BLAZER DAN KEPEDULIAN

Sebagai bagian budaya, mode merefleksikan etika yang diterapkan dalam kehidupan.

Teks: Muhammad Reza

Sebagai pecinta fashion, saya mengagumi setiap aspek dalam  bidang yang kerap diasosiasikan dengan estetika ini. Beranjak dewasa, melalui para penulis dan pekerja mode yang membagikan ilmu dan pengalamannya, semakin terpesonalah saya. Sesekali diri yang awam ini heran dengan begitu kompleksnya  bidang yang sudah ratusan tahun menjadi bagian peradaban. Mode, ternyata tak hanya sekedar perkara berbelanja atau padu padan pakaian demi menghias diri. Ia  juga refleksi sekaligus pengaruh pada kehidupan secara finansial dan sosial. Bila Anda pernah menyempatkan diri membaca novel  yang terinspirasi pengalaman pribadi penulisnya (atau menonton filmnya yang dibintangi Meryl Streep dan Anne Hathaway), sebuah adegan dimana sang pemimpin majalah fashion menyantap Wall Street Journal setiap hari bersama surat kabar dan beberapa majalah lain mungkin bisa memberi sebersit ilustrasi bahwa bidang terkait kebutuhan sandang ini memegang peran penting dalam setiap aspek kehidupan.

The Devil Wears Prada The Movie
Image Source : the-toast.net

Itulah sebabnya, ketika suatu waktu saya mendengar komentar dari seseorang yang mengecilkan manfaat mode bagi dirinya, saya berempati. Mungkin memang mode perkara remeh, baginya. Entah karena kondisi wawasannya dengan elemen budaya tersebut, atau ia belum berkesempatan berkenalan dengan kalangan yang termasuk dalam bidang usaha penyumbang terbesar kedua dunia industri kreatif nasional  setelah industri kuliner dan menempati posisi teratas  dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 32,3% pada 2016.  Namun memang, sebagaimana pernah diungkapkan ilusionis Deddy Corbuzier kepada saya, manusia cenderung menarik kesimpulan termudah bagi hal-hal yang kurang dipahaminya. Dalam konteks dimana seseorang tadi, yang menurut saya, memberi pandangan yang kurang sedap didengar terhadap dunia mode, saya memaklumi  kemungkinan alasan ujaran yang terdengar jujur tersebut.

Pengalaman terkait perbedaan pandangan mengenai mode pun terjadi saat mendengar komentar lainnya. Dalam suatu kesempatan, ketika saya pernah bekerja di suatu tempat sebagai penulis dokumen-dokumen perusahaan, ada rumor mengenai kebijakan untuk memakai blazer saat menemui narasumber kami. Seorang kolega mempertanyakan. Haruskah memakai jas yang berkesan formal ini?

Saat itu saya juga memikirkannya. Seingat saya, sebagai pekerja kreatif berupa penulis di tabloid dan majalah mode di masa lampau, tak pernah ada anjuran demikian. Saya boleh memakai kaos oblong dan celana jeans saat melakukan wawancara. Namun itu terjadi karena saya menulis untuk tabloid atau majalah hiburan. Sementara saat ini, saya menulis untuk laporan korporat yang bersifat resmi. Kami menemui organ manajemen, petinggi-petinggi perusahaan yang tentulah sangat penting karena mereka memberi keputusan dan arahan yang menentukan keberlangsungan kehidupan perekonomian orang banyak, seperti para karyawannya. Haruskah saya memakai blazer saat menemui mereka?  Saya kan hanya mau wawancara untuk tulisan.

Memori yang kurang nyambung tiba-tiba muncul saat saya merenungkan ikhwal blazer yang tampak sepele dan remeh ini. Visualisasi para artis dalam balutan busana avant garde di karpet merah acara tahunan Met Gala 2016 di Museum of  Modern Art New York menyeruak tanpa diundang. Kok jadi teringat ke acara itu? Entahlah. Saya hanya ingat,  acara itu bertema Art of the In-Between dan merupakan penghargaan kepada disainer surealis Rei Kawakubo atas koleksi busana rancangannya yang sangat berseni sehingga layak dimuseumkan. Dan sebagaimana budaya di sana, mengenakan pakaian sang disainer atau setidaknya yang sesuai dengan tema menghasilkan parade manusia-manusia ‘berpakaian ajaib’. Ketika  ada undangan yang berbusana ‘biasa-biasa saja’ tentu tidak menjadi masalah besar, namun di saat mereka diharapkan seharusnya mampu menghargai dan menghormati acara dan pengundang, kenapa tidak melakukannya? Ini mengenai dress code. Nyaris menyerupai situasi di saat kita diundang ke kondangan, namun lebih memilih memakai kaus kasual yang cute dibanding batik, kebaya atau gaun pesta. Tidak masalah bila kita tak peduli untuk menghormati pengundang, kan? Juga tak menjadi beban bila kita tak peduli untuk terlihat atau merasa seperti tamu yang tak diundang, tidak pada tempatnya.

met-gala-2017-best-dressed
Celebrities in Met Gala 2017. Image Source: Vanityfair.com

Nah, perihal kepedulian menyesuaikan penampilan dengan acara ini mirip dengan isu sebelumnya, si blazer yang menimbulkan ketidaknyamanan tadi. Memakai blazer untuk menemui sang petinggi perusahaan, menurut saya, hanyalah masalah etika. Dengan berpakaian sama rapi dan resminya dengan mereka, kita menghargai. Bukan berarti tanpa blazer kita kurang menghormati. Hanya saja, ketidakpedulian akan hal kecil biasanya meninggalkan kesan kurang menyenangkan.

Saya kemudian membayangkan, tentulah tak nyaman bagi mereka yang tak terbiasa memakai blazer kemudian ‘dipaksa’ memakainya. Bukankan busana kita mencerminkan kepribadian? Kalau jas yang resmi itu kontradiktif dengan gaya berpakaian personal yang bebas dan santai, kenapa harus dipakai? Ya mungkin memang seharusnya tak dipakai. Namun kita bekerja pada pihak yang mensyaratkan  perilaku (termasuk cara berbusana) sesuai nilai-nilai mereka. Oleh karena itu, berbusanalah sebagaimana yang diharapkan.

devil-wears-prada-anne-hathaway-chanel-blazer
Image Source: Glamour.com

Mode memang dunia penuh keindahan yang kerap terlihat dibuat-buat dan kurang bermanfaat. Namun beberapa hal utama kehidupan-salah satunya etika-merupakan esensinya. Kali ini saya menulis mode sebagai bagian etika. Mungkin kapan-kapan saya menulisnya dari sudut pandang lain; ekonomi, misalnya. Namun entah kenapa, saya suka menulis hal yang kurang penting saja, yang umumnya terilhami oleh pengalaman dan kebingungan yang disebabkan pemahaman yang kurang signifikan untuk dibahas; mode sebagai bagian etika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s