YOUNG INDONESIAN DESIGNERS (2008)

Image source: Pexels

Dua perancang muda berbagi cerita. Dimuat di Bandung Advertiser, Juni 2008.

 Teks: Muhammad Reza  Foto: Pexels, Dok. Andi Saleh, Dok. Vera Alexandra Tjiam for DEAR SIR

Pertengahan tahun umumnya ditandai dengan kelulusan siswa berbagai sekolah di tanah air, termasuk sekolah mode. Para alumnui yang telah menekuni bidang rancang busana pun bergegas menciptakan eksistensinya di masyarakat. Ada yang langsung dikenal masyarakat melalui brand pribadi, ada juga yang mengawali karir dengan bekerja pada disainer atau perusahaan yang sudah mapan. Saat wisuda, tentulah orangtua mereka merasa lega karena proses pendidikan telah rampung, Namun kekhawatiran pun tentu masih dimiliki meski secuil. Akankah calon disainer ini berhasil? Berapa lama kesuksesan akan tergapai?

Tak sedikit orangtua yang meragukan masa depan anaknya yang bermimpi menjadi perancang, apalagi jika mereka merasa kemampuan ekonominya jauh dari kesan mewah bidang yang ditekuni anaknya. Dunia mode yang kerap terlihat glamor dan mewah mahal ini memang lekat dengan kalangan kelas atas. Padahal tak semua perancang busana ternama berasal dari keluarga dengan kekayaan berlimpah. John Galliano, misalnya, sempat tak memiliki rumah dan menumpang saat menimba ilmu di sekolah mode St. martin London. Christopher Bailey sendiri pun dibesarkan di perkampungan West Yorkshire di Inggris dan berayahkan tukang kayu.

Namun, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Untuk berhasill di dunia mode, bakat, keterampilan dan penguasaan bidang yang digeluti sangat berperan. Sebagaimana pernah diutarakan Muara Bagdja kepada saya, mode itu merupakan dunia pekerjaan yang kompleks dan perlu dipelajari. Mode tak hanya berkisar antara kreatifitas dan estetika pakaian-pakaian cantik dalam foto-foto di majalah dan fashion show.  Banyak talenta dan kerja keras yang dilibatkan dalam dunia ini seperti sumber daya penjahit yang harus sesuai tuntutan perkembangan zaman, strategi pemasaran, hingga efisiensi promosi tepat sasaran. Itu sebabnya, latar belakang ekonomi keluarga tidak menjadi hambatan besar bagi siapa saja yang berbakat dan ingin mewujudkan cita-cita memiliki usaha dalam mempercantik penampilan masyarakat. Di sekolah mode, para disainer masa depan tak hanya diajarkan bagaimana merancang pakaian, tapi juga menggali ilmu mengenai berbagai aspek bisnisnya.

Vera Alexandra Tjiam, misalnya. Setelah lulus dari sekolah mode Esmod Jakarta dengan spesialisasi busana pria, ia berkonsentrasi di label Dear Sir. Masa-masa penuh tantangan yang sulit dilupakannya saat menimba ilmu di Esmod adalah pada tahun ketiga pendidikan dimana mereka harus mempersiapkan koleksi kelulusan yang merupakan tugas akhir. Ia mengaku bahwa banyak rekan-rekannya yang hanya memiliki waktu sekitar empat jam sehari pada masa itu. “It was really tough,”ujarnya.

Wanita yang berdomisili di Jakarta ini juga menunjukkan seleksi alam sudah terjadi bahkan ketika masih dalam masa pendidikan. “Saat tahun pertama, ada tiga kelas di bidang yang sama. Pada tahun terakhir hanya tersisa dua kelas dan kelas yang saya hadiri hanya berjumalah dua belas siswa! Namun, pendidikannya sangat intensif. Saya diajarkan dunia mode dari a hingga z yang pada akhirnya memudahkan saya untuk siap bekerja di bagian manapun dari industri mode.”

Dear Sir by Vera Alexandra Tjiam

Di antara nama-nama perancang busana yang sedang menanjak karirnya, ada beberapa nama yang tak terdaftar di buku lulusan sekolah mode manapun. Hal ini menujmoijfnjukkan bahwa untuk menjadi seorang perancang busana yang memiliki ‘pasar’ itu ternyata tak harus selalu melalui jalur pendidikan formal. Beberapa nama disainer yang sudah termasuk berpengaruh dan tidak mengikuti pendidikan mode di sekolah formal adalah Ivan Gunawan dan Anne Avantie. Ivan Gunawan mempelajari rancang busana langsung dari pamannya; Adjie Notonegoro dengan bekerja selama lima tahun pada disainer yang pernah mendeklarasikan kebaya sebagai milik Indonesia ini. Sama halnya dengan Anne Avantie. Belajar merancang busana secara otodidak tak membuat ia berkecil hati apalagi sampai mundur dari kecintaannya pada mode.

Andi Saleh adalah salah satu perancang muda yang membangun brand busana tanpa melalui jalur formal seperti sekolah mode. Perancang busana yang pada Jakarta Fashion Food Festival 2008 kemarin menyuguhkan sarung bugis makasar menjadi pakaian yang modern ini menceritakan pengalamannya saat belajar menciptakan busana secara non-formal di Broek In Waterland – Belanda pada tahun 2002 – 2003. Ia mengembangkan skill-nya melalui seorang seniman yang membuka kelas privat dan menunjukkan padanya seni kombinasi warna, aplikasi dan pencampuran kain. Setelah bertahun-tahun memperkenalkan karyanya, ia pun mulai memiliki kalangan pelanggan sendiri, yaitu wanita-wanita matang yang feminin dan para pria berjiwa muda yang berani tampil beda. Lambat laun, ia mendapat tempat di hati banyak pencinta mode. Saat ini ia sedang mempersiapkan peragaan busana muslim Malaysia-Indonesia yang akan diadakan bulan Juli 2008. Jasanya sebagai fashion stylist pun sering diminta beberapa band baru di Indonesia .

Andi Saleh

Untuk menjadi perancang busana yang diterima di masyarakat mungkin tak melulu harus ditempuh melalui sekolah mode. Andi saleh memberikan saran kepada mereka yang ingin menjadi perancang busana, “Gali terus selera fashion Anda karena fashion itu terus berputar. Anda juga harus bisa meramu selera pasar dengan idealisme pribadi sehingga keduanya bisa bersatu dengan harmonis.” Disainer muda yang ingin segera memiliki butik dengan konsep rumah peninggalan Belanda sebagaimana yang banyak dilihatnya di Bandung ini  juga menyarankan agar mereka rajin melihat kanal-kanal mode, majalah dan internet.

Vera Alexandra Tjiam pun memiliki pesan kepada mereka yang ingin menjadi disainer. “Pastikan kalau Anda benar-benar meminati mode. Bukan hanya karena kesannya enak dan mudah. It’s not that simple to be a fashion designer, especially the good one. Banyak hal-hal rumit yang harus benar-benar dijalani dengan serius dan ini akan menyita waktu banyak. But it’s worthed. Jangan sampai putus di tengah jalan. Cari informasi mengenai sekolah mode yang bagus supaya tidak salah pilih, dan kalo memang sudah cocok, just go for it!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s