakhiri ‘keangkeran’ kain tradisional ini. Di tahun 2006, ia melansir busana-busana batik ‘anak muda’ di bawah label Part One yang dengan lambat menjamur di kalangan sosialita Jakarta. Setelah diekspos berbagai media, tiruan(knock off)-nya pun beredar dimana-mana. Saat tren ini baru membahana di Bandung pertengahan tahun 2008 ini, tanda tanya pun muncul. Selama itukah waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk menerima kain tradisional kembali dalam kehidupan sehari-harinya?

BATIK IS NOW  IN FASHION. THE NEXT TREND? MORE TRADITIONAL TEXTILES!

Dengan terbukanya mata (dan dompet) masyarakat akan busana tradisional, para disainer segera mengekplorasi referensi tekstil tradisional. Tenun bali, songket, dan sarung bugis, semuanya menjadi lebih modern melalui kelihaian disainer memainkan model, warna, dan styling. Agustus 2007 silam, majalah Prodo memamerkan busana batik modern rancangan Barli Asmara dan Musa Widyaatmaja. Majalah a+ mendandani model prianya dengan kemeja print batik. Di penghujung tahun 2007, disainer Rebecca Ing menyentuh tenun pekalongan, sementara Ferry Sunarto memercikkan nuansa vintage melalui penggunaan kain tenun Bali.

Dalam acara Jakarta Fashion and Food Festival pertengangan Mei 2008 kemarin, sarung bugis mulai unjuk gigi di panggung mode. Sarung bugis yang bermotif kotak-kotak dan sekilas mengingatkan kita pada aktivitas bersembahyang umat muslim ini berubah menjadi one shoulder dan tube dress yang lebih berterima di ruangan pesta. Disainernya, Andi Saleh, terinspirasi akan kesederhanaan motif sarung bugis yang tentunya tak akan sulit dipadu-padankan dengan dandanan urban. Dengan memberi tambahan motif hati, tameng hingga kelopak bunga dengan benang emas, ia mengkombinasikan sarung bugis dengan bahan sifon sutra. Sarung bugis juga ia jadikan detil pita atau lengan balon pada gaun-gaun yang didominasi warna marun, ungu, coklat bata dan emas.

ANDY SALEH KAIN 4
Andy Saleh
ANDY SALEH KAIN 2
Andy Saleh

“Seharusnya kita bangga akan semua kain tradisional yang dimiliki bangsa ini,” tutur Andi Saleh. Saat ia masih belajar di Belanda, ia menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat asing bila disajikan produk budaya Indonesia termasuk kain tradisional. Karena itulah sarung bugis kali ini dipilih oleh disainer yang akan berpartisipasi dalam acara Islamic Fashion Festival bersama disainer lain seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Syahreza Muslim, Adesagi dan masih banyak lagi (termasuk tujuh disainer dari Malaysia)  Juli 2008 mendatang di Hotel Dharmawangsa Jakarta.

TIPS MENGENAKAN KAIN TRADISIONAL DENGAN MODERN

Kesan resmi dan kuno memang kerap melekat di benak orang banyak bila menyangkut kain tradisional. Padahal, membuat penampilan tetap modern dengan kain tradisional itu tak terlalu sulit. Panduannya sama saja; berprinsip pada memaksimalkan kecantikan dan bentuk tubuh yang disesuaikan dengan acara dimana busana itu dikenakan.

Hal yang penting untuk diingat adalah mengenali jenis kain dan kesan yang ingin ditampilkan. Contohnya, jenis kain tertentu seperti songket bertekstur tebal dan kaku. Kalau Anda ingin menampilkan kesan feminin yang lepas melambai, hindari penggunaan kain ini. Kecuali Anda ingin menciptakan efek futuristik dengan menjadikan songket ini jaket kaku dengan bahu mencuat ala Balenciaga atau Yves Saint Laurent, maka hal itu bisa saja.Kalau ingin berbusana ringan melayang seperti sackdress Diane Von Furstenberg, pilih kain ringan seperti kombinasi sarung bugis dan sifon sutra rancangan Andi Saleh.

“Anda harus tahu efek yang didapat dari setiap kain,” saran Andi Saleh tentang tips mengenakan busana berkain tradisional ini. “Mau simple mewah atau mewah glamor, tinggal cocokkan saja dengan kain dan atasannya.” Andi Saleh menuturkan bagaimana menyeimbangkan bawahan batik dengan atasan blus sederhana atau kebaya encim untuk kesan simple. Kalau Anda membutuhkan efek mewah, pilih kain yang lebih ‘berat’ seperti songket atau kain prada dari Bali yang bernuansa emas. “Yang penting, sesuaikan warnanya dengan kulit dan kepribadian Anda,” tambah Andi Saleh. Kalau Anda belum yakin dengan warna kain yang cocok, anda bisa bermain aman dengan memilih warna netral seperti hitam atau beige.

Untuk sehari-hari, cobalah lebih ‘fun’ dalam mengenakan kain tradisional ini. Untuk yang masih malu mengenakan kain tradisional, padankan kain tradisional dengan busana-busana dari label kontemporer. Jadikan kain lurik menjadi rok mini atau selutut, lalu padukan dengan tshirt hitam polos (dari Mango, misalnya). Dengan sepatu flat atau strappy sandal, kain lurik itu akan menjadi sangat casual. Atau kalau ingin bergaya bohemian, ubah saja kain batik megamendung menjadi rok semata kaki, tutup dengan tanktop putih dan kardigan hitam. Tips untuk tampil aman dengan kain tradisional bisa dengan meniru cara Frida Gianini (disainer Gucci saat ini) dalam merancang koleksi musim panas 2008. Dengan dasar warna hitam dan putih, ia bermain dengan satu tambahan ‘warna lain’, solid atau lembut. Warna lain inilah yang bisa Anda terapkan pada pilihan kain tradisional sebagai center piece.

Dengan mengenakan kain tradisional, tampil cantik dan anggun itu sudah pasti didapat. Tak hanya itu saja, Anda akan merasakan sesuatu yang baru dalam berpenampilan. Anda mengusung suatu nilai budaya dan kebanggaan akan identitas nasional. Bayangkan, saat Anda bersosialisasi dengan teman-teman Anda yang berasal dari luar negeri, mereka akan penasaran dengan motif atau bahan busana yang anda kenakan. Bila mereka mengira-ngira rok yang Anda pakai itu dari Cavalli, Anda bisa dengan bangga menjawab; “It’s songket, one of my national heritage.”

Deden Siswanto

Untuk saran dan pertanyaan, penulis dapat dihubungi melalui email : muhammadreza_ss@yahoo.com dan telepon/whatsapp di +6287877177869.