BEAUTY IN DECADES

Text by Muhammad Reza, Images Source: Pixabay.com, Unsplash.com.

Standar cantik terus berubah  seiring dengan berjalannya waktu. Apakah anda merasa tidak cantik? Jangan kecil hati, karena siapa tahu wajah dan tubuh anda ternyata tergolong sempurna untuk dekade lampau atau dekade masa datang!

(Dimuat di majalah CLARA edisi November 2009, halaman 20-25)

Banyak yang bilang cantik sangat relatif. Bisa saja lelaki yang sedang mabuk kepayang mengatakan kekasihnya yang paling cantik. Namun, kalau orang sekitar menganggap sang pujaan hati biasa-biasa saja, lain cerita. Demikian pula standar kecantikan di dunia mode. Bisa saja tetangga mengernyit dahi melihat Lara Stone menjadi model iklan Chloe. Kok bisa perempuan cungkring berwajah murung dengan cara jalan yang aneh itu dipercaya untuk ‘jualan’?

Bagaimanapun juga, keindahan fisik ideal dalam dunia mode memang menyerupai busana itu sendiri. Ia memiliki masa jayanya. Kalau sempat ada tren celana cutbray dan sepatu platform di dunia mode, maka ada pula tren wajah ‘aneh’ dan wajah ‘boneka’ di ranah kecantikan. Keduanya sama saja. Tren dan standar ini terus berevolusi. Mengapa saya sebut berevolusi, karena ia selalu merujuk ke masa lalu namun dikemas secara baru dengan sedikit permak disana-sini.

1900 THE GIBSON GIRLS

Ketika disainer seperti Paul Poiret atau Madelaine Vionnet ingin menampilkan busananya, para aristokratlah yang menjadi model. Wanita bangsawan ini membeli baju buatan mereka, mengenakannya di depan masyarakat, dan begitulah publikasinya. Kalaupun sebuah peragaan busana diperlukan, tetap saja para perempuan ningrat yang menjadi model. Setelah itu, datanglah hartawati asal Amerika bernama Camille Clifford yang menjadi ikon kecantikan masa itu. Ia dijuluki “Gibson Girl” karena menyerupai ilustrasi mode buatan Dana Gibson. Matanya besar dengan tatapan sayu. Bibirnya mungil dan tipis seperti boneka. Di tangan illustrator Dana Gibson, wanita ini tampil dengan wajah tak berdosa dengan rambut menggelembung berkat hairpad. Tubuhnya pun menyerupai jam pasir melalui bantuan korset. Make up mencolok dihindari karena dianggap vulgar.

Victorian Beauties
Victorian Beauties

 

1920-1930 GARCONNE A LA CHANEL

Perang dunia tiba, ekonomi memburuk, dan hidup pun prihatin. Banyak wanita terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena sang suami berangkat ke medan perang. Tak ada lagi gelung rambut. Tak ada hairpad. Rambut dipotong pendek. Tersebutlah nama Louise Brooks dengan potongan rambut bob legendarisnya yang pendek dengan poni. Tatapannya tajam dan percaya diri, menunjukkan kemandirian wanita di masa itu. Tidak seperti Gibson Girl yang lugu dan gemulai. Emansipasi wanita di masa ini mengakibatkan wajah-wajah cantik yang tegas dan cenderung maskulin menjadi pujaan. Cantik itu tak lagi sayu melempem.

Louise Brooks
Louise Brooks

Antusiasme dan gairah hidup terpancar melalui sorot mata ikon ini yang langsung diikuti aktris dan model berwajah serupa. Saat itu wanita ingin terlihat seperti anak laki-laki. Kalau wajah tak bisa diubah, dandanan dan potongan rambut bisa. Wanita pun beramai-ramai memotong pendek rambutnya yang dikenal dengan potongan Eton.

Payudara dibuat rata. Wanita mulai mengurangi makan karena tubuh sintal tak lagi in fashion.

Tren wajah kelaki-lakian ini tak bertahan lama setelah keadaan pasca. Luka perang mulai terlupa. Wanita kembali merias diri. Tren flapper dan jazz age pun muncul. Joan Crawford memoleskan riasan habis-habisan. Bibir tipis bergincu jadi idaman. Lalu ada Gloria Swanson yang menipiskan alisnya sampai habis. Louise Brooks makin jaya bersama gaya jazz dan Jean Harlow mempopulerkan rambut pirang yang dicat warna platina.

Joan Crawford
Joan Crawford

1930-1940 THE GLAMOUR ERA

Semua harus sempurna. Jika lahir tak sempurna, operasi plastik jadi jawabannya. Dunia mode pun berkibar sejajar dengan popularitas dari dunia film. Aktris Hollywood-lah standarnya. Cirinya; rahang agak keras, hidung mancung mengecil, dan gigi yang rapi. Meski bukan yang pertama, ada dua nama besar yang menjadi ikon kecantikan masa itu. Marlene Dietrich dan Jean Harlow. Marlene terkenal karena alisnya yang dibentuk tipis dan tinggi dengan sempurna dengan mata sayu bersorot sendu. Meski terkesan tak normal, alis tipis ini ditiru semua wanita. Alis tebal tak lagi cantik dan dianggap ketinggakan zaman. Sementara, Jean Harlow menyebar demam rambut pirang yang dicat peroksida. Wanita pirang dianggap lebih lembut dan cantik, terutama saat mengenakan gaun malam warna putih yang saat itu sempat populer.

Veronica Lake
Veronica Lake

Lagi-lagi wanita harus kembali bekerja mengganti suami saat Perang Dunia (PD) II. Namun, apa daya, telanjur terbuai keindahan Hollywood, wanita tidak mau tampil maskulin seperti saat PD I. Tak peduli krisis, aktris Veronica Lake mengembuskan standar kecantikan baru. Wanita bisa tampak tangguh dan feminin sekaligus. Rambut panjang yang dibelah dua dan salah satu sisinya menutupi setengah wajah berkesan misterius. Namun, tak berapa lama, ia diminta mengganti gaya rambutnya. Ternyata, banyak buruh wanita yang mengalami kecelakaan gara-gara ingin cantik seperti Veronica. Mulai dari tersandung, tertabrak, atau salah satu sisi rambutnya tersangkut di mesin pabrik. Ada-ada saja.

 

1950-1960 NEW LOOK-NEW BEAUTY

Seusai perang dunia ke dua, keadaan ekonomi meningkat.Berlimpahlah makanan yang disajikan di rumah-rumah. Tubuh wanita menjadi seksi. Mereka juga lebih bergairah dalam hidup. Ultrafeminin menjadi suatu kata yang mencerminkan kecantikan di masa itu. Wajah persegi sudah basi, diganti dengan wajah tirus. Bibir merah, eyeliner hitam, serta alas bedak netral disapu blush on merah menghias wajah setiap wanita saat itu.

Tapi pada kenyataannya kecantikan di era saat itu terbagi dua: seksi dan elegan. Ada kelompok wanita cantik nan montok seperti Marilyn Monroe, Jayne Mansfield. Namun ada juga kelompok wanita langsing yang ogah mengumbar lekuk tubuhnya seperti Audrey Hepburn dan Grace Kelly. Mereka lebih memilih tampil cantik anggun. Bukan panas merangsang. Audrey dikenal dengan tatanan rambut berponi di atas alis tebal dan bola mata yang besar. Sementara Grace Kelly menjadi standar kecantikan yang anggun dan santun.

Namun, semua ini tiba-tiba sirna saat di dekade ’60-an Twiggy muncul. Menurut saya, Twiggy bisa dikatakan sebagai cikal bakal kecantikan edgy masa kini. Bernama asli Lesley Hornby, Twiggy menyegarkan dunia mode dengan wajah dan tubuhnya yang menyerupai anak-anak. Matanya besar. Kontras dengan badannya yang kurus kecil. Cantiknya tidak biasa dan cenderung aneh. Citra wanita dewasa yang ditampilkan era new look jadi terlihat tua. Twiggy membuat jutaan wanita diet mati-matian untuk menyerupainya.

 

1970 BOHO BEAUTY VERSUS DISCO GLAM

Bosan bermain di dunia kanak-kanak, kecantikan kembali ke kodrat asalnya; wanita dewasa. Selama sedekade lebih ini, berbagai persoalan politik, sosial dan gender mewarnai hidup masyarakat. Masyarakat mulai hidup sederhana dan memaknai kehidupan. Daya tarik boho menjadi karakter kecantikan. Sensualitas tak lagi sekedar dada besar atau lekuk pinggul aduhai. Sensualitas lebih pada misterius dan kemandirian. Penandanya rambut panjang terurai alami, poni hampir menutup mata dengan make up tipis seadanya.

Francoise Hardy, Marianne Faithfull, Jean Shrimpton dan Jane Birkin menggambarkan itu semua. Cantik pun tak harus sempurna seperti era Hollywood. Si Prancis Francoise Hardy, Brigitte Bardot dan Catherine Deneuve memicu demam chic et coquette. Inggris pun mengekspor Jane Birkin – dengan gigi kelincinya – yang membuat Hermes terpesona dan membuat tas dengan namanya.

Sophia Loren
Sophia Loren

Sementara dari Italia, Sophia Loren dan Gina Lollobrigida mempertahankan kemolekan tubuh dan wajah seksi yang tak kemayu. Ini ditandai dengan eyeliner tebal yang tegas, bibir ranum yang merah, dan tulang rahang yang keras.

Tak berlama-lama dengan kesederhanaan hidup, wanita kembali berpesta. Studio 54 mengangkat kembali kesan glamour secara tak sengaja. Diane Von Furstenberg, Diana Ross, Tina Chow dan Jerry Hall menjadi ambassador kecantikan modern. Gincu merah, tata rias warna-warni dan berkilat serta rambut terurai ke samping adalah dandanan wanita yang dianggap cantik saat itu.

Era ini juga menampilkan kecantikan maskulin yang hadir melalui Grace Jones. Jika Diana Ross seorang wanita kulit hitam yang kemayu bak Putri Solo, Grace Jones kebalikannya. Tulang pipinya tinggi, rahangnya keras dan perawakannya perkasa bak lelaki. Bicara tentang wanita berkulit hitam, majalah mode Vogue pertama kalinya memasang model kulit hitam pertama di sampul majalahnya. Dialah Beverly Johnson. Meski berkulit gelap, namun tak sepenuhnya muncul dengan wajah tipe negroid. Masih ada garis-garis kecantikan kaukasia di wajahnya. Tampaknya, standar kecantikan masih mengacu pada ras kulit putih.

Farrah Fawcett
Farrah Fawcett

Di dekade ini muncul tipe kecantikan baru yakni sporty beauty yang ditandai dengan tubuh tinggi atletis serta kulit kecoklatan seperti milik Farah Fawcet, the original Charlie’s Angels.

 

1980-1990 SUPERMODEL VERSUS EDGY BEAUTY

Disinilah para model menancapkan standar kecantikan dalam dunianya. Supermodel tak sekedar profesi, namun juga kepribadian. Tubuh tinggi atletis dengan dada dan bokong sempurna adalah ciri utama supermodel. Wajahnya pun tegas dan berkarakter. Cindy Crawford, Claudia Schiffer, Christy Turlington, Naomi Campbell, Nadja Auermann, Eva Herzigova, dan Linda Evangelista adalah beberapa diantaranya. Mereka layaknya boneka Barbie dalam wujud manusia secara sempurna. Banyak orang tertarik akan peragaan busana hanya untuk melihat penampilan supermodel sehat ini.

Kate Moss
Kate Moss

Di awal tahun ’90-an pesona seluruh supermodel menjadi terancam dengan penemuan Storm Management, Inggris. Ialah Kate Moss yang “mengacaukan” standar kecantikan sebelumnya. Kesempurnaan glamazon supermodel terusik oleh kekurusan dan bentuk muka Kate Moss yang aneh. Tingginya hanya 168cm, jauh di bawah Claudia Schiffer yang bertinggi badan 180cm. Hidungnya pun bengkok. Sorot matanya kuyu seperti kurang gizi. Kekerempengan dan keanehan Kate Moss berbuntut dengan kehadiran wanita-wanita sejenis dirinya. Bosan dengan supermodel yang sempurna, dunia mode mencari kecantikan yang jauh dari klasik. Maka melejitlah model Shalom Harlow dengan tatapan alien, Esther Canadas yang kekurusan dan keanehan wajahnya mengingatkan kita pada E.T. hingga Carmen Kass dengan kecantikan maskulinnya. Masih diikuti dengan rombongan model kerempeng seperti Trish Goff, Kristen Mcmenamy, dan Karen Elson. Di era ini, cantik sama dengan kurus.

 

STANDAR YANG CEPAT BERGANTI

Bosan dengan wajah kurus, dunia mode mencari wujud kecantikan baru. Pilihan jatuh pada Gisele Bundchen. Tinggi dan kurus namun “penuh” di dada dan bagian bokong. Model baru asal Brazilia ini menjadi standar kecantikan baru. Saya ingat sekali, kecantikan tipe ini dikenal dengan sebutan Brazilian Curve. Apalagi saat itu dunia sedang keranjingan dunia latin bersama Ricky Martin, Jennifer  Lopez dan Enrique Iglesias. Standar ini lalu diikuti versi internasionalnya seperti Karolina Kurkova, Heidi Klum, Molly Sims. Namun selera cantik ini semakin cepat berganti.

Heidi Klum
Heidi Klum

Giliran edgy beauty naik ke permukaan, tapi tidak seaneh pendahulunya. Muncul nama besar seperti Gemma Ward. Sejak menjadi cover model termuda majalah Vogue di September 2004, gadis Australia berusia 16 tahun ini memegang kendali. Cantik berarti kulit putih mulus bak porselen, wajah kenakan-kanakan dengan mata bundar, bibir penuh, dengan tubuh kurus dan tinggi menjulang. Mirip boneka! Boneka-boneka lainnya seperti Devon Aoki, Lily Donaldson, Natalia Vodianova hingga Hana Soukupova menguatkan standar baru kecantikan ini. Mereka semua mempunyai ciri yang sama: wajah kanak-kanak tak berdosa.

Tidak lama setelah itu wajah boneka kanak-kanak ini langsung berganti dengan versi dewasanya. Masih bernuansa boneka namun lebih dewasa dan “dingin” seperti Daria Werbowy dan Jessica Stam. Yang menarik disini adalah para model tersebut tampil dengan wajah dan bentuk tubuh yang hampir seragam sehingga sukar dibedakan satu dengan yang lainnya, berbeda dengan era supermodel dimana tiap mereka memiliki tampilan unik yang individual.

Untung hal tersebut berlalu dengan terangkatnya model yang tampilannya unik seperti Agyness Deyn serta model kulit berwarna seperti Chanel Iman, Jourdan Dunn dan Sesilee Lopez. Anything goes!

Standar kecantikan Hollywood abad 21 beda dengan dunia fashion yang standarnya seragam karena di Hollywood semua terwakili, mulai dari kecantikan aristokratik dengan kulit pucat, tubuh tinggi langsing dan rambut blonde seperti Gwyneth Paltrow dan Nicole Kidman, kecantikan yang sporty dan casual dengan rambut yang bebas, lepas, kulit kecoklatan dan tubuh atletis seperti Jennifer Aniston, kecantikan khas asia seperti Lucy Liu, kecantikan khas wanita latin yang eksotis dengan rambut kecoklatan, kulit keemasan dan tubuh berlekuk liku seperti Jennifer Lopez dan Salma Hayek, kecantikan khas wanita afrika seperti Beyonce dan Halle Berry, rasanya semua jenis kecantikan terwakili oleh para bintang Hollywood.

Namun, tetap saja, jika mengacu pada Hollywood , the golden ticket of beauty di dekade ini adalah bibir sensual macam Angelina Jolie, rambut subur dan berkilau seperti milik Jennifer Aniston, dada penuh seperti Mariah Carey, pinggang mungil seperti Vanessa Hudgens, ditambah dengan senyum cemerlang bagai Julia Roberts dan gigi putih berkilau bagai gigi Halle Berry. Jika itu tidak bisa anda dapatkan secara alami, maka itu semua bisa anda beli dengan harga yang pantas tentunya. Jika wajah dan tubuh anda tidak termasuk kategori seperti itu, well, jangan cemas karena siapa tahu di decade berikutnya struktur wajah dan tubuh andalah yang akan dianggap ideal!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s