YOUNG INDONESIAN DESIGNERS (2008)

Image source: Pexels

Dua perancang muda berbagi cerita. Dimuat di Bandung Advertiser, Juni 2008.

 Teks: Muhammad Reza  Foto: Pexels, Dok. Andi Saleh, Dok. Vera Alexandra Tjiam for DEAR SIR

Pertengahan tahun umumnya ditandai dengan kelulusan siswa berbagai sekolah di tanah air, termasuk sekolah mode. Para alumnui yang telah menekuni bidang rancang busana pun bergegas menciptakan eksistensinya di masyarakat. Ada yang langsung dikenal masyarakat melalui brand pribadi, ada juga yang mengawali karir dengan bekerja pada disainer atau perusahaan yang sudah mapan. Saat wisuda, tentulah orangtua mereka merasa lega karena proses pendidikan telah rampung, Namun kekhawatiran pun tentu masih dimiliki meski secuil. Akankah calon disainer ini berhasil? Berapa lama kesuksesan akan tergapai?

Tak sedikit orangtua yang meragukan masa depan anaknya yang bermimpi menjadi perancang, apalagi jika mereka merasa kemampuan ekonominya jauh dari kesan mewah bidang yang ditekuni anaknya. Dunia mode yang kerap terlihat glamor dan mewah mahal ini memang lekat dengan kalangan kelas atas. Padahal tak semua perancang busana ternama berasal dari keluarga dengan kekayaan berlimpah. John Galliano, misalnya, sempat tak memiliki rumah dan menumpang saat menimba ilmu di sekolah mode St. martin London. Christopher Bailey sendiri pun dibesarkan di perkampungan West Yorkshire di Inggris dan berayahkan tukang kayu.

Namun, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Untuk berhasill di dunia mode, bakat, keterampilan dan penguasaan bidang yang digeluti sangat berperan. Sebagaimana pernah diutarakan Muara Bagdja kepada saya, mode itu merupakan dunia pekerjaan yang kompleks dan perlu dipelajari. Mode tak hanya berkisar antara kreatifitas dan estetika pakaian-pakaian cantik dalam foto-foto di majalah dan fashion show.  Banyak talenta dan kerja keras yang dilibatkan dalam dunia ini seperti sumber daya penjahit yang harus sesuai tuntutan perkembangan zaman, strategi pemasaran, hingga efisiensi promosi tepat sasaran. Itu sebabnya, latar belakang ekonomi keluarga tidak menjadi hambatan besar bagi siapa saja yang berbakat dan ingin mewujudkan cita-cita memiliki usaha dalam mempercantik penampilan masyarakat. Di sekolah mode, para disainer masa depan tak hanya diajarkan bagaimana merancang pakaian, tapi juga menggali ilmu mengenai berbagai aspek bisnisnya.

Vera Alexandra Tjiam, misalnya. Setelah lulus dari sekolah mode Esmod Jakarta dengan spesialisasi busana pria, ia berkonsentrasi di label Dear Sir. Masa-masa penuh tantangan yang sulit dilupakannya saat menimba ilmu di Esmod adalah pada tahun ketiga pendidikan dimana mereka harus mempersiapkan koleksi kelulusan yang merupakan tugas akhir. Ia mengaku bahwa banyak rekan-rekannya yang hanya memiliki waktu sekitar empat jam sehari pada masa itu. “It was really tough,”ujarnya.

Wanita yang berdomisili di Jakarta ini juga menunjukkan seleksi alam sudah terjadi bahkan ketika masih dalam masa pendidikan. “Saat tahun pertama, ada tiga kelas di bidang yang sama. Pada tahun terakhir hanya tersisa dua kelas dan kelas yang saya hadiri hanya berjumalah dua belas siswa! Namun, pendidikannya sangat intensif. Saya diajarkan dunia mode dari a hingga z yang pada akhirnya memudahkan saya untuk siap bekerja di bagian manapun dari industri mode.”

Dear Sir by Vera Alexandra Tjiam

Di antara nama-nama perancang busana yang sedang menanjak karirnya, ada beberapa nama yang tak terdaftar di buku lulusan sekolah mode manapun. Hal ini menujmoijfnjukkan bahwa untuk menjadi seorang perancang busana yang memiliki ‘pasar’ itu ternyata tak harus selalu melalui jalur pendidikan formal. Beberapa nama disainer yang sudah termasuk berpengaruh dan tidak mengikuti pendidikan mode di sekolah formal adalah Ivan Gunawan dan Anne Avantie. Ivan Gunawan mempelajari rancang busana langsung dari pamannya; Adjie Notonegoro dengan bekerja selama lima tahun pada disainer yang pernah mendeklarasikan kebaya sebagai milik Indonesia ini. Sama halnya dengan Anne Avantie. Belajar merancang busana secara otodidak tak membuat ia berkecil hati apalagi sampai mundur dari kecintaannya pada mode.

Andi Saleh adalah salah satu perancang muda yang membangun brand busana tanpa melalui jalur formal seperti sekolah mode. Perancang busana yang pada Jakarta Fashion Food Festival 2008 kemarin menyuguhkan sarung bugis makasar menjadi pakaian yang modern ini menceritakan pengalamannya saat belajar menciptakan busana secara non-formal di Broek In Waterland – Belanda pada tahun 2002 – 2003. Ia mengembangkan skill-nya melalui seorang seniman yang membuka kelas privat dan menunjukkan padanya seni kombinasi warna, aplikasi dan pencampuran kain. Setelah bertahun-tahun memperkenalkan karyanya, ia pun mulai memiliki kalangan pelanggan sendiri, yaitu wanita-wanita matang yang feminin dan para pria berjiwa muda yang berani tampil beda. Lambat laun, ia mendapat tempat di hati banyak pencinta mode. Saat ini ia sedang mempersiapkan peragaan busana muslim Malaysia-Indonesia yang akan diadakan bulan Juli 2008. Jasanya sebagai fashion stylist pun sering diminta beberapa band baru di Indonesia .

Andi Saleh

Untuk menjadi perancang busana yang diterima di masyarakat mungkin tak melulu harus ditempuh melalui sekolah mode. Andi saleh memberikan saran kepada mereka yang ingin menjadi perancang busana, “Gali terus selera fashion Anda karena fashion itu terus berputar. Anda juga harus bisa meramu selera pasar dengan idealisme pribadi sehingga keduanya bisa bersatu dengan harmonis.” Disainer muda yang ingin segera memiliki butik dengan konsep rumah peninggalan Belanda sebagaimana yang banyak dilihatnya di Bandung ini  juga menyarankan agar mereka rajin melihat kanal-kanal mode, majalah dan internet.

Vera Alexandra Tjiam pun memiliki pesan kepada mereka yang ingin menjadi disainer. “Pastikan kalau Anda benar-benar meminati mode. Bukan hanya karena kesannya enak dan mudah. It’s not that simple to be a fashion designer, especially the good one. Banyak hal-hal rumit yang harus benar-benar dijalani dengan serius dan ini akan menyita waktu banyak. But it’s worthed. Jangan sampai putus di tengah jalan. Cari informasi mengenai sekolah mode yang bagus supaya tidak salah pilih, dan kalo memang sudah cocok, just go for it!”

Advertisements

WAKAF DAN DAKWAH JULIA PEREZ

white rose pexels-com
Image Source: Pexels.com

Tak kenal maka tak sayang. Bila kenal Jupe, tentulah kita sayang padanya. Dimuat di http://v20106.kompasiana.com/modenesia/wakaf-dan-dakwah-julia-perez_593d07159c7c034ae862ce82

Berpulangnya Julia Perez atau Jupe pada 10 Juni 2017 meninggalkan kesedihan mendalam bagi semua yang menyayanginya. Perjuangan pemilik nama asli Yuli Rahmawati melawan kanker mulut rahim sejak 2014 telah menunjukkan contoh perilaku penuh ikhtiar, semangat dan keyakinan akan rahmat Allah SWT.  Beberapa kesalahan mungkin telah dilakukan Jupe dalam persinggahannya di dunia, namun hanya Allah SWT yang menentukan akhir perjalanan beliau; baik atau buruk. Saya mendoakan Jupe husnul khotimah. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosanya, dan menerima segala amal ibadahnya.

Sebagai masyarakat awam yang hanya bisa menyaksikan kisah hidup pekerja seni berusia 36 tahun ini melalui berbagai media, saya melihat perubahan positif pada Jupe semenjak ia diberi berbagai cobaan, termasuk penyakit kritis ini. Dan apabila derita tersebut pada akhirnya menutup perjalanan Jupe di dunia, semoga derita itu telah membuka pintu yang sarat bekal terbaik untuk menemui Sang Khalik.

Jupe yang saya kenal melalui media merupakan artis seksi yang suka bercanda dan sering beramal membantu sesama. Ia diketahui telah menjual mobilnya untuk memenuhi permintaan warga Papua membangun masjid saat berkunjung kesana. Artis kelahiran 15 Juli 1980 ini juga diberitakan menjual perhiasan berlian untuk merampungkan pembangunan terbengkalai atap suatu musholla di Serang, Jawa Barat. Ia juga telah menolong memulangkan atlit sepakbola asal Rusia yang tiga bulan gajinya belum dibayar oleh PSLS Lhoksumawe. Di awal karirnya pun acapkali saya melihat beritanya melakukan kegiatan sosial seperti menyumbang warga yang tidak mampu. Bagi saya, Jupe itu orang baik.

Apabila kebaikan-kebaikan Jupe bisa dianggap wakaf atau dakwah, ada tiga perbuatan kecilnya  yang terlihat sepele namun berdampak teramat besar yang telah dilakukan Jupe bagi kemanusiaan. Berikut ini kebaikan tersebut.

Melindungi Para Istri dari Penyakit Menular Seksual

Jupe secara tidak langsung melindungi jutaan perempuan dan ibu rumah tangga di Indonesia. Kampanye kondom melalui kemasan album perdana Kamasutra menuai hu okjatan karena berkesan mengajak perilaku seks bebas. Namun bila kita renungkan dan lihat dari sisi positif, perbuatan ini justru memiliki pesan kemanusiaan yang sangat besar. Setiap wanita tidak bisa memastikan kesetiaan atau kegiatan seksual suaminya di luar rumah. Yang dihasilkan kampanye kondom Jupe memang terkesan preventif belaka. Namun ini sangat efektif karena memperkecil kemungkinan para istri menderita penyakit menular seksual yang didapatkan dari suami yang lalai di luar rumah. Kampanye ini melindungi perempuan.

helping hand
Image Source: Pexels.com

Mengajak Masyarakat untuk Menolong Tanpa Pamrih, Tanpa Pandang Bulu

Dengan cara sederhana, Jupe memberi contoh untuk berbuat baik kepada siapa saja meski tak mengenalnya. Pada kuartal akhir 2016, dunia sosmed tanah air dihebohkan dengan postingan pelantun Belah Duren ini di instagram mengenai kondisi memprihatinkan kakek-kakek pedagang nasi uduk. Jupe mengajak masyarakat membantu beliau dengan membeli makanannya. Kekuatan popularitasnya dimanfaatkan secara positif untuk menolong. Mungkin sangat gampang bagi Julia Perez untuk mem-posting di akun @juliaperrezz. Namun kepedulian wanita yang sempat ditawari menjadi calon bupati Pacitan ini telah membuat dagangan si kakek menjadi lebih laku. Tindakan Jupe menginspirasi masyarakat agar peduli dan menolong sesama dengan cara sekecil apapun.

holding flowers
Image Source: Pexels.com

Mencontohkan Berperilaku Baik kepada Siapa Saja.

Jupe dikenal sangat ramah kepada siapapun. Penyanyi dangdut sekaligus aktris beberapa film horor ini mudah didekati penggemar dan wartawan. Hubungannya dengan sesama artis juga tulus dan ia dikenal sangat suka menolong. Sehingga tak mengherankan, begitu banyak orang yang menjenguknya di rumah sakit, banyak yang membantu kesusahannya, dan banyak yang mengantarkan serta mendoakannya ke pemakaman.

Melalui Julia Perez, saya diingatkan untuk mempertanyakan keimanan pribadi. Ketakwaan kepada Allah SWT tak cukup melalui amal vertikal seperti shalat dan puasa. Ketaatan  kepada Sang Khalik juga dilakukan dengan mencintai dan peduli kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

Saya yakin Julia Perez orang baik. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya di masa lalu dan menerima taubat dan segala amal ibadah serta kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya. Amin Ya Rabbal Alamin. Mari kita kirimkan Al Fatihah untuk Almarhumah Julia Perez.

heaven
Image Source: Pexels.com

FASHION ICON

 Tulisan ini dibagi dalam tiga bagian; mengetahui makna fashion icon, mengenali beberapa contoh mereka, dan memetik manfaat dari pengetahuan tersebut. Ohya, tulisan ini juga dibuat tahun 2008 (dengan penyesuaian pagi ini). Sehingga referensi fashion icon yang digunakan hanya hingga 2008. Untuk foto, mungkin sedikit membingungkan karena foto fashion icon yang ditampilkan tidak sedang mengenakan gaya yang selalu diidentikkan dengan dirinya. Sesekali lihat mereka berbeda boleh, kan?

Oleh Muhammad Reza

 Kamu siapa, Fashion Icon?

Saya pernah menemukan kejanggalan dalam suatu tayangan  ulasan gaya hidup di sebuah stasiun televisi lokal. Narator mengatributkan seorang wanita sosialita lokal yang modis dengan fashion icon.

Menganggap seseorang yang modis dan menarik sebagai fashion icon sah-sah saja. Bila seorang  penyanyi selalu berbusana sesuai tren mode terkini, maka banyak yang menamainya fashion icon. Bila ada seorang aktris yang gaya rambutnya kerap terlihat mengikuti tren terkini, ia juga digelari yang sama. Apakah fashion icon sama dengan modis atau fashionable?

icon vogue 1920 wartime wardrobe
source : vogue.com

Fashion icon adalah acuan atau patokan sebuah pencitraan melalui dandanan .  Jadi, ia tak hanya pencitraan yang diperoleh melalui padu padan pakaian, namun juga sebuah kepribadian yang kuat. Bahkan, fashion icon itu berskala global. Jadi, bila masyarakat di ujung kota New York atau Paris mengenal dan menjadikan gaya berpakaian Anda yang khas sebagai acuan atau inspirasi berbusana, maka bisa saja  sebutan fashion icon mampir pada diri Anda.

Kamu Seperti Apa, Fashion Icon?

Ada beberapa nama besar yang hingga saat ini menjadi fashion icon; para wanita yang mempengaruhi pikiran jutaan wanita lainnya saat berbelanja baju atau saat merias wajah. Beberapa diantaranya; Marylin Monroe, Grace Kelly, Ali McGrow, Cher, Farrah Fawcett, Jean Harlow, Marlene Dietrich, Katherine Hepburn, Louise Brooks, Babe Paley, Madonna, Audrey Hepburn, Duchess of Windsor (Wallis Simpson), Isabella Blow, Jackie O dan Kate Moss.

Setiap persona yang digelari fashion icon mewakili sebuah kepribadian yang terwujud dalam gaya berbusana. Contohnya, seksi akan menghubungkan pikiran kita dengan  Marylin Monroe yang berambut pirang dan bergaun dengan garis leher sangat rendah. Selain itu, keanggunan akan mengingatkan kita pada Audrey Hepburn dengan tatanan rambut cepol (bun hairdo) yang sederhana dalam balutan little black dress atau Capri pants. Tambah lagi, jiwa muda yang personal melalui Kate Moss dengan padu-padan busananya yang bebas tanpa terikat rekomendasi tren mode.

Meski ada beberapa nama besar yang menjadi fashion icon hingga kini, namun hanya ada enam tokoh yang cukup mewakili. Ini karena cara berpakaian mereka yang terkenang dan paling mudah ditiru dalam kehidupan sehari-hari masa kini.

Marylin Monroe

icon monroe lundici
source : http://www.lundici.it

Marylin Monroe selalu identik dengan citra seksi. Gaun yang membalut tubuh sintal dengan penegasan di bagian dada, bedak tebal dan bibir tersapu lipstik merah, serta rambut pirang merupakan ciri khas sang ikon.

Lama sesudah kematiannya, look ini masih tetap diadopsi oleh banyak wanita dan disainer. Madonna, Sharon Stone, Christina Aguilera, Gwen Stefani hingga Scarlett Johansson sempat beramai-ramai menjadi kloningnya. Disainer seperti Marciano untuk Guess dan couturier Zuhair Murad pun tak ketinggalan beberapa kali merias wajah dan rambut para modelnya menyerupai perempuan bernama asli Norma Jeane Baker Mortensen itu.

Gaun halter neck dan longdress yang memamerkan daya tarik seks adalah pakaian wajib di lemari bila penampilan ingin dianggap ‘menawarkan sensualitas’ seperti Marylin. Entah untuk memuaskan ego terhadap pembuktian diri atau sekedar untuk memperoleh rasa kagum.

Audrey Hepburn

icon audrey
source : http://www.glamour.com

Saksikan film Breakfast at Tiffany’s dan anda akan memahami citra yang ditampilkan Audrey Hepburn. Film ini memaparkan secara keseluruhan gaya berbusana pribadi anggun berkelas. Melalui film ini, Audrey adalah manifestasi penampilan wanita cantik, cerdas, anggun, dan mahal, terlepas dari simpang siur kejelasan profesi tokoh yang diperankannya dalam film tersebut.

Diluar penampilan dalam sinema pun, Audrey Hepburn berbusana nyaris serupa dan menunjukkan bahwa seorang wanita tetap menarik tanpa harus mengumbar tubuh seperti aktris besar pada masa jayanya. Kunci dalam gaya berbusana ala Audrey Hepburn terletak dalam kesederhanaan model busana seperti little black dress ala Chanel dan busana-busana rancangan Givenchy (di masanya).

Audrey juga membuat tata rambut bergaya pony tail dan cepol (semacam sanggul kecil) digemari dan melejitkan gaya kasual yang ringkas dan segar melalui celana Capri dan sepatu bersol datar.

Marlene Dietrich

icon dietrich vogue fr
en.vogue.fr

Sebenarnya gaya berbusana Marlene Dietrich agak mirip dengan Katherine Hepburn bila dikaitkan dengan gaya tomboy dan androgini. Keduanya terkenal mengenakan pant suit atau setelan jas dengan celana panjang. Marlene Dietrich mempopulerkan pemakaian vest, blazer dan palazzo, celana panjang yang cukup gombrang hampir menyerupai rok. Ia pun mempopulerkan pemakaian topi fedora untuk wanita yang sebelumnya hanya dikenakan pria. Salah satu gaya Marlene yang semakin menguatkan citra tomboynya adalah dirinya yang kerap terpotret dengan cerutu. Tak heran, Madonna, Britney Spears, Elle MacPherson, Catherine Deneuve, Gwen Stefani, dan ratusan selebriti modis lainnya pernah bergaya ala Marlene Dietrich. Ohya, jangan lupakan alis Dietrich yang begitu ikonik sehingga menjadi referensi tata rias wajah hingga kini.

Jackie O

icon jackie
source : http://www.pinterest.com

Jaqueline Kennedy Onassis atau terkenal dengan sebutan Jackie O adalah personifikasi wanita amerika ideal. Ataukah ia yang menginspirasi mereka? Terkait dengan statusnya sebagai ibu Negara di masa membaiknya kesetaraan gender dalam dunia pekerjaan di dunia, penampilan Jackie O menjadi acuan untuk tampilan ke tempat kerja hingga pesta resmi.

Pakaian wajib yang menjadi ciri khasnya adalah boxy jacket dan tweed jacket yang dipadankan dengan rok selutut. Namun aksesorinya yang menjadikan Jackie begitu ikonik dalam referensi mode. Apalagi kalau bukan kacamata super besar yang dikenal dengan kacamata belalang atau kacamata Jackie O. Madonna, Chloe Sevigny,  hingga Nicole Richie dan Paris Hilton berkali-kali dijepret juru foto meneruskan pesona asesori sang ikon meskipun pencetus gaya tersebut telah tiada.

Duchess of Windsor

icon wallis
http://www.kpbs.org

Wallis Simpson atau Duchess of Windsor adalah seorang wanita Amerika yang gaya berbusananya sama kondangnya dengan statusnya sebagai istri Edward VIII dari kerajaan Inggris. Ia suka berbusana untuk tampil beda. Ia juga menggemari perhiasan yang berani dan tidak biasa.

Saat Coco Chanel mempelopori costume jewellery atau perhiasan imitasi, Duchess of Windsor memakainya sehingga jenis perhiasan itu semakin populer. Duchess of Windsor juga terkenal mengenakan sepasang anting mutiara yang bertentangan warnanya (salah satu berwarna putih dan lainnya hitam).

Mungkinkah status sosial memberinya hak melangkahi aturan-aturan konvensional mode? Bagaimanapun juga, ia mengilhami khalayak mode untuk berdandan sebebas dan sekreatif yang kita inginkan.

Kate Moss

icon kate moss
source : http://www.vogue.com

Kate Moss adalah fashion icon termuda dan paling berpengaruh saat ini. Bila fashion icon lain kerap diidentifikasi pada satu pencitraan, Kate Moss lebih majemuk menjadi siapapun yang ia inginkan. Ini tentu tak lepas dari profesinya sebagai model yang terbiasa memberi nafas kepada setiap busana yang ia kenakan.

Kate Moss dikenal mengangkat derajat pasar busana bekas yang awalnya berkesan ‘hippie’ menjadi naik kelas, hip dan trendi di dunia mode. Penampilannya membuat vintage menjadi berterima di dalam derasnya arus tendensi mode.

John Galliano pernah berkomentar bahwa Kate Moss bisa mengenakan busana apa saja, buatan tahun kapan saja, dan busana itu menjadi terlihat modern. Ini karena personality Kate lebih kuat dibanding semua atribut yang dikenakannya. Sehingga saat ia berbusana, kita hanya melihat pesona seorang Kate Moss. Gayanya yang terkenal adalah gaya rockn roll chic dan heroin chic meliputi skinny jeans, atasan-atasan yang unik, kacamata hitam dan sepatu boots.

Secara umum, Kate Moss mempopulerkan padu-padan busana buatan disainer dengan baju bekas tak bermerk dari pasar baju loak.

Apa Faedahnya?

Keenam wanita tersebut merupakan fashion icon terbesar, menurut penulis, setidaknya hingga 2008. Mereka berkontribusi dalam menentukan gaya berbusana para wanita hingga saat ini.  Tentunya masih ada nama-nama lain yang pantas dinobatkan sebagai fashion icon. Namun, keenam wanita ini memiliki pengaruh terbesar. Tak saja menginspirasi para disainer, namun juga menjadi acuan setiap wanita di kala menentukan busana apa yang akan dikenakannya.

Akhirnya, perkenalan dengan fashion icon, tokoh-tokoh luar biasa ini, bisa kita ambil manfaatnya sesuai kebutuhan masing-masing. Tak usah rumit-rumit dalam memetik dan menerapkan faedah tulisan ini. Saya akan berikan tiga contoh sederhana.

Contoh pertama manfaat mengetahui perkara keenam fashion icon ini adalah seperti berikut. Kalau suatu saat Anda ditawari salah satu gaya dari keenam wanita ternama tersebut  oleh personal shopper, sales assistant atau  hairdresser, para profesional ini dan Anda sudah memiliki pemahaman yang sama. Hal serupa berlaku bila Anda ditawari gaya fashion icon yang tak disebutkan disini. Yah, ini hanya sekedar pengetahuan saja sehingga risiko salah gaya apalagi komplain, penyesalan, dan buang-buang waktu pun terhindari.

Selain itu, meskipun kita sangat tidak dianjurkan menilai buku dari sampulnya, gaya berbusana memberi kita sedikit kata pengantar mengenai kepribadian kenalan baru yang memiliki gaya menyerupai salah seorang dari keenam fashion icon tadi. Sebagian dari kita cenderung meniru, termasuk meniru gaya berpakaian, para panutan atau tokoh yang dikagumi. Ini membantu kita dalam memahami dan menyesuaikan cara kita berkomunikasi dengan mereka (mungkin Anda mengerti maksud saya, dengan tetap menjunjung tinggi kesopanan dan sikap saling menghormati).

Contoh sepele lainnya, saat anda menemukan pengungkapan mengenai fashion icon atau pembicaraan yang mereferensikan gaya keenam wanita yang telah disebutkan tadi baik di percakapan sehari-hari atau melalui tayangan atau bacaan, Anda sudah menghemat waktu dan kuota internet Anda. Tak perlu google lagi. Apalagi sampai mengalami miskomunikasi karena salah interpretasi.

Ups, saya lupa menambahkan ulasan mengenai kepribadian para fashion icon disamping memaparkan gaya khas (signature look) mereka. Sesaat ingin saya edit dan tambahkan lagi sebelum dipublikasi. Namun, menurut saya sudahlah cukup sampai disitu saja. Bukankan kebanyakan dari kita cenderung sudah merasa cukup memahami dan/atau menilai sesuatu dari apa yang kita lihat saja? Apalagi bahasan kita disini, kan, cuma fashion. 

Mungkin tulisan mengenai fashion icon ini akan dilanjutkan lain waktu dengan sudut pandang yang berbeda. Terimakasih sudah repot-repot membacanya. Mohon maaf bila ada kekurangan. Semoga bermanfaat. 🙂

THE STYLISH TOUGHTS OF MUARA BAGDJA (2008)

Dimuat di Bandung Advertiser 2008

Muara Bagdja adalah fashion icon Indonesia yang membantu publik dalam
menerjemahkan mode. Melalui tulisannya, dunia mode dapat dijangkau dan dinikmati oleh masyarakat awam. Saya mewawancarai pria yang berulang tahun tanggal 19 Januari ini selama kurang lebih 45 menit di pertengahan Maret 2007.

muara bagdja
Sudah lebih dari duapuluh tahun Muara Bagdja berdedikasi di dunia fashion nasional. Berawal dari majalah Dewi tahun 80-an, karyanya sudah banyak tercetak di majalah-majalah yang mengulas fashion. Dari yang edgy seperti a+ hingga yang netral dan ‘aman’ seperti Men’s Health Indonesia. Tak ketinggalan media lain berupa surat kabar Jakarta Post dan Kompas, serta majalah gaya hidup Prodo, Her World, Kosmopolitan (termasuk edisi pria mereka), dan Matra.

Tidak hanya di media cetak, Muara Bagdja juga menjadi kepercayaan beberapa media televisi untuk menjadi narasumber program fashion. Diantaranya; Beauty and Style di Metro TV dan Gaya di SCTV. Selain itu, pemilik studio di daerah Kebayoran ini beberapa kali diminta mengkoordinir peragaan busana Oscar Lawalata dan Arantxa Adi, mengatur jalannya Mercedes-Benz Asia Fashion Award dan Mercedes-Benz Indonesia Fashion Festival.

Artis-artis yang ingin tampil cantik pun berkolaborasi dengannya. Kris Dayanti memintanya menjadi pengarah gaya untuk buku 1001 KD, sementara Andien dan Sherina untuk cover album. Okky Asokawati juga tak mau ketinggalan. Supermodel lokal ini melansir buku biografi yang ditulis Muara Bagdja.

Daftar akan semakin panjang bila partisipasinya sebagai juri dan pembicara di berbagai event diteruskan. Termasuk penghargaan.

ABOUT WORK

Apa yang membuat Muara Bagdja menyukai fashion?
Fashion tuh buat saya seperti permen. Setiap enam bulan dia berubah dengan cepat. Dinikmatinya nggak lama tapi menyenangkan. Dia juga dinamis, jadi diikutinya enak. Kita juga menerapkannya lebih bebas, karena pilihannya terus berganti.

Kalau fashion seperti permen, berarti ada yang ‘asem’ juga, dong?
Memang fashion juga ada yang ‘asem’, tapi karena saya suka yang ‘manis’ saya selalu ikuti yang ‘manis’ saja.

Banyak orang menganggap fashion sebagai sesuatu yang dangkal. Bagaimana pendapat Muara Bagdja?
Biasanya orang kalau menilai sesuatu (yang seperti itu) kan mungkin karena nggak kenal lebih dalam kali, ya. Seperti kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi orang kalau melihat fashion selalu ke permukaan, yang bagus-bagus, cantik-cantik, dan mewah-mewah saja. Kalau dilihat dari segi sdm dan kreativitas atau dari proses untuk mencapai sampai kesana, perjuangannya itu nggak sedikit. Fashion melibatkan banyak orang, melibatkan penjahit, strategi market dan promosi. Kreativitas harus ada. Dan nggak semua orang bisa lakukan itu. Fashion itu keahlian dan dunia tersendiri, yang kalau dibandingkan dunia pekerjaan lain kurang lebih sama. Seperti dunia pengacara dan kedokteran, dia harus dipelajari juga. Jadi kalau dikatakan dangkal, ya nggak juga.

Muara Bagdja cukup sering mereview koleksi busana disainer Indonesia. Pernah tidak Muara Bagdja kurang menyukai koleksi seorang disainer? Bagaimana Muara Bagdja membuat reviewnya? Apakah pedas? Atau memilih tak menulis?
Saya punya prinsip, kalau mau melakukan apa-apa kita harus jujur. Jujur itu bisa berarti dua. Pertama, kita memahami dunia itu, kedua, kita mengatakan apa yang benar-benar terjadi di sana. Misalnya pengacara, dia harus menyukai hukum dan dia harus mengatakan yang benar soal keadilan. Begitu juga menulis. Kalau saya melihat kekurangan di satu show, saya akan jujur mengatakan letak kekurangannya dimana. Suka tidak suka itu relatif ya. Intinya adalah saya jujur. Tapi memang akibatnya, tidak semua orang bisa menerima.

Apakah men’s fashion selalu identik dengan gay?
Gay biasanya memiliki kepekaan fashion yang tinggi. Di kalangan apa pun, pegawai negeri atau apa, biasanya dia pasti lebih dandy atau ‘genit’ di banding teman-teman di sekitarnya. Memang, fashion laki di dunia itu pembeli pertamanya pasti gay, setelah itu pria metroseksual, berikutnya pria-pria lainnya. Karena fashion pria saat ini lebih menonjol oleh pria gay, maka imagenya pun menjadi gay. Coba Tora (Tora Sudiro), Surya (Surya Saputra), atau Nicholas Saputra lebih fashionable, imagenya pasti tidak akan jadi seperti itu.

Dunia fashion identik dengan wanita, sehingga pria yang berkarir di dunia itu kerap dianggap gay. Bagaimana pendapat Anda?
Ini masalah stigma atau pandangan masyarakat. Pandangan umum yang lazim itu mengatakan kalau yang membuat baju itu selalu perempuan. Kita dididik dari kecil kalau yang membuat baju itu urusan perempuan. Itu Cuma cara pandang lama. Sekarang sih sudah banyak berubah, ya.

Pandangan publik dan pandangan seorang pengamat mode seperti Muara Bagdja cukup sering berbeda. Saya pernah membaca review Muara di majalah a+ yang mengkritik pendapat publik yang menganggap rancangan seorang disainer lokal melenceng dari tema. Saat itu temanya tahun 20-an era Louise Brooks, dan disainernya pernah bekerja pada seorang disainer senior. Bagaimana rasanya meluruskan kekeliruan dari banyak orang yang menganggap dirinya fashionista ini?
Jadi balik lagi ke perkataan jujur. Saya pengen beri tahu lagi. Lihatlah segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Banyak sekali orang yang berkecimpung di dunia kreatif yang selalu berubah-ubah ini (fashion), tapi cara pandangnya itu-itu saja. Jadi kalau tahun 20-an, bayangan mereka selalu wave rambutnya atau bergaun flapper. Dan kalau tahun 50-an, harus dengan ciri 50-an. Ada sisi lain yang bisa dilihat disitu.

Saya sering baca tulisan atau dengar komentar orang yang hanya berdasarkan apa yang mereka lihat di panggung. Tapi kalau saya, saya selalu bertanya ke disainernya. Saya harus mewawancara dia. Karena sesudah itu saya tahu, oh, ternyata apa yang saya lihat di panggung itu ternyata bukan yang dimaksud oleh si disainer.

Ini juga pernah terjadi waktu saya mereview show Sally Koeswanto di majalah a+. Awalnya saya beranggapan koleksi Sally nggak nyambung antara babak pertama dengan babak kedua. Yang satu maskulin sementara yang lain feminin dengan payet segala macam. Kemudian saya mengobrol dengan dia, kenapa shownya seperti itu. Ternyata dia ingin menggambarkan kalau dirinya ataupun banyak orang selalu memiliki dua sisi yang berbeda. Ada sisi baik, ada sisi buruk. Ada yin dan yang-nya. Oh dari sana saya, menangkap, kalau shownya ternyata ingin menampilkan kedua sisi itu.
Jadi kalau dibilang meluruskan, yah memang harus. Karena saya ingin katakan pada orang, “Lihatlah dari sisi yang lain.”

Menurut Muara Bagdja, sejauh apa opini seorang pengamat mode mampu mempengaruhi eksistensi disainer?
Disini memang selain penulis, media juga berpengaruh. Kalau tulisan itu ada di sebuah media yang ‘dipercaya’, biasanya punya pengaruh. Ini dari beberapa pengalaman teman-teman yang membaca tulisan siapa saja di media apa saja. Misalnya mereka anggap, oh, koleksi ini nggak bagus, nih (menurut satu ulasan), kita nggak usah beli deh.
Tapi kalau seperti Anna Wintour (yang bisa menentukan nasib dan eksistensi seorang disainer) sepertinya belum ada. Karena baik disainer dengan media sepertinya belum saling membutuhkan. Belum sinergi kali ya.

Memang kritik dan pendapat seorang penulis mode itu dibutuhkan sekali, ya. Tapi rata-rata sikap media kita terhadap fashion kan netral. Ujung-ujungnya soal penjualan,. Dia tidak mau dimusuhi disainer, tidak mau dimusuhi pembaca, karena yang ditulisnya tidak sesuai dengan keinginan banyak orang, misalnya. Jadi masih banyak pertimbangan.

PERSONAL

Secara pribadi, saya melihat Muara Bagdja sebagai fashion icon di Indonesia. Tulisan Anda sangat kaya akan informasi seputar fashion yang dikemas dengan ringan dan menarik. Ceritakan dong dari awal bagaimana Muara Bagdja bisa menjadi penulis dan menjadi pengamat mode papan atas?
Sebelumnya saya kuliah di sastra Prancis Universitas Indonesia. Di keluarga juga ada yang penulis. Ibu saya penulis teater anak-anak. Jadi, bakat menulis mungkin menurun dari ibu. Waktu kuliah, beberapa teman saya itu disainer. Jadi dari dulu saya memang sudah berada di dunia itu. Begitu lulus, saya ditawari menjadi fashion editor di majalah Dewi. (Dewi tahun 1986, bukan Dewi yang sekarang).

Sebelum masuk Dewi, saya suka baca tulisan Suzy Mendes (fashion writer dari International Herald Tribune). Saya pikir, ini orang kok seru sekali, ya. Kalau mengkritik di koran berani banget. .Cara dia menulis juga bagus. Dia jadi referensi menulis saya di awal karir. Lalu dari tulisan saya yang satu ke tulisan lain, orang mulai setuju, bahwa apa yang saya ungkapkan disana itu, ada benarnya. Saya merasakannya sih kemudian. Setelah sekian lama, akhirnya orang menerima dan mulai menyebut saya seorang pengamat mode.

Setelah sekian lama, saya lalu punya anggapan, kalau kamu menekuni satu bidang, menjadi spesialis di bidang itu, kamu akan punya tempat di dunia yang kamu mau. Artimya, nggak banyak kan orang yg menekuni fashion editor, nggak banyak yang menekuni bidang menulis fashion.

Dalam hal personal apa Muara Bagdja tidak bisa disentuh atau diganggu?
Banyak orang yang anggap saya tertutup atau misterius, karena pada dasarnya saya nggak senang tampil. Saya di belakang layar saja. Termasuk soal pribadi. Saya nggak terlalu suka ditanya saya senangnya apa, saya tinggal dimana, saya liburan kemana, atau saya sukanya pakai baju apa. Saya nggak ingin orang tahu tentang itu. Kalau ditanya, lebih baik masalah pekerjaan saja.

Bagaimana mas Muara mendefinisikan cinta?
Pacar saya sendiri bilang saya bukan orang yang peka terhadap hal-hal seperti itu ya. Hm… Ngomong apa ya…

Lebih susah daripada mendefinisikan fashionable, yah?
Hahaha… Pastinya… Hahaha. Hm… Pas saja deh.

Apa kebahagiaan terbesar yang pernah Muara Bagdja alami?
Saya selalu bahagia, sih orangnya. Hahaha.
Saya bukan orang yang emosional, atau meletup-letup. Jalan hidup saya tuh lurus-lurus saja. Kalau cerita hidup saya dibuat film, pasti nggak laku karena monoton. Nggak ada dramanya atau action. Yah, datar-datar saja.
Tapi sebenarnya, saya suka sekali dengan summer, dengan panas. Saya suka merasa bahagia waktu sunset, duduk di atap rumah melihat matahari dari yang terang sampai oranye seperti membakar langit. Dan karena saya juga pelihara kucing, kalau saat itu mereka juga ada di sekitar saya, saya suka banget momen itu.

Yang membuat Muara Bagdja gampang menangis?
Saya juga jarang menangis, tapi saya nangis waktu satu kucing saya mati.

Apa hal yang paling Muara Bagdja sesali dalam hidup?
Nggak ada yang saya sesali.

Masa, sih?
Hm… Sebenarnya saya senang banget. Tapi mungkin kalau dibilang disesali, hm… Kenapa ada banyak hal yang baru saya dapatkan sekarang ini, dan bukan lebih awal. Paling itu saja yang saya sesali. Tapi selebihnya sih, enggak ya.

Bila tidak menjadi penulis dan pengamat mode seperti sekarang, kira-kira Muara Bagdja menjalani profesi apa ya?
Hahaha. Saya pernah melamar menjadi diplomat di Deplu dan diterima.

Lalu keluar?
Ya, karena saya diterima di majalah itu (Dewi tahun 1986, red.)

Seandainya Muara Bagdja diibaratkan sebuah koleksi pakaian, siapakah kira-kira disainer yang membuatnya?
Saya suka Burberry.

By Muhammad Reza (087877177869, muhammadreza_ss@yahoo.com)